
********
“Shien, ayo kita ke kebun binatang.” Seru Shawn seraya mengulurkan tangannya pada Shien yang tengah duduk di ayunan.
“Bener, Kak? Aku boleh ikut?” Sahut Shien tak percaya dengan mata berbinar penuh semangat. Shawn mengangguk, membuat Shien berseru senang, tapi itu tidak berlangsung lama.
“Tapi, Mama sama Papa gak ngebolehin aku keluar dari rumah.” Katanya sambil menunduk sedih. Shien sadar, sampai kapan pun dia tidak akan pernah bisa melihat kebun binatang, salah satu tempat yang dimimpikan dalam hidupnya.
“Kita pergi berdua. . . .” Ujar Shawn, membuat kening Shien mengernyit tak mengerti. “Mama sama Papa gak akan tahu. Kamu mau, kan, ikut kakak sebentar?” Sambungnya seraya menggerakan tangan, memberi instruksi agar gadis itu segera meraih uluran tangannya.
“Ke kebun binatang?” Tanya Shien sambil menelengkan kepala, mata jernihnya yang berbentuk seperti biji kacang almond mengerjap lugu, rambut panjangnya yang dikuncir kuda ikut bergerak seiring gerakan kepalanya.
“Yes.” Sahut Shawn mengangguk mantap.
“Mama sama Papa gak bakalan marah?” Tanya Shien, ragu untuk menyetujui.
“Gak akan!” Lagi, Shawn menjawab yakin. “Ayo.” Serunya sekali lagi, lalu membantu Shien kecil turun dari ayunan.
“Tunggu!” Sambar Papa yang tiba-tiba muncul. “Shien gak boleh pergi ke mana-mana. Tunggu sembuh dulu, baru boleh pergi ke kebun binatang.” Ujar Papa tegas.
Shien menunduk, menatap genggaman tangan Shawn dengan murung.
“Aku cuma ajak dia sebentar, kok, Pa. Shien, kan, gak pernah pergi ke sana.” Shawn tak menghiraukan, lalu menoleh ke arah Shien sambil tersenyum menenangkan, seolah mengatakan untuk jangan mengkhawatirkan apapun.
“Tetap gak boleh!” Sahut Papa cepat, tapi lagi-lagi Shawn tidak mempedulikannya. Anak laki-laki berusia dua belas tahun itu hanya tersenyum sebentar ke arah Papa, lalu bergerak pergi dengan membawa serta Shien dalam gandengan tangannya.
Mama terbangun dengan keringat dingin membasahi dahi dan pelipisnya. Padahal ia baru saja tertidur selama satu jam, tapi sudah kembali bangun.
Selama dua bulan sejak Shien dinyatakan koma, Mama menjadi kesulitan tidur, bahkan takut untuk tidur. Karena saat Mama tertidur, mimpinya selalu sama. Selalu tentang kecelakaan yang dialami Shien, tentang Shien yang berpamitan untuk pergi, terkadang ia juga melihat Shawn yang ingin mengajak Shien pergi seperti tadi, bahkan yang lebih parah Mama malah melihat Nathan mencabut semua alat medis yang mengungkung tubuh Shien sebagai penunjang hidupnya, lalu Nathan menutup seluruh tubuh Shien dengan kain putih.
Maka dari itu, Mama jarang tertidur akhir-akhir ini. Mama sangat takut jika saat ia terbangun, ternyata yang dilihatnya itu bukan mimpi.
********
Selama dua bulan Shien berada di rumah sakit, Mama yang setia menemaninya, walaupun tidak dua puluh empat jam non stop karena Shien berada di ruang ICU dengan kunjungan terbatas, sementara dirinya membuka satu kamar untuknya menginap.
Selama itu, Shien bukannya membaik. Keadaannya bahkan sangat kritis, hingga sampai saat ini Shien masih berada di ruang ICU, tidak bisa dipindahkan ke ruang pemulihan karena kondisinya sama sekali tidak menunjukkan kemajuan apalagi menunjukkan tanda-tanda kesadaran.
Satu kali dia mengalami kebocoran katup jantung sehingga Shien harus kembali masuk ke ruang operasi, dan berulang kali mengalami gagal napas serta henti jantung. Hal itu terkadang membuat Mama histeris, terkadang juga pasrah. Beliau tidak tega. Kenapa Shien harus begitu tersiksa bahkan saat gadis itu dalam keadaan tertidur seperti itu?
