
Enjoy. Bentar lagi cerita ini tamat. 😉
********
Shien sudah menjalani serangakain pemeriksaan mulai dari pemeriksaan darah, MRI, CT scan, dan lainnnya. Tim Dokter yang menangani Shien kembali tersenyum senang karena hasil pemeriksaan Shien cukup baik. Shien tidak mengalami cacat baik fisik maupun mental, juga tidak ada komplikasi penyakit lain. Dokter mengatakan kalau apa yang terjadi pada Shien itu keajaiban Tuhan.
“Om juga bilang apa? Walaupun itu satu banding seratus, ada orang yang bisa bangun normal setelah mengalami kecelakaan seperti Shien. Bagaimana kamu bisa bilang kalau Shien gak ada harapan dan kami harus bersiap untuk kemungkinan terburuk?” Gerutu Papa yang kini sedang duduk berdua di ruangan Nathan sebagai Dokter yang bertugas untuk menyampaikan informasi mengenai kondisi Shien.
Nathan mendesis, lalu tersenyum. “Rencana Tuhan memang penuh kejutan.”
“Tapi, masih ada sesuatu yang masih perlu kita waspadai, Om.” Ujar Nathan, wajahnya berubah sangat serius, membuat Papa khawatir. “Dari hasil pemeriksaan EKG. Kondisi jantung Shien tetap masih lemah, bahkan bisa dibilang sangat lemah, sehingga Shien bisa mengalami serangan jantung sewaktu-waktu. Itu bisa jadi bom waktu untuk hidup Shien kalau kita tidak segera mendapatkan donornya. Bukan tidak mungkin Shien akan kembali mengalami kondisi kritis dan kemungkinan terburuknya. . . . .”
“Om percaya, Tuhan pasti sedang menyiapkan jantung baru untuk Shien.” Sela Papa, memotong kalimat penjelasan Nathan yang belum selesai. “Dan Om juga yakin Shien bisa menunggu sampai hari itu tiba.” Sambungnya optimis.
Shien sudah hidup sampai sejauh ini. Bahkan dia berhasil melewati masa kritisnya. Jadi, Papa yakin jika Shien pasti bertahan sampai tiba waktunya dia mendapatkan jantung baru untuk kemudian hidup sehat dan berumur panjang.
Nathan mengangguk sembari melemparkan senyum hangatnya. “Kalau begitu, kita semua harus menguatkan doa agar Tuhan segera memberikan jantung baru untuk Shien.”
********
“Sayang. . . .”
Mama merentangkan tangannya dan berhambur memeluk Shien yang kini sudah dipindahkan ke ruang rawat. Gadis itu kini sedang duduk dengan punggung bersandar pada sandaran ranjang pasien, sementara Mama ikut duduk di sebelahnya.
Sejak Shien terbangun, wanita paruh baya itu tak henti-hentinya mengucap syukur kepada Tuhan. Tidak ada yang lebih membahagiakan daripada mendapati putrinya sudah kembali ke sisinya.
“Mama seneng banget kamu udah kembali. Terima kasih.” Ucap Mama sambil mengusap-usap lembut punggung Shien. Tampak wanita itu mengeluarkan air mata haru lagi.
Shien mendengus geli. “Udah puluhan kali Mama ngomong kayak gitu.”
Ucapan Shien membuat Mama merasa separuh lega dan separuh kesal, lalu Mama menepuk pelan punggung gadis kecilnya gemas. “Itu karena Mama terlalu senang. Udah bikin Mama khawatir, malah ngeledek.”
Shien tersenyum geli di balik pelukan Mama. “Maaf.” Cicitnya kemudian.
Sudut hati Shien rasanya meringis memikirkan bagaimana panik dan khawatirnya Mama dan Papa mendapatinya tidur selama hampir lebih dari tiga bulan. Terlihat dari wajah mereka yang sedikit kurus dari sebelumnya.
“Kamu tahu? Saat kamu gak sadar selama berpuluh-puluh hari ini, Mama merasa gak hidup sedikit pun. Jadi, tolong jangan pernah melakukan ini lagi.” Ujar Mama sambil membelai lembut wajah Shien yang pucat sesaat setelah ia mengurai pelukannya.
