So In Love

So In Love
EP. 49. Pasangan Absurd


__ADS_3

********


“Haha, sialan.” Terry tertawa sarkas. Lalu dengan sekali gerakan, tangannya menyapu habis semua barang yang ada di atas meja rias hingga bunyi keras khas barang terjatuh terdengar sampai keluar kamar.


Terry menatap pantulan dirinya di depan cermin sambil tersenyum miring, kemudian kembali tertawa sarkas. Kilatan saat Langit menggandeng tangan Shien dengan mesra berputar-putar di kepalanya. Dan Terry tidak bodoh untuk tidak bisa mengartikan hubungan mereka seperti apa.


Menggebrak meja hingga telapak tangannya terasa panas, Terry tidak menyangka jika si gadis lugu dan kurang pergaulan itu sudah melangkah lebih jauh dan cukup berani. Ia terlalu waspada terhadap Shanna dan melupakan Shien.


“Ya ampun Terry, ini kenapa berantakan kayak gini?” Pekik Tera heboh begitu masuk ke kamar anaknya dan mendapati kamar tersebut sudah tidak jauh beda dengan kapal pecah. Sprei awut-awutan, bantal dan guling sudah tidak pada tempatnya, begitu juga dengan pecahan beling dari tempat skincare yang bertebaran di lantai hingga membuat Tera harus berjalan ekstra hati-hati menghindari pecahan tersebut untuk menghampiri Terry.


“Ada masalah apa? Cerita sama Mama.” Ujar Tera hati-hati.


Terry menoleh, memperlihatkan wajahnya dengan ekspresi seolah dia adalah korban tertindas.


“Mama. . . .” Rengeknya manja. Gadis itu kemudian menceritakan segalanya pada sang ibu seperti seorang anak yang sedang mengadukan perbuatan jahat orang lain yang telah dilakukan padanya.


Dibumbui sedikit drama, Terry lantas bercerita tentang laki-laki yang sudah disukainya sejak duduk di bangku SMA yaitu Langit. Dulu dia tidak bisa mendekatinya karena ada Jingga, si gadis penuh pesona yang tidak mungkin bisa dikalahkannya. Tapi sekarang Jingga sudah menikah, Terry merasa memiliki peluang untuk mendekati Langit kembali. Namun, ternyata tidak semudah itu. Ada dua gadis lain yang menyukai Langit dan itu adalah penghalang besar baginya. Dan yang paling menyebalkan, mereka adalah sepupu tirinya, orang yang sejak kecil dibencinya dari dulu.


“Jadi si anak bisu itu udah kembali?” Tera tersenyum sinis. Sementara Terry diam tak menyahuti dan masih anteng dengan wajah masamnya.


Tera menghembuskan napasnya sejenak. “Harusnya tuh kamu juga waspada sama Shien.”


“Karena Shanna terang-terangan ngejar kak Langit, ya aku fokusnya sama dia.” Sahut Terry sambil menghentakkan kakinya ke lantai dengan kesal.


Tera tersenyum meledek, lalu mengangkat dagu Terry dengan telunjuknya. “Justru itu, terkadang yang pendiam lebih berbahaya.”


“Terus aku harus gimana? Hubungan mereka kayaknya udah jauh.” Terry merengek seperti anak kecil seraya menghempaskan jari telunjuk Tera yang bertengger di dagunya.


“Shien itu mirip Mamanya. Kelihatan lugu, aslinya munafik.” Tera menggeram tertahan seiring dengan rahangnya yang ikut mengeras, teringat bagaimana dulu Risa merebut hati Sendy dengan mudahnya. Padahal, dirinyalah yang menyukai laki-laki itu lebih dulu.


“Tapi, yang Mama tahu Shanna itu orang yang licik. Kalau dia tahu Shien ada hubungan sama Langit, dia gak akan ngebiarin itu. Dari dulu Shanna gak pernah suka orang lain merebut apa yang disukainya.” Tera mencoba menyelisik sambil mengetuk-ngetukan jarinya ke atas meja rias.


Wanita paruh baya itu kemudian mendongak, menatap putri kesayangannya sambil tersenyum licik. “Jadi, menurut kamu gimana, Ry?”


“Shanna gak tahu kalau Shien ada affair sama Langit.” Terry menjawab ragu, lalu menatap Tera lekat-lekat untuk mencari pembenaran akan jawabannya.


Tera lantas mengangguk pelan dengan senyuman puas, membenarkan jawaban sang anak. “Kamu bisa manfaatin hubungan persaudaraan mereka yang penuh kasih sayang itu untuk menghancurkan mereka.”


