So In Love

So In Love
EP. 26. Closer


__ADS_3

********


“Lho, itu bukannya Langit, Shi?” Seru Fina saat tersadar bahwa yang ada di atas panggung adalah Langit. Shien yang sedang sibuk membuat garis besar untuk buku barunya sontak mendongak, begitupula dengan Reno.


Shien tersentak. Benar. Ada Langit duduk di kursi bar di atas panggung. Shien memejamkan matanya sekilas, berharap itu hanya halusinasi karena selama seharian ini pikirannya dipenuhi oleh Langit. Tapi, laki-laki itu masih ada di sana, bahkan sedang memperhatikannya juga hingga membuat pandangan mereka langsung beradu dalam satu garis lurus. Langit menyunggingkan senyuman tipis ke arahnya.


Seketika Shien dibuat membeku. Ia seperti mati rasa. Bahkan celotehan Fina dan Reno pun tak membuatnya bergeming. Pandangannya tak bisa beralih dari Langit yang terlihat berkilau dengan matching coat and pants dengan kaos putih polos di dalamnya.


“Sejak kapan dia ada di sini?” Gumam Fina begitu Langit mulai melantunkan lagunya.


“Itu bukannya cowok yang tadi pagi, kan, Mbak?” Seru Reno yang ikut tersadar.


Shien tetap bergeming, seolah semua objek yang ada di sekitarnya melebur dan hanya Langit yang tetap ada hingga membuat seluruh perhatiannya tertuju pada Langit seorang.


“Pacarnya Mbak Shanna, kan?” Fina dengan cepat menyenggol lengan Reno karena sudah berceletuk asal. Gadis itu kemudian memberikan isyarat mata agar Reno diam jika tidak tahu apa-apa.


Reno menggaruk belakang kepalanya bingung diiringi dengan kening yang mengernyit, tapi ujung-ujungnya menurut juga dan memilih untuk menikmati acara live music dengan Langit yang menjadi bintangnya sore itu.


Suara Langit sangat enak didengar, bahkan Shien terhanyut dengan lagu yang dibawakannya. Tapi itu juga membuat hatinya semakin gamang. Lagu itu adalah untuk Shien, Shien tahu betul.


Ahh, Shien tidak boleh berlama-lama terjebak satu ruangan bersama Langit seperti ini. Karena semakin lama melihatnya, semakin besar pula dorongan untuk berlari pada laki-laki itu dan mengatakan bahwa ucapannya yang meminta Langit untuk jangan menemuinya lagi adalah bohong.


Shien tersenyum kecut. Seandainya saja Shanna tidak menyukai Langit, dan seandainya saja ia tidak sakit parah, mungkin sekarang Shien dan Langit sudah bersatu dalam suatu kisah indah yang sama-sama mereka harapkan.


“Gak nyangka, Shi. Suara Langit oke juga.”


Menghembuskan napas berat. Sayang sekali, Shien selalu berpikir bahwa ia dan Langit tidak akan pernah memiliki kisah yang indah. Dan jika memaksakannya, akhir bahagia tetap bukan milik mereka. Tidak salah, kan, jika Shien menyerah lebih awal? Bahkan jika Shanna tidak menyukai Langit. Shien tetap tidak akan pernah bisa bersama dengan laki-laki itu.


“Ayo pulang.” Fina dan Reno melayangkan tatapan protes pada Shien yang tiba-tiba beranjak dan mengajak pulang. Mereka masih menikmati live music dan makanannya juga belum habis, jelas saja Fina dan Reno belum ingin pulang.


“Itu live musicnya belum selesai, lho, Mbak. Bentaran lagi, deh.” Pinta Reno sedikit memelas.


“Terserah kalau kalian masih mau di sini.” Sahut Shien dengan raut wajah tanpa ekspresinya, lalu menyerahkan kartu debit pada Fina, dan berlalu begitu saja meninggalkan mejanya.


Sementara Reno yang tak mungkin membiarkan Shien pergi begitu saja hanya bisa mendengus. “Tante, gue duluan.” Pamitnya pada Fina, lalu ikut beranjak dan berjalan mengikuti Shien menuju tempat parkir.


“Gak asyik kalian.” Fina berteriak kesal. Pada akhirnya, ia juga memilih untuk mengakhiri nongkrong sorenya.


********


“Ikut aku.”


Tangan Shien ditarik begitu saja oleh Langit saat ia sedang menunggu Reno yang tengah mengambil mobilnya di tempat parkir. Sepertinya seluruh tenaga Langit tersalurkan pada tangannya, hingga membuat Shien mengerang kesakitan. Sikap Langit yang sedikit kasar ini membuat Shien bingung dan ketakutan tentunya, hingga ia kesulitan untuk berontak.


