
********
Langit tiba di apartemennya dengan wajah yang teramat lesu. Tak berniat membersihkan dirinya terlebih dahulu, ia memilih untuk menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur.
Menghembuskan napas berat, ia menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Tidak, bukan hanya tatapannya yang kosong. Langit juga merasakan kekosongan di dalam hatinya. Selalu seperti ini, setiap hari sesaat setelah ia pulang bekerja dari rumah sakit.
Pandangannya mengedar ke setiap sudut kamar, rasanya sangat berbeda. Kamar ini begitu sepi. Lebih tepatnya, apartemennya sangat sepi. Suasananya benar-benar berbeda saat Jingga tidak lagi tinggal di sebelah unitnya. Biasanya, gadis itu akan selalu mengganggu untuk mengajaknya nonton atau makan bersama, baik di unitnya ataupun di unit gadis itu.
“Tadaa. Langit, ayo makan bareng.”
Langit tersenyum saat mengingat Jingga berdiri di depan pintu apartemennya sambil menenteng dua kantong plastik berisi makanan.
“Langit. Ayo nonton bareng, aku ada film yang recomended.”
Itu saat Jingga berdiri di depan pintu apartemennya sambil mendekap bantal dan selimut. Mereka akan menonton film sampai pagi dan tidur tak beraturan di depan televisi.
Langit mengusap air mata yang tahu-tahu jatuh begitu saja dan mengalir di sudut matanya. Ahh, ia benar-benar merindukan kebersamaannya dengan Jingga rupanya. Ia tidak menyangka akan merasa kehilangan hingga hatinya sakit seperti ini.
Langit kira ia sudah merelakan Jingga sepenuhnya, tapi gadis itu masih saja memenuhi hati dan kepalanya. Terlebih, kabar kehamilan Jingga yang ia dengar tadi siang membuat perasaannya semakin kacau tak karuan. Ia ikut bahagia, tapi hatinya juga sedih. Ia benar-benar sudah kehilangan gadis yang menjadi cinta pertamanya itu, walaupun ia tahu jika sebelumnya Jingga tidak pernah menjadi miliknya.
Meraup wajahnya dengan kasar, Langit kemudian mengambil ponselnya. Membuka gallery foto, dan terpampanglah semua foto kebersamaannya dengan Jingga dari semasa sekolah hingga gadis itu menikah kemarin.
Langit tersenyum getir, membiarkan semua foto itu bergerak dengan slide otomatis. Biarkan seperti ini, biarkan Langit mengenang kebersamaannya sebelum ia menghapus semua foto itu.
Ya, Langit harus move on. Perasaannya pada Jingga tidak benar, ia tidak boleh menyiksa hatinya sendiri seperti ini.
Mungkin kemarin-kemarin ia belum menguatkan hatinya. Tapi sekarang, ia harus melakukannya dengan sungguh-sungguh. Setidaknya, mulai dari menyingkirkan semua foto kenangannya bersama gadis itu. Langit akan memulainya dari sana.
Setelah slide foto berakhir, Langit kemudian menghapus ratusan foto kebersamaannya dengan Jingga. Tak lupa, foto wisudanya bersama Jingga saat di Amerika yang bertengger manis di dompetnya juga ia robek hingga tak berbentuk.
“Goodbye my first love.” Langit menatap fotonya yang tengah mencium pipi Jingga sebelum kemudian ia merobeknya. Masih jelas dalam ingatannya, saat itu ia mencuri satu kecupan di pipi Jingga begitu jepretan foto diambil hingga membuat gadis itu memukulinya dengan buket bunga yang ia berikan.
Sekarang, foto itu sudah tidak jelas bentukannya. Terkadang memang butuh cara yang sedikit ekstrim untuk melupakan seseorang. Salah satunya mencabik-cabik foto seperti ini.
