
********
Bugatti Veyron milik Langit berhenti di depan rumah berpagar besi yang menjulang tinggi. Penjaga rumah yang sudah tidak asing dengan wajah Langit pun menyapanya dengan ramah begitu mobilnya berjalan memasuki halaman rumah.
Dengan dua buah goodie bag di satu tangan, sementara tangan lain memegang sebuket bunga Lily warna kuning yang memiliki simbol kesehatan atau kesembuhan. Sudah jelas bunga itu akan diberikan untuk siapa, bukan?
Beberapa jam yang lalu selepas kedatangannya kembali ke Indonesia. Laki-laki itu sengaja tidak memberitahu Shien perihal kedatangannya karena Langit ingin memberi gadis itu kejutan dengan datang ke kantornya langsung.
Tapi sesampainya di sana, Langit malah mendapati kabar bahwa Shien sudah empat hari tidak ke kantor. Resepsionis tidak memberitahu alasannya, sehingga membuat Langit khawatir. Takut-takut gadis itu sedang sakit atau masuk rumah sakit lagi.
Alhasil, Langit memilih untuk kembali dengan banyak pertanyaan dan kekhawatiran di hatinya. Namun dalam pikiran penuh tanya itu, beruntung Langit berpapasan dengan Fina saat ia baru saja akan memasuki mobilnya kembali.
Fina mengatakan bahwa Shien sakit, tapi juga memintanya untuk jangan khawatir karena Shien hanya terkena demam dan flu, dan sementara bekerja dari rumah sampai benar-benar sembuh.
Berdasarkan informasi dari Fina, sampailah Langit di sini sekarang. Berdiri di halaman rumah yang luas, tapi sangat sepi seperti tak berpenghuni. Jelas saja, selain penghuninya sedikit, ini juga hari kerja. Jadi sangat tidak heran jika rumah yang terbilang cukup besar ini suasananya semakin sepi.
Langit bergeming di tempatnya, menatap ke arah balkon kamar Shien. Tersenyum tipis, Langit membayangkan ekspresi pemilik kamar itu saat ia menemuinya nanti. Sedang apa dia sekarang? Selonjoran di atas tempat tidur sambil membaca buku? Atau hanya rebahan? Duhh, Langit tak sabar untuk bertemu gadisnya.
Ehh, gadisnya? Iya, gadisnya.
Tidak mau membuang-buang waktu untuk menebak-nebak apa yang sedang dilakukan Shien saat ini. Langit lantas bergegas meninggalkan mobilnya setelah ia menekan lock remote, kemudian berjalan ke arah pintu utama dan menekan bel.
Mama Shien keluar dengan balutan pakaian kasualnya. Antara heran, terkejut, dan juga senang, dia membukakan pintu untuk Langit.
“Langit.” Mama terlihat sangat antusias melihat Langit yang ternyata datang ke rumahnya. Tapi ia sedikit heran karena melihat sebuket bunga di tangan laki-laki muda itu.
Langit kemudian dengan sopan menyalami Mama dan disambut dengan baik oleh wanita paruh baya itu.
“Makin ganteng aja, kamu.” Ucap Mama memuji Langit yang memang benar terlihat semakin tampan sejak terakhir kali bertemu dengannya di rumah sakit beberapa pekan lalu.
“Haha, Tante bisa aja. Tante juga tambah cantik, malah kelihatan awet muda. Pantesan aja Shien dan Shanna cantik, ternyata turunan dari Mamanya.” Balas Langit sambil mengedipkan sebelah matanya.
Mama tersipu sambil tertawa anggun. “Paling Bisa memang Langit ini. Kamu tuh udah kayak calon menantu yang lagi berusaha mendapatkan hati mertuanya aja.”
“Kalau gitu, apa aku berhasil?” Gurau Langit dengan senyum mengembang di wajahnya.
Mama terkekeh geli, lalu memasang ekspresi pura-pura berpikir. “Emm, boleh juga.” Dan gelak tawa ringan terdengar dari mulut keduanya.
“Udah ahh, yuk, masuk.” Mama mengelus pundak Langit. Karena terlalu senang mengobrol, ia jadi lupa mengajak Langit untuk masuk.
“Tante dengar dari Papa kamu, kamu pergi ke Spanyol, ya?” Tanya Mama mengingat percakapannya minggu lalu saat menemani suaminya bermain golf bersama Papa Langit.