“Pastinya.” Terry tersenyum miring, membayangkan bagaimana hubungan persaudaraan mereka hancur, dan secara tidak langsung itu pasti akan mengganggu hubungan Shien dengan Langit. “Aku yakin. Ada dua kemungkinan yang akan terjadi. Mereka bertengkar hebat, atau saling mengalah dan memilih untuk melepaskan Langit demi menjaga hubungan mereka. Tapi, kalaupun Shien gak mau melepaskan Langit, Om Sendy sama Tante Risa gak bakalan setuju kalau mereka bersama demi kedamaian anak-anaknya. Dan ujung-ujungnya, Shien akan tetap melepaskan Langit.”


Terry bersorak dalam hati, ini bisa menjadi salah satu senjatanya untuk ia menerobos ke dalam hati Langit, dan mungkin juga ia bisa menggunakan ini untuk mempermalukan dua gadis kembar yang sombong itu pada seluruh keluarga karena bertengkar gara-gara seorang laki-laki.


“Aku gak sabar buat dapetin kak Langit, Ma. Dan gak sabar juga lihat mereka hancur.”


********


Ternyata, Langit benar-benar serius tentang mengajak Shien untuk bertemu dengan Jingga sore ini. Sejak tadi malam sampai sebelum dia menjemputnya, Langit bahkan dengan semangat mengingatkan Shien akan jadwalnya hari ini.


Dan sesuai dengan apa yang dikatakannya kemarin, sore hari setelah pulang bekerja, Langit menjemput Shien ke kantornya.


“Jadi ini alasannya kenapa kamu nyuruh aku pake celana sama bawa jacket?” Shien mengamati Langit yang sedang menyandarkan tubuh pada Ninja Kawasaki 250-nya. Laki-laki itu masih mengenakan setelan kerja dengan balutan jacket denim untuk menghalau udara luar yang berhembus saat dia mengendarai motor.


“Kita, kan, belum pernah jalan naik motor, Shi. Percaya sama aku, itu lebih romantis daripada naik mobil.” Langit menaik turunkan alisnya sambil tersenyum-senyum tak jelas.


“Kan dingin. Kita juga pasti pulangnya malam.” Shien sedikit protes, mengingat naik mobil itu lebih nyaman, aman dari udara luar dan debu, serta bisa duduk tenang.


Langit lantas memajukan wajahnya ke arah wajah Shien. “Khan bisa peluk aku.” Lalu kembali mesem-mesem.


“Dan itu yang kamu bilang romantis?” Sambar Shien diiringi dengusan kecil.


Langit menjauhkan tubuhnya, lalu bersedekap. “Itu salah satunya.” Jawabnya kemudian dengan mata mengerling nakal. Dan perasaan Shien mulai tidak enak, pasti Langit sedang merencanakan hal aneh.


“Yang lainnya. . . .” Benar saja perasaan Shien. Kerlingan mata nakal laki-laki itu memang penuh maksud. Kentara sekali jika Langit ingin mengambil keuntungan begitu kedua bola mata Langit menyorot ke arah dada Shien.


“Dokter cabul.” Shien menutup bagian depan tubuhnya menggunakan jacket yang belum ia pakai.


“Aku gak mau naik motor.” Tolaknya kemudian, raut wajah Shien merengut lucu.


Langit terkekeh pelan melihat gadisnya yang sangat waspada. “Becanda, Shi. Udah ah jangan mikir aneh-aneh. Cepetan pake jacket kamu, keburu sore nih.” Titahnya kemudian.


“Sengaja, kan, pake motor biar bisa nempel? Mesum kamu.” Tanya Shien terang-terangan.


“Gak gitu, beneran deh.” Sahut Langit sambil mengacungkan dua jarinya membentuk tanda V, yang sebenarnya ucapan Shien itu adalah benar. Dan Langit tidak tahan untuk menahan senyum mesem-mesemnya.


“Tuh kan bohong.” Tuding Shien dengan bibir mengerucut. “Ihh, mana ada aku bohong?” Dalih Langit.


“Itu senyum-senyum.” Shien mengedikkan dagunya ke arah wajah Langit.


“Ya ampun, Shi. Aku senyum-senyum, masa gak boleh? Aku tuh lagi seneng karena mau jalan sama kamu.” Langit masih berusaha mengelak untuk meyakinkan gadisnya itu. Duhh, susah sekali Shien dibodohi.