Langkah kaki laki-laki itu terlihat terburu-buru, membawa Shien ke tempat dimana mobilnya terparkir. Dalam situasi ini, Shien berharap Reno muncul. Dimana anak itu sekarang? Sama-sama berada di tempat parkir, tapi Shien tidak melihat mobilnya ataupun Reno.


“Sakit, Langit.” Shien meronta. Dengan tenaga yang berbanding jauh dengan Langit, Shien berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan Langit. Tapi, Langit tak mengindahkannya.


“Kamu apa-apaan, sih? Lepasin tangan aku.”


Tapi bukannya melepas. Langit malah membuka pintu mobil dan mendorong paksa tubuh Shien untuk masuk, lalu dibantingnya pintu mobil itu dengan keras, kemudian menguncinya.


Shien berusaha membuka pintu mobil, namun sia-sia saja karena Langit menguncinya. Dan sial sekali, bersamaan dengan itu, Shien melihat mobil yang dikendarai Reno lewat, baru saja keluar dari area parkir.


Lantas, Shien dengan cepat mengambil ponsel dari tasnya untuk menelepon Reno. Tapi, ia kembali dibuat terkejut saat sebuah tangan menyambar ponselnya secara tiba-tiba. Dan itu adalah Langit.


“Kembaliin, gak?” Shien protes dengan tatapan marah ketika Langit memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.


“Pake seatbeltnya.” Perintah Langit dengan nada yang terdengar dingin, bergitu juga dengan ekspresinya.


Lalu tanpa banyak bicara lagi, Langit melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, seolah melupakan jika Shien memiliki jantung yang lemah.

__ADS_1


Shien jelas saja terkejut, Langit benar-benar seperti orang kesetanan. Shien bahkan belum sempat mengenakan sabuk pengaman hingga membuat kepalanya nyaris saja terbentur pada dashboard mobil.


Shien hanya bisa memejamkan matanya, wajahnya pucat seolah aliran darahnya berhenti. Gadis itu benar-benar takut mendapati Langit yang membawa mobilnya begitu cepat.


Lagipula, kemana Langit akan membawanya kali ini? Shien merasa jika Langit sebentar lagi akan mempertemukannya dengan Tuhan.


Mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi dan ugal-ugalan, apa Langit berpikir mereka sedang dalam film fast and furious? Menyebalkan. Shien berjanji akan menghantui Langit setiap detik jika sampai ia mati karena kecelakaan.


Perlahan, Shien membuka matanya saat mobil Langit mulai bergerak dengan kecepatan normal. Sepertinya laki-laki itu sudah kembali menguasai dirinya.


Melempar pandangangan keluar jendela, terlihat senja mulai berjalan santai meninggalkan sore. Di luar gerimis, membuat suasana dalam mobil yang awalnya dingin menjadi semakin dingin.


Saat ini Shien tidak tahu ia ada dimana. Karena tinggal di Amerika sejak kecil, membuat Shien tidak cukup untuk bisa mengenali keseluruhan kota kelahirannya ini. Terlebih ia buta arah. Yang Shien tahu sekarang hanyalah jalan menuju kantor, rumah sakit, dan jalan pulang dari sana.


Tiba-tiba, mobil sport hitam itu memperlambat jalannya dan berhenti di bahu jalan raya yang tepat mengarah ke sebuah danau yang membentang luas di depannya.


Untuk beberapa saat, mereka hanya diam. Keduanya masih terhanyut dalam keheningan. Memilih untuk berkutat dengan pikiran masing-masing. Hanya deru napas dan jarum detik jam di pergelangan tangan mereka yang meriuhkan suasana.


“Langit. . . .” Shien tersentak saat tiba-tiba Langit menjatuhkan kepala di pundaknya. Tangannya bersedekap dan matanya terpejam.


“Diem.” Sambar Langit yang masih bertahan dengan sikap dinginnya saat merasakan Shien hendak mengangkat kepalanya.


Shien mendengus diiringi hembusan napas kasar. Apa-apaan coba laki-laki ini?


Membawanya pergi dalam keadaan marah, lalu berhenti di pinggir jalan yang sepi, dan posisinya saat ini sangat tidak nyaman. Bisa-bisa mereka digrebek warga karena mungkin saja dikira pasangan mesum.


“Jangan deket-deket sama cowok lain.” Wajah Langit perlahan merayap, menyerukkannya di perpotongan leher Shien hingga membuat gadis itu semakin merasa tidak nyaman.


“Aku gak suka.” Shien merasakan darahnya berdesir saat bibir Langit yang lembab menempel di kulit lehernya.


“Cowok?” Shien mengernyitkan keningnya tak mengerti, tangannya berusaha mendorong wajah Langit agar menjauh, tapi usahanya sia-sia saja.


