
********
Shien kembali ke kamar selepas mengantar kepergian Langit dan Papanya. Benar-benar hari yang panjang dan melelahkan hati serta pikirannya.
Gadis itu berjalan gontai menuju kamar mandi untuk membasuh wajah dan berganti pakaian. Namun langkahnya terhenti saat mataya menangkap sebuah post it tertempel pada cermin. Bukan hanya itu, sebuah jam tangan yang tampak asing di matanya tergeletak pada permukaan meja washbasin. Tapi walaupun itu tampak asing, Shien tak perlu bertanya-tanya siapa pemiliknya.
“Aku tunggu besok siang di kedai kopi deket kantor kamu buat ngembaliin jam tangan aku. 😉”
~ Ayo mendekatkan diri ~
Shien meremas post it yang baru saja dibacanya itu dengan geram, lalu dilemparkannya post it tersebut ke tempat sampah. Ia berdecak tak percaya, sepertinya Langit sengaja meninggalkan jam tangannya di kamar mandi Shien untuk membuat alasan agar mereka bisa bertemu.
Shien tampak menggeleng-gelengkan kepala ketika ucapan Langit tadi kembali berputar-putar di kepalanya. Gadis itu berusaha menepisnya. Ya, ia hanya perlu menghindari Langit dan menganggap tidak pernah mendengar apapun yang dikatakan lelaki itu tadi.
Shien berusaha memejamkan matanya ketika ia sudah membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tapi ia malah terbayang-bayang ucapan Langit dan apa yang dilakukannya sebelum berpisah tadi.
“I fell in love with you at first sight.” Ahh, Shien berusaha melupakannya, tapi ia malah semakin mengingatnya sebanyak ia berusaha menyingkirkan bayang-bayang itu. “See you on Monday. I'll never give up, Shien.”
Ungkapan perasaan serta apa yang dilakukan padanya tadi bener-benar mengganggu pikiran dan hati Shien, hingga membuatnya tidak bisa sama sekali memejamkan mata sejak tadi ia berusaha untuk tertidur. Yang Shien inginkan saat ini adalah mengistirahatkan kepalanya. Rasanya pening sekali karena isinya dipenuhi oleh laki-laki itu.
Ia terpejam, lalu membuka matanya lagi. Sesekali ia menendang selimutnya frustrasi. Ia lantas menerawang ke arah langit-langit kamar dengan tangan terlipat memeluk boneka pisang miliknya.
Pikirannya sudah dikuasai oleh bayang-bayang Langit. Kenapa perasaannya aneh sekali? Shien merasa gelisah tak karuan. Jantungnya juga tiba-tiba berdetak lebih cepat dari biasanya.
Jika yang dikatakan Langit adalah benar. Kenapa ia harus menyukainya? Kenapa bukan Shanna? Wajah mereka sama, bukan? Selain itu, Langit jelas tahu kalau Shanna menunjukkan ketertarikan padanya. Tapi kenapa harus Shien? Tidak. Shien tidak boleh membiarkan hal ini terjadi. Langit salah. Yang harus ia sukai adalah Shanna, bukan dirinya.
Menghembuskan napas berat. Shien lalu beranjak dari pembaringannya, kemudian berjalan untuk mengambil obatnya yang ia simpat di dalam laci meja rias. Shien tidak boleh terjaga sampai pagi atau ia akan kelelahan dan kembali berakhir di kamar rumah sakit, sepertinya minum obat akan membuatnya cepat tidur.
********
Keesokan siangnya, Langit sudah duduk di sudut paling nyaman di sebuah kedai kopi, tepat di dekat jendela yang jauh dari kebisingan pengunjung lain. Sambil menyesap ice coffe mix blend yang tadi dipesannya, Langit terus menunggu seseorang yang diharapkannya datang. Shien. Laki-laki itu itu tak sabar menunggu sang pujaan hati datang.
