
********
“Semoga aja, setelah hari ini gue yang cuma jadi pendamping pengantin, dalam waktu dekat bisa buruan nyusul jadi pengantin juga. Hiks, selamat kawan, lo gak usah main solo lagi mulai sekarang.” Albi menggumamkan doanya dengan lirih dan menyelamati sahabatnya itu dengan kalimat konyol seraya menyerahkan kotak kecil berbahan beludru yang sejak tadi dibawanya itu ke tangan Bian.
Bian yang baru saja melakukan penanda tanganan surat nikah itu hanya bisa menahan tawanya kala mendengar doa Albi yang terkesan penuh harap dan maksa. Sementara Langit yang berdiri di belakang Albi dan juga mendengar gumaman Dokter Ob-Gyn itu langsung menoyor kepala Albi pelan.
“Cari calonnya dulu, ngab, baru boleh ngehalu.” Ledek Langit terdengar sangat puas.
Albi langsung merengut mendengar ledekan Langit barusan. “Calonnya udah ada, kok. Cuma belum dipertemukan aja sama Tuhan.” Bisiknya nyeleneh, membuat tangan Langit sekali lagi melayang untuk menoyor kepala laki-laki itu.
“Stres emang lo. Lagian, emang ada cewek yang mau sama anak Mami kayak lo?” Langit terkikik geli melihat ekspresi bete Albi setelah mendengar ucapannya itu.
“Ehh, si kambing ngeledek gue. Kayak lo udah punya calon aja.” Sahut Albi sengit, masih dalam mode berbisik.
“Ihh, gue mah punya.” Balas Langit enteng dan terlihat sangat percaya diri.
Albi mencebik seolah tak percaya. “Hiliiih, halu lo ketinggian. Kalau punya, gak mungkin lo nelepoon gue malem-malem cuma buat ngajakin berangkat bareng ke sini.”
Langit memasang raut wajah merengut sebal karena Albi tidak mempercayainya. Ia bukannya tidak mengajak Shien. Langit sudah mengajak gadis itu untuk mendampinginya ke acara akad nikah dan resepsi Bian yang akan diadakan nanti malam, hanya saja Shien menolaknya karena dia sudah memiliki acara sendiri yang tidak bisa dibatalkan.
“Gak bisa jawab, kan, lo? Periksa sana sama Biru, siapa tahu otak lo bermasalah.” Kali ini giliran Albi yang balas mencibir sahabat paling mudanya itu.
Langit mendengus seraya melayangkan delikan sebal ke arah sahabatnya itu. “Enak aja. Gue ngajakin elo tuh karena kasihan. Gak tega gue ngebiarin teman gue sendirian gak ada gandengan. Baik, kan, gue?” Dalihnya kemudian, membuat Albi gregetan sendiri ingin mengeluarkan umpatan sekasar-kasarnya pada Langit, kalau tidak ingat mereka sedang berada di tengah-tengah acara.
Sementara itu Biru yang duduk tak jauh dari mereka berdiri dan mendengar kasak-kusuk yang cukup mengganggu momen khidmat prosesi pemasangan cincin pernikahan Bian dan istrinya, dia langsung mencolek lengan Albi dan Langit bergantian, lalu memberi kode pada mereka untuk diam.
Albi dan Langit yang takut melihat wajah Biru yang memberengut, mau tidak mau harus menutup mulutnya dan mengakhiri pertengkaran kecil mereka.
Bian tampak semringah memasangkan cincin pernikahan berbahan rose gold dengan hiasan berlian di tengahnya itu ke jari manis gadis yang kini sudah sah menjadi istrinya, membuat semua tamu undangan yang menyaksikannya ikut merasakan kebahaagiaan.
Meskipun samar-samar telinganya mendengar percakapan antara Albi dan Langit, namun Bian memilih mengacukannya untuk sementara, padahal mulutnya sudah sangat gatal ingin menyahuti dan membully mereka.
Saat Bian selesai memasangkan cincin di jari manis istrinya, kini giliran sang istri yang menyematkan cincin pasangan dengan desain lebih polos itu ke jari manis Bian.
Setelah cincin pernikahan yang sederhana namun indah itu tersemat di jari manis kedua pengantin, keduanya pun lalu memamerkan simbol pernikahan suci itu kepada para tamu sekaligus ke arah fotografer yang selalu siap untuk mengabadikan momen penting yang diharapkan hanya terjadi sekali dalam seumur hidup itu..
Dan momen itu jelas tidak akan dilewatkan begitu saja oleh tamu undangan, termasuk sahabat-sahabat Bian yang tergabung dalam lima serangkai yang mereka beri nama sebagai pria mabar idaman itu. Mereka ikut mengabadikan momen itu melalui kamera ponsel untuk diunggah ke media sosial masing-masing.