Beranjak dari tidurnya, Langit lantas menyemangati dan menyakinkan dirinya sendiri bahwa ia pasti bisa melepaskan Jingga selepas-lepasnya. Ia kemudian turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sekaligus hati dan pikirannya yang selalu terbayang-bayang oleh Jingga. Tidak hanya itu, bahkan Jingga hadir dalam mimpinya setiap kali ia terlelap.
********
Langit keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk yang terlilit di sepanjang pinggangnya serta handuk kecil di kepala yang digunakan untuk mengeringkan rambutnya.
Laki-laki tampan itu mengurungkan niatnya yang hendak berjalan menuju lemari pakaian tatkala mendengar ponsel di atas tempat tidurnya berdering.
Memutar tumitnya, ia lantas melangkahkan kakinya ke arah tempat tidur di mana ponselnya berada. Langit mengeryitkan alisnya saat melihat sebuah panggilan telepon dari nomor tak dikenal tertera di layar ponselnya.
“Dokter Langit . . . .” Langit refleks menjauhkan ponsel dari telinganya saat suara heboh terdengar dari seberang telepon nyaris saja memecahkan gendang telinganya. Padahal, tadi Langit baru saja mengambil ancang-ancang untuk membuka mulutnya begitu ia menggeser icon hijau.
“Ini dokter Langit, kan?” Tanya orang di seberang telepon seolah ingin memastikan.
“Iya, saya sendiri. Maaf, ini dengan siapa?” Langit balik bertanya dengan formal.
“Aku Shanna, gadis cantik yang tadi siang kamu tarik rambutnya.” Sejenak Langit terdiam, dahinya tampak berkerut dalam sembari berusaha mengingat nama Shanna, tapi ia tidak menemukan nama Shanna tersimpan di dalam memorinya.
“Kamu bilang mau tanggung jawab kalau leherku kenapa-napa.” Imbuh Shanna saat dirasa tak ada sahutan.
Seketika bola mata Langit membulat diiringi dengan mulutnya yang membentuk tanda O saat ia kini mengingat gadis yang sedang berbicara dengannya di telepon saat ini. Dia adalah si gadis rambut lolipop.
“Ahh, lolipop . . . , maksud saya, kamu yang tadi . . . .”
“Iya, ini aku . . . .” Sambar Shanna memotong kalimat yang hendak Langit ucapkan.
“Emm. Bagaimana keadaan lehermu?” Tanya Langit to the point. Dalam hatinya ia bertaya-tanya, apa mungkin hanya karena tarikan kecil saja leher gadis itu sampai patah lagi? Rasanya itu tidak mungkin. Tapi kenapa gadis itu meneleponnya?
“Kalau baik-baik aja, aku gak mungkin nelepon kamu, Dokter Langit.” Sahut Shanna sedikit ketus. Raut wajah Langit tampak ragu, ia sangsi kalau Shanna berkata jujur.
“Jadi, apa leher kamu patah lagi, loli . . eh, Shanna?” Tanya Langit memastikan. Tidak jika peduli gadis ini sedang berusaha menipunya atau tidak, ia akan tetap bertanggung jawab. Toh, pengobatan leher yang patah tidak begitu mahal untuknya.
“Gak patah lagi, tapi sakitnya makin parah. Kamu harus tanggung jawab.” Jawab Shanna.
“Sebelumnya, sekali lagi saya minta maaf atas kejadian tadi siang sampai menyebabkan lehermu tambah sakit.” Tutur Langit tulus.
“Dan silahkan kamu kirim nomor rekening kamu. Saya akan menanggung biaya pengobatannya.” Lanjut Langit tak ingin memperpanjang masalah.
“Tapi aku gak butuh uang.” Langit mengernyitkan keningnya heran saat mendengar itu.
“Aku mau kamu bertanggung jawab dengan cara lain.” Imbuh Shanna.
“Cara lain?” Tanya Langit tak mengerti. Ia sedikit menggerutu dalam hati karena menurutnya Shanna sangat ribet. Kalau tidak mau uang, lalu gadis itu mau apa?