“Iya, Tante. Ini aku baru pulang tadi subuh.” Langit terus membuntuti Mama menuju ruang tamu.
“Lho, baru pulang? Kok kamu langsung ke sini, bukannya istirahat dulu?” Sahut Mama sambil mempersilahkan Langit untuk duduk di sofa ruang tamu.
“Aku dengar Shien sakit, makannya buru-buru ke sini buat jenguk dia.” Jawab Langit tenang.
Mama mengernyitkan keningnya heran, sebelum kemudian berujar. “Iya, kemarin dia demam parah, tapi sekarang sih udah baikan. Tinggal lemasnya aja. Ngomong-ngomong, kamu tahu dari mana kalau Shien sakit?”
“Emm, itu. . . ., dari. . . .” Langit terdengar ragu untuk menjawabnya.
“Ohh, pasti Shanna, ya? Atau Shien ada bilang sendiri?” Sambar Mama. Tidak perlu heran lagi, mengingat kedua putrinya berteman baik dengan Langit.
“Bukan, Tante. Aku tahu dari Fina, kebetulan tadi gak sengaja ketemu.” Sahut Langit tidak ingin berbohong. Sementara Mama hanya mengangguk tak mempermasalahkannya lagi. Dan sekarang, ia paham kenapa Langit membawa bunga ke rumahnya.
“Ohh, iya. Ini aku bawa oleh-oleh buat si kembar. Titip buat Shanna ya, Tan. Ucap Langit seraya meletakkan dua goodie bag tersebut di atas meja, sementara bunga untuk Shien ia simpan di sebelahnya.
“Wahh, ngerepotin. Terima kasih kalau gitu, nanti Tante sampein.” Sahut Mama.
“Tapi lain kali, Tante juga mau dong dibawain oleh-oleh.” Gurau Mama kemudian, membuat Langit nyengir kaku sambil mengusap tengkuknya salah tingkah walaupun ia tahu Mama hanya becanda. Benar, jika datang ke rumah, seharusnya ia juga membawa buah tangan untuk menambah poin plus di mata calon mertuanya. Ahh, sepertinya ia harus meminta petuah Biru dan Bisma tentang tata cara menjadi menantu yang baik.
“Shiennya ada kan, Tante?” Tanya Langit kemudian dan terdengar tak sabaran.
“Nah, itu dia. Hari ini jadwalnya Shien konsultasi sama dokternya. Jadi sekarang Shien gak ada di rumah, sekitar dua jam yang lalu dia pergi ke rumah sakit.” Jawab Mama merasa bersalah. Terlebih saat melihat ekspresi Langit berubah lesu.
“Maaf, ya. Kamu udah bela-belain ke sini buat jenguk Shien, padahal masih capek. Ehh, Shiennya malah gak ada.” Ujar Mama khawatir.
__ADS_1
“Enggak, kok. Aku udah cukup istirahat. Jadi gak capek sama sekali. Tante tenang aja.” Jawab Langit dengan senyum tipis tersungging dari kedua sudut bibirnya.
“Seharusnya kamu gak usah bela-belain sampai segininya. Kan bisa nunggu sore atau besok, biar kamu cukup istirahat dulu.” Mama masih merasa tidak enak hati.
“Kalau buat Shien, aku rela bela-belain, Tante.” Jawab Langit diiringi kekehan kecil setelahnya. Begitu pun dengan Mama yang ikut terkekeh geli.
“Duhh, kamu ini bisa aja. Kalau Shien yang dengar pasti ekspresinya kayak gini. . . .” Mama lantas memperagakan dengusan geli ala wajah dingin Shien. Lalu tawa ringan menggema di ruang tamu yang cukup luas itu.
“Kalau gitu, aku nitip aja sekalian buat Shien, Tante.” Ujar Langit setelah tawanya reda sambil menggeser bunga serta goodie bagnya.
“Lho, gak nunggu aja? Paling sebentar lagi Shien pulang.” Tutur Mama seraya melirik jam tanpa bingkai yang menempel pada dinding ruang tamu itu.
“Kayaknya enggak, Tan.” Ya, karena Langit akan menyusulnya sekarang. Ia tidak bisa menunggu Shien lebih lama lagi, rindunya sudah mencapai ubun-ubun.
“Salam aja buat Shien, Tante..” Sambung Langit.
“Shien aja, nih? Shanna gak disalamin juga?” Goda Mama dengan tatapan penuh arti.
