So In Love

So In Love
EP. 102. Banyak Tingkah


__ADS_3

Maaf nih akhir-akhir ini slow update. Mulai sibuk sama kehidupan dunia nyata soalnya. Hihi


Dan aku nulis tuh cuma sekedar hobi yang aku lakuin di waktu luang.


Just enjoy.


Lanjut besok, yes.


********


Setelah pergulatan yang terjadi hampir sepanjang malam tadi, Langit dan Shien nampak masih meringkuk di balik selimut dengan tubuh tanpa busana. Udara dingin akibat hujan di luar pagi itu membuat keduanya enggan untuk beranjak dari pembaringan meski mata sudah sama-sama terbuka.


“Lang. . . .”


“Hum?” Langit bergumam seraya mengecupi tulang selangka Shien yang terbuka, lalu semakin merambat ke bawah hingga mulutnya bertemu puncak dada Shien dan menyesapnya seperti bayi. Hal itu jelas membuat Shien gelisah dan menahan napasnya.


“Ini jam bera. . pa. . eugh. . . .” Shien tidak bisa untuk tidak mendesah saat tangan Langit memijat sebelah buah dadanya yang bebas.


“Delapan. . . .” Langit kembali bergumam tanpa melepaskan mulutnya dari puncak dada Shien, terus mengemutnya seperti sebuah lolipop.


“Yaaa?” Pekik Shien dengan mata yang seketika melebar sempurna. Namun Langit tidak peduli, ia menikmati kegiatan paginya yang sudah menjadi kebiasaan setelah menikah dengan Shien.


“Ya ampun Langit, aku kesiangan.” Panik Shien sambil berusaha mendorong wajah Langit hingga terlepas dari dadanya, dan hal tersebut langsung membuat Langit memasang wajah merengut.


“Kesiangan apaan, sih? Udah sini tidur lagi.” Langit menahan lengan Shien yang hendak menyibak selimut dan bersiap bangun, lalu mendekapnya erat sehingga membuat tubuh Shien terkunci oleh tangan kekarnya.


“Aku belum nyiapin sarapan.” Protes Shien sambil menggeliatkan tubuhnya untuk keluar dari dekapan tangan Langit.


“Kan ada Bibi.” Sahut Langit ogah-ogahan seraya memejamkan matanya. Cuaca hujan di pagi hari memang sangat cocok untuk tarik selimut kembali.


“Terus ngebiarin Papa sarapan sendirian? Gak enak ihh.” Shien memukul pelan bahu Langit yang terbuka. Namun Langit malah semakin mengeratkan pelukannya hingga tubuh mereka benar-benar saling menempel tanpa ada jarak sedikitpun.


“Papa itu gak kolot. Papa pasti ngerti, kok. Malahan dia seneng karena ngira kita lagi bikinin cucu buat dia.” Sahut Langit nyeleneh, lalu menggerakkan tangannya untuk mengusap perut datar Shien, berdoa agar benihnya tumbuh dengan baik di sana. Namun kata cucu yang diucapkannya membuat Shien kembali merasa bersalah dan sedih sekaligus. Sungguh, ia belum siap untuk itu. Shien masih takut dengan kenyataan yang mungkin terjadi. Bukannya Shien ingin mendahului takdir, hanya saja ketakutan itu begitu menghantui pikirannya hingga sulit disingkirkan. Maka dari itu, Shien butuh waktu setidaknya sebentar untuk mengusir pikiran buruk itu secara perlahan-lahan.


“Ihh geli. . . .” Shien menggeliat pelan akibat rasa geli yang ditimbulkan dari sentuhan tangan Langit di perutnya. “Tangan kamu dari tadi travelling terus.” Lalu memukul pelan tangan Langit yang kini turun menuju pangkal paha hingga menyentuh pusat tubuhnya.


Langit terkekeh, kemudian mengecupi rahang Shien. “Ya gak apa-apa kali. Kan sekarang udah halal mau nyentuh yang mana pun.” Dan sekali lagi Langit menyentuh pusat tubuh Shien, kali ini dengan sedikit penekanan sehingga membuat sang istri melenguh tertahan, dan itu otomatis membuat gairah Langit bangkit lagi.


