
********
“La-Langit. . . .” Seluruh bulu kuduk Shien seperti bangkit bersamaan, hingga bagian tengkuknya seperti ditiup angin saat Langit kini menghisapi jari-jemarinya. Tubuhnya seketika gemetar kecil saat jarinya bergesekan dengan gigi Langit. Rasanya sangat aneh dan tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
“Shi, aku boleh cium kamu, gak?” Tanya Langit sesaat setelah dirinya selesai membersihkan jari-jemari tangan Shien yang membutuhkan waktu cukup lama itu.
Shien mengerjap, ia mendapatkan kesadarannya kembali begitu Langit melayangkan pertanyaan yang terdengar sangat bodoh itu. Sebelumnya dia sudah mencuri ciuman pertama Shien tanpa izin, dan sekarang dia meminta izin untuk menciumnya seolah dia adalah laki-laki yang sangat sopan? Cih, apa laki-laki ini masih waras?
“Ci-cium?” Shien berpura-pura gugup. Sementara Langit mengangguk malu-malu.
“Langit. . . .” Kedua tangan Shien lantas merayapi lengan kekar Langit dan berhenti di pundak, lalu merematnya hingga membuat Langit tertegun akan sikap aneh Shien yang tiba-tiba. Namun, dalam hatinya ia sangat senang. Ia seperti sedang berada di atas angin saat ini.
Mendapat perlakuan seperti itu dari Shien, sontak saja membuat seluruh tubuhnya merinding.
“Shi. . . ,Shien. . . .” Langit menahan napasnya saat rasa geli muncul dari elusan tangan Shien di lehernya. Ia memejamkan mata seiring dengan tubuhnya yang memanas saat Shien mendekatkan wajahnya, dan kemudian laki-laki itu memekik keras tatkala ia merasakan ngilu yang luar biasa pada hidungnya.
“Jangan mimpi.” Sungut Shien sesaat setelah dirinya membenturkan kepalanya ke hidung Langit hingga berdarah.
“Shien, kamu gila.” Langit refleks berteriak kesakitan dan memarahi Shien. Tulang hidungnya terasa sangat sakit dan berkedut-kedut, hingga Langit merasa hidungnya mungkin patah. Ohh, tidak. Wajahnya tampannya cacat sekarang.
“Kamu yang gila, dasar dokter cabul.” Balas Shien tak kalah berteriak. “Udah, sana. Jauh-jauh, deh.” Shien mendorong tubuh Langit hingga menjauh darinya, lalu menghembuskan napas dengan kesal.
“Hiish.” Langit mendelik sebal, kemudian meringis ngilu saat ia mengusap darah yang sedikit mengucur dari hidungnya.
Sambil bersedekap dan menatap lurus ke depan, Shien melirik Langit dengan ekor matanya. Laki-laki itu terlihat sibuk membersihkan darah di sekitar lubang hidungnya mengggunakan tissue sambil berkaca pada kamera ponsel.
Ada sedikit kekhawatiran menyelinap di hati Shien saat menlihat Langit meringis kesakitan. Apa ia sudah keterlaluan? Bagaimana kalau hidungnya patah? Tapi buru-buru Shien menggelengkan kepalanya untuk mengusir rasa khawatir itu. Masa bodoh patah atau tidak. Siapa suruh dia mengajukan pertanyaan bodoh dan menjilati tangannya sembarangan?
“Sini. . . .” Dan terkadang impuls saraf tak bisa diarahkan sesuai keinginan. Baru saja beberapa saat yang lalu Shien berpikir untuk tidak peduli dan khawatir, tapi ada saja sel-sel saraf di otaknya yang membandel hingga mengontrol keseluruhan saraf lainnya untuk bertindak di luar dugaan.
Seperti sekarang, Shien malah mengulurkan tangannya untuk meminta tissue dari tangan Langit dan berniat membantu laki-laki itu untuk membersihkan darah di hidungnya karena ia melihat Langit tampak kesusahan.
Memang gila.
Langit terdiam seraya mengernyitkan keningnya tak mengerti. Raut wajahnya masih memperlihatkan kekesalan pada Shien.
Tanpa banyak bicara, Shien langsung merebut tissue dari tangan Langit. “Sini aku bantu.” Langit hanya melongo tak percaya.
Tapi saat tangan Shien baru saja akan menyentuh hidungnya, Langit dengan refleks menjauhkan tubuhnya, hingga membuat Shien mengernyit kebingungan.
“K-kamu gak ada niatan nonjok hidung aku, kan?” Tanya Langit takut-takut.
Shien hanya mendengus geli. Ingin sekali ia tertawa melihat wajah Langit yang tengah menatapnya ragu-ragu itu. Tampangya sangat bodoh dan itu lucu, hingga membuat sudut bibir Shien tertarik membentuk senyuman tipis yang nyaris tak terlihat.