Langit tersenyum bahagia melihat sahabat paling mesumnya itu kini berdiri di pelaminan bersama seseorang yang menjadi pilihannya, dan tentu juga yang dicintainya.
Sama halnya dengan Albi, dalam hatinya Langit juga berdoa agar Tuhan segera menyatukan dirinya dengan Shien. Gadis yang saat ini dicintainya, juga seterusnya.
********
. . . . . . . .
Since I found you, my world seems so brand new
You’ve showed me the love I never knew
Your presence is what my whole life through
Since I found you, my life begin so new
Now who needs a dream when there is for you
__ADS_1
For all of my dreams came true
Since I found you
My heart forever true
In love with you
Alunan lagu milik Christian Bautista yang dilantunkan suara lembut Wedding Singer menyapa Fina dan Shien begitu mereka memasuki sebuah ballroom hotel yang sudah didekorasi sedemikian rupa menjadi tempat resepsi mewah ala negeri dongeng. Mungkin karena Tania adalah seorang Penulis karya sastra anak-anak, maka konsep resepsi pernikahannya juga tidak jauh dari khayalan gadis kecil yang selalu memimpikan pernikahan seperti Princess Disney.
Bebeda dengan Fina yang terkagum-kagum dengan konsep resepsi pernikahan Tania, Shien hanya memandang geli setiap sudut ballroom, terlalu kekanak-kanakan. Dari kejauhan, Shien juga bisa melihat Tania tampil dengan gaun pesta dengan rok yang mengembang, ciri khas putri Disney. Beruntung Tania tidak memberikan konsep gaun seperti itu juga untuk dress code yang mengharuskan tamu undangan perempuan menggunakan gaun pesta seperti Putri Tidur atau Putri Sofia. Menggelikan, Shien sudah merinding hanya dengan membayangkannya.
Terlihat tamu undangan sudah mulai mereda, sehingga ruangan yang cukup besar itu sudah sedikit sepi. Jelas saja, karena terjebak macet parah, Fina dan Shien datang sangat terlambat. Bahkan mempelai pengantin pun sudah turun dari pelaminan dan tengah duduk di round table bersama beberapa orang di sana. Mungkin teman atau sanak saudara mereka, Shien tidak bisa menerkanya dengan pasti.
Kedatangan Fina dan Shien yang berjalan menghampiri pengantin seketika menarik perhatian semua orang yang sedang duduk mengelilingi meja bundar itu.
“Wow, siapa nih? What a pretty girl you are?” Tania berdiri dengan mata berbinar tak percaya melihat Fina yang tampil beda dari biasanya. Gadis itu memegang kedua lengan bahu Fina dan mengamati penampilannya dari atas sampai bawah.
“Jangan ngeledek. Cukup gue diledek abis-abisan sama si patung es.” Fina mendelik sebal ke arah Shien yang kini berdiri di sampingnya.
“Ihh, siapa yang ngeledek? Lo beneran cantik, sumpah gue gak bohong.” Sahut Tania seraya mengacungkan dua jari tangannya membentuk tanda V.
“Tapi, sebelumnya gue udah ngebayangin kalau lo bakal mirip. . . .”
“Si Pitung pake kebaya.” Sambar Shien yang disambut gelak tawa kencang oleh Tania. Sementara Fina yang ditertawakan hanya bisa mendengus kesal. Shien benar-benar tidak berperasaan.
“Puas banget ketawanya.” Sindir Fina kesal dengan wajah cemberut.
Perut Tania masih sakit di balik gaun ketatnya. Sulit untuk Tania berhenti tertawa hingga sudut matanya berair.
Shien yang mendengar dirinya disalahkan hanya mendengus dengan raut wajah datarnya.
“By the way, makasih udah mau datang.” Tania memeluk Fina seraya saling menautkan wajah mereka. “Tapi kok malem banget?” Tanyanya setelah pelukan terlepas.
“Sorry, tadi macet parah. Ada kecelakaan beruntun di jalan.” Jelas Fina yang langsung diangguki Tania. Fina lantas beralih dan menyalami suami Tania yang kini ikut berdiri dengan senyum canggung.
“Thanks for coming Elsa.” Tania beralih memeluk Shien dengan memanggil gadis itu dengan nama Elsa, nama pena sekaligus nama inggris Shien.
“Hmm, congrats on your wedding day.” Shien menyelamati Tania dengan tulus.
“Eung. . . .” Shien terdiam memandang suami dari Tania dengan tatapan penuh tanya, kemudian kembali beralih menatap Tania seolah ingin memastikan sesuatu.
