
********
Suara notifikasi chat terdengar dari ponsel Shien yang tergeletak di atas meja makan di dekatnya sontak mengalihkan perhatian semua orang yang pagi itu sedang menikmati sarapan.
Shien yang kala itu juga tengah fokus pada sarapannya buru-buru meraih benda pipih itu.
“Maaf.” Ucap Shien yang memang sedikit tidak enak hati karena suara dering ponselnya mengganggu kekhidmatan kegiatan sarapan mereka. Tapi, mereka hanya tersenyum tidak keberatan dan melanjutkan kegiatan makannya yang sempat terhenti sejenak.
Ketika dilihatnya nama Langit tertera di layar, otomatis ibu jari Shien menyentuh layar untuk membuka kunci pengamannya. Begitu kunci pengaman ponsel Shien terbuka, jemarinya dengan cepat membuka aplikasi chat yang memiliki logo warna hijau itu dan membaca isi pesan dari Langit.
Dalam benaknya, Shien bertanya-tanya kenapa Langit sudah menghubunginya saja, bukankah dia akan berangkat ke Spanyol pagi ini? Seharusnya Langit sudah berangkat, mengingat laki-laki itu mengatakan bahwa penerbangannya jam tujuh pagi.
Shien mengira Langit mungkin mengirim pesan untuk berpamitan jika dirinya akan segera berangkat. Tapi rupanya bukan, Langit ternyata mengirimkan sebuah foto yang setelah dibuka malah membuat wajah Shien memerah.
Jantung Shien kembali berdebar tak karuan begitu melihat foto itu. Foto dirinya dengan Langit yang diambil beberapa jam yang lalu sesaat sebelum Langit benar-benar berpamitan untuk pergi. Foto dirinya yang dirangkul Langit dengan mesra.
Laki-laki itu berhasil memaksa Shien utnuk mengambil foto bersama ketika mereka masih berada di taman kompleks. Mau tidak mau, Shien pun menurutinya karena Langit mengancam tidak akan melepaskan pelukannya jika Shien tidak mau berfoto.
Mengingat itu, seketika ingatan saat mereka berciuman dengan sangat bersemangat seolah tidak mau saling melepaskan berputar-putar di kepala Shien.
Shien jadi salah tingkah sendiri karena merasa heran dengan dirinya yang selalu saja tidak bisa mengendalikan dirinya saat berhadapan dengan laki-laki bernama Langit itu. Ahh, Shien jadi malu sendiri. Dia protes karena Langit menciumnya, padahal kenyataan sangat menikmatinya.
Sepertinya Shien sudah benar-benar terkena sihir oleh Langit. Bahkan hanya dengan melihat laki-laki itu berdiri tidak jauh darinya, otak Shien bisa melumpuh seketika.
Memang gila, sosok Langit terus tumbuh dalam benaknya dari hari ke hari. Shien sudah tidak bisa berpikir realistis lagi jika berkaitan dengan Langit.
“Kamu gak apa-apa, kan, Shi?” Mama bertanya dengan raut khawatir karena melihat anaknya terus bergeming menatap layar ponselnya. “Wajah kamu merah, lho. Gak sakit, kan?”
Shien tersentak saat merasakan tangan Mama menyentuh kening dan pipinya. Gadis itu merutuki dirinya dalam hati, bisa-bisanya ia memikirkan Langit sebanyak ini padahal masih pagi.
“Ohh, aku baik-baik aja.” Sahut Shien seraya menepis tangan Mama dari wajahnya.
“Beneran gak apa-apa, Nak?” Timpal Papa memastikan, beliau sama khawatirnya dengan Mama.
“Emm.” Shien mengangguk, lalu meletakkan ponselnya kembali, dan melanjutkan sarapannya dengan sedikit tergesa-gesa hingga membuat semua orang kembali menatapnya heran.
“Buru-buru amat. Mau kemana, sih, Shi? Hari libur juga.” Komentar Shanna sebelum menggigit sosis gorengnya.
“Ada janji sama Fina. Aku belum siap-siap.” Jawab Shien sembari membersihkan mulutnya dengan tissue. Nyaris saja lupa, hari ini Shien harus melihat apartemen barunya bersama Fina. Kalau saja terlambat, Fina pasti akan mengomelinya, dan Shien terlalu malas mendengar omelan Fina yang sebelas dua belas dengan ibu-ibu itu.
“Kalian mau kemana? Ajak aku, doong.” Shanna berujar dengan tatapan penuh harap. Mengingat dirinya yang tidak memiliki rencana apapun di hari liburnya, Shanna merasa seharian ini akan sangat membosankan jika hanya berdiam diri di rumah dan sendirian.
