
********
Shien mengernyitkan keningnya heran setelah ia membaca pesan chat dari Nathan yang memintanya untuk datang ke rumah sakit siang nanti bersama orang tuanya. Entah untuk apa, Dokter dengan Korean look face itu tidak menjelaskan detailnya. Tapi Shien tebak jika itu pasti berhubungan dengan operasi transplantasinya nanti. Dengan demikian, Shien tidak banyak bertanya dan langsung mengiyakan perintah Nathan itu, walaupun sebenarnya ia sangat menyayangkan karena rencananya hari ini untuk jalan-jalan menikmati Lembang harus batal begitu saja.
Menyimpan kembali ponselnya ke atas meja nakas, Shien kemudian menyibak selimut yang menutupi tubuhnya untuk beranjak dari tempat tidur. Namun baru saja ia menyentuh ujung selimut, tiba-tiba lengan Langit melingkar di perutnya, lalu menariknya hingga Shien kembali terhempas di tempat tidur.
“Mau ke mana?” Tanya Langit dengan suara serak khas orang bangun tidur. Ia lantas memeluk erat tubuh Shien di balik selimut yang sejak semalam menutupi tubuh mereka.
“Mau bangun, ini udah siang. Lepas, aku mau mandi.” Sahut Shien sambil meronta, mencoba melepaskan diri dari dekapan Langit.
“Sebentar, Shi.” Gumam Langit seraya menyerukkan wajahnya di perpotongan leher Shien, sehingga membuatnya menggelinjang geli saat hembusan napas Langit yang hangat menggelitik kulit lehernya.
“Gak mau! Aku harus bangun dan siap-siap buat pulang.” Ujar Shien, membuat Langit mengangkat kepala sambil mengerutkan dahinya.
“Lho, bukannya tadi malam kamu bilang mau jalan-jalan dulu di sini?” Tanya Langit heran, mengingat percakapan semalam bersama Shien yang mengatakan bahwa gadis itu ingin menghabiskan waktunya seharian untuk menikmati Lembang dan berburu makanan khasnya.
“Iya, tapi mendadak siang ini harus ke rumah sakit. Jadi harus buru-buru pulang.” Jelas Shien. Langit manggut-manggut, lalu kembali menghempaskan kepala ke atas bantal sambil memejamkan matanya.
“Ya udah lepasin.” Pinta Shien, kesal sendiri karena Langit masih anteng mendekapnya.
“Sebentar, Shi. Jarang-jarang lho kita bisa kayak gini.” Sahut Langit tanpa membuka matanya.
Shien mendengus sambil menghela napasnya dalam-dalam. Langit ini benar-benar menyebalkan.
“Suasana kayak gini mendukung banget lho Shi buat. . . .”
“Buat apa?” Sambar Shien seraya membalik tubuhnya sehingga berhadapan dengan Langit, keningnya merengut penuh curiga seolah bisa menebak apa yang akan diucapkan laki-laki itu.
“Buat bikin anak.” Bisik Langit tepat di telinga Shien seiring dengan seringai nakal di bibirnya.
“Mulut kamu, tuh.” Dan tidak butuh waktu lama setelah kalimat itu terlontar dari mulut Langit, satu pukulan mendarat di bibirnya hingga membuat bibir itu terkatup menahan tawa. Langit selalu menyukai wajah merengut kesal dan tatapan jutek Shien setelah ia berhasil menggodanya.
“Haha, becanda, Shi.” Langit terkekeh. Menggoda Shien selalu memiliki kesenangan tersendiri baginya.
“Ya udah, kalau gitu cepat lepasin.” Shien gregetan sendiri sambil berusaha mendorong bahu Langit, tapi laki-laki itu sama sekali tidak bergerak.
“Kasih aku morning kiss dulu.” Pinta Langit berbisik seduktif seraya menempelkan hidungnya pada hidung Shien.
“Enggak!” Tolak Shien cepat, lalu menjauhkan kepalanya. Tapi secepat itu pula Langit menarik tengkuk Shien dan menyambar bibirnya yang sedikit kering itu sekilas.
