So In Love

So In Love
EP. 68. Terlalu Baik


__ADS_3

Minggu-minggu ini bakal slow update, nih. Lagi ngurusin masa depanku yang cemerlang dulu. (Amiiin)


Sampai ketemu di hari selasa malam.


Happy reading, yes. 😉


********


Sebelumnya, aku tidak pernah percaya hal-hal seperti takdir. Tapi, aku berubah pikiran setelah bertemu dengannya. – Shien.


********


Shien menghirup napas panjang untuk menahan sesak di dadanya, mendadak di dalam sana seperti ruang hampa udara, terasa pengap sehingga Shien ingin buru-buru keluar dari sana. Ucapan Langit yang mungkin tanpa sadar keluar dari mulutnya itu cukup membuat hati Shien sakit. Ahh, perasaannya memang sesensitif itu.


Alih-alih berpura-pura suka, tapi berbicara di belakang. Shien lebih suka siapapun itu berbicara secara gamblang di depannya jika ada sesuatu yang memang kurang atau tidak berkenan. Menurut Shien, apa yang Langit lakukan ini cukup buruk.


Kalau seperti ini, Shien jadi berpikiran ke mana-mana terhadap Langit. Mungkinkah dia selalu seperti ini? Berbicara di belakang terhadap sesuatu yang tidak disukainya dari Shien?


DUUKK


“Aduh . . . . “


Langit terkejut begitu merasakan sebuah benda membentur kepalanya cukup keras. Ia mengusap-usap kepalanya sambil meringis tertahan. Kepalanya sedikit ngilu.


“Kenapa, Lang?” Tanya Shanna yang mendengar Langit tiba-tiba mengaduh kesakitan, ia ikut menoleh ke belakang dan menatap Nathan yang sedang memasang raut wajah antara terkejut dan merasa bersalah.


“Aduhh, sorry-sorry. Tangan gue licin, ponsel gue hampir jatuh tadi.” Ujar Nathan ikut merigis sembari mengacungkan ponselnya yang sebenarnya ia sengaja benturkan benda pipih persegi panjang itu pada kepala Langit sekeras-sekerasnya.


Cih, siapa suruh dia bersikap menyebalkan dan membuat Shien sedih sampai menangis seperti itu? Sejak kecil, ia selalu melindungi Shien yang sudah ia anggap sebagai adik sendiri. Dan akan terus seperti itu sampai kapan pun. Dengan demikian, jika ada siapa saja yang mencoba menyakiti Shien, ia akan berdiri di jajaran paling depan untuk memberinya pelajaran.


“Lo hati-hati, dong.” Wajah Langit merengut menahan kesal dan rasa sakit sekaligus, ia ingin marah tapi tidak bisa.


“Iya, sorry.” Cicit Nathan dengan menampilkan ekspresi berpura-pura menyesal. Langit hanya mendengus untuk kemudian kembali berbalik dengan perasaan dongkol.


“Apa itu cukup?” Tanya Nathan berbisik, salah satu sudut bibirnya tertarik membentuk senyum penuh kemenangan. Persis seperti ekspresi seorang kakak yang berhasil menindas kembali atau memukul seseorang yang sudah berbuat jahat pada adiknya.


Shien mendengus geli, lalu mengangguk sambil tersenyum. Ia tahu, Nathan sengaja melakukan hal itu pada Langit. Dan sebenarnya ia kurang puas, seharusnya Nathan mendorong tubuh Langit saja hingga jatuh tersungkur ke air.


********


Mobil milik Langit kini sudah sampai di halaman rumah Shien setelah menghabiskan empat jam perjalanan pulang dari Jakarta ke Bandung, cukup membuat tubuh keempat orang itu lelah.


Shien perlahan membuka mata dari tidur lelapnya saat merasakan sebuah tangan membelai lembut wajahnya. Dia terdiam sebentar untuk mengumpulkan kesadarannya seraya memperhatikan sekitar.


Suasana di dalam mobil itu cukup hening, penghuni kursi bagian depan juga kosong, sepertinya Nathan dan Shanna sudah turun lebih dulu. Hanya tinggal dirinya dan Langit yang kini sedang memandanginya dengan satu tangan yang masih belum terlepas dari wajahnya.