“Udah, ayo berangkat.” Seru Langit cepat, sebelum Shien kembali menudingnya dengan tuduhan-tuduhan yang sebenarnya memang benar.


Shien mendengus, lalu dengan ogah-ogahan ia mengenakan jacket berbahan denimnya. Setelah itu, Langit membantunya memakaikan helm di kepala gadis cantiknya yang kaku itu.

__ADS_1


Langit naik ke motornya lebih dulu dengan helm yang sudah terpasang di kepalanya. Tanpa aba-aba, Langit kemudian menarik tangan Shien dengan lembut untuk membantu gadis itu menaiki motornya.


“Shi, kamu bisa jatuh kalau kayak gini.” Langit menoleh ke belakang, memprotes gadis itu karena hanya berpegangan pada ujung pinggiran jacketnya.


“Ya udah, ayo.” Langit memutar bola matanya jengah diiringi hembusan napas kasar, semakin gregetan sendiri karena kali ini Shien malah meletakkan tangan di pundaknya. Apa Shien pikir dirinya tukang ojek? Huuh.


Dan tanpa banyak bicara lagi, Langit meraih kedua tangan Shien untuk dilingkarkan ke pinggangnya sendiri. “Gini yang bener.”


Shien mendengus. Benar kan, tubuhnya dan tubuh Langit sekarang saling menempel? Dasar tupai licik.


“Pegangan, Shi.” Titah Langit yang justru memunculkan ide jahil di kepala Shien.


Bukannya berpegangan dengan normal, Shien malah menyusupkan tangannya ke dalam jacket Langit, lalu meraba-raba dada bidang laki-laki itu seduktif.


“Ayo.” Seru Shien dengan seringai jahil di balik punggung lebar dan kekar milik Langit, masih mengelus dadanya dengan gerakan naik turun hingga membuat tubuh Langit menegang. Ada gejolak-gejolak aneh yang mendera tubuhnya begitu tangan lembut Shien menyentuh dadanya, dan bayangan-bayangan liar tentang gadis itu otomatis memenuhi isi kepala Langit.


“Kalau kamu kayak gini aku jadi nggak konsen nyetir, Shi.” Tegur Langit putus asa. Wajahnya yang ada di balik helm sudah memerah. Shien benar-benar keterlaluan menggodanya seperti ini.


“Ya udah, kamu suka hotel mana, Shi?” Tantang Langit karena Shien tak kunjung menghentikan aksinya.


“Ihh.” Shien refleks mencubit pinggang Langit dan mengeluarkan tangannya dari balik jacket.


“Makannya jangan jahil jadi orang.” Cibir Langit. “Pegangan yang bener.” Titahnya lagi. Dan kali ini Shien menurutinya.


Setelah memastikan Shien duduk dengan nyaman dan aman di boncengan motornya, Langit langsung melajukan motornya menembus kota Bandung di bawah langit sore yang berarak menuju malam.


Motor Langit melaju dengan kecepatan sedang, bahkan nyaris lambat. Selain tidak ingin membuat Shien takut, Langit ingin waktu Shien memeluknya menjadi lebih lama. Langit tertawa girang dalam hati.


Ini adalah pengalaman pertamanya Shien naik motor. Ternyata tidak buruk juga berkencan naik motor. Yaa walaupun harus terkena angin secara langsung, tapi dengan naik motor mereka jadi tidak terjebak macet sehingga lebih cepat sampai ke lokasi tujuan, jadi tidak kelamaan di jalan. Dengan ukuran kendaraan yang relatif kecil, Langit bisa salip kiri kanan menerobos kemacetan.


Selain itu, Langit benar. Berkencan dengan naik motor itu romantis, karena mereka bisa berpelukan sepanjang jalan. Walaupun Shien terkadang dibuat gugup tak karuan saat tiba-tiba Langit menggenggam tangannya untuk beberapa detik. Sesekali Langit mengusap lembut lututnya saat berhenti di lampu merah, dan hal itu membuat Shien risih.


Tidak sampai satu jam, kini motor Langit sudah tiba di depan gerbang sebuah rumah megah bergaya Eropa modern. Pintu gerbang yang menjulang tinggi di hadapan mereka itu otomatis terbuka begitu Langit membunyikan klakson motornya.


Shien tebak jika Langit sering berkunjung ke rumah ini, dilihat dari keramahan petugas keamanan rumah yang menyapa Langit tidak seperti pada orang yang baru kenal.


Begitu Langit dan Shien turun dari motor, Langit mengeluarkan ponsel.