“Ish. . . .” Shien memukul dada Langit kesal karena laki-laki itu sudah berani mencuri ciuman darinya. Sementara Langit hanya menjulurkan lidahnya, meledek.
Setelah Langit membebaskannya, Shien lantas beranjak dari pembaringannya. Tapi sebelum ia benar-benar turun dari tempat tidur, Shien menyempatkan diri untuk menimpuk gemas wajah Langit menggunakan bantal sekeras mungkin hingga membuat laki-laki itu menjerit tertahan, namun terkekeh pelan kemudian.
Siapa suruh dia begitu menyebalkan? Huuh.
********
Papa, Mama, dan Shien yang sedang duduk berhadapan dengan Nathan seketika memasang raut wajah tegang, kecewa, dan sedih sekaligus. Entah mereka harus berkata apa setelah beberapa detik yang lalu mendengar kabar kurang mengenakkan dari Nathan.
“Kondisi yang bisa dikatakan sangat langka pada seseorang yang mengalami mati batang otak. Tapi tidak memungkinkan untuk tidak terjadi.” Tutur Nathan beberapa saat yang lalu.
DEG
Jantung Shien seperti dihantam sebuah batu yang sangat besar, wajahnya menegang, suhu dingin mulai menjalar di telapak tangannya. Shien bisa menebak apa ynag akan dikatakan Nathan selanjutnya, tapi ia memilih untuk mendengar penjelasannya lebih lanjut untuk memastikan. Begitu pun hal yang sama dirasakan oleh Papa dan Mama.
“Tadi malam, kami mendapat kabar bahwa pasien menunjukkan tanda-tanda kesadaran. Dokter melepas ventilator, dan sudah bisa dipastikan pasien memiliki angka harapan hidup yang tinggi. Sekarang dia dalam masa pemulihan.” Jelas Nathan kemudian, membuat Shien merasa seluruh tenaga di dalam tubuhnya ditarik semua.
Baru saja ia mendengar kabar bahagia karena ada seseorang yang bersedia menyumbangkan donor jantung untuknya dan sudah jelas pula tingkat kecocokannya. Tapi, rupanya Tuhan memiliki rencana lain.
Entah bagamana Shien harus menanggapinya. Haruskah ia bersedih di atas kebahagiaan orang lain?
Ahh, Shien tidak tahu.
Harapannya untuk mendapatkan jantung baru dan memiliki kehidupan yang normal dalam artian sehat, sirna seketika.
Hati Shien mencelos. Ia ingin menangis, ia ingin marah. Tapi marah pada siapa? Takdir yang sudah mempermainkannya seperti ini? Yang sudah memberinya harapan palsu? Tidak. Shien tidak bisa marah pada sesuatu yang di luar kuasanya.
“Maaf, Shien. Sepertinya kita harus menunggu sebentar lagi.” Lanjut Nathan dengan berat hati. Tidak bisa dipungkiri, Nathan juga sama terkejut dan sedih mendengar ini. Dan ia juga merasa bersalah karena sudah memberi harapan besar pada Shien dan keluarganya, tapi ia sendiri pula yang menghempaskan harapan itu.
Tapi, Nathan bisa apa? Ia hanyalah seorang Dokter yang salah satu tugasnya menyampaikan kabar baik maupun buruk pada pasien dan keluarganya meskipun itu sangat membebani perasaannya sendiri.
“Di sini, bukan cuma kamu yang kecewa. Ada enam orang lain yang sebelumnya juga menaruh harapan mereka pada pendonor.” Imbuh Nathan kemudian.
Shien bergeming. Ia menghela napas berat dan panjang, tidak tahu harus berkata apa.
Begitu pula dengan Papa dan Mama yang sama terpukulnya mendengar kabar ini. Mereka menghela napas secara bersamaan. Tidak ada yang lebih mereka inginkan daripada putri bungsunya bisa hidup dengan sehat, sehingga dia tidak harus kesakitan lagi selama hidupnya.