“Jangan ditahan. . . .” Bisik Langit dengan seringai nakal tersungging di bibirnya.


Shien mengerjap, berusaha mencerna ucapan Langit. Namun sejurus kemudian, Langit beranjak dari pembaringan, bukan untuk bangun, melainkan untuk kembali membungkuk di atas tubuh molek Shien.


Shien membelalak seraya menyilangkan tangan di depan dadanya waspada. “Ka-kamu mau ngapain?”


“Emangnya mau apa lagi?” Langit lantas melepaskan tangan Shien yang menutupi dadanya, lalu mulai menciumi tulang selangka sang istri.


“Ya ampun, Lang. Masih pagi. . . .” Protes Shien, namun Langit tak mengindahkannya. Ia terus mengecupi kulit mulus Shien hingga berhenti pada bagian kesukaannya.


“Ini makin gede ya, Shi.” Langit menarik diri untuk sejenak, menatap tanpa kedip tubuh bagian atas Shien yang tak berpenghalang. Memang sejak kembali dari Amerika, tubuh Shien menjadi lebih proporsional sehingga lebih menarik di matanya. Dan setelah menikah, ada bagian tubuh Shien yang membesar hingga membuat Langit semakin tergila-gila padanya. “Aku suka.” Detik berikutnya ia membenamkan wajahnya di antara belahan dada Shien, lalu kembali menjamah bagian itu, memberi tanda-tanda kepemilikan di sana.


“Langit ihh. . . .” Shien memukul bahu Langit seraya berontak pelan karena laki-laki itu mengacuhkan protes yang dilayangkannya tadi. Tapi meskipun demikian, Langit malah melanjutkan kegiatannya, menyesap kuat-kuat puncak dada Shien hingga terdengar suara erangan dari mulut gadis itu, membuat gairah Langit semakin berkobar hebat.


“Lang . . . , katanya mau ke rumah Jingga.” Shien mendesah dengan kepala menengadah ke atas. Sesekali matanya terpejam seiring dengan rasa nikmat yang muncul dari sentuhan yang Langit berikan. Tubuhnya tidak menolak itu meskipun otaknya menolak karena mereka sudah melakukannya hampir semalaman, bahkan baru berhenti sekitar jam empat subuh tadi.


“Lang. . . .” Rengek Shien karena Langit tidak berhenti mempermainkan buah dadanya.


Langit menarik diri, menjauhkan wajahnya untuk menjangkau pandangannya dengan Shien. “Sekali ya, Shi, sekalian capek?” Rayunya dengan wajah penuh permohonan.


Terdiam sambil menggigit bibir bawahnya, Shien lantas mengangguk lemah. Napasnya sedikit memburu karena menahan hawa panas yang perlahan menjalar di tubuhnya.


Langit tersenyum senang, lalu tanpa banyak bicara lagi ia kembali mengecupi tubuh bagian atas Shien, mulai dari wajah, leher dan terus merambat ke bawah menuju tulang selangka.


Katakan saja Shien juga menyukainya, secara alami Shien mencengkram rambut Langit, menekan kepalanya agar suaminya itu terus memperdalam ciuman di atas kulitnya.

__ADS_1


Puas memberi jejak-jejak kepemilikannya di atas kulit Shien, Langit kemudian beralih mencium rakus bibir gadis itu, memberi sapuan lembut dan menggigit kecil untuk menarik gairah Shien membalasnya.


Namun saat ciuman itu semakin dalam, tiba-tiba Langit merasakan perutnya bergejolak, tapi ia mengabaikannya dan meneruskan kegiatannya mengeksplor rongga mulut Shien. Bahkan ia sudah siap untuk penyatuan mereka.


“Eumh . . . .”


Shien mengerjap bingung saat tiba-tiba Langit menarik diri dan beranjak duduk. Keningnya mengernyit dalam menatap sang suami yang memasang raut wajah tidak nyaman.