“Bi, gue udah di depan rumah lo, nih.” Langit terdiam sejenak, sebelum kemudian kepalanya mengangguk-angguk pelan. “Ohh, oke-oke.”


Shien melirik Langit sekilas dan menebak jika yang diteleponnya itu adalah Biru, suaminya Jingga. Heran, kenapa juga Langit harus meneleponnya, bukankah mereka juga akan bertemu jika sudah masuk ke rumah?


“Yuk, Shi. Mereka udah nunggu kita di dalam.” Langit mengulurkan tangannya yang langsung disambut baik oleh Shien.


“Kita gak bawa apapun. Emang gak apa-apa?” Tanya Shien yang merasa tidak enak karena bertamu dengan tangan kosong. Paling tidak, mereka seharusnya membawa satu hampers.


“Tapi. . . .”


“Udah, gak usah dipikirin. Mereka itu banyak uang, gak terlalu guna juga kalau kita bawa sesuatu.” Sambar Langit enteng. Shien hanya mendengus. Bukankah itu salah satu adab bertamu? Saat bertamu, hendaknya membawa buah tangan guna menyenangkan tuan rumah.


Namun, Shien tidak memiliki waktu untuk protes karena pintu utama rumah itu terbuka lebih dulu.


Langit dan Shien masuk, langsung disambut ramah oleh asisten rumah tangga yang membimbing mereka memasuki ruang tamu dan mempersilahkan duduk.


“Akhirnya yang ditunggu datang juga.” Seru riang gadis cantik berbalut mini dress navy polos dengan aksen ruffle di bagian bawah dan ujung lengannya, Jingga.


Shien melihat gadis itu berjalan beriringan dengan seorang laki-laki tampan sambil membawa nampan berisi jus segar dan kudapan.


Menyodorkan minuman berisi jus ke hadapan Langit dan Shien, lantas Biru dan Jingga turut duduk, persis berhadapan dengan Langit dan Shien.


“Pesenan kamu, Ji.” Langit menyerahkan roti viral Korea itu pada Jingga yang langsung diterimanya dengan girang.


“Makasih.” Jingga menghirup roti yang mengeluarkan aroma garlic dan keju dari luar kantong plastik dengan senyum mengembang. Sudah dari tengah malam tadi ia mengidamkan roti itu, jelas jika Jingga sangat senang mendapatkannya.


“Ohh, iya. Om sama Tante mana?” Tanya Langit kemudian karena tidak melihat keberadaan orang tua Biru.


“Mama sama Papa baru aja keluar, katanya mau ke resepsi pernikahan anak koleganya.” Jawab Jingga, Langit hanya mengangguk tanda mengerti.


Jingga kemudian mengalihkan pandangannya ke arah gadis cantik di depannya. Begitu pun dengan Biru.


Biru lantas beralih pada Langit, lalu berujar untuk memastikan gadis yang dibawa sahabatnya itu bukanlah si gadis gila yang menggodanya beberapa bulan yang lalu. “Jadi, dia. . . .”


“Shien.”


“Anting.”


Sambar Langit dan Jingga bersamaan, namun mereka mengucapkan kata yang berbeda. Lantas semua orang mengalihkan perhatiannya pada Jingga dengan wajah bingung.


“Anting kamu hilang?” Tanya Biru yang heran karena istrinya tiba-tiba membahas anting.


“Enggak.” Jingga menggeleng. Kedua bola matanya yang hitam dan bening itu berbinar tatkala otaknya menangkap memori tentang Shien. Pantas saja, sejak bertemu di cafe waktu itu Jingga merasa familier dengan wajah Shien yang menampilkan ekspresi datar itu.


“Kamu yang punya anting itu, kan?” Jingga memutar telunjuk di sebelah daun telinganya, berharap Shien ingat jika mereka pernah bertemu di restoran Perancis sebelumnya.

__ADS_1


“Aku?” Tanya Shien sambil menunjuk dirinya sendiri. Jingga mengangguk cepat diiringi senyum cerianya.


“Restoran Perancis, tiga bulan yang lalu.” Jingga memberikan clue. Namun, Shien hanya menggeleng tanda tak mengerti.


“Jingga, kamu kalau ngomong yang jelas. Kamu pernah ketemu Shien sebelumnya?” Tanya Langit, gregetan karena Jingga seperti mengajak Shien bermain teka-teki.