“Yes, he is. Bian, cowok yang pernah aku ceritain mirip Kim Woo Bin waktu kita di Disneyland beberaa bulan yang lalu.” Sahut Tania yang bisa membaca isi pikiran Shien.
“Okay, congratulation.” Shien lalu menyelamati suami Tania yang ternyata adalah Bian.
“Ngomong-ngomong, aku gak ngehalu kan Shi? Dia beneran mirip Kim Woo Bin, kan?” Tanya Tania sambil menaik turunkan alisnya, nada suaranya terdengar bangga. Ia ingin memastikan bahwa ucapannya waktu itu yang mengatakan bahwa ia bertemu dengan laki-laki tampan asal Indonesia yang mirip dengan Kim Woo Bin itu adalah benar.
Shien terdiam sebentar dengan mata tertuju pada Bian, mengamati laki-laki itu seolah ia sedang memberi penilaian.
Sementara Fina hanya mencibir di dalam hati, karena bisa-bisanya Tania mengajukan pertanyaan seperti itu pada Shien. Sudah pasti jawabannya akan nyelekit sampai menusuk ke relung hati paling dasar.
“Emm.” Shien mengangguk, membuat Tania langsung tersenyum semringah, tapi itu tidak berlangsung lama kala mendengar kalimat Shien selanjutnya. “Cuma kurang perawatan aja.”
“Pfft. . . .” Semua orang yang ada di sana kecuali kedua pasangan pengantin itu kompak menahan tawanya begitu kalimat terakhir Shien meluncur dengan mulus dari mulut gadis berwajah tanpa ekspresi itu.
__ADS_1
“SHIENNA.” Tania dengan kesal meneriaki nama lengkap gadis itu. Tapi, Shien yang diteriaki hanya mengangkat bahunya tak peduli. Memang Kim Woo Bin versi dekil, kok. Dan kalau boleh menambahkan, Shien akan mengatakan kalau Bian adalah Kim Woo Bin yang terlihat lebih tua.
Sementara Bian yang mendengar kalimat hinaan itu untuk pertama kali seumur hidupnya terperangah tak percaya hingga rahang bawahnya seakan nyaris terlepas. Ia bertanya-tanya, sebenarnya dari mana istrinya ini menemukan teman yang alih-alih mirip manusia, gadis itu lebih terlihat seperti ranting pohon yang kaku dan tidak berperasaan?
Tidak ingin berdebat dengan Shien yang pasti akan kalah telak dalam satu kalimat yang dikeluarkan dari mulut gadis itu. Tania lantas meminta pelayan untuk menambah dua kursi agar Fina dan Shien bisa bergabung bersama di meja bundar itu.
Dan malam itu, Tania berkesempatan untuk mengenalkan Fina dan Shien pada Bian serta teman-temannya yang sedang duduk bersama mereka. Bisma si Ahli Anestesi, Clara istri Bisma, dan Albi si Dokter Ob-Gyn.
“Eung, Shien. Mungkin kamu lupa, tapi ini bukan pertemuan pertama kita lhoo.” Ujar Albi saat Shien menyalaminya, laki-laki itu menahan tangan Shien sedikit lebih lama sebelum kemudian Shien menariknya dengan paksa.
“Mulai nih main pepet-pepetan.” Gumam Bisma pelan, lalu berdehem, bermaksud meledek sahabatnya yang terlihat tertarik dengan sosok cantik yang baru mereka kenal beberapa detik yang lalu itu. Kentara sekali dari cara Albi menatapnya tanpa kedip sejak Shien berjalan menghampiri meja mereka. Dan jika ia masih bujangan, akan sangat mungkin Bisma juga tertarik dengan Shien memang cantik itu. Walaupun ia tidak melihat senyum yang terukir dari bibir gadis itu sejak kedatangannya, tapi Shien masih terlihat cantik. Bisma jadi penasaran bagaimana wajah Shien saat tersenyum.
Sementara Albi yang mendengar Gumaman Bisma hanya mendelik ke arah Ayah satu anak itu seolah mengatakan jangan mengganggu proses pedekatenya.
“Ohh, ya?” Shien mengernyitkan alisnya seraya mengingat-ingat.
Senyum mengembang yang sejak tadi tidak terlepas dari bibir Albi tampak sedikit menyurut. Rasa kecewa di hatinya sedikit hadir karena gadis itu tidak mengingat pertemuan pertama mereka.
“Kita pernah ketemu di mall.” Kenang Albi, namun Shien masih bergeming dalam kebingungannya. Jelas, ia bukan orang yang memiliki ingatan fotografis yang dalam sekali melihat objek langsung tertempel dalam memorinya.