“Tetap optimis dan berdoa. Kamu pasti akan mendapatkan donornya pada waktu yang sudah Tuhan rencanakan.” Nathan menyemangati. Walau bagaimanapun, kita tetap tidak boleh putus asa selama masih bisa berusaha dan percaya bahwa Tuhan tidak akan pernah menguji seorang hamba di luar batas kemampuannya.
“Masih ada lagi?” Tanya Shien datar.
Emosinya benar-benar kacau. Shien tidak tahu bagaimana cara mengekspresikannya. Yang jelas, ia ingin segera keluar dari ruangan Nathan yang mendadak hampa udara, rasanya menyesakkan berada di sana.
“Tetap minum obat secara teratur. Jangan sampai stress.” Ujar Nathan mewanti-wanti.
Shien mengangguk, lalu beranjak dari duduknya untuk kemudian berpamitan dan keluar dari ruangan Nathan. Mengabaikan Mama yang memanggilnya khawatir dan bersiap menyusul. Namun, dengan cepat Nathan menghentikan Mama dan mengatakan untuk memberikan Shien waktu sendiri.
__ADS_1
Ya, Shien butuh waktu untuk menenangkan diri, terlebih untuk menerima kenyataan yang tidak diharapkannya.
Mama menghembuskan napas berat, lalu terduduk kembali. Sejurus kemudian, tangisnya pun pecah seakan mampu merasakan penderitaan dan kesedihan yang dialami Shien. Dalam hatinya ia berucap. “Ya Tuhan, biar aku saja, jangan anakku.”
Papa dan Mama yang paling tersiksa batinnya akan kondisi Shien dan berita yang disampaikan Nathan hari ini. Mereka merasa buruk karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk putri bungsunya itu.
********
Sudah dua hari sejak berita kurang mengenakkan itu, Shien menjadi lebih pendiam dari biasanya. Gadis itu seperti robot. Pergi bekerja dan lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam kamar. Dia hanya keluar dari kamar untuk makan dan hanya berbicara seperlunya. Itu pun ketika Papa dan Mama yang memulai pembicaraan lebih dulu.
Hal itu jelas membuat Papa dan Mama khawatir. Tapi mereka juga tidak tahu harus berbuat apa untuk menghibur gadis itu. Perasaan Shien mungkin sedang sangat sensitif, Papa dan Mama takut jika Shien salah tanggap dengan mengira bahwa mereka sedang mengasihaninya jika Papa dan Mama mencoba menghibur Shien. Dan jika itu terjadi, mungkin suasana hati Shien akan jauh lebih buruk.
Shien duduk termenung di ayunan, di taman bermain yang biasa ia kunjungi bersama Langit. Tapi, hari ini tanpa ditemani laki-laki itu meskipun Shien sangat membutuhkannya untuk berbagi cerita.
Langit sedang berada di luar kota untuk menjadi pembicara dalam seminar Pediatri dan juga memberi kuliah seputar bedah anak di sana, tepatnya di salah satu Universitas yang ada di Yogyakarta.
Terhitung tiga hari sejak keberangkatannya setelah kembali dari Lembang, Langit tidak menghubungi Shien. Sebaliknya, Shien tidak bisa menghubungi laki-laki itu. Nomornya di luar jangkauan, sepertinya Langit benar-benar sibuk. Dan terakhir kali Langit menghubungi Shien yaitu tiga hari yang lalu, Langit mengabarkan bahwa dirinya sudah sampai dan meminta maaf pada Shien jika dia tidak bisa meneleponnya karena cukup lelah ingin segera mengistirahatkan tubuhnya. Alhasil, Shien yang semula ingin berbagi keluh kesahnya, mengurungkan niatnya begitu saja dan menyimpan kesedihannya sendiri sampai hari ini.
Seorang anak laki-laki berseragam TK, lengkap dengan atribut sekolahnya dan ponsel yang sengaja digantungkan di lehernya membuat Shien menoleh sekilas, lalu mengabaikannya dengan wajah acuh. Sesuai dengan kepribadian Shien yang sama sekali tidak menyukai anak kecil, seberapa lucu pun mereka. Fina yang mengetahui kenyataan itu sampai tidak bisa membayangkan bagaimana jika Shien menjadi seorang ibu suatu saat nanti.