“Yang tadi pagi pergi sama kamu.” Terang Langit seraya menghirup aroma tubuh Shien. Orange blossom dari farfum Shien terasa sangat manis dan menyegarkan, membuat Langit betah berlama-lama menghirupnya. Ini persis seperti aroma tubuh Mamanya.


“Dia sopir aku.” Sahut Shien yang baru disadarkan akan cowok mana yang Langit maksud.


“Sopir atau bukan, aku tetap gak suka.”


Shien menahan napas saat Langit mulai menggigit kecil-kecil kulit lehernya, menghisap, berlama-lama hingga timbul kemerahan yang bertanda kepemilikan.


Dan sialnya, tubuh Shien seolah melumpuh, tak mendengarkan perintah dari sistem saraf pusatnya untuk memaki dan mendorong Langit agar menjauh.


“Pecat dia.” Langit menarik diri, lalu memandangi wajah Shien yang tampak memerah di bawah keremangan lampu kabin. Sorot mata gadis itu tak terbaca, deru napasnya terdengar tidak beraturan.


“Kenapa harus?” Dan pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Shien.


“Aku bilang gak suka. Aku gak terima kalau kamu harus pergi bareng dia ke mana-mana tiap hari.” Sahut Langit sengit. Tatapannya begitu dingin, menusuk sampai ke dasar hati Shien hingga membuatnya merasa tersudutkan.


“Baik dia atau cowok lain, kamu gak boleh deket-deket kecuali sama aku.” Suara Langit memelan, lalu menarik dagu Shien ke atas hingga membuat mata mereka saling bertatapan dengan intens.


Tidak ada waktu untuk Shien protes, karena dengan cepat Langit memiringkan wajahnya, lalu mencium bibirnya dengan kasar.


Semuanya terasa menggebu-gebu dan penuh tuntutan. Bibir Langit bergerak dengan tergesa-gesa, seolah seluruh emosinya ia keluarkan di sana.


Langit menyudutkan tubuh Shien hingga punggungnya terus terdorong semakin menekan sandaran kursi mobil.


Langit mencium gadis itu dengan penuh paksaan, sementara Shien begitu pasif hingga terpaksa laki-laki itu menggigit kuat-kuat bibir bawah Shien agar membuka bibirnya untuk memudahkan lidahnya menerobos masuk, membelit lidah Shien, merasakan manis yang tak ada habisnya seperti orang yang kehausan. Namun, Shien tidak menganggap ini sebagai ciuman. Langit melakukannya dengan kasar, dan Shien ingin menangis alih-alih menikmatinya.


“Langit, kamu apa-apaan?” Sentak Shien sambil mendorong tubuh Langit sekuat tenaga hingga tautan bibir mereka terlepas. Shien menatap marah Langit dengan napas memburu. Bibirnya terasa perih disertai rasa asin. Bibir Shien berdarah.


Sejak awal pertemuannya, Shien tidak pernah melihat sosok Langit yang seperti ini. Langit yang terlihat liar dan tak terkendali. Terlebih bersikap kasar.

__ADS_1


“Kamu gak berhak ngatur-ngatur hidup aku.” Serunya kemudian.


“Aku berhak, karena kamu adalah orang yang aku sayangi.” Sambar Langit, lalu kembali mendaratkan kecupan di bibir Shien yang sedikit pucat itu. Tapi, kali ini Langit melakukannya dengan gerakan lembut walaupun tetap tak ada balasan dari gadis itu.


“And you are the one I love.” Langit melepas ciuman itu sebentar, lalu kembali menyatukan bibir mereka dengan kedua tangan menangkup sisi wajah gadis itu dan mengelusnya lembut.


“You are mine.” Langit berujar dengan nada yang terdengar lirih sesaat setelah ia melepaskan pagutannya, lalu menyatukan kening mereka seiring dengan napas yang saling memburu.


“Semuanya udah jelas, Langit.” Shien mendorong bahu Langit yang berotot itu untuk membuat jarak diantara mereka. Pandangannya saling beradu dengan sorot mata Langit yang terlihat sendu dan putus asa.


“Yang aku katakan di taman waktu itu, jangan kamu anggap angin lalu.” Sambung Shien. Langit kembali menatapnya penuh intimidasi, ia benar-benar tidak menyukai Shien mengingatkan hal itu. Dari awal, Langit tidak ingin mendengar penolakan dari gadis yang ada dalam kungkungannya ini.


Langit menggeram, membuat hembusan napas kasarnya menerpa wajah Shien. “Aku gak peduli.” Kedua tangan Langit meremas kuat pundak gadis itu. “Karena aku tahu, apa yang kamu katakan itu bohong.”


“Aku gak bohong. Aku emang gak tertarik sama kamu, aku gak suka sama kamu, dan aku mau kamu jangan temuin aku la. . . .” Kedua bola mata Shien membulat saat Langit kembali membungkam bibirnya dengan satu kecupan lembut.