“Kamu inget nggak, Lang, terakhir kita ke restoran Perancis sama kak Senja?” Langit terdiam sebentar, lalu mengangguk. “Nah, aku ketemu Shien di kamar mandi waktu itu. Aku bantuin pasangin anting kamu.” Sambung Jingga seraya beralih menatap Shien.


Shien nampak berpikir sejenak saat Jingga mencoba mengingatkannya. Sedetik kemudian, seulas senyum yang sangat tipis terbit saat Shien berhasil mengingatnya. Itu adalah hari dimana Shien melakukan wawancara sebagai penulis berbakat.


“Ohh, itu kamu. It’s nice to see you again.” Ujar Shien sedikit canggung.


“Terus, buku kamu ketinggalan. Dan bukunya ada sama Langit. Kebetulan yang menyenangkan, kan?” Sahut Jingga dengan senyum mengembangnya.


Shien hanya mengangguk. Namun pikirannya tertuju pada buku cerita miliknya, pantas saja buku itu tidak ditemukan saat Shien kembali mencarinya dulu. Ternyata Jingga menyimpan buku itu untuknya.


Sementara Langit cukup surprise mendengar itu. Tidak menyangka, ternyata dunia begitu sempit. Atau, itu semua memang takdir.


“Pleasure to see you again, Shien.” Ucap Jingga kemudian. Sementara Shien hanya mengangguk diiringi sedikit senyuman yang terlihat kaku.


“Sorry, nih. Sebelumnya, mending lo kenalin dulu sama kita, biar lebih enak ngobrolnya.” Saran Biru pada Langit seraya menatap Shien penuh arti, dan saran itu langsung disetujui oleh sang istri. Walaupun Jingga sudah bertemu dengan Shien sebelumnya, tapi mereka belum memperkenalkan diri sebagaimana mestinya.


“Ohh, iya. Kenalin, Shi, mereka Biru dan Jingga. Sahabat aku yang sering aku ceritain.” Ucap Langit sambil menunjuk Biru dan Jingga secara bergantian.


“Shien.” Ucap Shien seraya mengulurkan tangannya pada Jingga, lalu beralih pada Biru.


Ini adalah kali kedua Shien berhadapan dengan pasangan itu. Reaksinya sangat berbeda saat ia bertemu dengan mereka di cafe beberapa waktu lalu. Shien jadi bertaya-tanya, sebenarnya apa yang membuat Biru dan Jingga melihatnya dengan tatapan julid waktu itu?


“Maaf atas sikap kami di cafe waktu itu. Kami kira, kamu itu si gadis gi. . . .” Biru menggantungkan kalimatnya, nyaris saja keceplosan dengan menyebut Shanna si gadis gila. “Maksudnya, dulu kami mengira kamu itu Shanna.” Koreksi Biru kemudian.


“Kayaknya kalian kurang suka sama kak Shanna. Ada masalah?” Tembak Shien langsung dengan ekspresi datarnya.


Biru dan Jingga gelagapan, tidak enak hati karena sepertinya sikap mereka waktu itu sudah menyinggung Shien.


“Ada sedikit kesalahpahaman di antara kami. Tapi itu udah gak apa-apa sekarang.” Sahut Jingga seraya tersenyum lebar, hingga memperlihatkan deretan giginya yang rapi.


Shien mengernyitkan dahinya, seolah ingin bertanya kesalahpahaman apa yang terjadi antara mereka dengan kakaknya. Namun, dengan segera Jingga mempersilahkan Langit dan Shien untuk minum, sehingga Shien tidak memiliki kesempatan untuk bertanya. Sepertinya Jingga sengaja melakukan itu untuk mengalihkan topik pembicaraan.


“Diminum dulu, abis ini kita pesta shabu-shabu di gazebo.” Ujar Jingga riang. Air liur seketika terkumpul di dalam mulutnya begitu membayangkan rebusan seafood, daging, dan sayuran di dalam kuah kaldu yang mendidih dan menyegarkan.


“Kamu suka makan makanan Jepang, gak, Shi? Kalau gak suka, kita bisa ganti barbequean aja.” Tanya Jingga, takut-takut tamunya itu tidak suka menu shabu-shabu yang ia usulkan untuk makan malam bersama nanti.


“Asalkan itu sehat, aku gak pilih-pilih makanan.” Jawab Shien, membuat Jingga lega mendengarnya. Pasalnya, Jingga sangat ingin makan menu rebusan ala Jepang itu.


Setelah itu, mereka mengobrol ringan sambil menikmati kudapan. Sementara Jingga memakan roti yang dibawakan Langit untuknya tadi.