Anak laki-laki itu duduk di ayunan di sebelah Shien. Lantas Shien dengan ekor matanya mencari-cari seseorang. Orang tua si anak atau mungkin gurunya. Walaupun taman bermain itu berada di dekat taman kanak-kanak dan siang itu memang waktunya pulang sekolah, tapi tidak seharusnya anak kecil berkeliaran sendiri tanpa pengawasan orang dewasa.
Bukannya Shien peduli, hanya saja ia tidak mau direpotkan kalau saja tiba-tiba anak yang duduk di sebelahnya ini merengek lalu menangis minta diantar pulang padanya karena alasan orang tua si anak tidak menjemputnya.
Tidak ingin terlalu memikirkannya, Shien memilih untuk tidak menganggap keberadaan anak kecil itu. Ia lantas dengan santainya membuka kemasan es krim cone yang beberapa saat lalu dibelinya dari pedagang es krim keliling di seberang taman bermain.
Anak kecil itu memperhatikan Shien yang sedang menjilati tutup es krimnya yang terbuat dari kertas itu dengan tatapan penuh harap, sesekali dia menjilat bibir dan menelan ludahnya. Shien merasakan tatapan itu, tapi dia mencoba untuk tidak peduli. Namun, detik berikutnya Shien mendengus keras. Tatapan anak kecil itu benar-benar membuatnya risih.
Menyebalkan.
“Di mana Mama kamu?” Tanya Shien datar sembari meyodorkan es krim di tangannya pada anak kecil itu dan langsung disambut dengan senang hati.
“Makasih, Tante. . . .” Ucap anak laki-laki dengan rambut ikal setengkuk itu setelah merampas es krim satu-satunya yang dibeli Shien. Matanya yang bening tampak berbinar-binar. Sementara Shien mendengus, tidak suka dengan cara anak kecil itu memanggilnya. Apa Shien terlihat setua itu? Shien merasa panggilan kakak masih lebih cocok untuknya.
“Mama ada di rumah.” Jawab anak kecil itu kemudian, lalu mulai menjilati es krimnya.
“Papa kamu?” Tanya Shien lagi dengan sebelah alis terangkat.
“Kantor.” Kening Shien berkerut bingung mendengar jawaban anak kecil tersebut.
“Yang jemput siapa?” Shien kembali bertanya. Ia memandangi es krim yang rakus dimakan anak kecil itu dengan tatapan tidak rela. Menurut Shien, mulut anak kecil itu persis seperti mesin penghancur kertas yang ada di kantornya, belum sampai tiga menit, es krimnya sudah mau habis saja.
“Nenek.” Jawab anak kecil itu singkat sesaat setelah ia menelan kunyahan waffle corong es krimya.
“Harusnya nunggu di sekolah. Jangan berkeliaran sembarangan. Diculik baru tahu rasa kamu.” Tegur Shien, tidak ada manis-manisnya sama sekali sebagaimana orang lain atau seharusnya memperlakukan anak kecil.
“Aku udah biasa nunggu jemputan di sini, kok, Tan.” Sahut si anak kecil enteng, lalu memasukkan potongan terakhir es krim ke dalam mulut kecilnya. Kedua pipinya yang gembil tampak naik turun lucu seiring dengan kerjaan gigi mencacah makanan.
Mata Shien memicing kala angin yang berhembus kencang menerpa wajahnya. Beruntung siang itu tidak terlalu terik karena matahari tertutup awan sehingga Shien masih betah untuk duduk berlama-lama di sana.
“Tante. . . .” Panggil si anak kecil tiba-tiba, membuyarkan Shien yang sedang tenggelam dalam lamunannya. Shien lantas menoleh malas dengan satu alis terangkat.
“Tangan aku kotor.” Adunya kemudian sembari menunjukkan kedua telapak tangannya yang belepotan dengan es krim rasa coklat itu ke arah Shien. Begitu pun dengan area sekitar bibir mungilnya yang tak kalah kotor.