“Eung. . . , salam buat Shanna sama Om juga.” Ucap Langit ragu disertai dengan senyuman kakunya. Mama hanya tersenyun geli melihatnya.
“Kalau gitu, aku pergi sekarang, Tante.” Pamitnya kemudian dan mulai beranjak. Tapi Mama kembali menahannya. “Minum dulu sebentar, itu Tante lagi minta Bibi nyiapin kopi buat kamu, lho.” Pinta Mama karena Langit bahkan belum disuguhi apapun, sudah mau pergi saja.
“Gak usah, Tante. Terima kasih.” Tolak Langit sopan. Sementara Mama hanya mengangguk pasrah. Sangat disayangkan Langit harus pergi, padahal Mama senang mengobrol dengan anak itu. Sangat ramah dan menyenangkan, juga sopan. Ahh, ia jadi teringat putranya, Shawn. Seandainya masih ada, mungkin akan semenyenangkan Langit.
Mama melambaikan tangannya begitu mobill milik Langit mulai meninggalkan halaman rumahnya.
“Ini tidak baik.” Gumamnya pelan diiringi dengan helaan napas berat.
Langit sangat kentara menunjukkan perasaannya pada Shien walaupun terkesan menyembunyikannya, Mama bisa melihatnya dengan jelas. Kembali menghela napas berat seraya kembali berjalan masuk ke rumah, Mama berharap tidak akan ada pertikaian antar saudara gara-gara cinta segitiga seperti dalam film.
Dan seandainya itu terjadi, maka Mama tidak akan segan untuk menjauhkan Langit dari kedua putrinya.
********
“Nih.” Dokter Nathan menyodorkan ice blended ke arah Shien yang tampak melamun. Rambut sebahunya bergerak-gerak dimainkan oleh angin sepoi-sepoi. Suasana tenang di pagi beringsut siang tampak dari taman rumah sakit yang kebelulan tidak sedang tidak ramai itu.
“Ehh.” Shien sedikit terkejut. Tapi, gadis itu tetap mengulurkan tangannya, menerima cup ice blended itu.
Dokter Nathan mengambil tempat duduk di sebelah Shien sambil menyilangkan kaki. Pandangannya lurus ke depan, entah objek apa yang sedang ia perhatikan. Sedangkan Shien sudah kembali pada posisi santainya dengan tangan yang mengaduk-aduk ice blendednya. Matanya sedikit menyipit karena keningnya berkerut, seolah ada banyak hal yang tengah dipikirkannya.
“Dokter. . . .” Panggil Shien lirih tanpa mengalihkan perhatian dari ice blended yang sedang diaduk-aduknya.
“Hem?” Sahut dokter Nathan menoleh dengan sebelah alis terangkat.
“Apa donor itu benar-benar ada?” Tanya Shien yang kini menatap dokter Nathan dengan tatapan sayu yang menyatukan gambaran rasa lelah, kesedihan, dan putus asa.
Dokter Nathan ingin sekali meghapus semua beban yang membuat mata jernih itu terlihat sayu. Dokter Nathan ingin jika mata itu menyipit, bukan karena bayangan duka, melainkan karena bahagia.
“Itu seperti undian berhadiah.” Lanjut Shien sambil tersenyum miris, lalu memalingkan wajahnya ke sembarang arah seiring dengan hembusan napas beratnya.
Setelah beberapa saat lalu berbicara dengan dokter Nathan di ruangan mengenai kondisinya, semangat Shien sedikit menurun, ia juga sangsi akan mendapatkan donor dalam waktu dekat, atau mungkin tidak akan ada. Hingga akhirnya, mungkin Shien harus siap dengan kemungkinan terburuknya.
“Jangan patah semangat.” Dokter Nathan menjitak pelan kepala Shien hingga membuat gadis itu meringis sambil menatapnya kesal.
“Aku sudah puluhan kali melakukan operasi transplantasi. Itu berarti, donor benar-benar ada.” Dokter Nathan terdiam sebentar untuk mengambil napas. “Dan itu bukan seperti undian berhadiah, tapi ketepatan waktu.” Shien kembali menoleh ke arah dokter Nathan dengan kening mengernyit, gagal mencerna ucapan dokter tampan itu.
“Dalam artian, Tuhan sedang menyiapkan waktu yang tepat untuk kamu melakukan transplantasi, Shien.” Jelas dokter Nathan kemudian seraya mengulas senyum tipis.