“Ya, cara lain. Besok siang, aku akan datang ke rumah sakit untuk minta pertanggungjawaban sama kamu.” Jawab Shanna membuat Langit semakin bingung. Tanggung jawab seperti apa yang gadis itu inginkan?
“Tapi . . . .”
__ADS_1
“See you tomorrow, Dokter Langit.” Sela Shanna sebelum kemudian dengan cepat menutup sambungan teleponnya.
“Lolipop . . . .” Langit mendengus kesal karena Shanna menutup telepon seenaknya.
“Hiish, ribet banget jadi cewek.” Gerutu Langit seraya melemparkan ponselnya ke atas tempat tidur dengan keras, kemudian ia kembali melangkahkan kakinya menuju lemari untuk mengambil pakaiannya.
********
Langit membuka masker beserta penutup kepala begitu ia keluar dari ruang operasi setelah beberapa menit yang lalu ia melakukan operasi transplantasi liver pada bayi berusia enam bulan.
Tampak si orang tua bayi mengucapkan banyak terima kasih padanya dengan haru begitu Langit mengatakan bahwa operasinya berjalan dengan lancar dan bayi mereka pasti segera pulih.
Setelah itu, Langit berpamitan, lalu kembali masuk ke ruang operasi karena harus segera memindahkan si bayi ke ruang perawatan intensif.
“Dokter, ayo makan siang bareng.” Ajak Mia pada Langit begitu mereka berjalan bersisian setelah beberapa saat lalu keluar dari ruang perawatan intensif.
“Boleh.” Jawab Langit enteng, membuat Mia bersorak senang dalam hatinya mendengar jawaban itu.
“Gimana kalau di luar? Siang sampai sore ini dokter, kan, gak ada jadwal operasi dan praktik.” Usul Mia kemudian, dan tanpa berpikir panjang Langit kembali mengiyakannya.
“Berdua?” Tanya Mia dengan binar penuh harap. “Yep.” Jawab Langit mantap seraya menganggukkan kepalanya.
“Yes!” Seru Mia tertahan. Ia benar-benar senang, akhirnya ia bisa pergi berdua bersama Langit seperti Hana.
Namun, kebahagiaannya tak berlangsung lama saat ia melihat gadis cantik dengan penampilan nyentrik berdiri di depan pintu ruangan Langit dan tersenyum seraya melambaikan tangan ke arah dokter tampan itu. Shanna.
“Hai, Dokter Langit.” Gadis yang tampil seksi dengan mini dress motif macan yang dipadukan dengan jacket denim itu menyapa Langit dengan senyum cerianya. Hal itu sontak membuat Langit tertegun. Bukan karena penampilan seksinya, tapi wajahnya. Wajahnya benar-benar sama dengan gadis yang terjebak di dalam lift bersamanya kemarin.
“Shien?” Gumam Langit dalam hati. Jelas sekali ia sangat ingat dengan gadis yang tak mau menerima uluran tangannya itu.
Sementara Mia, perawat itu menyoroti Shanna dari atas sampai bawah. Tentu saja gadis nyentrik itu bukan pasien Langit, mengingat semua pasien Langit adalah anak-anak. Mungkinkah dia orang tua pasien?
“Dokter.” Sentak Shanna mengejutkan Langit yang malah diam mematung di hadapannya.
“Ohh, lolipop. Kamu sedang apa di sini?” Tanya Langit, refleks ia memanggil Shanna dengan sebutan lolipop. Ahh, rambutnya benar-benar mirip lolipop warna-warni.
“Kan semalem aku udah bilang mau datang ke sini buat minta pertanggungjawaban sama kamu.” Jawab Shanna, membuat Mia yang mendengarnya membelalakkan mata, karena dirasa ucapan Shanna itu sedikit ambigu.
Pertanggungjawaban? Mungkinkah Langit menghamili gadis lolipop ini? Itulah serentetan pertanyaan yang terlintas di kepala Mia.