“Kamu kenapa?” Shien ikut beranjak dengan mengapit selimut di antara kedua ketiaknya.


Langit terdiam. Ia menekap mulutnya begitu gejolak di perutnya semakin menjadi-jadi sehingga menimbulkan rasa mual yang teramat sangat.


“Lang. . . .” Shien menyentuh bahu Langit khawatir.


Langit menoleh dengan wajah yang tiba-tiba memucat. “Aku mua – hmmph. . . .”


Dengan cepat Langit menyibak selimut yang masih menutupi setengah tubuhnya, lalu turun dari tempat tidur dan segera berlari memasuki kamar mandi dengan tubuh tanpa busana. Jangankan mengenakan pakaian, untuk menahan mual sampai ke kamar mandi saja ia merasa kesulitan.


Di depan wastafel, Langit langsung memuntahkan semua isi perutnya hingga sampai pada cairan kuning yang membuat tenggorokannya terasa sangat pahit.


Tidak lama Shien datang dan menutupi tubuh Langit dengan bathrobe, kemudian memijat lembut lehernya dan itu sedikit membantu hingga membuat perasaan Langit menjadi sedikit lebih tenang.


Langit merasakan seluruh tubuhnya melemas, ia lantas bersandar pada meja wastafel seraya memperbaiki ikatan tali bathrobenya agar terpasang dengan baik.


“Kamu kenapa? Kok tiba-tiba kayak gini?” Tanya Shien khawatir, tangannya tidak berhenti memberi pijatan lembut pada bahu Langit.


“Aku juga gak tahu, tiba-tiba mual aja.” Jawab Langit lemah seraya memijat dahinya yang terasa pening.


“Kayaknya kamu masuk angin.” Ujar Shien menerka, jelas saja karena hampir semalaman mereka tidak tidur.


Sementara Langit hanya hanya terdiam lemas, gejolak itu masih ada, ia merasa perutnya dililit sesuatu. Tenaganya terkuras habis karena muntah-muntah tadi.


“Masih mual?” Tanya Shien mengusap lembut pipi Langit. Kepala Langit menggeleng lemah, lalu memeluk tubuh Shien dan menjatuhkan kepalanya di pundak gadis itu.


Shien mengusap-usap punggung Langit penuh sayang. “Ya udah yuk ke kamar lagi, nanti aku buatin teh hangat biar perut kamu enakan.”


Seketika mata Shien membelalak. Ya ampun. Memang benar panggilan yang Jingga buat untuknya. Tikus mesum ini masih sempat-sempatnya memikirkan hal itu.


“Lanjutin gimana? Jangan ngaco kamu.” Shien memukul punggung Langit gemas. “Kamu lagi sakit.”


“Sekarang udah enakan, kok.” Sahut Langit, tangannya sudah bergerak nakal lagi dengan meremas bagian belakang tubuh Shien. “Ayolah, Shi. Mumpung aku libur.” Rengeknya kemudian.


Shien menahan napasnya saat tangan Langit merambat naik dan menyusup ke dalam bathrobe yang dikenakannya hingga tangan nakal itu bertemu langsung dengan kulitnya. “Ya-ya udah, tapi di sini aja.” Jawab Shien yang mulai gelisah karena sentuhan tangan Langit di bawah sana.


Langit menarik diri, bibirnya yang sedikit pucat tertarik membentuk senyuman lebar. “Ide bagus. Kita emang belum pernah di kamar mandi.”


Lantas Langit meraih bahu Shien dan membimbing istrinya itu untuk bergerak masuk ke walk in shower.


********


Pagi hari beringsut siang. Sekitar jam sepuluh, Langit dan Shien baru keluar dari kamar dan turun ke ruang makan. Hujan sudah reda, rumah nampak sepi karena katanya Papa Wijaya sudah berangkat untuk pergi bermain golf bersama koleganya.