Terserah Shien datang dengan sikap dinginnya, ia tak peduli. Yang jelas, Langit akan mengejarnya secara terang-terangan mulai sekarang. Toh, tadi malam ia sudah mengungkapkan perasaannya pada gadis itu.
“Lang. . . .” Langit buru-buru menoleh saat seseorang menepuk pundaknya. Namun, senyumnya menyurut seketika, karena yang datang bukanlah orang yang ia harapkan.
“Hei.” Balasnya disertai senyum yang dipaksakan. “Aku kirain Shien.” Lanjutnya dengan pandangan mengikuti Shanna yang kini berjalan untuk duduk di hadapannya.
Senyum yang semula menghiasi wajah Shanna segera menghilang mendengar itu, tapi detik berikutnya muncul lagi. “Emang mirip banget, ya? Padahal, rambutnya udah aku bedain.”
Langit hanya tersenyum lemah, kemudian ia menghela napasnya. Bukan seperti itu yang dimaksud Langit. Betapa ia sangat mengharapkan yang datang dan menyapanya adalah Shien. Bukan Shanna atau gadis lainnya.
“Shien mana? kok gak ikut?” Sebenarnya yang Langit ingin tanyakan adalah kenapa bukan Shien yang datang? Padahal, jelas-jelas ia meminta gadis itu untuk datang menemuinya hari ini.
“Dia bilang mager. Makannya nyuruh aku yang datang buat ngembaliin ini.” Shanna menyerahan paper bag kecil berisi jam tangan milik Langit.
Ya, tadi pagi Shien datang ke kamar Shanna dan meminta menemui Langit untuk mengembalikan jam tangannya di tempat yang sudah ditentukan. Gadis itu beralasan ingin menghabiskan hari liburnya untuk beristirahat di rumah saja.
Shanna jelas kegirangan. Namun, ia sedikit heran karena Langit malah meminta Shien untuk mengantarnya. Seharusnya Langit menghubunginya. Lagipula, sejak kapan laki-laki itu memiliki nomor Shien? Namun, Shanna tak ingin terlalu memikirkannya.
“Lagian, kamu tuh harusnya nyuruh aku yang nganterin. Shien mana mau diajakin keluar. Apalagi kalian belum deket.” Lanjut Shanna sedikit protes, mengingat sang adik yang tidak mudah untuk bisa berteman baik dengan siapapun.
“Itu. . . .” Langit mengusap tengkuknya sebelum kemudian ia melanjutkan kalimatnya. “Karena jam tangan aku ketinggalannya di kamar Shien.” Lanjutnya memberi alasan. Padahal, awalnya ia sangat sengaja meninggalkan jam tangan itu agar ada alasan untuk bisa mendapatkan waktu berdua dengan Shien. Tapi kenyataannya, rencana itu tak semulus yang diharapkan. Shien benar-benar gadis yang tidak mudah untuk ia kejar dan dapatkan.
__ADS_1
“But, thanks a lot.” Imbuh Langit tulus seraya mengangkat paper bag tersebut.
“Gak gratis.” Sahut Shanna jenaka.
“Kamu boleh pesen apa aja.” Balas Langit sambil melambaikan tangannya, menginstruksi seorang waiter untuk menghampiri meja mereka.
Shanna yang menndengar itu lantas berseru senang. “Jangan nyesel kalau dompet kamu kosong abis ini.” Gurau gadis itu dengan pandangan yang sibuk membaca menu yang akan dipilihnya. Sementara Langit yang mendengarnya hanya berdecih geli.
“Oh, iya, lolipop. . . .” Seruan Langit menghentikan gerakkan tangan Shanna yang tengah mencocol chicken fingersnya ke dalam saus sambal dan beralih menatap Langit dan menunggu laki-laki itu melanjutkan kalimatnya.
“Shien emang cuek sama semua orang, ya? Apa sama aku doang?” Tanya Langit kemudian. “Habisnya, dia kayak gak suka gitu sama aku.”