“Dokter, kamu . . . .” Mia menggantungkan kalimatnya, matanya memicing menatap Langit penuh curiga.
“Mia, it’s not what you think.” Sambar Langit yang tak ingin membuat Mia berpikiran macam-macam tentangnya.
“Siapa yang tadi? Pacar kamu? Not bad.” Tanya sekaligus komentar Shanna begitu ia duduk di sofa ruang kerja Langit. Ia tidak mengelak kalau Mia memiliki paras yang cukup cantik dan terlihat seperti gadis kalem pada umumnya.
“Tell me what to do, lolipop?” Langit tak mengindahkan ocehan Shanna.
“Shanna. S-H-A-N-N-A. You can call me Shanna not lolipop.” Shanna mengeja namanya karena tak terima sejak tadi dirinya terus dipanggil lolipop.
“Dan jangan ngomong pake bahasa formal. Umur kita kayaknya gak beda jauh, mungkin juga seumuran.” Protesnya lagi sembari menyilangkan kaki, membuat mini dress yang dikenakannya tersingkap hingga menunjukkan sedikit pakaian dalamnya. Otomatis Langit langsung melempar bantal sofa agar gadis itu menutupi pahanya.
“Lain kali, jangan pake baju kekurangan bahan.” Tegur Langit sesaat setelah Shanna menutupi pahanya. Ia tak tertarik sama sekali melihat kain berenda warna hitam itu, justru ia merasa tidak nyaman. Benar-benar tidak nyaman.
“Ini namanya fashion.” Sanggah Shanna tak peduli.
“Baju macan kekurangan bahan gini dibilang fashion?” Cibir Langit dalam hati. Menurutnya, bukan malah enak dipandang, Shanna lebih mirip banci yang hendak manggung.
“Kamu mau aku tanggung jawab kayak gimana?” Tanya Langit kembali pada fokus utama. Kali ini ia mengubah cara bicaranya agar lebih santai.
“Aku mau kamu ngantar jemput aku ke tempat kerja selama seminggu.” Jawab Shanna yang sontak membuat Langit terkejut.
“Yaa?” Tanya Langit membelalakkan matanya tak percaya. Mana ada tanggung jawab seperti itu.
“Gara-gara leher aku tambah sakit, aku jadi gak bisa nyetir.” Sahut Shanna seraya memegangi lehernya yang masih dipasang penyangga, lalu berpura-pura meringis.
Ya, Shanna hanya berpura-pura. Sebenarnya, kemarin saat check up dokter mengatakan bahwa leher Shanna sudah baik-baik saja dan boleh melepaskan penyangganya. Ini hanya akal-akalan Shanna untuk bisa mendekati Langit.
“Maaf, tapi aku gak bisa antar-jemput orang asing.” Tolak Langit terang-terangan membuat Shanna mendengus.
“Kalau gitu kita bisa temenan mulai sekarang.” Seru Shanna sembari megulurkan tangannya ke arah Langit.
“Habis itu jadi pacar.” Imbuhnya dalam hati. Shanna lantas senyum-senyum sendiri membayangkannya. Hal ini jelas saja membuat Langit yang melihatnya terheran-heran. Dasar gadis aneh.
“Gimana? Walau bagaimanapun, kamu tetap harus tanggung jawab dan aku gak mau uang.” Ujar Shanna kemudian, ia kembali mengingatkan akan tanggung jawab Langit yang telah membuat lehernya kembali sakit.
Menghembuskan napasnya kasar seraya berdecak malas. Karena tidak ada pilihan lain, mau tak mau Langit harus mengiyakan permintaan gadis lolipop ini. Ia tidak mau dicap buruk sebagai orang yang tidak bertanggung jawab.
“Antar-jemput ke tempat kerja aja, kan?” Tanya Langit memastikan. Tak lupa ia merekam percakapannya dengan Shanna untuk berjaga-jaga karena siapa tahu saja gadis ini menuntut lebih.