“Kamu yakin gak mau istirahat aja?” Tanya Shien yang sedang menyiapkan makanan di meja makan untuk sarapan mereka yang kesiangan. Sementara Langit duduk di kursi meja makan memperhatikan sang istri.


Sesuai rencana sebelumnya, hari ini Langit mengajak Shien untuk menjenguk Jingga dan bayi keduanya yang sudah pulang dari rumah sakit ke rumahnya.


Shien kira Langit akan memilih untuk beristirahat di rumah saja karena melihat wajah suaminya yang sedikit pucat dan terlihat lelah. Tapi Langit keukeuh tidak ingin membatalkan rencananya.


“Aku udah janji sama Biru mau datang ke rumahnya sama kamu. Lagian kita belum lihat bayinya mereka, kemarin-kemarin karena sibuk aku juga gak sempat lihat. Kamu juga gak datang ke rumah sakit, kan?” Sahut Langit, mengingat tiga hari yang lalu Jingga melahirkan secara normal dan dirawat di rumah sakit selama dua hari setelah itu.


“Enggak. Kan kamu sendiri yang bilang aku gak usah jenguk Jingga ke rumah sakit.” Jawab Shien sambil menyodorkan secangkir teh hangat pada Langit. Ia ingat betul saat itu Langit mengatakan untuk menjenguk Jingga kalau sudah pulang dari rumah sakit saja.


“Tapi kamu beneran gak apa-apa?” Tanya Shien lagi dengan raut wajah khawatir, lantas ia menempelkan telapak tangannya pada dahi Langit. “Tapi kamu gak demam.” Gumamnya heran.

__ADS_1


“Kan cuma perut aku aja yang kurang enak, Shi.” Ucap Langit menegaskan.


“Pake makan di restoran segala, sih. Coba aja kemarin makan sama istrinya di rumah. Gak bakalan kena gangguan pencernaan kamu.” Gumam Shien menyindir seraya mendudukkan dirinya di sebelah Langit.


Sementara Langit hanya bisa diam sambil menghembuskan napasnya. Ia tahu Shien masih dongkol padanya karena sudah melewatkan makan malam bersama di rumah selama beberapa hari belakangan ini.


“Pasti kamu salah makan nih tadi malam.” Shien masih melanjutkan omelannya. Tapi meski demikian, tangannya sibuk menyodorkan semangkuk sup dan nasi ke hadapan suaminya. Shien yakin Langit salah makan sampai-sampai dia mengalami gangguan pencernaan dan muntah-muntah. Namun ia heran karena dalam keadaan seperti itu saja Langit masih kuat menggempurnya berkali-kali hingga tadi pagi yang baru saja berakhir sekitar satu jam yang lalu.


“Iya, sayang maaf. Udah jangan cerewet, jadi pengen cium tahu, gak?” Langit mencolek dagu Shien gemas. Sedangkan Shien yang mendapati Langit menggodanya hanya mendengus geli.


“Ya udah ayo makan supnya biar perut kamu enakan.” Titah Shien.


Langit terdiam sambil menatap gamang sup di depannya. Sup bening dengan sayuran segar dan potongan daging ayam di dalamnya. Ia tidak masalah dengan semua sayuran, tapi melihat potongan daging membuat perutnya kembali bergejolak. Rasa ingin muntah itu muncul lagi.


“Kenapa?” Tanya Shien dengan alis yang saling bertaut saat melihat raut wajah Langit yang kembali tidak nyaman, sama seperti di kamar tadi. “Mual lagi?” Tebaknya terdengar khawatir.


“Aku gak mau dagingnya – yuck. . . .” Langit segera berlari ke dapur, mencari wastafel terdekat dan kembali memuntahkan isi perutnya. Kali ini hanya cairan berwarna kuning yang terasa lebih pahit dari yang sebelumnya karena saat ini ia sama sekali belum mengisi perutnya dengan makanan apapun.


“Ya ampun, Lang. Kayaknya kamu beneran salah makan, deh.” Shien dengan sigap memberi pijatan di tengkuk dan bahu Langit. Ia lantas meminta Bi Niah menyiapkan air hangat untuk Langit.