“Tergantung kamunya, sih.” Shien mulai menyeka darah yang masih mengalir di sekitar lubang hidung Langit dengan hati-hati. “Kalau kamu masih cabul kayak tadi, aku bisa aja langsung tabok mulut kamu.” Imbuhnya kemudian.
“Cabul?” Langit mendengus kesal. “Itu keterlaluan.”
“Itu kenyataan.” Sahut Shien santai.
Langit hanya mendelik sebal mendengarnya. “Aww. . . .” Shien tersentak karena tiba-tiba Langit memekik. Padahal, ia sudah sangat hati-hati.
“Kenapa?” Tanya Shien khawatir. “Kamu terlalu kuat nekannya.” Jawab Langit diiringi ringisan.
“Ohh, maaf.” Lalu Shien tanpa sadar meniup-niup hidung Langit, hingga membuat laki-laki itu tersenyum melihat sikapnya.
__ADS_1
Menyadari ekspresi Langit, Shien menatapnya sebentar, lalu berhenti meniup. “Kamu bohong, ya?” Shien melempar tissue yang tadi ia gunakan untuk menyeka darah ke wajah Langit. Ternyata laki-laki itu hanya berpura-pura kesakitan untuk mendapatkan perhatiannya. Ck, dasar rubah licik.
“Ciee, mulai perhatian.” Ledek Langit jenaka. “Tapi aku seneng, kok.”
Shien tak menjawab. Tapi mulutnya terlihat komat-kamit mengeluarkan gerutuan tak jelas. Shien benar-benar menyesal sudah sempat khawatir pada laki-laki itu. Sekarang, ia sangat ikhlas jika hidung Langit benar-benar patah.
“Berangkat lagi sekarang?” Tanya Langit yang masih dalam posisi bersandar pada sandaran kursi. Ia memutar lehernya untuk melihat ke arah Shien yang tengah merogoh sesuatu dari dalam tasnya.
“Terserah.” Sahut Shien tanpa mengalihkan perhatian dari kegiatannya mencari sesuatu dari tas Christian Dior warna putihnya itu, kotak obat harian miliknya. Ya, Shien tidak boleh melewatkan atau terlambat meminum obat demi kelangsungan hidupnya.
Terkadang Shien mengeluh karena hidupnya begitu bergantung dengan obat-obatan yang jelas jumlahnya tidak sedikit dalam sekali minum.
Sambil tetap bersandar, Langit memperhatikan Shien yang tengah meminum obatnya itu dengan dorongan air. Hatinya mendadak meringis. Gadis itu selalu terlihat kuat di luar, tapi tanpa banyak orang yang tahu, dibalik itu Shien berjuang dengan susah payah untuk bertahan hidup.
Langit menarik napas panjang, lalu menghembuskannya. Ia harap Shien bisa sembuh total agar hidupnya tidak bergantung dengan obat-obatan lagi. Dan yang lebih penting, gadis itu tidak perlu lagi berjuang melawan kematian yang seringkali hampir menjemputnya.
Langit mengetahui semua itu dari Shanna. Kondisi jantug Shien sangat lemah, walaupun sudah menjalani prosedur operasi untuk mengobatinya, hingga dokter memvonis Shien kemungkinan hanya bertahan satu sampai dua tahun lagi. Tapi masih ada satu cara lain untuk menyembuhkan penyakit jantung bawaan Shien dengan tingkat keberhasilan yang cukup tinggi, yaitu dengan transplantasi jantung. Namun, sampai sekarang rumah sakit belum menemukan pendonor yang cocok untuk gadis itu.
Dan Langit tidak akan menyerah. Ia pastikan Shien akan mendapatkan jantung baru secepat mungkin dan membuat Shien hidup di sisinya selama mungkin. Shien adalah gadis yang dipilihnya, Langit akan berusaha melakukan yang terbaik untuk membuat dia bertahan hidup lebih lama.
“Kenapa?” Tanya Shien yang melihat Langit terus memperhatikannya selama ia meminum obat, dan itu membuatnya tidak nyaman.
Langit menggelengkan kepalanya lemah sambil mengulum senyum tipis. “Kamu cantik.” Langit menyeka sisa air yang masih membasahi daerah sekitar bibir bagian atas Shien.
“Jadi pengen ci . . . . mmh.” Dengan cepat pukulan tangan Shien mendarat di bibir Langit hingga laki-laki itu tidak sempat menyelesaikan ucapannya.
“Mulut kamu, tuh.” Shien menatap Langit yang dengan tatapan kesal. Mau sampai kapan laki-laki itu terus menggodanya seperti ini? Menyebalkan sekali.