Suasana yang melingkupi keempat orang itu pun cukup riuh, menyenangkan, dan hangat. Langit dan Jingga yang paling mendominasi, merekalah yang paling banyak bicara dari mulai menceritakan kisah lucu sampai dengan saling meledek hingga melempar bantal. Sementara Shien yang pada dasarnya tidak mudah bergaul hanya diam menyaksikan mereka mengobrol, dan Shien akan menjawab jika ditanya tanpa balik bertanya.


“Ohh, iya. Punya kembaran seru gak, Shi?” Tanya Jingga yang merasa anak kembar itu luar biasa.


Shien berpikir sejenak, mencari-cari di mana letak serunya memiliki saudara kembar. “Biasa aja.” Pada akhirnya Shien menyahuti pertanyaan Jingga dengan singkat. Karena itulah yang dia rasakan.


Biru sampai terheran-heran mendapati sikap Shien yang kaku. Bagaimana bisa Langit tertarik dengan seseorang yang lebih cocok disebut patung es diberi nyawa itu? Biru membayangkan interaksi mereka saat sedang berdua. Mungkin untuk mengobrol saja Langit dan Shien akan terlihat seperti guru dan muridnya. Biru tertawa geli dalam hati.


“Bukannya itu seru? Kita bisa punya teman curhat setiap saat, saling pinjam barang, dan kalian bisa tukeran tempat. Kamu bisa selingkuh dengan pura-pura jadi Shanna. Haha” Celoteh Jingga dengan segala pemikiran nyelenehnya.


Langit mendengus. “Jangan ngajarin dia yang nggak bener.” Dan satu potong pastry yang dilemparnya mendarat tepat di kepala Jingga.


“Duhh, posesifnya.” Ledek Jingga, Langit hanya mendelik sebal.


“Tapi, anak kembar itu emang unik. Aku baru pertama kali lihat anak kembar yang udah dewasa secara langsung. Kalian benar-benar mirip. Itu menakjubkan.” Jingga melanjutkan pembahasannya seputar manusia kembar. Hal itu mengingatkannnya akan kebesaran Tuhan.


Anak merupakan gambaran keajaiban dari Tuhan. Kehadiran mereka di dalam rahim saja sudah terasa begitu ajaib. Seorang makhluk hidup yang tergantung pada keberadaan sang ibu, yang ikut kemanapun ibunya pergi, yang merasakan apapun yang dikecap ibunya, bahkan ikut merasakan suasana batin sang ibu.


Bagi Jingga, sungguh ajaib memikirkan betapa sebutir telur kecil membelah diri dan berkembang serta tumbuh menjadi seorang bayi mungil yang montok dan lucu. Kalau satu saja sudah terasa begitu ajaib, apalagi kehadiran dua bayi sekaligus.


“Aku juga mau.” Imbuh Jingga dengan mata berbinar.


“Kalau Winter udah lahir, kita langsung buat adik kembar buat dia, yuk, Ji.” Ujar Biru dengan sorot mata sama berbinarnya, membayangkan bayi kembar lucu yang mirip dengannya. Padahal, bayi pertama mereka yang masih ada di dalam kandungan saja belum lahir, tapi mereka sudah memikirkan anak berikutnya.


Shien melirik Langit dengan alis bertaut, bertanya-tanya siapa itu Winter. “Winter calon bayi mereka.” Bisik Langit di telinga Shien. Gadis itu lantas mengangguk seraya berkata oh.


“Aku mau anak kembar cowok.” Lanjut Biru.


“Aku mau cewek sama cowok.” Timpal Jingga.


“Ya udah kita bikin keduanya nanti. Aku sih pasti semangat, Ji, walaupun kamu mau bikin tiga pasang anak kembar.” Sahut Biru sambil tersenyum-senyum penuh arti, membuat Jingga tersipu malu.


Dan obrolan pasangan suami istri itu seolah melupakan bahwa di depan mereka ada pasangan yang belum menikah.


Langit yang menyaksikan itu hanya memutar bola matanya jengah sambil menghembuskan napas kesal. Ini sudah kesekian kalinya Langit terjebak dengan pembicaraan absurd pasangan aneh di depannya ini.


“Mereka emang absurd. Biru sama Jinggga bahkan pernah bahas tempat bikin Winter di depan aku. Kamu tutup telinga aja.” Bisik Langit yang melihat Shien tampak speechless menyaksikan tingkah pasangan suami istri yang absurd itu.

__ADS_1


********


To be conntinued. . . . .


__ADS_2