“Ikut aja.” Jawab Shien santai, membuat kedua mata Shanna berbinar senang, lalu segera menyelesaikan sarapannya agar bisa bersiap-siap.
“Kamu mau kemana, Shi?” Tanya Mama penasaran. Shien menghela napasnya sejenak sebelum kemudian menjawab dengan singkat. “Cuma mau lihat apartemen.”
Papa, Mama, dan juga Shanna lantas kembali menoleh ke arahnya dengan tatapan penuh tanya. “Apartemen? Kamu lagi nyari apartemen?” Dan Papa mewakili semua orang untuk bertanya.
“Udah beli.” Jawab Shien, gadis itu masih belum bisa bersikap ramah pada kedua orang tuanya. Shien selalu menjawab seperlunya jika ditanya dan dengan nada dingin.
“Lho, buat apa? Kamu gak berencana pergi dari sini terus tinggal sendiri, kan?” Tanya Papa beruntun. Ekspresinya penuh kekhawatiran, ketakutan, dan penolakan menjadi satu. Jelas saja, beliau tidak ingin hidup terpisah lagi dengan Shien.
__ADS_1
“Papa gak setuju.” Sambungnya dengan sorot mata yang tegas, begitu pun dengan suaranya.
“Aku mau tinggal di mana pun dan dengan siapa pun, itu gak ada hubungannya sama kalian.” Sahut Shien sambil menatap Papa tanpa ekspresi, sementara tangannya memegang erat-erat kedua sisi dress rumahan yang dikenakannya. Shien berusaha keras meredam emosinya yang tiba-tiba naik setiap kali mendengar Papa dan Mama berbicara seolah mempedulikannya. Mungkin benar mereka peduli, tapi mendengarnya sekarang benar-benar membuka luka lama bagi Shien.
Papa dan Mama adalah dunia satu-satunya untuk Shien, tapi mereka malah berpaling. Tidak semudah itu untuk mempercayai mereka lagi, meskipun Shien sangat ingin, bahkan di saat mereka sudah kembali menghadapnya.
Entah itu karena Shien terlalu pendendam atauh hatinya sudah membeku karena dikecewakan. Mungkin juga, karena Shien sudah ada pada batas di mana ia membenci kedua orang tuanya karena kesalahan mereka. Yang jelas, rasa sakit hati itu selalu mencuat ke permukaan bahkan hanya dengan melihat Papa dan Mama.
Bukan Shien tidak ingin memaafkan mereka. Justru Shien sangat ingin, karena yang ia dengar jika memaafkan adalah langkah yang baik untuk memulihkan diri dari rasa sakit dan amarah yang menjerat.
Shien juga sadar dan tahu betul bahwa seseorang terkadang berbuat kesalahan karena tidak menyadari bahwa hal tersebut keliru. Bagaimanapun, manusia adalah makhluk yang tak luput dari kesalahan. Tidak ada manusia yang hidup tanpa kesalahan, termasuk dirinya. Tapi, rasanya terlalu sulit, Shien terlalu takut, takut untuk membuka hati dan dirinya.
Hingga akhirnya, Shien kembali menutupi rasa sakit itu dengan amarahnya yang semakin berkepanjangan. Dan sebenarnya itu lebih buruk karena tanpa sadar Shien malah semakin melukai dirinya sendiri serta kedua orang tuanya.
“Shien, kami masih orang tua kamu dan kamu adalah gadis yang belum menikah.” Seru Papa. Walaupun tidak menggelegar, tapi lelaki paruh baya itu tidak bisa menyembunyikan nada geramnya. Ia tidak menyangka jika Shien berani berbicara seperti itu.
Mungkin akan lebih mudah jika Shien marah secara terang-terangan padanya, atau memakinya sebagai ayah yang jahat. Tapi nyatanya, lebih menyakitkan saat anak kandung sendiri bersikap seperti tidak menyadari keberadaannya, walaupun sekarang Shien sudah kembali ke sisinya.
Papa tahu, ia sudah sangat bersalah pada Shien hingga menanamkan luka emosional di hati anak gadisnya itu. Papa juga tahu, ini terlalu terlambat, tapi ia benar-benar ingin memperbaiki semua kesalahannya.
“Jadi, tentu saja kamu masih harus berada di bawah pengawasan kami. Kamu masih tanggung jawab Papa dan Mama.” Sambung Papa dengan intonasi yang jauh lebih rendah. Begitu pula dengan pandangannya yang berubah teduh. Ia sadar jika harus banyak bersabar dalam menghadapi Shien. Selain menjaga perasaannya karena kata dokter Shien tidak boleh tertekan, Papa juga tidak ingin menambah poin buruk di mata gadis kecilnya itu.