Melepaskan tangan Langit dari wajahnya, Shien lantas melepaskan sabuk pengaman. “Thanks for today.” Ucapnya dingin sebelum kemudian ia membuka pintu mobil, lalu turun dan berlalu untuk masuk ke rumah tanpa banyak berbicara lagi, mengabaikan Langit yang menyusul keluar dan terus memanggilnya. Namun, laki-laki itu juga tidak bisa mengejarnya karena tidak mungkin ia masuk ke rumah orang larut malam begini.


Langit menghembuskan napas kasar seraya menyandarakan tubuhnya pada badan mobil, lalu menyugar rambutnya frustrasi. Sejak tadi, setelah mereka selesai bermain di Dufan, Shien menutup mulutnya rapat-rapat. Keterdiamannya itu membuat Langit bingung. Dan sekalinya gadis itu membuka mulutnya, hanya satu kalimat dingin itu yang keluar. Sedingin-dinginnya Shien, tapi biasanya dia selalu mengatakan beberapa kalimat basa-basi saat berpamitan, saat Langit mengantarnya pulang. Shien biasanya mengatakan sesuatu seperti ‘take care’, ‘kalau udah sampai, telepon aku’, ‘langsung pulang, jangan kelayaban’, atau menawarinya untuk mampir ke rumah. Tapi, kali ini tidak sama sekali.


Apa ia sudah melakukan kesalahan? Atau Shien seperti itu karena kelelahan? Langit bertanya-tanya dalam benaknya.


Mengusap wajahnya yang sudah sedikit lengket itu, Langit lantas memutuskan untuk masuk ke mobil dan pulang. Ia akan merenungkannya nanti, lalu menemui Shien besok untuk menayakannya. Sekarang sudah malam, tubuhnya cukup lelah karena seharian bermain. Ia butuh mandi dan istirahat.


********


Shien memutar bola matanya jengah saat ia melihat Shanna sedang bersandar di ambang pintu kamarnya dengan kedua tangan bersedekap begitu ia keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri.


Tidak berniat menyapa atau bertanya untuk apa Shanna datang ke kamarnya, Shien hanya melengos cuek dan berjalan menuju meja rias, lalu membuka salah satu laci dan mengambil obatnya dalam diam.


“Soal Langit. Aku gak akan nyerah, Shi.” Shanna berjalan menghampiri Shien yang sama sekali enggan meliriknya.


Shien mendengus. Kepalanya yang berdenyut nyeri semakin sakit saja. Berapa lama kira-kira ia harus meladeni Shanna?


“Terserah.” Shien mengedikkan bahunya tak peduli. Ia lantas membuka kotak obat hariannya untuk mengeluarkan sejumlah benda pahit yang terdiri dari berbagai macam bentuk dan warna dari dalamnya.


“Maka dari itu, kamu sadar diri dan lepasin dia!” Shanna dengan kasar merampas kotak obat harian milik Shien sebelum gadis itu berhasil mengeluarkan obatnya.


“Suatu saat nanti, aku yakin Langit bisa menilai siapa yang lebih baik buat dia. Yaah, tentu aku bisa mengimbangi hidup Langit. Sementara kamu cuma bisa membatasi ruang gerak dia.” Tutur Shanna sambil memainkan kotak obat harian itu. Sementara Shien hanya bergeming dalam posisinya dengan tangan mengepal.


Arghhh, ingin sekali Shien mengguyur Shanna dengan segelas air yang ada di hadapannya.


“Oke, dia mungkin terlihat baik-baik aja di depan kamu. Tapi, sebenarnya dia gak bener-bener bahagia. Kamu lihat contoh kecilnya tadi.” Tambah Shanna, mengingatkan saat mereka sedang berada di Dufan tadi.

__ADS_1


“Kalau kamu yakin seperti itu, seharusnya kamu gak usah repot-repot minta aku buat lepasin dia.” Shien menyeringai tipis, melihat ekspresi Shanna yang sedikit berubah dari pantulan cermin.