Shien hanya tersenyum seraya memegang tangan Mama yang berada di kedua sisi wajahnya.
“Kalau gitu, karena sekarang aku udah bangun. . . .” Shien meraih tangan Mama dan beralih menggenggamnya. “Mama gak usah mengkhawatirkan apapun lagi, jangan menangis lagi. . . .” Kemudian satu tangannya terulur mengusap air mata yang mengalir dari mata Mama. “Lebih baik, sekarang Mama pergi ke salon. Keriput di wajah Mama tambah banyak.” Kelakarnya sambil mengelus lembut pipi Mama dengan tatapan penuh meledek, sehingga membuat Mama yang mendengar dan melihatnya sontak tersenyum jengkel, lalu memberi pukulan pelan pada sisi paha Shien gemas.
“Sejak kapan kamu jadi ngeselin kayak gini?” Dengus Mama, namun tak bisa menyembunyikan senyum geli sekaligus kesalnya. “Udah tidur gak bangun-bangun, pas bangun malah ngeledek orang tua. Siapa yang ngajarin?” Lantas Mama mencubit gemas hidung Shien yang sudah bisa lepas dari alat bantu pernapasannya itu.
Shien hanya terkekeh geli. Sesuatu yang jarang sekali Mama lihat, namun itu membuat hatinya bungah. Bisa saling melempar candaan seperti ini dengan Shien, rasanya Mama seperti kembali ke masa dua puluh tahun yang lalu. Masa-masa di mana ia dan Shien begitu dekat dan intim selayaknya ibu dan anak.
Mama menemukan Shien yang dulu. Ia merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Mama sampai merasa mati pun tidak apa-apa kalau bisa melihat Shien tersenyum seperti itu.
“Ohh, iya. . . .” Shien menghentikan kekehannya saat teringat sesuatu, tepat setelah ia melihat tangggal yang tertera pada jam digital yang terletak di atas meja nakas. “Hari ini harusnya ulang tahun Mama, kan?”
Mama mengangguk, lalu menatap Shien penuh tanya seraya menyelipkan anak rambut Shien yang sudah sedikit panjang hingga menyentuh punggung itu ke belakang telinganya. “Kenapa?”
Shien menggelengkan kepalanya pelan. “Enggak. Aku gak harus ngucapin lagi, kan?”
Mama memutar bola matanya malas, sepertinya mode cuek Shien sudah kembali lagi. Mama sangat tahu jawaban Shien jika ia bertanya, karena gadis itu sudah mengucapkan selamat ulang tahun di awal.
“Gak ada salahnya ngucapin lagi. Kan waktu itu cuma pake tulisan.” Sahut Mama sedikit sebal.
“Ohh.” Shien mengangguk-angguk, lalu mengulurkan tangannya sebelum kemudian ia berucap dengan wajah yang teramat santai. “Selamat ulang tahun.”
Mendengus sebal, Mama lantas memukul pelan tangan Shien yang terulur itu.
“Kamu pikir Mama ini teman kamu?” Gerutunya tak terima. “Masa iya ngucapin ulang tahun sama Mamanya sendiri cuma disalamin doang.”
“Terus gimana?” Tanya Shien dengan sebelah alis terangkat. Selama enam belas tahun terakhir ini ia tidak pernah memberi ucapan selamat ulang tahun untuk Mama. Jadi terang saja jika Shien tidak tahu cara melakukannya dengan baik. Tidak hanya pada Mama. Shien terbiasa mengucapkan selamat ulang tahun seperti itu pada siapa saja termasuk Tante Hilda yang notabenenya sudah ia anggap seperti ibunya sendiri.
“Harusnya itu ngucapinnya dengan wajah manis, terus pake suara agak dicempreng-cemprengin gitu lho, Shi. Kayak anak-anak di drakor. Terus abis itu kasih ciuman di pipi kanan kiri.” Jelas Mama berbinar-binar, mengingat salah satu adegan manis antara anak dan ibu dalam drama Korea yang pernah ia tonton bersama Shanna.