“Ya bersihin.” Sahut Shien tak peduli, lalu kembali memalingkan wajahnya.
“Tante. . . .” Panggil si anak kecil lagi dengan ekspresi memohon.
Shien menghela napas, lalu menoleh dengan wajah kesal. “Kenapa, sih?” Tanyanya jutek, tapi tidak dengan nada tinggi.
“Bantuin.” Pinta si anak kecil dengan wajah tanpa dosanya itu seraya mengarahkan tangan dan wajahnya pada Shien.
Shien mendesah kesal. Tapi meskipun demikian, tangannya lantas merogoh tas untuk mencari tissue basah, kemudian tanpa banyak bicara ia meraih tangan kecil anak tersebut dan mulai membersihkannya dengan gerakan lembut. Jelas, Shien tidak ingin anak itu menangis dan membuat telinganya sakit jika ia melakukannya dengan kasar.
“Anak kecil.” Panggil Shien saat ia beralih membersihkan mulut anak laki-laki itu.
“Hum?” Anak kecil itu menyahutinya singkat.
“Lain kali, harus hati-hati sama orang baru, apalagi kamu gak kenal sama sekali.” Tutur Shien menasihati, mengingat anak kecil itu sama sekali tidak takut atau waspada saat bertemu dengannya. “Jangan menyapa orang sembarangan, gak boleh juga dideketin sembarangan. Kalau orang itu penculik atau pejahat gimana?”
“Tante, kan, bukan orang jahat.” Ujar si anak kecil dengan polosnya.
Shien memutar bola matanya malas. “Dari mana kamu tahu?” Ia lalu menarik tubuhnya setelah selesai membersihkan tangan dan mulut anak itu, kemudian memasukkan tissue bekas ke dalam tasnya karena tempat sampah terlalu jauh untuk ia jangkau. Lebih tepatnya, Shien terlalu malas untuk beranjak.
“Di film, wajah orang jahat itu jelek, Tante.”
Shien mendengus geli mendengar jawaban polos dari mulut kecil anak itu.
“Jadi. . . .” Shien mengulum senyumnya walaupun tidak terlihat jelas. “Apa aku cantik?”
Anak kecil itu mengerjap, dari ekspresinya seperti sedang berpikir. “Masih cantikan Aunty di rumah.” Jawabnya jujur, membuat wajah jutek Shien kembali terbit.
“Sia. . . . .” Shien nyaris mengumpat, satu tangannya sudah melayang bersiap untuk menjitak kepala anak kecil itu. Tapi ia urungkan dan menurunkannya kembali. Shien masih tahu diri untuk tidak bertengkar atau meneyrang anak kecil. Bisa dicap orang jahat sungguhan jika ia melakukannya dan anak itu menangis, lalu mengadu pada orang tuanya.
“Tapi dia pelit. Gak pernah ngasih aku es krim. Tante yang terbaik.” Sambung anak kecil itu sambil mengacungkan satu jempolnya ke arah Shien.
Sementara Shien hanya mencebik mendengar itu. Shien berpikir bahwa anak kecil benar-benar berpikir dangkal dan polos. Bahkan anak kecil yang Shien tidak ketahui namanya ini tidak khawatir sama sekali jika es krim yang diberikannya mungkin mengandung racun. Ckckck, untung Shien bukanlah orang jahat.
__ADS_1
“Tante. . . .” Panggil si anak kecil setelah beberapa saat terdiam.
“Hum?” Sahut Shien dengan alis bertaut.
“Tante sedih?” Tanyanya tiba-tiba, matanya yang bening mengamati wajah sendu Shien.
Shien mendengus geli. Anak itu benar-benar banyak bicara. “Anak kecil jangan sok tahu.” Ucapnya sambil mengacak-acak rambut anak itu gemas.
“Aku punya Uncle, kalau dia lagi sedih, dia suka kayak gini. . . .” Anak kecil itu lantas memasang wajah sedih dan mempraktikkan bagaimana Shien menghela dan menghembuskan napas berat tadi. Rupanya, dia benar-benar memperhatikan Shien.