“Jangan ngaku-ngaku, lo. Mau modus ya modus aja, gak usah pake ngarang cerita pernah ketemu sebelumnya segala. Basi banget cara lo.” Cibir Bisma seraya memukul bahu Albi pelan.
Albi menoleh Bisma sambil mendelik sengit. “Dihh, kayaknya hafal banget macem-macem modus. Bapak pengalaman, ya?” Sindirnya kemudian.
“Udah deh, sesama tukang modus gak usah saling menghina.” Clara yang duduk di sebelah Bisma ikut menimbrung. Clara cukup tahu bagaimana perangai suami dan teman-temannya itu, mungkin hanya Biru yang sedikit normal. Garis bawahi, sedikit. Karena dulu Clara mengira jika Biru tidak tertarik sama sekali dengan perempuan sebelum laki-laki itu bertemu kembali dengan Jingga.
“Kalian lima serangkai kecuali si Biru emang gitu, kalau ada cewek bening dikit aja langsung samber, terus dimodusin sampai ketipu.” Imbuh Clara.
“Iya, tapi ngajarin gue nih kunyuk satu.” Balas Albi sambil mendaratkan satu jitakan di atas kepala Bisma. “Kamu apa gak ngerasa agak sial nikah sama Bisma?” Tambah Albi, membuat Bisma langsung melotot galak ke arahnya.
“Kalau boleh jujur. . . .” Clara menggantungkan kalimatnya seraya mengulum senyum meledek. “Sedikit.” Sambungnya, membuat wajah Bisma otomatis merengut sebal. Sementara Albi, Bian, dan Tania langsung tergelak kencang akan jawaban Clara. Sedangkan Fina dan Shien yang tidak mengerti apa-apa hanya bergeming, memperhatikan mereka yang sedang saling melempar cibiran itu.
Tak lama kemudian, Albi kembali mengalihkan perhatiannya pada Shien.
“Ohh iya, Shi. Waktu itu kita ketemu di toko sepatu. Aku bareng sama teman aku. Kamu temannya Langit, kan?” Albi melanjutkan percakapannya dengan Shien yang sempat terhenti, ia lantas menjelaskan dengan lebih detail termasuk pertemuan mereka dengan Terry.
Shien mengarjap, pupil matanya melebar saat memorinya berhasil menangkap ingatan itu. Ia ingat betul hari itu, hari yang begitu menyebalkan karena Langit memuji Terry. Tapi untuk bagian wajah Albi, Shien tidak mengingatnya sama sekali, mungkin karena dulu ia tidak terlalu memperhatikan.
Mata Shien langsung menjelajahi seluruh ruangan saat ia tersadar akan ucapan Albi yang mengatakan bahwa dia adalah teman yang pergi bersama Langit di mall beberappa waktu lalu. Alih-alih berusaha mengingat-ingat wajah Albi, Shien malah sedang menduga-duga jika ia dan Langit sedang berada di acara yang sama.
Kemarin Langit mengatakan bahwa ia akan menghadiri resepsi pernikahan temannya, bahkan mereka membeli hadiah bersama. Dan kebetulan Shien bertemu teman Langit yang bernama Albi di sini, dan mungkin juga yang sedang duduk bersamanya saat ini adalah teman-teman Langit. Tapi, jika Langit berada di sini, lantas di mana dia sekarang? Apa mungkin dia sudah pulang?
Shien menghembuskan napas lemah, sayang sekali jika hipotesisnya benar. Jika tahu akan seperti ini, seharusnya kemarin Shien menerima ajakan Langit.
“Hei, kok bengong?” Albi melambaikan tangannya di depan wajah Shien, hingga berhasil membuat gadis itu sedikit terperanjat. “Kamu inget, kan?”
“Ehh, iya.” Sahut Shien singkat. Albi tersenyum senang mendengarnya. Laki-laki itu lantas menjulurkan lidah ke arah Bisma seolah mengatakan bahwa dirinya tidak mengarang cerita.
“Kamu temannya Langit, kan?” Albi mengulang pertanyaannya untuk memastikan.
“Bukan.” Jawab Shien tegas, membuat Fina yang mendengarnya sedikit terkejut. Tapi, tidak ingin nimbrung untuk protes juga. Shien pasti memiliki alasan lain mengenai jawabannya.
Sementara Albi hanya mengerutkan keningnya heran. Ia masih ingat, kok, dulu Langit menyapa Shien dan saudara kembarnya yang memiliki rambut warna-warni itu. Tapi, kenapa Shien mengatakan jika dia bukan teman Langit?
********
__ADS_1
To be continued. . . .