“Si cantik ini galak banget, dari tadi maen pukul terus. Bisa gak, kalau mukulnya gak pake tangan?” Langit mencolek dagu Shien dengan genit. Ya Tuhan, rasanya Shien ingin mencakar wajah laki-laki yang ada di sebelahnya ini sekarang juga. Lama-lama ia bisa mati karena kesal kalau Langit terus menggodanya.
“Pake bibir, boleh?” Sekali lagi Langit menggoda gadis itu diiringi senyuman yang terlihat menyebalkan menurut Shien.
Terserah. Terserah Langit mau mengatakan apapun, Shien tak akan menyahutinya lagi. Heran saja, di awal pertemuan Langit terlihat sangat kalem dan bersahaja. Tapi setelah laki-laki itu mengungkapkan perasaannya, dia semakin berani berkata dan melakukan apa saja pada Shien. Cih, dasar laki-laki. Di awal seperti malaikat, tapi makin ke sini semakin terlihat penampakan sebenarnya bahwa Langit itu adalah setan genit.
“Ngeselin kamu.” Cebik Shien seraya menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi dengan kasat. “Iya, aku emang ganteng.”
Shien mendesis sebal, lalu kembali menoleh ke arah Langit dengan wajah yang sudah memerah karena menahan kesal. “Bisa jalan sekarang, gak?” Sentak Shien tak tahan. Kekesalannya sudah menggunung di hatinya. Sementara Langit malah terkekeh geli melihat ekspresi Shien. Tetap menggemaskan, walaupun wajahnya sudah seperti banteng yang melihat kain merah matador.
“Haha. Oke, sayang. Kita berangkat sekarang.” Ujar Langit untuk kemudian ia kembali melajukan mobilnya, melanjutkan perjalanannya yang sempat terhenti.
Sementara Shien memilih berpura-pura tidur untuk menghindari percakapan dengan Langit yang akan berakhir dengan kekesalan, karena pasti yang keluar dari mulut laki-laki itu adalah kalimat godaan semua.
********
Butuh waktu sekitar tiga jam setelah tadi sarapan pagi untuk Langit sampai di tempat tujuan untuk kencan pertamanya bersama Shien. Saat ini mobilnya sudah terparkir rapi di parkiran yang tak jauh dari tepi laut yang ada di daerah Garut.
Meregangkan otot tangan dan bahunya yang sedikit pegal karena menyetir dengan jarak yang cukup jauh, Langit lantas menyandarkan punggungnya dengan kepala yang menoleh memandangi wajah Shien yang masih terpejam. Sepertinya gadis itu benar-benar tertidur, alih-alih berpura-pura.
Disingkapnya anak rambut yang menutupi sebagian wajah Shien agar tidak mengganggu Langit saat menikmati wajah tidur gadis cantik yang sudah membuatnya jatuh hati itu. Gadis yang berhasil membuat jantungnya berdebar hebat bahkan hanya saat mengingat namanya.
Dari rambut, tangan Langit beralih ke pipi Shien yang terlihat sedikit pucat, lantas dibelainya pipi gadis itu dengan sayang.
Merasakan belaian lembut menjalar di pipinya, Shien yang masih berada di alam bawah sadarnya mulai terganggu dan seketika mengernyitkan keningnya dengan kedua mata yang masih tertutup rapat.
“Eungh. . . .” Shien melenguh perlahan seiring dengan jiwanya yang juga perlahan telah kembali dari alam bawah sadarnya sedikit demi sedikit.
__ADS_1
Shien mengerjapkan matanya perlahan dan Langit adalah pemandangan yang pertama kali dilihatnya begitu ia membuka mata. Gadis itu terdiam sejenak dengan napas teratur, mengumpulkan nyawanya yang sebagian masih tertinggal di alam mimpi.
“Udah bangun?” Tanya Langit tepat saat Shien membuka matanya dengan sempurna.
Shien bergeming tak menyahutinya. Gadis itu masih betah berlama-lama menatap Langit yang tersenyum hangat padanya dengan tatapan kosong. Shien tak menyangkal jika senyuman hangat Langit mampu menggetarkan hatinya, sangat menenangkan jika ia melihat itu.
Biarkan Shien menikmati ini sejenak, sebelum kemudian ia benar-benar harus menjauhkan diri dari Langit setelah ini.
Shien tidak boleh membiarkan perasaan yang salah ini bersemayam di hatinya terlalu dalam. Ingat. Shanna menyukai Langit dan Shien tidak ingin mengikat dirinya dengan siapapun.
“Kenapa ngeliatin aku kayak gitu? Baru sadar, kalau ternyata aku ganteng?” Goda Langit sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Shien yang masih bergeming. Tubuh gadis itu mendadak lemas seperti jelly mendapati Langit yang sedekat ini dengannya.