__ADS_1
Sementara Shien yang mendengarnya hanya bergidik sambil memasang wajah penuh cibiran. Ia tahu maksud Mama itu adalah melakukan aegyo atau melakukan tindakan dengan gaya imut dibuat-buat. Tapi itu adalah sesuatu yang amit-amit Shien lakukan. Menurutnya, melakukan hal seperti itu terlihat sangat menjengkelkan alih-alih imut.
“Aku mau tidur.” Ucap Shien yang ingin menghindar, takut-takut sang Mama benar-benar akan memintanya untuk melakukan hal itu.
“Hei, kamu udah tidur tiga bulan. Mama gak akan ngebiarin kamu tidur lagi.” Mama menahan lengan Shien yang sudah bersiap-siap merebahkan dirinya. Mama tahu Shien bohong, tapi Mama serius tidak ingin melihat Shien tidur. Karena jika Shien tidur, Mama takut Shien tidak terbangun lagi seperti sebelumnya. Memang kejadian itu membuat Mama mengalami sedikit trauma karena terlalu terguncang. Apalagi itu terjadi sangat tiba-tiba.
“Mama gak akan nyuruh kamu buat ngelakuin itu. Beneran, deh.” Mama mengacungkan dua jarinya membentuk tanda V. Sementara Shien hanya mencebik dengan tatapan tak percaya, ia kembali menyandarkan tubuhnya pada sandaran ranjang.
“Tapi Mama mau kamu ngasih kiss di sini sama di sini sebagai hadiah ulang tahun.” Pinta Mama sambil menunjuk pipi kanan dan kirinya. “Soalnya Mama gak suka gelang kaki yang kamu kasih waktu itu.” Imbuh Mama sebelum Shien mengatakan kalimat protes sudah memberi hadiah ulang tahun sebelumnya.
Shien mengerjap sambil memasang ekspresi seperti keberatan. Pasalnya, ia tidak pernah mencium orang lebih dulu setelah beranjak dewasa, rasanya sangat aneh.
Ralat. Kecuali Langit. Shien pernah mencium Langit lebih dulu beberapa kali, mungkin puluhan kali. Shien lupa menghitungnya.
Mengerjap lagi. Mendadak kepala Shien jadi dipenuhi Langit saat ingatannya tiba-tiba memunculkan nama itu.
Wajah Shien berubah sedih seiring dengan sudut hatinya yang berdenyut nyeri. Shien ingat terakhir kali bertemu Langit adalah saat di taman restoran, Langit marah-marah dan menuduhnya dengan sangat keterlaluan saat itu. Dan yang paling terakhir Shien ingat adalah sesaat sebelum ia ditabrak mobil. Shien melihat Langit dan Shanna sedang, entahlah. Rasanya Shien tidak sanggup menebaknya.
Shien ingat, saat itu ia langsung berlari ke luar rumah, lalu mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi dan ugal-ugalan tiba-tiba menabraknya. Shien tidak mengingat apapun lagi setelah itu, dan tahu-tahu ia terbangun di ruang ICU rumah sakit tiga bulan kemudian.
Seketika berbagai pertanyaan tentang Langit bermunculan di kepalanya. Apa kabar Langit? Di mana dia sekarang? Apa dia masih salah paham padanya? Apa Langit ada di sisinya selama Shien koma?
Shien tersenyum kecut. Merasa dirinya sangat bodoh karena berharap Langit tetap ada di sampingnya selama ia tertidur panjang. Lagipula siapa yang akan bertahan dengan orang sakit yang sudah divonis dengan tingkat harapan hidup rendah? Itu tidak mungkin. Terbukti saat Shien tidak melihat Langit sekarang.
Jika Langit belum meninggalkannya, mungkin saat ini dia akan bergegas menemui Shien setelah dirinya sadar, karena bukan tidak mudah bagi Langit mendapatkan infotmasi terkait kondisi terkini Shien.
Namun meski demikian, Shien tidak ingin menanyakan apa Langit masih setia menemuinya atau tidak pada Mama. Dan jika Shien melakukannya, mungkin ia akan kecewa dengan jawaban yang akan didapatkannya nanti.