“Den Langit kenapa, Non?” Tanya Bi Niah yang ikut khawatir melihat anak majikannya muntah-muntah parah.


“Gak tahu masuk angin atau salah makan. Dari tadi pagi dia kayak gini, Bi.” Jawab Shien tanpa menghentikan pijatan tangannya di tengkuk Langit.


“Kalau gitu ke Dokter saja, Non, takutnya ada apa-apa.” Tutur Bi Niah. Shien hanya mengangguk. Bi Niah kemudian pamit dan beranjak untuk menyiapkan air hangat permintaan Shien.


“Kita ke Dokter aja, ya?” Saran Shien khawatir begitu mereka kembali ke meja makan. Langit terlihat lebih lemas dari sebelumnya, wajahnya pucat, matanya memerah dan berair.


Langit menggeleng lemah. “Minum teh hangat buatan kamu pasti enakan, kok.” Ucapnya seraya menyeruput teh hangat yang sebelumnya disiapkan Shien. “Tapi tolong singkirin semua dagingnya, baunya bikin aku mual.” Pintanya kemudian, membuat Shien sedikit keheranan karena biasanya Langit menyukai semua olahan daging. Tapi Shien tidak protes ataupun bertanya, ia memaklumi karena tubuh Langit sedang tidak sehat. Hingga akhirnya, Shien mulai menyingkirkan semua daging yang ada di mangkuk Langit dan memindaknannya ke mangkuk miliknya untuk ia makan.


Shien lantas menghembuskan napas berat. Setelah dipikir-pikir, bagaimana bobot tubuhnya tidak naik coba jika sarapan saja ia makan lebih dari porsinya seperti ini?


“Udah aku ambilin semua dagingnya. Ayo makan.” Shien kembali menyodorkan sup yang sekarang tanpa potongan daging ayam itu pada Langit. Tapi laki-laki itu masih terdiam.


“Kenapa?” Tanya Shien mengelus lembut sisi wajah Langit. “Mual lagi?”


Langit menggeleng, lalu tersenyum tipis. “Suapin.” Pintanya manja.


Shien memutar bola matanya jengah, sikap kolokan Langit padanya memang tiada tanding. “Enggak, ahh. Nanti Bi Niah lihat malu.”


Langit mengerucutkan bibirnya. “Emang kenapa kalau Bi Niah lihat? Toh aku suami kamu, kamu istri aku, dan bebas mau ngapain aja.”


“Iya tapi. . . .”


“Suapin. . . .” Rengek Langit menyela ucapan Shien, ia lalu menjatuhkan kepalanya di pundak sang istri. “Aku lagi sakit lho.”


Shien menghela napas. “Ya-ya udah iya.”


Langit mengangkat kepalanya dan tersenyum senang meski nada suara Shien terdengar tidak ikhlas.


“Gak biasanya kamu manja kayak gini. Kayaknya bener-bener salah makan.” Shien sedikit mendumel dan mulai menyuapi Langit dengan hati-hati.


“Ya gak ada salahnya kali suami pengen dimanja sama istrinya. Bian malah tiap hari minta disuapin.” Sahut Langit di sela-sela mengunyah makanannya.


“Ya itu karena tangan kak Bian lagi sakit. Ngaco kamu, tuh.” Shien memukul lengan Langit gemas, mengingat tangan Bian yang patah karena kecelakaan tiga minggu yang lalu.


Langit terkekeh setelah menelan makanannya. “Kamu kalau sewot kayak gini tambah seksi tahu, gak? Jadi pengen aku kunciin di kamar seharian.”


Spontan Shien kembali memukul lengan Langit karena malah menggodanya. “Apaan sih, ihh? Udah ayo makan lagi.”


“Aww panas. . . .” Pekik Langit karena Shien menyuapinya tanpa meniup supnya terlebih dahulu.


Sementara Shien menjulurkan lidahnya puas. “Makannya jangan banyak tingkah.”

__ADS_1


********


To be continued. . . .


__ADS_2