“Dan Tuhan ingin kamu bersabar selama menunggu waktu yang tepat itu.” Imbuh dokter Nathan, lalu menyesap kopi miliknya.
“Tapi. . . , gimana kalau aku. . . .”
“Jangan mengkhawatirkan sesuatu tidak-tidak. Itu hanya akan memperburuk kondisi kamu. Terlebih ini, dan ini.” Sambar dokter Nathan memotong ucapan Shien sambil menunjuk kepala dan letak jantungnya.
“Make-believe and positif thinking.” Karena berpikir positif merupakan salah satu modal yang dibutuhkan untuk menjaga kesehatan fisik dan mental. Pikiran negatif hanya akan mencetuskan kecemasan hingga akhirnya kehilangan daya juang. Seorang pasien seperti Shien tidak boleh pesimis dan kehilangan daya juangnya untuk sembuh. Sebagai dokternya, Nathan harus terus menyemangati gadis itu.
“So, daripada mengkhawatirkan hal yang aneh-aneh, lebih baik kamu fokus pada penyembuhan kamu, dengarkan saran dokter, dan jangan jadi pasien pembangkang.” Cibir dokter Nathan, mengingat Shien sering sekali melanggar saran-sarannya.
__ADS_1
“Cerewet.” Shien mencebik, membuat dokter Nathan yang mendengarnya mendelik kesal. Hanya Shien, satu-satunya pasien yang mengatainya cerewet. Bukankah dokter memang seharusnya banyak bicara? Ck, dasar.
Mengabaikan kedongkolannya, dokter Nathan kembali menasihati gadis itu. “Dan satu lagi, biar kepala kamu ini terbebas dari pikiran negatif. . . .” Berhenti sejenak sambil mengetuk-ngetuk dahi Shien menggunakan telunjuknya.
“Lakukan hal-hal yang sekiranya membuat kamu bahagia. Tapi jangan yang menguras tenaga, itu juga tidak baik.” Lanjut dokter Nathan.
“Menghabiskan waktu bersama orang yang disayangi seperti orang tua, saudara, teman, atau pacar misalnya.”
“Tapi untuk yang terakhir, kayaknya kamu gak punya.” Ledek dokter Nathan membuat Shien merengut. “Sok tahu.”
“Ohh, jadi kamu punya?” Dokter Nathan masih menatapnya penuh ledekan.
“Ya enggak.” Sahut Shien terdengar ragu, bertepatan dengan memorinya yang menangkap Langit. Laki-laki itu bukan pacarnya, kan? Walaupun sudah beberapa kali berciuman, tapi hubungan mereka belum jelas.
Dan detik berikutnya, ingatan lain muncul begitu Shien tidak sengaja melihat tanggal di jam tangannya. Hari ini mungkin Langit sudah pulang dan ia belum menyiapkan jawabannya. Shien masih ragu. Sepertinya harus menghindar lagi.
“How about someone you like?” Tanya dokter Nathan menggodanya. Shien bergeming, tampak salah tingkah.
“Is there someone you like?” Tanyanya sekali lagi sambil memiringkan kepalanya untuk mengejar arah pandangan gadis cantik yang malah terlihat melamun itu.
“Diam, berarti iya.” Dokter Nathan berdecak kecil, lalu menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi taman dengan pandangan menerawang ke depan, mengamati beberapa orang di sana. Ada yang berjalan-jalan, juga duduk dan mengobrol santai seperti dirinya dan Shien saat ini.
“Apa kamu gak merasa terlalu mencampuri urusan orang, Dokter Nathan?” Sindir Shien yang merasa dokter yang duduk di sebelahnya itu terlalu banyak bicara dan di luar tugasnya sebagai seorang dokter.
“Enggak.” Jawab dokter Nathan seenteng mungkin sambil mengedikkan bahunya santai. Shien yang melihat itu kembali mendengus sebal.
“Dan biar aku tebak.” Lalu dengan gerakkan cepat memutar sedikit tubuhnya hingga mengahadap Shien. “Kamu memendamnya?”
“Will you shut up?” Sambar Shien mulai kesal.
“Dari raut wajah kamu, kayaknya emang benar.” Cibir dokter Nathan seraya menganggguk-anggukkan kepalanya pelan.
“Dengar ini. Sebagai dokter spesialis jantung yang berwawasan luas dan pandai dalam segala hal. Aku sarankan kamu untuk jangan pernah memendam perasaan. Itu gak baik buat kesehatan.” Shien mencebik. Apa perlu membanggakan diri sendiri sebelum memberi saran?