Shien menggeleng-gelengkan kepalanya sedikit keras. Sudahlah. Lagipula ia sudah berniat melupakannya tiga bulan yang lalu, walaupun hati kecilnya menolak mentah-mentah untuk melakukannya. Namun, sepertinya kali ini Shien harus benar-benar menguatkan hatinya untuk melupakan Langit.
“Kamu kenapa? Kepala kamu sakit?” Mama yang melihat Shien menggeleng-gelengkan kepala langsung panik. “Mama panggilin Dokter, ya?”
Shien buru-buru mencekal pergelangan tangan Mama untuk mencegah wanita itu menekan tombol transmitter calling.
“I’m fine.” Ucap Shien seraya menyunggingkan sedikit senyuman yang dipaksakan. “But my heart is broken.” Imbuh Shien dalam hati. Ia sedikit menyayangkan karena tidak terluka di bagian kepala dan hilang ingatan. Mungkin semua tentang Langit akan kabur dari ingatannya. Selain itu, Shien juga tidak harus merasakan sakit hati lagi.
“Beneran?” Tanya Mama ragu.
“Tapi. . . .” Sungguh, Mama tidak ingin melihat Shien tertidur lagi. Tapi tubuh SHien memang belum pulih sepenuhnya. Lagipula gadis itu besok harus mulai menjalani fisioterapi agar bisa kembali berjalan lagi. Mau tidak mau Mama harus melawan kekhawatirannya yang berlebihan itu.
Menghembuskan napas berat, Mama kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh Shien hingga sebatas dada setelah sebelumnya ia mengatur ranjang pasien Shien agar putri bungsunya itu bisa berbaring dengan nyaman.
“Ya udah, kalau gitu kamu istirahat. Tapi kalau ada sesuatu yang sakit langsung bilang.” Ujar Mama memperingatkan. Shien hanya menanggapinya dengan anggukkan kepala.
“Jangan lupa bangun lagi.” Tambah Mama seraya mendaratkan satu kecupan di dahi Shien, lalu mengusap-usap kakinya seperti sedang menidurkan anak kecil.
“Ma. . . .” Panggil Shien tiba-tiba. “Sini.” Ia lantas menggerakkan tangannya, meminta Mama untuk mendekatkan kepala padanya.
Mama dengan kening berkerut penuh tanya kemudian mendekatkan wajahnya ke arah Shien yang ingin membisikkan sesuatu.
“You are the best Mom ever. Happy birthday, my beloved Mom.” Bisik Shien, lalu mendaratkan satu kecupan di pipi Mama, kemudian menyembunyikan wajahnya di bawah selimut yang sengaja ia tutupi hingga kepala setelah mengucapkan kalimat tersebut. Shien merasa malu hingga membuat pipinya terasa sangat panas.
Sementara Mama tersenyum geli sambil menyentuh satu pipinya yang Shien daratkan ciuman tadi. Sungguh, Mama merasa hatinya seperti ditumbuhi ribuan bunga yang bermekaran saat ini.
Shien kecilnya sudah kembali.
********
Malam harinya, Shien yang sedang bercengkerama sambil melepas kerinduan bersama Fina mendadak harus menghentikan keseruannya saat Shanna tiba-tiba masuk dengan sebuket bunga tulip warna merah di tangannya. Shanna tampak tersenyum kaku.
Shien memandang sejenak saudara kembarnya yang tampil dengan gaya rambut berbeda itu selama beberapa detik, lalu memalingkan wajahnya ke arah yang berlawanan dengan Shanna. Rasa sakit hati saat teringat kejadian terakhir kali yang ia lihat muncul lagi. Dan Shien benar-benar kecewa pada kakaknya.
Merasakan suasana dingin yang terjadi di antara Shien dan Shanna, Fina lantas memutuskan pergi untuk memberikan waktu kepada mereka berbicara berdua, ia lalu mengatakan akan mengunjungi Shien besok lagi.
Suasana begitu hening selepas kepergian Fina.