“Jangan naif, Shien. Semua orang butuh pasangan yang terbaik. Jangan kamu harap ada kisah cinta sejati. Itu cuma ada di dalam dongeng, termasuk buku cerita yang kamu buat.” Shanna tersenyum meledek, lalu membungkukkan tubuhnya dan berbisik tepat di telinga Shien. “Gak ada yang namanya cinta apa adanya.”


“Mau dengar pernyataanku? Karena ini pertama kalinya aku berhubungan dengan seseorang, ini juga pertama kalinya aku mencintai seseorang. Jadi, aku gak tahu banyak soal ini. Tapi, satu hal yang aku tahu pasti. . . .” Shien menghela napas sebentar untuk kemudian melanjutkan kalimatnya. “Memenangkan hati seseorang itu bukan permainan, tapi terjadi begitu saja. Jadi, walaupun kamu terus berusaha menjadi yang terbaik di mata Langit untuk menunjukkan siapa yang lebih pantas, aku gak keberatan. Karena aku percaya, hati Langit cuma buat aku.”


Shien melihat tangan Shanna mengepal, meremas ujung baju tidur kimono seksinya.


“Aku mungkin gak bisa jadi yang terbaik buat Langit. Tapi, aku bisa memberikan yang terbaik yang bisa aku lakuin buat dia.” Sambung Shien penuh keyakinan.


Sontak Shanna tertawa dengan pandangan meremehkan seolah kata-kata Shien barusan hanyalah sebuah bentuk kepercayaan diri yang berlebihan.


“Aku bilang jangan terlalu naif, Shien.” Ucap Shanna dengan sisa-sisa tawanya yang masih terdengar.


“Kamu jelas tahu bagaimana kisah Putri Duyung yang sebenarnya, kan? Pada akhirnya Pangeran tetap menikahi gadis lain dan . . . .”


“Yaa, dan aku bukan Putri Duyung.” Sela Shien cepat.


“Tapi kisah akhirnya. . . .” Shanna tersenyum miring, mengangkat otak obat harian Shien sedikit ke atas, lalu membuka tutupnya hingga semua obat di dalam sana jatuh berhamburan di lantai. “Bukan cuma sad end, tapi tragic end. Kamu tetap akan menjadi buih di lautan, sama kayak Putri Duyung.”


Masih dari pantulan cermin, Shien menatap obatnya yang berhamburan dengan tatapan sedih. Namun, dia tetap berusaha tenang.


“Jadi, cepat lepasin Langit, jangan buang-buang waktu dan merepotkan dia lebih lama lagi. Bebaskan dia dari rasa kasihan, Shien.” Shanna menatap tajam adiknya dari pantulan cermin, penuh peringatan. “Karena walaupun kamu gak ngelepasin dia sekarang, ujung-ujungnya kamu tetap akan ninggalin dia, for a long time, forevermore.”


Shanna tersenyum dengan tatapan mencemooh, satu kakinya yang dibalut sandal rumah dengan kepala Hello Kitty di atasnya itu menginjak obat Shien hingga hancur.


Shien menjilat bibirnya yang terasa kering, hatinya seperti diremas kuat-kuat hingga rasanya sulit sekali bahkan untuk menelan ludah. Tidakkah Shanna terlalu kejam? Di antara ribuan manusia yang menghuni dunia ini, kenapa harus Shanna, satu-satunya orang yang mengucapkan hal seperti itu di saat orang lain menyemangatinya untuk bertahan hidup. Tapi, Shanna bahkan sangat yakin jika hidup Shien tidak akan lama lagi di saat Shien sendiri masih hidup dengan baik dan masih bisa berdiri dengan kedua kakinya tanpa bantuan orang lain, kenapa?


“Mundur lebih cepat, itu lebih baik, kan?” Shanna rupanya masih belum puas. “Jadi orang itu terkadang harus sadar diri, Shi. Kamu gak layak buat Langit.”


“Terserah apa yang mau kamu katakan, dan silahkan lakukan apa yang kamu suka. Aku tetap pada pendirianku.” Tutur Shien tegas. Lalu, ia beranjak dari duduknya. Ia pandangi sesaat wajah memerah Shanna yang kini menatapnya tajam, masih dari pantulan cermin. Sebelum beranjak, ia menoleh sekilas. “Silahkan keluar, dan tolong bilang sama Bibi buat bersihin kamar.” Kemudian, Shien buru-buru pergi dari hadapan Shanna dan berjalan masuk ke perpustakaan pribadinya.