Lalu tanpa permisi, Langit mengecup ujung hidung Shien sekilas. Shien melongo. Hanya sekitar dua detik Langit menciumnya, tapi cukup membuat seluruh tubuhnya merinding. Dan satu hal lagi. Kenapa Shien tidak marah dengan apa yang dilakukan Langit tadi? Lidahnya mendadak kelu, meski pikirannya meronta meminta untuk meneriaki dan memaki laki-laki yang sudah berani mencuri satu kecupan lagi padanya. Ohh, Shien seperti sedang dikutuk menjadi batu saat ini. Tubuh dan mulutnya tidak bisa melakukan perlawanan.
“Kenapa? Masih kurang?” Langit terseyum menyeringai saat mendapati Shien yang masih bengong menatapnya.
Gadis itu mendengus mendengar Langit yang masih betah menggodanya. Tangannya lantas melayang, bersiap-siap untuk memukul dada Langit, namun dengan cepat laki-laki itu menahan tangannya, lalu mengecupinya hingga membuat Shien merengut kesal.
“Dokter cabul.” Umpat Shien seraya menarik tangannya. Langit mendengus, tak suka saat Shien mengatainya dokter cabul. Apa itu tidak terlalu kasar?
“Langit, kamu mau ngapain?” Shien panik ketika Langit menangkup kedua sisi wajahnya disertai tatapan dingin.
“Ini hukuman karena kamu udah ngatain aku cabul.” Ucap Langit sesaat setelah ia mendaratkan satu kecupan singkat pada bibir Shien.
Laki-laki itu menyunggingkan senyum menyeringai pada Shien yang tengah menatapnya kesal. Seyuman itu begitu penuh dengan ledekan seolah mencibir bahwa Shien sudah kecolongan lagi.
“Cium-cium sembarangan, kalau bukan cabul apa namanya?” Sungut Shien berapi-api sambil menegakkan tubuhnya.
“Itu namanya scene romantis dalam cerita kita.” Shien memutar bola matanya malas ketika mendengar jawaban Langit yang nyeleneh. Dan ia memilih untuk tidak menyahutinya lagi. Biarlah laki-laki itu berpikir sesuka hatinya.
“Come on, wake up. Ayo nikmati kencan pertama kita hari ini.” Seru Langit kemudian.
Shien yang baru sadar mobil Langit sudah berhenti, sedikit tersentak. Gadis itu kemudian memandang sekeliling. “Kita dimana?” Walaupun Shien sudah menebak bahwa mereka sedang berada di daerah pantai, tapi tetap saja ingin bertanya untuk memastikan.
“Pantai.” Jawab Langit seraya tersenyum simpul. “Turun setelah kamu ganti baju.” Langit menyerahkan paper bag berisi outfit pantai yang sengaja ia siapkan untuk Shien.
“Pake dan jangan protes.” Titah Langit penuh peringatan. Lantas dengan cepat ia keluar dari dalam mobil, membiarkan Shien berganti pakaian di sana.
Beberapa menit kemudian, Shien turun dari mobil. Setelan kerja yang semula membalut tubuhnya kini berganti dengan midi dress warna putih bermotif floral pink berbahan rayon dan tanpa ornamen apapun, sehingga menampilkan kesan simple dan manis. Pakaian yang cocok untuk berjalan-jalan di pantai.
Tak lupa, Shien juga mengganti strap heelsnya dengan sandal jepit yang sudah Langit siapkan. Ck, sepertinya Langit sebelumnya memang sudah berniat menculiknya ke sini dengan persiapan yang matang.
Aroma amis laut yang khas menyeruak ke dalam indra penciuman Shien begitu ia turun dari mobil. Ia lalu mengambil udara banyak-banyak untuk mengisi rongga paru-parunya yang lapang.
Shien mengedarkan pandangannya ke sekitar. Baru kali ini, selama dua puluh lima tahun hidupnya, Shien menginjakkan kakinya di pantai. Ia baru tahu, ternyata pantai sangat ramai. Ia baru tahu, ternyata pantai memiliki aroma yang hangat. Dan Shien juga baru merasakan suara deburan obak terdengar begitu menenangkan.
Waktu kecil, ia selalu berharap Papa dan Mama mengajaknya liburan ke pantai. Tapi kembali lagi, ia adalah anak yang tertinggal. Hanya Shawn dan Shanna lah yang bisa pergi bersama mereka, sementara ia sendirian di rumah dan menunggu Shanna menceritakan pengalamannya setelah pulang.
Ahh, mengingat itu membuat hatinya berdenyut nyeri.
“Ayo.” Seruan Langit membuat gadis itu terbangun dari lamunannya. Bahkan ia tak menyadari, tahu-tahu Langit sudah memakaikan topi pantai di kepalanya.
Entah kapan dia menyiapkan itu. Tapi Shien bisa menebak jika Langit baru saja membelinya, saat ia melihat pedagang yang menjajakan barang dagangannya berlalu tak jauh dari posisi mereka saat ini.
********
__ADS_1
To be continued. . . . .