Shien masih dalam posisinya yang enggan menatap Shanna. Sedangkan Shanna sendiri hanya berdiri mematung di samping ranjang Shien.
__ADS_1
Sebenarnya Shanna sudah datang ke rumah sakit sejak tadi siang, beberapa jam setelah Papa menghubunginya jika Shien sudah sadar. Tapi ia tidak segera menemui Shien karena ia harus mengumpulkan keberaniannya terlebih dahulu sebelum benar-benar bisa berdiri sedekat ini dengan sang adik.
“Selamat dan makasih karena udah kembali.” Ucap Shanna tulus sambil meletakkan bunga yang dibawanya di atas pangkuan Shien. Kemudian terdiam lagi, memandang Shien dengan tatapan sedih dan teramat bersalah.
“Wajar, kok, Shi, kalau kamu benci sampai gak mau lihat wajah aku sekarang. . . .” Ujar Shanna, lalu tersenyum sedih. “Aku emang pantes mendapatkannya.” Sambung Shanna dengan nada suara rendah seiring dengan tenggorokannya yang serasa tercekat.
Pelahan, Shien memutar lehernya ke arah Shanna dan menatapnya tanpa ekspresi. Namun, hal itu cukup membuat Shanna tersenyum senang dan refleks menggenggam satu tangan Shien.
Shien menatap datar tangannya yang dalam genggaman Shanna. Tapi Shien tidak protes, tidak pula membalas genggaman itu. Shien hanya membiarkannya.
“Aku gak tahu kalau kamu bisa maafin aku atau enggak. Tapi aku bener-bener minta maaf, Shi. . . .” Shanna menjeda sebentar kalimatnya untuk mengambil napas. “Untuk semua hal buruk yang udah aku lakuin sama kamu.” Lanjutnya sambil meremas punggung tangan Shien, tak bisa membendung air matanya yang sejak tadi ia tahan. “Aku bener-bener udah salah sama kamu.”
Shien terdiam dengan pandangan yang masih tertuju pada genggaman tangan Shanna.
“Aku udah gak sadar waktu itu.” Shanna mulai terisak. “Gak sadar kalau ternyata kamu lebih berharga dari apapun dan siapapun. Aku sayang sama kamu, Shi. Aku gak mau kehilangan kamu, tolong jangan pernah tinggalin aku kayak gini lagi.” Imbuh Shanna dengan air mata yang terus berurai.
“Aku janji gak akan ngelakuin hal bodoh lagi. Dan aku tahu ini kedengarannya sangat gak tahu diri, tapi aku harap kamu bisa maafin aku.” Ada kesungguhan, memelas, dan penuh harap di balik tatapan matanya yang digenangi air mata itu. Namun, Shanna malah mendapati Shien menarik tangan dari genggaman tangannya, dan itu membuatnya semakin sedih.
Lantas dengan gerakan perlahan, Shanna ikut menarik tangannya. Ia menunduk sedih, sebelum kemudian berujar. “Gak apa-apa, kok, Shi. Aku ngerti kalau kamu gak mau maaf-”
Shanna menggantungkan kalimatnya saat tiba-tiba Shien mengulurkan jari kelingling ke arahnya. Shanna memandang jari itu selama beberapa saat, kemudian beralih menatap Shien dengan sebelah alis terangkat bingung.
“Aku harap kamu bisa memegang janji itu, Kak.” Ucap Shien datar. Namun, kata-kata itu seakan air dingin yang menyejukkan hati Shanna. Walaupun Shien tidak mengucapkan ‘aku memaafkanmu’, tapi kalimat yang baru saja Shien ucapkan itu adalah sebuah tindakan yang jauh lebih dalam dan tulus bagi Shanna daripada sekedar kalimat memaafkan.
Shanna kembali tidak bisa menyembunyikan air matanya. Ia semakin menangis, namun kali ini diiringi senyuman lega. Lalu dengan segera ia duduk di tepi ranjang dan menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Shien.
“Maafin aku, Shi.” Ucap Shanna berhambur memeluk Shien, lalu ia menangis keras di sana.