Shien menarik salah satu sudut bibirnya sedikit, lalu kembali mengacak-acak rambut ikal anak itu tanpa berkata-kata.
“Tante mau tahu gimana caranya Uncle senyum lagi?” Shien menggeleng, tidak mau tahu dan tidak tertarik.
Anak kecil itu cemberut, lalu melompat turun dari ayunan untuk kemudian berdiri tepat di hadapan Shien.
“Sini, Tante.” Anak kecil itu menginstruksi Shien untuk membungkukkan tubuhnya dengan gerakan tangan. Shien merengut bingung, tapi akhirnya ia menurutinya juga.
“Begini.” Anak kecil itu lantas meraih kedua sisi wajah Shien, lalu mencium bibirnya tiga kali singkat-singkat. “Jangan sedih, Tante. Wajah Tante jelek kalau sedih.” Ujarnya kemudian.
Shien tersenyum geli mendapati kelakuan anak kecil itu, mengingatkannya pada seseorang yang sedang ia inginkan keberadaannya saat ini, Langit. “Benar-benar bermulut manis. Sana duduk lagi.” Sekali lagi, Shien mengacak-acak gemas rambut anak itu.
“Tuh, kan. Tante cantik kalau senyum.” Goda anak kecil itu sambil menunjuk ke arah bibir Shien yang masih tertarik ke atas. Sementara Shien hanya mendengus antara kesal dan geli sekaligus.
“Ohh, iya. Nama Tante siapa?” Tanya si anak kecil setelah duduk kembali di ayunan.
“Gak perlu tahu.” Shien kembali memasang wajah juteknya. Sementara si anak kecil langsung cemberut mendengar jawaban Shien. “Karena kita gak akan ketemu lagi dan jangan sampai ketemu lagi.” Lanjut Shien tak berperasaan, membuat si anak kecil langsung melayangkan tatapan protes padanya.
“Kena-”
“Biel. . . .”
Dan bersamaan dengan kalimat protes yang baru saja si anak kecil itu hendak layangkan, di saat itu pula suara lembut seorang wanita paruh baya memanggil namanya, juga menghampirinya.
“Nenek. . . .” Seru anak itu riang, matanya berbinar melihat wanita paruh baya yang dipanggilnya Nenek itu berjalan menghampirinya.
Shien ikut menoleh, matanya memicing seraya berusaha mengingat-ingat kapan ia pernah melihat wajah cantik yang dirasa cukup familier itu. Tapi ingatan Shien tak mampu menangkapnya. Ahh, mungkin itu hanya perasaannya saja.
“Biel, maaf Nenek terlambat, sayang.” Ujar si wanita paruh baya seraya membantu si anak kecil yang dipanggil dengan sebutan Biel itu turun dari ayunan.
“Udah berapa kali Nenek bilang, kamu kalau nunggu jemputan tuh di sekolah. Di sini sepi. Kalau ada penculik gimana?” Omel sang Nenek khawatir seraya pandangannya menyusuri taman bermain yang cukup luas itu sejenak, memang cukup sepi.
“Gak apa-apa, kok, Nek. Tadi aku ditemenin Tante.” Sahut si anak kecil seraya menunjuk ke arah Shien.
Lantas Shien berdiri dan menyunggingkan senyum sangat tipis pada wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu. Shien jadi menerka-nerka, seberapa cantiknya wanita itu saat masih muda? Dan Shien tebak dia pasti sangat cantik.
Sementara si wanita paruh baya langsung mengamati Shien dari atas sampai bawah dengan sorot mata menyelidik, juga terlihat jelas kewaspadaannya di sana.
“Tadi Tante juga ngasih aku es krim.” Imbuh si anak kecil, membuat sang Nenek langsung memasang wajah khawatir. Jelas, orang tua mana yang tidak akan khawatir jika ada orang tidak dikenal memberi anaknya makanan?
“Tenang saja, Tante. Saya bukan orang jahat.” Ujar Shien cepat seakan menyadari kecurigaan si wanita paruh baya padanya.