Menghela napas. Shanna menatap Langit lekat-lekat. Dulu ia pernah membawa teman laki-lakinya saat masih kecil dan anak itu lebih memperhatikan Shien saat bertemu dengannya. Dan sekarang, hal ini terjadi lagi. Shien memang selalu menarik perhatian banyak orang. Padahal, dia gadis yang pendiam dan tak suka bergaul.
Tunggu. . . .
Apa Langit menyukai adiknya? Ada perasaan tak terima terselip dalam hatinya, walaupun ia sudah berjanji pada diri sendiri akan mengalah jika pada Shien. Tapi, tetap saja hatinya menyangkal. Ia yang pertama kali bertemu Langit. Bagaimana bisa laki-laki itu menyukai Shien?
Buru-buru Shanna menepis pikiran itu. Langit pasti menanyakannya karena sikap Shien yang terlalu dingin. Lagipula, ia tak boleh iri pada adiknya. Siapa tahu saja Langit hanya ingin berteman. Ahh, Shanna sepertinya terlalu banyak berpikir.
“Shien emang cuek sama semua orang. Jadi dia bukannya gak suka sama kamu. Aku kan udah bilang kalau Shien itu susah bergaul.” Ujar Shanna. “Dan kalau kamu mau temenan sama dia, pinter-pinter, deh, cari cara buat deketinnya.” Lanjut Shanna dan mulai menyantap chicken fingersnya.
“Kenapa dia susah bergaul?” Tanya Langit lagi. Seketika raut wajah Shanna berubah sedih.
“Karena dia hampir gak pernah punya kesempatan.” Cicit Shanna pelan, hingga Langit tak bisa mendengarnya. Dadanya seketika terasa nyeri mengingat Shien yang menjadi introvert karena indikasi trauma dan depresi di masa kanak-kanaknya, sehingga enggan untuk berinteraksi di lingkungan sekitar atau lebih tepatnya adalah kemampuan bersosialisasi Shien benar-benar terhambat.
Shanna merasa bersalah karena ia tak bisa berbuat apa-apa saat itu karena ia masih sama kecilnya dengan Shien.
“Itu karena Shien emang lebih suka menyendiri.” Jawab Shanna sembari menyunggingkan senyum kaku.
“Apa yang dia lakukan kalau lagi sendiri?” Langit kembali bertanya, membuat Shanna sedikit mendengus.
“Baca buku, ngurusin kerjaan, dengerin musik, cari barang di olshop. Biasanya kayak gitu. Kalau aku pasti udah mati bosan, tuh.” Cerocos Shanna mengingat kebiasaan sang adik yang sangat berkebalikan dengan dirinya.
“Udah deh, dari tadi nanyain Shien terus, kuping dia panas nanti. Ganti yang lain.” Shanna melemmpar satu stick chicken fingers ke arah Langit hingga membuat laki-laki itu terkekeh kecil.
“Emm. . . .” Langit pura-pura berpikir seraya menyunggingkan senyum usilnya.
“Shien suka makanan apa? Warna sama bunga kesukaannya apa? Tempat favoritnya itu seperti apa? Terus satu lagi, tipe idealnya itu cowok kayak gimana?” Lanjut Langit mengajukan pertanyaan beruntun dengan sengaja untuk menjahili Shanna. Tapi tidak sepenuhnya menjahili. Ia memang ingin menggali informasi tentang Shien untuk mempermudah membangun hubungannya dengan gadis itu.
“Sengaja banget.” Shanna mengerucutkan bibirnya lucu, lalu menyesap ice blended miliknya. Sementara Langit hanya tergelak pelan melihatnya.
“Shien suka semua makanan, kecuali yang beresiko membahayakan kesehatan jantungnya. Suka warna-warna monokrom, suka semua bunga kecuali bunga bangkai, tempat yang biasa Shien kunjungi pastinya jauh dari keramaian.” Walaupun sedikit kesal, Shanna tetap menjawabnya dengan semangat dan tidak keberatan sama sekali.