“Berisik.” Cibir Shien sambil memukul pelan punggung Shanna yang berguncang. Senyuman geli tampak tersungging di salah satu sudut bibirnya yang pucat.
“Bodo.” Sahut Shanna terus menangis.
“Gimana jadinya kalau waktu itu aku beneran lewat?” Kelakar Shien, membuat Shanna memukul punggungnya keras hingga Shien sedikit memekik tertahan. Seenaknya saja Shien bercanda seperti itu di saat dirinya baru sadar setelah melewati masa kritisnya.
“But someday you’ll live without me.” Nada suara Shien tiba-tiba berubah sedih, tangannya membalas pelukan Shanna dan mengusap lembut punggung saudara kembarnya itu.
“Dan aku bakal lihat kamu dari surga. Tapi itu kalau Tuhan izinin aku tinggal di sana.” Lanjut Shien. Ia tahu persis bagaimana hasil pemeriksaan jantungnya tadi. Sangat buruk, sehingga Shien tidak yakin bisa hidup lebih lama lagi.
“Sialan! Jangan bicara omong kosong.” Sekali lagi Shanna memukul punggung Shien keras, tapi Shien hanya terkekeh pelan dengan mata berkaca-kaca.
“I love you. I love you more than you know, Shien. Aku lebih baik mati lebih dulu daripada kehilangan kamu.” Tutur Shanna semakin mengeratkan pelukannya.
“I love you too, till death do us part.” Balas Shien dalam hati.
Selama beberapa menit Shien membiarkan Shanna menangis dalam pelukannya hingga perlahan isakannya tak terdengar lagi.
“Hey, ingus kamu, Kak.” Ucap Shien tiba-tiba, membuat Shanna langsung mendengus dan menarik diri hingga kini tercipta jarak di antara mereka.
“Ngeselin. Kamu ngerusak suasana, tahu, gak?” Shanna lantas dengan usil mengusap ingusnya menggunakan baju pasien Shien, hingga membuat adiknya itu protes kesal dan memukulinya dengan buket bunga yang tadi ia bawa.
“Ohh, iya, Shi.” Shanna menyeka ingusnya lagi dengan tangan sembarangan. “Ada satu hal yang harus kamu tahu kalau yang kamu lihat di kamar waktu itu semuanya pure ulah aku. Aku sengaja jebak Langit dan aku mau kamu salah paham. Tapi kami bener-bener gak ngelakuin apa-apa. So, aku harap kamu jangan marah sama Langit.” Jelas Shanna kemudian.
Shien hanya terdiam tak menyahuti. Salah paham atau bukan, Langit sudah terlanjur mengecewakannya. Rasanya sia-sia saja mendengar kebenaran itu sekarang. Langit sudah menyakiti hatinya jauh sebelum itu terjadi.
“Dan satu lagi. . . .” Shanna teringat sesuatu yang sama pentingnya, yang harus ia sampaikan pada Shien. “Aku juga udah ngelepasin Langit. Sebelumnya aku pernah bilang kalau aku bakalan lepasin dia kalau kamu suka sama dia atau sebaliknya. Sekali lagi, aku minta maaf karena terlambat menepatinya, dan aku nyesel karena gak melakukan itu lebih awal.” Tuturnya benar-benar tulus. Tidak ada kepura-puraan lagi seperti sebelumnya.
“Tapi kamu gak harus melakukan itu, Kak.” Sahut Shien, membuat Shanna merengut bingung.
“Aku serius, Shi. Aku bener-bener bisa menerima kenyataan sekarang.” Ujar Shanna, mengira Shien sedang meragukan ucapannya.
“Cause I’ll let him go . . . .” Sambar Shien dengan suara bergetar seiring dengan sesak yang menghimpit dadanya.
“Shi?” Shanna terdengar protes, namun ekspresinya terlihat bingung.
BRUUK! PRAANG!
Suara benda terjatuh hingga menimbulkan bunyi nyaring di luar sana terdengar sampai ke dalam ruangan, otomatis membuat perhatian Shanna dan Shien teralihkan. Keduanya saling melempar tatapan penuh tanya akan suara ribut di luar.
__ADS_1
********
To be continued. . . .