“Emm, kamu cukup antar-jemput aku ke tempat kerja mulai besok.” Jawab Shanna yakin sembari menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
“Oke, setuju.” Sahut Langit menyimpan rekaman suaranya. “Sekarang, silahkan kamu pergi dari sini. Pintunya masih ada di sana.” Usir Langit kemudian seraya menunjuk pintu ruangannya.
“Kalau gitu, ayo antar aku pulang.” Pinta Shanna alih-alih langsung pergi. Padahal, Langit sudah mengusirnya secara terang-terangan.
“Itu berlaku mulai besok.” Ujar Langit mengingatkan.
“Tapi aku gak bawa mobil sekarang, tadi aku ke sini naik taksi.” Langit memutar bola matanya jengah mendengar penuturan gadis itu. “Kalau gitu tinggal pulang naik taksi lagi.” Sahut Langit mulai kesal.
“Gak mau! Pokoknya kamu antar aku pulang. Titik.” Balas Shanna keukeuh seraya melipat kedua tangannya di depan dada.
“Aku sibuk.” Langit sudah mulai geram, ingin rasanya ia melempar gadis ini dari ruangannya sekarang juga kalau tidak ingat kesalahannya yang sudah membuat leher Shanna sakit.
“Aku akan nunggu kamu sampai selesai kerja. Di sini.” Ucap Shanna, ia lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa dengan santai.
Langit menatap Shanna dengan tatapan kesal. Gadis yang ada di hadapannya ini benar-benar bersikap seenaknya, berbeda sekali dengan Shien.
Langit membulatkan matanya dengan sempurna saat ia kembali teringat patung es itu. Ia tersadar, Shanna dan Shien benar-benar memiliki wajah yang mirip. Tidak, bukan mirip. Wajahnya mereka sama.
“Hei, kamu kenapa?” Shanna mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Langit saat melihat laki-laki itu terus diam memandangi wajahnya.
“Aku tahu, aku cantik.” Shanna dengan percaya diri memuji dirinya sendiri hingga membuat Langit mencebik geli ke arahnya.
“Tunggu di luar.” Perintah Langit tegas, tak mengindahkan Shanna yang sedang memuji dirnya sendiri. “Yaa?” Shanna memasang raut wajah penuh protes.
“Aku mau ganti baju dulu. Kamu bukan cewek mesum, kan?” Jelas Langit kemudian. Shanna hanya ber-ohh ria seraya tersenyum penuh arti, membuat Langit yang melihatnya bergidik ngeri.
“Gak apa-apa, aku nunggu di sini aja. Aku rela mengotori mata suci aku, kok.” Ujar Shanna sembari menyoroti tubuh Langit seolah ia tengah menelanjanginya. Langit yang menyadari itu refleks menyilangkan kedua tangan di depan dadanya.
“Keluar atau aku panggil petugas keamanan?” Ancam Langit membuat Shanna mau tak mau harus menuruti ucapannya.
“Gadis gila . . . .” Langit menggerutu kesal, lalu mengunci pintu ruangannya rapat-rapat setelah Shanna keluar.
********
Shanna tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan di hatinya, senyumnya sejak tadi tak menyurut sepanjang Langit ada bersamanya. Rupanya, akal-akalan liciknya untuk mendekati dokter tampan ini berjalan lancar.
Tak hanya mengantarnya pulang, bahkan kini ia dan Langit sedang duduk berhadapan di meja yang sama untuk makan siang.
Ya, tadi di perjalanan, Langit mengajak Shanna untuk mampir terlebih dahulu ke restoran karena dirinya belum makan siang. Lebih tepatnya, ia belum makan apapun sejak tadi pagi. Sebenarnya Langit tidak berniat mengajak gadis aneh itu, tapi ia tidak mungkin meninggalkannya sendirian di dalam mobil. Lagipula, tanpa diajak pun pasti nanti Shanna pasti akan mengikutinya. Langit yakin itu.