“Pengawasan? Tanggung jawab?” Sahut Shien dingin, matanya nyalang menatap Papa dan Mama yang duduk di hadapannya bergantian. “Apa aku gak salah dengar?” Tersenyum kecut, gadis itu lantas beranjak dengan dada yang terasa berat.
“Shien, kembali sekarang juga.” Teriak Papa sedikit garang. Sementara Mama hanya diam dan menunduk sedih.
Shien tak mempedulikan teriakan Papa. Dengan sedikit terseok, ia berjalan cepat untuk masuk ke kamarnya, lalu mencari obat di dalam laci, kemudian meminumnya tanpa dorongan air. Sangat pahit, dan ia berharap rasa sakit di hatinya ikut tertelan bersamaan dengan itu.
“Papa dan Mama bersikap seolah gak pernah terjadi apa-apa.” Shanna yang sedari tadi diam kini angkat bicara.
“Menuntut Shien untuk menerima dan memaafkan kalian, tapi Papa dan Mama apa pernah minta maaf sama dia? Papa sama Mama egois.” Shanna ikut beranjak meninggalkan meja makan, menyisakan Papa dan Mama yang hanya bisa terdiam mematung, seolah tertohok dengan ucapan Shanna.
Benar apa yang dikatakan Shanna, Papa dan Mama tidak cukup berbesar hati untuk mengakui kesalahannya pada Shien. Tapi, itu karena mereka malu pada diri sendiri, terlebih pada Shien. Mereka tidak bijaksana, bukan? Pada dan Mama sadar betul itu.
Papa dan Mama pikir, hanya dengan membawa kembali Shien ke sisi mereka dan hidup seolah tidak terjadi apa-apa, Shien akan terbiasa dan melupakan semuanya, lalu keadaan akan kembali normal.
********
“Walaupun kamu belum maafin mereka, tapi gak seharusnya kamu bersikap keterlaluan, Shi.” Tegur Shanna setelah beberapa saat mereka hanya diam-diaman.
Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju apartemen Shien dengan Shanna yang menyetir karena Reno libur untuk hari Sabtu dan Minggu. Itulah resiko mempekerjakan anak kuliahan. Tapi jika diminta datang, Reno pasti tidak akan keberatan. Namun Shien cukup berbesar hati untuk tidak mengganggu kegiatan kuliahnya Reno.
Shien bergeming, pandangannya menatap kosong pada jalanan yang dipadati kendaraan dan semakin siang semakin panas. Memang benar ia sudah bersikap keterlaluan dan itu membuatnya lebih tertekan sekarang. Ahh, Shien tidak tahu cara meleburkan semua perasaan kecewa dan amarah di hatinya.
Shanna mendesah panjang melihat sang adik hanya terdiam tak menyahutinya.
“Sini, deh, Shi.” Shanna menggerakkkan jari telunjuknya, menginstruksi Shien untuk mendekat padanya.
“Ngapain?” Tanya Shien sambil mengerutkan keningnya dalam. Tapi ia tetap menuruti perintah kakaknya.
“Aww. . . .” Pekik Shien ketika Shanna menyentil keningnya keras. Sebelumnya ia mengira jika kakaknya itu akan membisikan sesuatu, makannya Shien mendekatkan wajahnya. Tidak tahunya Shanna memberi Shien sentilan yang membuat dahinya terasa panas, dan mungkin sekarang sudah membiru.
__ADS_1
“Itu hukuman karena kamu udah keterlaluan sama Papa dan Mama.” Ujar Shanna. Ia merasa Shien sudah harus diingatkan agar tidak berlarut-larut menyimpan kekecewaan dan amarah pada kedua orang tuanya, karena itu hanya akan membuatnya tidak bahagia.
“Maafkan mereka. Setidaknya lakukan itu demi diri kamu sendiri, Shien.” Shanna melirik sekilas ke arah Shien yang masih enggan menyahutinya. Gadis itu sibuk mengusap-udap keningnya yang terasa panas.
“Membenci mereka dan marah berkepanjangan. Apa itu membuat kamu lega?” Shien terdiam mendengar pertanyaan Shanna. Ya, Shanna benar, itu tidak membuatnya lega sama sekali. Itu hanya menyiksa dirinya sendiri.
“Kalau begini, kamu udah lupa satu hal, Shi.” Shien menoleh sebentar sambil menautkan alisnya tak mengerti.
“Kamu sama dengan mereka. Ingat ini, manusia itu bisa kapan saja melakukan salah dan dosa. Mungkin kamu hanya melihat mereka saat melakukan kesalahan. Tapi, apa kamu lupa kalau mereka juga sempat berbuat baik sama kamu? Bahkan sekarang, mereka mencoba untuk memperbaiki kesalahan itu, Shi.” Terang Shanna.