Jika Tuhan memang ingin mengambilnya, Mama ikhlas. Karena dengan begitu, maka Shien tidak akan kesakitan lagi. Tapi, jika Tuhan hanya ingin menahan Shien untuk sementara waktu, Mama memohon pada-Nya agar Shien cukup tertidur saja. Mama tidak sanggup juka harus terus melihat tubuh anaknya disentuh pisau bedah dan berada di ruangan yang dingin sendirian.
Saat ini, Mama hanya bisa menyerahkan semuanya pada Tuhan. Semua yang terjadi dalam hidup manusia memang sudah digariskan sebelumnya, jauh sebelum manusia itu dilahirkan ke dunia ini.
“Langit?” Gumam Mama dalam hati diiringi dengan kening mengernyit begitu ia keluar dari ruang ICU. Matanya memicing, memastikan bahwa penglihatannya tadi tidak salah. Ia melihat Langit berdiri di balik pintu kaca ruangan itu, tapi buru-buru pergi saat melihatnya hendak keluar sesaat setelah ia membacakan buku cerita untuk Shien sore itu. Memang itu yang dilakukan Mama setiap hari. Jika tidak megajaknya mengobrol, maka Mama akan membacakan buku cerita. Sesuatu yang tidak Shien dapatkan sejak kecil.
__ADS_1
“Langit.” Panggil Mama setelah memastikan pemilik punggung yang kini semakin menjauh itu adalah benar milik Langit. Mama pun berinisiatif untuk mengejarnya.
Memang, setelah kejadian kecelakaan itu dan Shien dinyatakan koma, Langit terus menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada Shien. Bahkan sebelumnya Langit bersimpuh di hadapan orang tua Shien dan mengucap ribuan maaf, lalu benar-benar menarik diri setelah itu. Padahal, Mama atau Papa tidak menyalahkannya, tidak juga menyalahkan siapapun karena yang terjadi pada Shien jelas-jelas murni kecelakaan. Hanya saja, mungkin waktunya sangat bertepatan dengan permasalahan yang terjadi pada mereka.
Dan jika ada seseorang yang mungkin ingin mereka salahkan adalah si penabrak karena mengemudi di bawah pengaruh obat-obatan terlarang.
Langit terlalu malu untuk bertemu Shien maupun orang tuanya. Setiap hari, Langit harus menahan mati-matian keinginannya masuk ke ruang ICU untuk melihat Shien. Dan pada akhirnya, ia hanya bisa memandangi gadis itu dari kejauhan.
Langit benar-benar merasa sangat buruk. Bahkan untuk bernapas di udara yang sama dengan Shien pun, ia merasa itu tidak cukup bagus.
Langit tidak pernah merasakan penyesalan seperti ini seumur hidupnya. Penyesalan yang ingin membuatnya kembali ke masa lalu, untuk mempercayai Shien sepenuhnya tanpa pernah menyangsikannya.
“Langit.” Panggilan seseorang membuat Langit yang sedang berdiri termenung dengan melipat tangannya pada beton pembatas di atap gedung rumah sakit tersentak.
Tante Risa. Wanita itu tersenyum menatap Langit begitu iamenoleh. Sementara Langit sendiri hanya balas memandangnya sendu. Dapat Tante Risa lihat gurat kesedihan di wajah Langit, begitu pun dengan matanya yang sembab serta bekas air mata yang mengering di pipinya.
“Shien masih ada bersama kita. Dokter bilang, dia sangat kuat walaupun berulang kali hampir. . . .” Tante Risa tidak sanggup melanjutkan, tenggorokannya mendadak tercekat. Ia lalu menarik napas panjang guna menahan air matanya agar tidak keluar. “Kamu gak usah khawatir.” Tambahnya sambil mengusap pundak Langit menenangkan. Padahal, kekhawatiran setiap saat menghantui dirinya sendiri.
Untuk sekedar bicara menenangkan orang lain memang terkadang jauh lebih mudah.
Langit terdiam tak menyahuti. Sudut matanya yang berair mencuat ke bawah. Tidak ingin Tante Risa melihat itu.
“Tante minta maaf atas ucapan Tante di Cafe waktu itu. Tante gak akan minta kamu buat melepaskan Shien lagi. Tapi, Tante minta kamu jangan menyalahkan diri sendiri lagi.” Tante Risa sangat paham mengapa Langit menarik diri dan tidak pernah menemui Shien selama dua bulan ini, dan ia juga tahu jika Langit selalu mengawasi putri bungsunya itu dari kejauhan.
“Jadi, sekarang kamu temui Shien di sana.” Sambung Tante Risa sambil terus mengelus lembut pundak Langit. “Hem?”