“Dan satu lagi. Tipe idealnya pasti bukan kamu. . . .” Shanna pada akhirnya balas menjahili Langit. Kali ini laki-laki itu yang mendengus kesal dan Shanna yang tertawa.
“Kalau gitu, aku bakalan buat dia terpesona sama aku.” Seru Langit percaya diri.
“Jangan mimpi.” Cebik Shanna. “Kamu gak cocok kalau nanti jadi adik ipar aku.” Langit mengangkat sebelah alisnya dengan seringai meledek.
“Tapi cocoknya jadi kakak ipar Shien.” Lanjut Shanna jenaka, membuat Langit mencebikkan bibirnya, lalu berujar. “Jangan mimpi.” Dan Shanna tak tanggung-tanggung memukul lengan bahu Langit dengan keras.
Sisa perjalanan makan siang dan nongkrong mereka itu diisi dengan candaan garing hingga gelak tawa mereka terkadang menggema di sudut cafe itu. Sesekali Langit menyelipkan pertanyaan mengenai Shien di sela candaannya dengan Shanna.
__ADS_1
Ternyata idak buruk juga ia bertemu Shanna hari ini. Justru ia malah diuntungkan karena berhasil memperoleh beberapa informasi mengenai Shien. Gadis yang akan dan sedang didekatinya itu.
********
Senin pagi datang, Shien sudah tiba di kantornya. Ia sengaja datang pagi-pagi buta untuk menghindari Langit yang akan menjemputnya. Gadis itu bahkan melewatkan sarapan bersama dan meminta Bi Sumi untuk membuatkannya bekal. Alhasil, ia sarapan di kantornya pagi ini. Tidak hanya itu, Shien bahkan membuat Fina uring-uringan karena harus menjemputnya terlalu pagi.
“Shi. . . .” Seruan Fina menghentikan kunyahan avocado toast yang tengah dimakan Shien. Gadis itu mendongakkan kepalanya ke arah Fina yang sedang ikut sarapan bersamanya. Sebelah alisnya terangkat, menunggu Fina melanjutkan apa yang hendak dikatakannya.
“Kamu ada affair sama Langit, ya?” Shien menelan bulat-bulat makanan yang belum tercacah dengan baik itu. “Mana ada.” Sambar gadis itu, lalu meneguk air mineral untuk memudahkan roti panggang tersebut terdorong masuk ke kerongkongannya.
Fina menjulurkan bibir bawahnya diiringi dengan tatapan memicing tak percaya. Pasalnya, ia sudah melihat perlakuan Langit saat di rumah sakit pada Shien yang tampak berbeda, terlebih beberapa hari yang lalu saat Langit berbohong padanya untuk menjemput Shien benar-benar membuatnya curiga. Ahh, bukan hanya itu. Sebelumnya ia juga pernah melihat Langit datang ke kantor dan menanyakan Shien pada resepsionis. Tidakkah mereka ada apa-apanya?
“Dia nelepon terus, tuh, dari tadi. Pangeranku. . . .” Cebik Fina seraya menunjuk ponsel Shien yang sedari tadi terus menyala menggunakan dagunya. Sepertinya Shien sengaja memasang mode mute, sehingga ponsel tersebut tidak berbunyi atau bergetar.
Shien membulatkan matanya. Sial. Ia lupa mengganti nama Langit. Tapi bagaimana Fina bisa tahu jika itu panggilan dari Langit?
“Tadinya aku cuma nebak doang, sih. Ehh, ekpresi kamu membenarkan.” Fina tersenyum menyeringai seolah meledek Shien, hingga membuat gadis itu mendengus kesal.
“Pangeranku. Haha, aku gak nyangka Nona Shien bisa sebucin itu.” Fina tertawa meledek. Sumpah demi apapun, tawanya terdengar sangat menyebalkan di telinga Shien, sehingga ia ingin menyumpalnya dengan apapun agar mulut gadis itu terkatup.