Setelah tubuh Shien hilang dari pandangannya, Shanna lantas bergegas keluar dari kamar Shien dan masuk ke kamarnya sendiri. Tubuhnya langsung merosot lemas ke lantai, ia sandarkan punggungnya di balik pintu dengan kedua tangan terkulai di sisi pahanya.


“Aku bukan orang jahat, kamu yang bikin aku jadi kayak gini, Shi.”


Shanna menggelengkan kepala seiring dengan air matanya yang jatuh berhamburan membasahi wajahnya.


Mengingat kata-kata yang ia ucapkan pada Shien tadi. Dalam hatinya, Shanna menarik semua itu. Tidak. Shanna tidak ingin Tuhan mendengar semua ucapan buruknya.


Tidak jauh berbeda dengan Shien. Di dalam perpustakaan kecil tanpa penerangan itu, dia terduduk meringkuk di atas sofa dengan meletakkan dagunya ke lutut. Perasaan sesak itu masih bercokol di dadanya. Mungkin ini adalah patah hati yang paling menyesakkan yang pernah Shien alami. Terlalu menyakitkan, karena yang menyakiti hatinya adalah saudaranya sendiri, yang selama ini Shien anggap belahan jiwanya.


********


“Minggu depan peluncuran buku Jackson, jangan lupa.” Fina meletakkan buku tebal dengan judul ‘Pray, Dream, and Loves’ ke atas meja kerja Shien.


Gadis berpenampilan semi formal itu lantas mengambil buku tersebut, lalu membuka halamannya secara random. Kepalanya mengangguk-angguk, tatapannya terlihat puas dengan desain buku tersebut. Tidak perlu membaca isinya karena ia sudah meninjau naskah buku itu sebelumnya.


“Ohh, iya, Shi. . . .” Fina terdengar ragu, begitu pun dengan tatapannya yang terpancang pada Shien yang masih bergeming mengamati cover buku dan membolak-balik buku tersebut seperti kurang kerjaan. “Itu . . ., eung. . . .”


Shien mendongakkan kepalanya dengan sebelah alis terangkat penuh tanya.


“Kamu, kan, cukup kenal deket sama Jackson. Boleh kasih tahu dong tipe idelnya kayak gimana?” Ujar Fina akhirnya sambil cengar-cengir tidak jelas.


Shien mengerjap, lalu memicingkan matanya penuh curiga. “Jangan bilang kamu. . . . “


“Ada orang ganteng di depan mata, namanya gak normal kalau gak tertarik.” Sambar Fina cepat, rona merah di kedua tulang pipinya timbul begitu ingatannya menangkap sosok Jackson yang memiliki ketampanan tingkat dewa. Apalagi tubuh maskulinnya. Mata Fina langsung berbinar hanya dengan membayangkannya saja. Ia berharap memiliki mata X-Ray, sehingga bisa melihat ada berapa ABS yang dimiliki laki-laki itu dibalik baju yang membalut tubuhnya, bisa jadi bukan hanya enam, tapi delapan.


“Mesum.” Shien memukul kepala Fina menggunakan ballpoin hingga membuyarkan lamunan indah gadis berpenampilan tomboy itu.


“Ihh, nethink.” Fina mengelak seraya mengusap-usap kepalanya yang sama sekali tidak sakit.


“Mata kamu kelihatan.” Shien mencebik.


“Jadi gimana? Aku ada harapan gak kira-kira” Fina kembali pada pembahasan awal.


Shien terdiam sebentar sambil menatap Fina dengan tatapan yang sulit diterjemahkan, sebelum kemudian ia berujar. “Jangan pernah berharap. . . .”


Fina langsung memasang wajah cemberut mendengar jawaban Shien. “Apa karena penampilanku? Style bisa diubah, Shi. Kalau dia suka cewek feminiim yang tiap hari pake rok, aku oke, kok.” Ujarnya bersungut-sungut.