“Aku gak tahu alasan kenapa kamu terus gak jujur sama perasaan kamu sendiri, Shi.” Perasaan putus asa, sedih, marah, dan kecewa terpancar dari sorot mata Langit.


“Shien. . . .” Langit lalu meraih tangan Shien, kemudian menautkan jari jemarinya.


“Pikirkan lagi baik-baik, hem?” Pinta Langit sedikit memohon seraya mencium punggung tangan Shien yang digenggamnya.


Shien menghela napas panjang seiring dengan detak jantungnya yang menggila saat mendengar suara Langit yang mengiba. Hatinya nyaris saja luluh jika otaknya tidak segera mengingatkan.


“Gak ada yang perlu dipikirin.” Shien menarik tanganya dari genggaman Langit sampai terlepas.


“SHIEN.” Pekik Langit yang terkejut akan sikap penolakan dari Shien. Jujur, Shien benar-benar tidak tega melihat wajah Langit yang sedih. Alhasil, gadis itu memalingkan wajahnya keluar jendela mobil sambil menahan sesak di dadanya, seiring dengan air mata yang mulai menggenang. Susah payah Shien menahannya agar tidak jatuh.


Langit memejamkan mata, meraup udara banyak-banyak untuk menenangkan dirinya. Lalu ia menarik dan membawa tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.


Shien membelalak di dalam pelukan Langit. “Langit. . . .”


“Aku gak bisa melepaskan kamu, Shien.” Kali ini suara Langit benar-benar terdengar putus asa.


Shien bergeming. Lidahnya teramat kelu, bibirnya terkatup rapat. Air mata yang semula ia tahan akhirnya jatuh juga. Hatinya berdenyut nyeri, Shien merasa bersalah. Shien sadar, ia begitu egois dengan tidak memberikan Langit kesempatan untuk membuktikan perasaan tulusnya. Begitu bodohnya Shien mengabaikan laki-laki sebaik Langit. Tapi, kondisinya saat ini tidak memungkinkan untuk Shien bisa menerima Langit.


Shien merasa Langit datang di waktu yang salah. Shien berharap, kelak di kehidupan berikutnya semoga ia dipertemukan lagi dengan Langit dalam keadaan yang lebih baik.


“Oke, aku hanya akan melepaskan kamu sementara.” Langit menghembuskan napas berat.


“Karena aku tahu, kamu butuh waktu.” Shien semakin merasa bersalah, air matanya tak terbendung lagi, tapi dengan segera ia menghapusnya.


“Aku akan menunggu.” Langit mengeratkan pelukannya. “Sampai kamu merasa lebih baik dan siap jujur sama perasaan kamu.”


“Jangan lama-lama. . . .” Intonasi suara Langit semakin melembut, membuat Shien ingin meruntuhkan pertahannya dan membalas pelukan Langit. “Kalau kamu mau jujur sekarang atau besok, kamu gak usah malu.”


“Dan satu lagi. Jangan pernah minta aku untuk menjauhi atau jangan menemui kamu lagi.” Kali ini suara Langit terdengar sedih. “Aku bisa gila.”


“I love you without knowing how, or when, or from where.” Langit menarik diri untuk menjangkau pandangannya dengan gadis itu.


“I just wanna say something. I love you. That’s all.” Menangkup kedua sisi wajah Shien, kemudian mendaratkan satu kecupan singkat pada bibirnya. Hangat dan lembut, membuat Shien kembali dibuat mematung tak berdaya karenanya.


“Kenapa?” Tanya Shien dengan nada lelah. Sorot matanya terlihat sayu.


Langit tersenyum simpul untuk kemudian berujar. “Karena kamu adalah kamu.” Shien mengernyitkan keningnya tak mengerti.


“Kalau kamu orang lain, aku gak akan sayang sama kamu. Hanya kamu yang selalu ada dalam mimpi aku, dalam pikiran aku, kamu adalah satu-satunya orang yang membuat jantung aku berdebar, bahkan bisa buat aku lupa bernapas.”


Shien terteggun mendengar jawaban Langit. Pemikirannya terdengar konyol, tapi raut wajahnya tampak sungguh-sungguh, hingga membuat hatinya terasa menghangat. Kalau seperti ini, bagaimana Shien bisa menyerah akan perasaannya sendiri pada Langit?


“You are the reason. So, come a little closer now. Jangan membohongi perasaan kamu lagi, hem?” Langit kemudian kembali membawa tubuh Shien yang masih bergeming itu ke dalam dekapannya, memeluknya erat, lalu mengecup puncak kepala gadis itu dengan sayang.

__ADS_1


********


To be continued. . . . .


__ADS_2