“Lolipop . . . .” Panggil Langit, menghentikan gerakan tangan Shanna yang hendak memasukkan potongan steak salmon ke dalam mulutnya.
“Ya?” Refleks gadis itu menyahuti walaupun sejak tadi dirinya protes karena dipanggil lolipop.
“Eung . . . .” Raut wajah Langit tampak ragu, namun rasa penasaran mendorongnya untuk tetap bertanya.
“Apa kebetulan kamu punya saudara yang wajahnya sangat mirip?”
“Apa kamu gak bisa lebih kreatif sedikit? Kalau nanya tuh yang bener.” Cibir Shanna karena menurutnya Langit sangat bertele-tele. Saudara yang wajahnya sangat mirip? Tentu saja banyak. Banyak saudara sepupu yang mirip dengannya.
“Saudara kembar.” Seru Langit menerangkan.
“Ohh, Shien?” Sahut Shanna teramat santai, ia lantas melanjutkan makannya yang tertunda. Justru, di sini Langitlah yang malah terkejut. “Kalian benar-benar kembar?” Tanya Langit memastikan, seketika matanya berbinar. Entah kenapa, sejak pertemuan pertamanya di lobby ia sangat penasaran dengan gadis patung es itu.
“Ya, kami kembar. Dia adik aku, lebih muda lima menit.” Jawab Shien setelah ia menelan potongan daging ikan salmon itu.
Langit yang mendengar jawaban Shanna cukup terkejut dan lega sekaligus. Ternyata gadis yang telah menarik perhatiannya bukan berkepribadian ganda. Langit sadar ia belum move on dari Jingga, tapi Shien benar-benar membuatnya penasaran. Katakan saja ia tertarik dengan gadis itu.
Langit lantas tersenyum, ia seolah memiliki celah untuk mencari tahu mengenai gadis itu melalui Shanna. Walaupun gadis yang ada di depannya ini sangat aneh dan kadang membuatnya risih, tapi ada gunanya juga.
“Tapi aku udah gak ketemu dia selama enam belas tahun. Dia kayak hilang ditelan bumi.” Tambah Shien masih dengan mode santainya.
Langit tak ingin bertanya kenapa sampai Shanna tidak bertemu saudaranya selama enam belas tahun. Ia menebak, mungkin mereka terpisah karena orang tuanya bercerai. Langit tidak ingin bertanya sampai sejauh itu, yang ingin ia ketahui saat ini hanya tentang Shien. Di mana gadis itu tinggal, apa pekerjaannya, sudah punya pacar atau belum. Hanya pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang ingin Langit ketahui.
Tapi sayang sekali, sepertinya Shanna tidak akan mengetahuinya, mengingat tadi gadis itu mengatakan sudah tidak bertemu saudaranya selama enam belas tahun.
“Gadis nakal itu gak pernah nelepon sekali pun. Sialan. Apa dia lupa masih punya kakak?” Shien kemudian menggerutu sambil mengunyah makanannya dengan kesal, sehingga Langit tak bisa jelas mendengarnya.
“Mana ada hilang ditelan bumi? Dia, kan, ada di sini.”
“I know, and I will surprise in a little while.” Sambar Shanna seraya menyunggingkan senyum aneh yang tak bisa Langit artikan.
“Kamu bilang udah lama gak ketemu dia?” Sebelah alis Langit terangkat bingung.
“Ya aku, kan, gak bilang kalau aku gak tahu keadaan sama keberadaannya.” Sahut Shanna yang sontak membuat mata Langit kembali berbinar.
“Tapi kamu tahu dari mana Shien ada di sini? Maksudku, kamu kenal adik aku Shien?” Tanya Shanna yang sebenarnya keterkejutannya itu sangat terlambat. Ia baru tersadar Langit mengetahui dirinya memiliki saudara kembar. Bagaimana dia bisa tahu?
Nih, rambut si Shanna bentukannya kayak gini. 😅
__ADS_1
********
To be continued . . . .