“Katakan Shien. Jangan dipendam sendiri. Gak ada salahnya juga kalau cewek nyatain perasaannya lebih dulu.” Shien masih bergeming sambil menggigit keras-keras sedotannya. Benar-benar sok tahu dokter ini. Tapi tidak sepenuhnya salah, sih. Shien, kan, memang memendam perasaannya.
“Siapa pun, yang namannya manusia itu harus bisa mengungkapkan perasaannya, Shien.” Tak mengindahkan tatapan protes Shien, dokter Nathan terus saja berceloteh.
“Aku selalu bilang apa perasaan aku. Kalau suka atau gak suka, ya pasti aku bilang. Aku gak suka basa-basi.” Sahut Shien apatis. Kalimatnya meluncur cepat dengan ekspresi wajah serius.
Dokter Nathan mendengus, lalu menepuk jidatnya sendiri. “Gadis bodoh! Bukan begitu.” Dan satu sentilan keras mendarat tepat di jidat Shien yang mulus.
“Maksudnya gini, kalau kamu sayang sama seseorang, kamu harus bisa ungkapin semuanya. Atau kalau enggak, kamu bisa saja menyesal.” Shien bergeming, merasa tertohok dengan kalimat yang diucapkan dokter Nathan.
“Apalagi kalau kalau udah ada seseorang yang menunggu kamu. Jangan dibiarkan terlalu lama, cowok juga butuh kepastian.” Tersenyum simpul, lantas dokter Nathan mengacak-acak rambut Shien dengan gemas. Namun gadis itu hanya terdiam. Entah kenapa kalimat terakhir itu meluncur dari mulut dokter Nathan, yang jelas ucapannya itu berhasil membuat hati Shien tersentil.
Benar, Langit juga pasti butuh kepastian. Yakin jika dia akan baik-baik saja jika terus menunggunya yang entah sampai kapan? Bisa jadi, Langit akan menyerah. Dan Shien jelas. . . , tidak ingin itu terjadi.
Shien tidak bisa menyalahkan keadaan jika akhirnya Langit bersama orang lain. Tidak, Shien tidak akan membiarkan dirinya dan Langit tersiksa dalam ketidak pastian lagi.
Shien tidak akan ragu lagi. Saat ini, ia akan mengambil resiko. Karena ia mencintai Langit dan Langit juga mencintainya, maka Shien ingin bersamanya. Ya, cukup poin itu yang perlu Shien ingat dan abaikan hal lainnya.
“Would you excuse me, Doctor?” Shien lantas beranjak untuk pergi, tanpa mempedulikan raut wajah bingung dokter Nathan. “Lho, kok pergi? Aku belum selesai bicara, lho.” Protes dokter Nathan yang ingin menahan kepergian Shien. Namun, gadis itu tak mengindahkannya dan pergi begitu saja dengan langkah tergesa-gesa.
“Lain kali lagi. Thanks for today.” Shien memutar badannya sebentar untuk melambaikan tangannya pada dokter Nathan, hingga membuat dokter tampan itu menggaruk kepalanya bingung. Heran saja karena gadis itu pergi sambil mengatakan terima kasih, dan yang paling aneh adalah senyum yang tercetak dari bibirnya. Wahh, dokter Nathan merasa kalau dirinya sudah salah memberikan resep obat pada Shien.
********
Sejak dulu, Shien selalu berusaha menutup diri agar tidak ada seorang pun yang masuk dalam kehidupannya. Tapi tidak saat Langit yang datang. Secara tidak langsung dia sudah menjadi sebab Shien tertawa, marah, dan kesal. Itu adalah hal baru baginya.
Langit selalu berhasil membuat setiap hal kecil menjadi sangat istimewa di matanya. Shien pikir, itulah sebabnya dia istimewa dan perlahan hatinya mengizinkan Langit masuk. Ya, Langit adalah orang pertama yang Shien izinkan untuk masuk ke dalam hatinya.
Shien sudah memutuskan untuk menghabiskan seluruh hidupnya bersama Langit dan menghabiskan saat-saat terbaik dalam hidupnya. . . , hanya bersama Langit.
“Langit. . . .”
Tidak ingin menunggu lebih lama lagi, Shien berlari ke arah sosok yang sangat dirindukannya itu.
__ADS_1
********
To be continued. . . .