“Bukan aku yang nyimpan.” Seru Shien yang tak terima diledek seperti itu. Memang bukan dia yang menyimpan nama kontak selebay itu, tapi si dokter petakilan yang menyimpannya.
“Kayak aku percaya aja.” Cibir Fina, membuat Shien ingin melemparnya dengan roti panggang yang ada di tangannya.
Shien lantas dengan kasar meraih ponselnya, lalu menghapus nama Langit dari daftar kontak nomor telepon.
“Puas?” Gadis itu menunjukkan ponselnya ke hadapan wajah Fina. Sejurus kemudian, ponsel itu menampilkan nomor Langit yang kembali menghubungi nomor Shien. Dan dengan segera Shien mematikan panggilan itu, masih di hadapan Fina.
Fina menelan makanannya susah payah saat melihat tatapan penuh kekesalan Shien. “Ya udah, sih, kalau emang gak ada apa-apa. Aku cuma becanda tadi.” Fina mengacungkan dua jarinya membentuk tanda V seraya tersenyum kaku. “Tuh nomor gak usah di hapus juga, kali. Siapa tahu suatu saat butuh.” Imbuhnya kemudian, tapi Shien hanya mengedik tak peduli dan melanjutkan sarapannya yang sempat tertunda.
“Kalau gitu Langit bukan pacar kakak kamu, Shi?” Shien memutar bola matanya malas. Kenapa Fina masih membicarakan Langit, sih? Orang yang sangat ingin dihindarinya.
“Kalau bukan, kenapa? Kamu tertarik sama dia?” Sahut Shien ketus.
“Ohh, pantesan dia ngejar kamu. Kayaknya dia emang beneran suka sama kamu, Shi.” Fina mannggut-mangggut mengerti dan lega saat mendengarnya. Walau bagaimanapun, ia tak ingin ada kejadian semacam Twins Affair dimana kedua saudara kembar saling memperebutkan cinta yang sama seperti kisah di film-film atau novel tertentu.
Fina sudah menganggap Shien seperti adiknya sendiri yang harus ia lindungi dan luruskan jika gadis itu menyimpang. Jadi, saat melihat Langit tampak terang-terangan menunjukkan rasa sukanya pada Shien, sementara laki-laki itu terlihat dekat dengan sauradanya Shanna, Fina sedikit khawatir. Tapi saat ia mendengar bahwa Langit bukan kekasih Shanna, ia merasa lega mendengarnya.
“Aku bilangin Tante Hilda buat potong gaji kamu, kalau sekali lagi kamu berani nyebut nama laki-laki itu.” Ancam Shien, membuat Fina segera mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
“Gak asyik banget ngancamnya bawa-bawa jabatan sama relasi.” Fina mendengus kesal, namun Shien tak mengindahkannya. Sebenarnya Fina heran kenapa Shien begitu sensitif saat membicarakan Langit, tapi ia enggan bertanya atau gadis itu akan membekukannya. Tatapan kesal Shien yang dingin benar-benar hal yang paling ditakuti oleh Fina selama lima tahun mengenalnya.
Beberapa detik setelahnya, dering telepon di meja Shien mengalihkan perhatian kedua gadis yang tengah menikmati sarapannya yang tinggal sedikit lagi.
“Siapa pagi-pagi gini nelepon?” Gumam Fina yang langsung meraih gagang telepon mewakili Shien.
Shien diam memperhatikan Fina yang berbicara dengan orang di seberang telepon sana. Fina sejenak menjauhkan gagang telepon tersebut, untuk kemudian ia berucap pelan pada Shien. “Katanya, ada Langit nunggu kamu di bawah.” Dan ternyata yang menelepon ke ruangan Shien adalah staf front office yang mengatakan bahwa ada seseorang bernama Langit menanyakan Shien.
“Bilang aku gak ada.” Ujar Shien tegas, dan tanpa banyak bicara lagi Fina menuruti apa yang dikatakan Shien.
********
To be continued. . . .
__ADS_1