“Jangan sampai kamu menjadi manusia sombong yang gak bisa maafin orang lain, Shi. Jangan tutup hati kamu hanya karena luka yang sebenarnya bisa disembuhkan oleh diri kamu sendiri.” Ujarnya kemudian.
“I have been trying. But, it’s very hard.” Sahut Shien dengan suara lemah. Tanpa menoleh ke arah Shien, pandangannya tetap lurus menatap kosong kendaraan yang ada di depannya.
Shanna menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, mengambil napas sejenak, lalu menjawab. “Enggak, Shi. Kamu gak pernah mencobanya sama sekali.” Karena yang Shanna lihat, Shien terus menutup dirinya.
“Ya kamu bener. Aku terlalu takut untuk mencobanya.” Sambar Shien cepat.
Karena sebanyak apapun Shien berusaha untuk melapangkan hatinya, Shien tetap tidak bisa karena pikirannya dipenuhi kekhawatirkan jika orang tuanya akan mengulanginya kembali.
Lebih tepatnya, Shien takut dikecewakan lagi. Mungkin inilah sebabnya Shien terus menutup diri dan tidak memaafkan. Tapi, sebenarnya itu adalah mekanisme pertahanan yang tanpa sadar sudah berkembang dari waktu ke waktu dalam diri Shien untuk melindungi dirinya sendiri agar tidak terluka lagi.
“And once that trust is broken, it’s very, very hard to get back.” Imbuh Shien pelan. Gadis itu lantas mengalihkan pandangannya melihat ke arah luar jendela mobil diikuti dengan helaan napasnya yang terasa berat.
“Berpikir positif dan berhenti khawatir. Dengan begitu, kamu gak akan takut lagi, Shien. Aku tahu, ini gak mudah.” Shanna terdiam sebentar untuk bersiap-siap melajukan mobilnya kembali saat lampu berubah hijau.
“Kalau kamu bener-bener mau mencobanya, kamu harus mengambil resiko untuk memaksa diri sendiri. Gak perlu terburu-buru, lakukan pelan-pelan.” Lanjut Shanna. Sebagai kakak yang baik, ia harus memberikan dorongan yang baik pula pada adiknya. Shanna harus menolong Shien untuk keluar dari rasa sakitnya.
Shien kembali terdiam. Ya, bahkan Tante Hilda mengatakan hal yang sama dengan yang Shanna katakan sekarang. Berikan mereka sedikit kepercayaan dan belajar memaafkan sedikit demi sedikit. Tapi, mrlakukannya tidak semudah mengatakannya. Ya, memaafkan seseorang memang membutuhkan kesiapan dari hati.
“But, I wouldn’t know where to start.” Shien kembali menghela napas berat, lalu menoleh ke arah Shanna yang tengah fokus menyetir.
Shanna tersenyum, menghela napas sejenak, lalu menoleh untuk menatap kedua mata Shien sekilas. “Gimana kalau mulai dari memanggil mereka Papa dan Mama?”
“Hem?” Shanna kembali menoleh ke arah Shien sambil tersenyum. Ia tahu, Shien tidak pernah memanggil orang tua mereka dengan sebutan Papa dan Mama lagi setelah kepergiannya ke Amerika.
“I’ll tr. . . .”
“Mulai lakukan hari ini, jangan cuma bilang mau mencoba. Tapi kamu harus melakukannya, Shien.” Sambar Shanna cepat. Ia sudah cukup bosan mendengar Shien mengatakan akan mencobanya, tapi kenyataannya tidak melakukan apapun dan tetap menutup diri.
“Shi. . . .” Panggil Shanna sembari meraih tangan sang adik untuk digenggamnya. Otomatis hal itu membuat Shien menoleh dan menatapnya lekat-lekat.
“I’m sure you can do well.” Dan ternyata Shanna tengah menyemangati sang adik.
“Dan aku mau kamu tahu ini. Walaupun seluruh dunia berpaling dari kamu, kamu harus yakin, kamu bakal nemuin aku sebagai satu-satunya orang yang masih menghadap kamu.”
“Jadi, mulai sekarang jangan pernah memendam semuanya sendirian, Shien. Kamu punya aku untuk berbagi segalanya.” Ya, dulu mungkin Shanna tidak bisa melakukan apapun untuk Shien karena masih sama kecilnya. Tapi sekarang, Shanna memiliki kemampuan untuk melindungi dan berdiri di sisi sang adik apapun yang terjadi. Termasuk jika orang tuanya kembali menyakiti Shien.
Shien menganggukkan kepalanya lemah diiringi senyuman tipisnya. Dan untuk yang pertama kalinya setelah enam belas tahun berlalu, Shien kembali menemukan merasa aman. Dan itu berasal dari Shanna.
********
__ADS_1
To be continued. . . .