“Bukan gitu. . . .” Sahut Shien menggantung. Fina terdiam menunggu kalimat selanjutnya yang akan diucapkan teman sekaligus rekan kerjanya itu. “Dari yang aku tahu, Jackson gak pernah mau berhubungan sama cewek.”


“Dia gay?” Tebak Fina seraya menekap mulutnya yang menganga. Ia menyayangkan jika laki-laki setampan itu memiliki kepribadian belok. Redup sudah harapannya.

__ADS_1


“Kayaknya enggak, deh.” Sahut Shien sedikit ragu.


“Tapi, yang pasti, dia itu penganut paham YOLO (You Only Life Once) yang disalah artikan.” Lanjut Shien. Sebenarnya, ia tidak suka bergosip seperti ini. Tapi, ia tidak boleh membiarkan Fina menyukai laki-laki model Jackson yang hidup bebas, melakukan apa saja yang dia inginkan bahkan hal gila, yang penting senang dan tidak melangggar hukum. Shien kemudian mengatakan bahwa Jackson hanya mencintai dirinya sendiri dan tidak pernah berniat untuk berkomitmen dengan siapapun. Itulah yang ia dengar saat Jackson sedang berbicara dengan Tante Hilda saat usianya masih tujuh belas tahun dulu, waktu di mana ia pertama kali bertemu dan mengenal Jackson.


“Jadi, kamu jangan mengharapkan orang gila itu.” Seru Shien kemudian. Tapi, Fina malah senyum-senyum sendiri.


“Hey, gaya hidup kayak gitu bisa berubah. Dan aku akan jadi orang dibalik perubahannya.” Sahut Fina percaya diri. Shien hanya mencebik sambil mengedikkan bahunya, terserah.


Fina hendak membuka mulutnya untuk kembali membahas Jackson, tapi terurungkan saat ponselnya tiba-tiba berdering tanda pesan chat masuk. Ia mengernyitkan keningnya begitu membaca nama Langit tertera di layar ponsel.


“Ponsel kamu gak aktif, Shi?” Tanya Fina sesaat setelah ia membaca pesan chat dari Langit yang menanyakan keberadaan Shien karena ponsel gadis itu tidak bisa dihubungi.


“Langit nanyain kamu.” Lalu mengarahkan ponselnya untuk menunjukkan pesan tersebut pada Shien.


Shien terdiam dengan raut wajah berubah dingin. Shien tidak ingin bertemu atau berkomunikasi dengan Langit hari ini. Makannya, sejak tadi malam ponselnya sengaja ia matikan. Ia masih kecewa dengan ucapan tanpa sadar Langit kemarin. Tidak hanya itu, setelah keluar dari istana boneka, Langit mengabaikannya dan kembali bermain dengan Shanna. Padahal, sebelumnya Shien mengajaknya untuk pergi ke wahana Ice Age.


“Abis naik roller coaster, ya, Shi.” Ucap Langit setelah ajakan Shien, untuk kemudian dia berlalu pergi bersama Shanna.


Shien hanya menganggukinya. Ia menunggu bersama Nathan di titik pertemuan, tapi sampai sore hari menjelang malam, Langit baru kembali dengan senyum berbinar-binar menghiasi wajahnya.


“Shi, kok malah ngelamun?” Shien tersentak, suara dan lambaian tangan Fina langsung membuyarkan lamunannya.


“Banyak kerjaan, aku matiin ponsel biar gak keganggu.” Dalih Shien sambil menghindari kontak mata dengan Fina, berpura-pura membaca buku milik Jackson.


“Ya sekarang, kan, udah waktunya pulang. Kamu hidupin lagi dong ponselnya, Shi.” Sahut Fina.


“Belum di charge.” Gadis itu kembali beralasan.


“Terus ini kamu mau balas chat dia apa enggak?” Tanya Fina. Shien lalu menjawab dengan singkat. “Enggak.”


“Kalian lagi ada masalah?” Tanya Fina penuh selidik.


“Ehh, Fin. Katanya mau ke mall cari hadiah buat Ayah kamu?” Shien buru-buru mengalihkan pembicaraan. Ia tidak ingin berbagi apapun dengan siapapun sekarang. Shien hanya ingin menenangkan dirinya saat ini. Itu saja. Dan ia akan menemui Langit nanti setelah hatinya tenang. Setidaknya satu hari.