“Lalu, yang pantas itu orang seperti apa?” Sambar Tante Risa. Langit diam tak bisa menjawabnya. Entahlah, ia hanya merasa sangat buruk.
“Aku udah bersikap buruk sama Shien. I was wrong.” Sahut Langit kemudian dengan suara serak.
“Nobody’s perfect. Siapapun pernah melakukan kesalahan, tapi bukan berarti mereka adalah orang yang buruk.” Ujar Tante Risa. “Jadi kalau kamu memang merasa bersalah, cukup perbaiki kesalahan tersebut, jangan melarikan diri dan terukungkung dalam perasaan bersalah itu.”
Langit kembali terdiam. Penuturan Tante Risa memang benar. Tapi tetap saja ia merasa sangat buruk, lebih buruk dari yang terburuk. Ia tidak berani menemui Shien, dan mungkin juga Shien tidak ingin ditemuinya.
“Shien mungkin kangen sama kamu. Pergi temui dia, mumpung jam kunjungannya masih ada.” Bujuk Tante Risa.
Langit kembali menggeleng. “Shien pasti gak mau ketemu aku.” Ucapnya sambil tersenyum nanar.
“Kamu yang gak mau ketemu sama dia.” Cibir Tante Risa.
“Atau kamu gak mau nemuin Shien karena dia lagi gak bisa apa-apa?” Sambung Tante Risa dengan tatapan sedih.
“Aku gak pernah berpikir seperti itu.” Sahut Langit cepat.
Tante Risa tersenyum tipis. “Kalau gitu pergi temui dia.” Ucapnya sambil menepuk pundak Langit untuk kemudian beranjak dari sana. Meninggalkan Langit yang memandang kepergiannya dengan ekspresi menimbang-nimbang, berpikir.
__ADS_1
********
Malam itu, di luar kesadarannya, Langit yang tadinya hanya ingin melihat Shien dari celah kaca ruang ICU, kini kakinya bergerak ke dalam sesaat setelah pintu hermetic ruangan itu terbuka.
Setelah mendapat izin dari dokter jaga dan mensterilkan dirinya, Langit kemudian menghampiri Shien dengan perasaan gugup yang luar biasa. Walau bagaimanapun, perasaan bersalah itu tetap mendominasi hatinya hingga butuh keberanian besar bagi Langit untuk menemui Shien seperti ini.
Duduk di samping ranjang pasien. Langit merasa tenggorokannya tercekat. Shien terbaring lemah di sana, tidur layaknya Sleeping Beauty.
Langit menahan napasnya begitu ia memandangi wajah cantik Shien, tapi sepucat salju.
“Hai, Shi. Maaf baru bisa datang ke sini.” Sapanya lirih, air matanya sudah membendung lagi di pelupuk mata. Ia hendak menyentuh tangan rapuh Shien yang dijepit sebuah oximeter pada salah satu jarinya, namun segera menarik kembali. Sekali lagi, Langit menahan keinginannya untuk menyentuh Shien.
“Ini udah dua bulan, lho. Apa kamu gak mau bangun?” Tanyanya dengan suara bergetar, disusul dengan air matanya yang menetes cepat.
“Kebanyakan tidur gak baik, Shi.” Air mata Langit tak berhenti mengalir. “Kamu gak cantik lagi kalau tidur kayak gini.” Langit tersenyum pedih, karena sebanyak apapun ia berbicara, gadis itu tetap bergeming. Hanya terdengar bunyi beep dari monitor yang menampilkan grafis kinerja organ tubuh Shienlah yang menyahutinya.
“Ayo bangun, jangan hukum aku kayak gini.” Langit terdengar putus asa, persis seperti saat enam belas tahun yang lalu, saat dirinya berteriak meminta Mamanya untuk bangun, tapi wanita itu tidak mendengarnya. Namun kali ini, Langit masih memiliki harapan, walaupun itu hanya harapan kecil. “Aku mohon.”
“Kamu bilang kalau aku brengsek dan orang paling bodoh, kan, Shi?” Tanya Langit. Laki-laki itu terus menangis tanpa jeda. “Kamu bener, Shi. Aku brengsek, aku emang bodoh banget sampai berbuat salah sama kamu, dan aku juga udah kasar sama kamu.” Kilasan-kilasan bagaimana ia menyakiti Shien karena sebuah kesalalahpahaman kembali berputar di kepalanya, dan rasa sakit yang ia berikan pada Shien itu seolah dikembalikan Tuhan padanya. Hati Langit jauh lebih sakit saat mengingat itu.