“Tadi kebetulan saya ketemu Biel dan dia sendirian. Jadi, saya menemaninya sebentar sampai jemputannya datang.” Lanjut Shien sedikit berbohong, karena ia tidak mungkin mengatakan dengan jujur kalau sebenarnya ia tidak berniat menemani anak itu sama sekali dan kebetulan saja dirinya sedang menenangkan diri di sana.
Jika Shien berucap jujur, maka wanita paruh baya itu akan memandangnya sebagai orang aneh, walaupun sebenarnya ia memang aneh.
“Kalau begitu, maaf sudah merepotkan.” Ucap wanita paruh baya itu tak enak hati, kentara sekali dari perubahan raut wajahnya yang tiba-tiba. “Dan terima kasih sudah menemani cucu saya.” Imbuhnya dengan senyuman tulus.
Shien mengangguk diiringi dengan senyum tipisnya yang nampak kaku. “Kalau begitu, saya permisi, Tante.”
Merasa suasana sangat canggung, Shien memilih unuk melarikan diri meskipun ia masih ingin diam di sana setidaknya sebentar lagi.
“Ehh, iya.” Sahut wanita paruh baya sama canggungnya. “Terima kasih sebelumnya, Nak.” Ujarnya lagi, dan Shien kembali menanggapinya dengan anggukkan.
“Tante, tunggu. . . .” Shien yang baru saja hendak melangkah, seketika terhenti begitu anak kecil bernama Biel menahannya.
Shien menatap Biel penuh tanya. Anak laki-laki itu lantas merogoh tas ransel warna merah dengan karakter Iron Man-nya, lalu mengeluarkan sesuatu semacam snack dengan kemasan kecil.
“Kata teman aku, kalau makan ini bisa dapat keberuntungan.” Biel lalu menyerahkan snack kemasan yang ternyata berisi fortune cookies itu pada Shien.
“Beruntung itu karena kita bisa memakan dan merasakan kue yang enak ini.” Ujar Shien realistis seraya mengacung-acungkan kemasan kue itu. Ia kemudian kembali berpamitan dan berlalu untuk keluar dari area taman bermain, lalu dengan segera menghentikan taksi yang kebetulan lewat di sana.
Dari kaca spion, Shien merasa ia melihat seseorang yang ia kenal sedang bersandar pada badan mobil yang terparkir tidak jauh dari area taman.
“Jackson?” Gumam Shien dengan mata memicing, memastikan bahwa orang itu adalah seseorang yang dikenalnya. Tapi, jarak pandangnya semakin pendek seiring dengan mobil yang ditumpanginya semakin melaju jauh meninggalkan lingkungan taman bermain. Dan Shien memutuskan untuk mengabaikannya.
Shien lantas mengalihkan perhatiannya pada fortune cookies yang diberikan Biel padanya tadi. Ia membuka kemasan berisi kue renyah berbentuk pangsit yang di dalam kue tersebut berisi sebuah kertas panjang, yang konon katanya itu adalah ramalan keberuntungan, tapi Shien tidak mempercayainya sama sekali karena menurutnya itu hanyalah sebuah keisengan si pembuat kue untuk meningkatkan penjualan.
Ternyata ada dua buah kue dalam satu kemasan itu. Shien mengambil satu, lalu membelahnya untuk membaca isi pesan yang ia dapat. Sebenarnya, itu cukup menghibur. Terakhir kali ia mendapat pesan nyeleneh yang mengatakan “I cannot help you, for I am just a cookie.”
Dan sepertinya sekarang ia juga mendapatkannya. Shien tersenyum geli, nyaris tertawa setelah ia membaca pesan yang ia dapat di dalam kue keberuntungan itu. “That wasn’t chicken.”
Ck, benar-benar lucu. Sudah jelas itu adalah kue.
Sejurus kemudian, Shien kemudian membelahnya. Seketika senyumnya menyurut dan wajahnya menyiratkan ketidaksukaan atas tulisan yang terdapat dalam kue kedua.
“Trials and suffering”
__ADS_1
********
To be continued. . . .