Fina menepuk jidatnya sendiri. “Hampir aja aku lupa. Untung kamu ingetin.”


“Ayo.” Shanna lantas berdiri, lalu meraih tasnya yang tersampir di sandaran kursi.


“Lho, kamu mau ikut?” Tanya Fina dengan kedua alis bertaut heran.


Shien mengangguk. “Sekalian ada yang mau aku beli.” Ujarnya kemudian, mengingat ia ingin membeli penjepit dasi untuk Papa sebagai hadiah. Kalau dipikir-pikir, Shien memang tidak pernah memberikan hadiah untuk orang tuanya. Mungkin sekalian ia ingin membeli sesuatu untuk Mama juga. Dan ia bisa meminta pendapat Fina untuk barang yang akan dibelinya.


********


Cukup menghabiskan waktu satu jam untuk Fina dan Shanna membeli barang yang mereka inginkan. Terhitung cepat karena mereka sudah tahu barang dan toko yang dituju sebelum mereka memasuki mall.


Dan sekarang, tujuan terakhir adalah membeli hadiah untuk Mama. Shien belum mendapatkannya karena ia masih memikirkan apa yang harus dibelinya untuk wanita yang sudah melahirkannya itu.


Beberapa menit berpikir, Shien memutuskan untuk pergi ke toko perhiasan sesuai saran dari Fina. Katanya, ibu-ibu biasanya menyukai sesuatu yang berkilauan.


Tapi, mungkin keputusan Shien untuk datang ke toko perhiasan di sore hari itu adalah kesalahan besar. Padahal, masih ada barang berkilauan selain perhiasan. Ia bisa membeli sepatu atau tas branded yang terkenal di kalangan ibu-ibu. Karena berada di sini sekarang, pada waktu yang salah, membuat Shien mendadak kesulitan bernapas.


Ia melihat Langit dan Shanna ada di sana, bertepatan dengan seorang gadis cantik yang tampak anggun dengan balutan hijabnya menyapa dan berbasa-basi dengan Shanna.


“Ya ampun, gak nyangka bisa ketemu di sini. Makin cantik aja, Sha.” Ucap si gadis berhijab setelah mengurai pelukannya dengan Shanna. Shanna tertawa anggun, lalu kembali memuji si gadis berhijab.


“Ohh, iya. Siapa, Sha?” Si gadis berhijab mengerlingkan matanya ke arah Langit dengan senyum penuh arti. “Pacar? Atau calon suami?” Tembaknya kemudian.


Shien tersenyum malu-malu. Lalu, dengan sengaja ia mengaitkan tangannya pada lengan Langit.


Shien melihat laki-laki yang sepertinya tidak menyadari keberadaannya itu tampak bergerak gelisah, tapi mulutnya diam membeku, tidak menyangkal ataupun membenarkan.


Tapi, diamnya Langit bisa membuat siapa saja salah mengartikan. Termasuk si gadis berhijab yang kemudian mengangguk-angguk penuh arti seolah membenarkan jika Langit dan Shanna berada dalam hubungan yang spesial.


Entah apa yang si gadis berhijab dan Shanna perbincangkan setelah Shien menyaksikan itu. Yang jelas, dunianya seolah berhenti, tidak ada sedikit pun yang bisa terdengar oleh Shien sekarang. Telinganya berdenging keras, seperti ada sesuatu yang menyumbatnya.


Hingga paper bag kecil berisi penjepit dasi yang ditentengnya terjatuh ke atas lantai, barulah ia tersadar, dan bersamaan dengan itu pula, Langit dan Shanna menoleh ke arahnya.


Shien menatap kosong kedua orang yang ada di depannya itu. Tampak si gadis berhijab sudah tidak ada di sana. Mungkin sudah pergi dan Shien tidak menyadarinya.


“Shi. . . .” Langit tampak terkejut seraya melepaskan tangan Shanna yang masih menggamit manja lengannya.


“Langit, apa bisa kamu jangan bersikap terlalu baik?” Tanya Shien dengan tatapan kecewanya.

__ADS_1


********


To be continued. . . . .


__ADS_2