“Dan kamu pasti benci banget sama aku sampai-sampai gak mau buka mata buat melihat aku lagi, iya, kan?” Langit terdiam sejenak untuk menenangkan dirinya yang mulai terisak. “Tapi daripada kamu diem aja. Lebih baik kamu bangun dan marahin aku sepuasnya, pukul aku, dan maki-maki aku semau kamu.”
“Atau. . . .” Suara Langit tercekat oleh sesak yang semakin menghimpit dadanya. “Kamu dulu pernah bilang kalau aku jangan nemuin kamu lagi. Kamu ingat, kan?” Langit terisak hebat sampai dia harus menekap mulut untuk menahan isakan tangisnya. “Aku akan lakuin itu, Shi. Tapi kamu harus bangun dulu biar kamu bisa lihat kalau aku bener-bener gak nemuin kamu lagi.”
Sungguh, Langit akan melakukan apapun agar Shien bisa bangun. Bahkan jika ada yang menyuruhnya untuk mati demi kesadaran Shien, Langit bersedia melakukannya.
“Tapi kalau kamu masih tidur kayak gini. Jangan harap aku melakukannya, Shi. Aku . . . .” Suara Langit semakin melirih. “Aku akan datang ke sini setiap hari, gangguin kamu tidur sampai terganggu.” Ancamnya. Tapi tubuh rapuh di atas ranjang pasien itu tidak merespon sama sekali.
“Shienna kamu bukan orang yang terkena gangguan pendengaran. Kamu denger aku, kan? I'm talkin' to you. Ayo bangun. Kamu harus membalas semua perbuatan aku sama kamu.” Marahnya dengan nada putus asa. Sungguh, ingin sekali Langit mengguncang tubuh Shien, berharap gadis itu segera bangun jika ia melakukannya.
Tidak ada yang Langit katakan lagi setelah itu. Langit hanya terdiam di samping ranjang Shien. Laki-laki itu menunduk, membiarkan air matanya mengalir melewati dagunya hingga terjatuh ke lantai yang dipijaknya.
Langit berhenti menangis tatkala ia melihat jari telunjuk Shien bergerak, hanya satu detik dan tidak banyak. Ia refleks berdiri, lalu mencoba berinteraksi kembali dengan Shien. “Do you hear me? Move your finger, one more. . . .”
Jantung Langit berdetak hebat, seperti ada secercah harapan. Ia berharap Shien merespon. Tapi, Shien kembali bergeming.
Bahu Langit jatuh lemas, lalu kembali terduduk dengan wajah sedih. Karena terlalu bersemangat dan menaruh harapan tinggi, ia melupakan jika pasien dalam keadaan koma juga bisa menggerakkan sedikit anggota tubuhnya sebagai respon refleks. Tapi meskipun demikian, Langit langsung memanggil ahlinya yaitu Dokter Spesalis Bedah Syaraf untuk memastikan. Ia menceritakan apa yang dilihatnya tadi, dan hasilnya memang sama dengan dugaannya. Itu tidak menandakan Shien akan segera sadar. Dokter juga menambahkan jika hal itu sudah berulang kali terjadi, tapi tidak ada respon apapun setelahnya.
Cukup mengecewakan memang karena apa yang dikatakan Dokter tidak sesuai harapannya.
Menghembuskan napas berat, Langit kembali memandang wajah Shien dengan tatapan sedih setelah Dokter yang tadi memeriksa kondisi Shien berlalu.
“Gak apa-apa kalau kamu gak mau bangun sekarang.” Ucap Langit lemah. “Tapi setelah ini, kamu harus bangun. Entah itu satu detik setelah ini, besok, atau besoknya lagi.” Langit berbisik lirih tepat di telinga Shien. “Tapi jangan lama-lama, aku mohon. Karena kamu bukan Sleeping Beauty, Shien.” Lebih tepatnya, Langit tidak sanggup jika harus melihat Shien terus terbaring lemah tak berdaya, dan tidak tahu kapan gadis itu akan terbangun.
Menyeka air mata di pipinya sebentar, Langit lalu beranjak berdiri, membungkukkan tubuhnya untuk kemudian mendaratkan satu kecupan di kening Shien. “Selamat malam, Shien.” Lalu kembali mendekatkan bibirnya di telinga Shien untuk membisikan sesuatu. “I just wanna say that I’m in love with you. And all you have to know that I’m so in love with you, Shienna.” Dan satu lagi kecupan ia daratkan di pelipis Shien, bibirnya tampak gemetar, Langit berusaha menahan tangisnya agar tidak kembali pecah.
__ADS_1
********
To be continued. . . .