So In Love

So In Love
EP. 41. Berandal


__ADS_3

********


Shien langsung mengambil langkah besar untuk masuk ke rumahnya begitu ia turun dari mobil. Shien setengah berlari menuju ke kamarnya, membuat Papa dan Mama yang tengah menikmati teh malamnya di sofa ruang keluarga terheran-heran melihatnya.


Semua ucapan Terry dan tingkah Langit tadi benar-benar membuat hati Shien sesak dan dongkol sekaligus.


Shien bergidik saat mengingat gaya Terry yang menebarkan pesona lewat kerlingan mata berlapis bulu mata palsu. Entah kenapa, dalam bayangannya Terry terlihat seperti boneka yang biasa digunakan dalam film horror, Annabelle.


“Sha, ada apa? Pulang-pulang Shien kok kayak kesel gitu? Pasti kamu ajak keliling, kan? Makannya kalian pulang sampai malam begini.” Tanya Mama bertubi-tubi kala melihat Shanna muncul.


Dan dengan terpaksa, Shanna yang juga sama dongkolnya harus duduk terlebih dahulu untuk memberi penjelasan kepada orang tuanya.


“Tadi, kami ketemu sama Terry. Papa sama Mama tahu lah dia kayak gimana.” Shanna mulai menjelaskan seraya menghempaskan pantatnya dengan kesal di sebelah Mama.


“Lho, Terry ada di Bandung?” Alis Mama terangkat sebelah, mengingat Terry selama ini bekerja di Jakarta dan sangat jarang pulang ke Bandung.


“Iyaaaa.” Shanna nyaris berteriak karena saking kesalnya. “Terus, dia ngomong aneh-aneh sama Shien.” Suara Shanna lebih rendah satu oktaf dari sebelumnya, raut wajahnya berubah sendu.


Menghela napasnya dalam-dalam, gadis itu kemudian menceritakan bagaimana tadi Terry menindas dirinya dan sang adik. Pada dan Mama mendengarkannya dengan seksama. Sesekali Mama menekap mulut, tidak percaya atas cerita Shanna. Sementara Papa sudah mengepalkan tangannya geram.


“Kok Terry kasar gitu ngomongnya?” Mama berujar tak suka. “Nanti biar Mama bilangin sama Tante Tera buat tegur anaknya.” Sambungnya geram.


“Jangan, Ma. Orang kayak mereka, kalau diladenin malah kesenengan.” Sahut Shanna sambil menjejalkan pastry yang tergeletak di atas meja ke dalam mulutnya.


“Mama juga tahu kalau Tante Tera sama nyebelinnya.” Lanjut Shanna susah payah karena mulutnya penuh makanan.


Shanna mengunyah makanan di dalam mulutnya dengan buas saat mengingat perilaku Tante Tera yang seperti penyihir jahat dalam dongeng. Wanita jahat yang sangat memusuhi Mama karena iri dengan kehidupannya. Dan konon katanya menurut kabar burung, sewaktu muda mereka bersaing merebut hati Papa.


Mungkin karena itulah Tante Tera tidak menyukai dan sering menindas keluarganya.


“Sementara biarkan saja. Tapi, kalau kejadian seperti ini terulang lagi, Papa pastikan Terry keluar dari industri hiburan selamanya.” Tutur Papa dingin. Rahangnya tampak mengeras meskipun sikapnya sangat tenang, kentara sekali jika laki-laki paruh baya itu sedang menahan amarahnya.


Sementara Shanna mendadak kesulitan menelan pastrynya. Merasa suasana di ruang keluarga ini mencekam tiba-tiba, sangat dingin seperti kuburan. Kalau Papa sudah marah dan mengeluarkan ancaman seperti itu, sudah dipastikan orang yang mengusiknya akan dibabat habis hingga ke akar-akarnya tanpa ampun.


********


Papa masuk ke kamar Shien dengan nampan berisi makanan dan segelas susu hangat di tangannya. Beliau tahu anaknya itu belum makan malam, maka dari itu Papa inisiatif mengantarkannya, sekalian melihat kondisi Shien. Suasana hati gadis itu pasti sangat buruk sekarang.


Benar saja, Papa mendapati Shien tengah duduk meringkuk dengan meletakkan dagunya pada lutut, tanpa penerangan kamar. Perasaan sesak kembali bersarang di dadanya setiap kali Shien mengingat bagaimana Shawn kehilangan nyawanya.


Susah payah Shien selama ini keluar dari perilaku menyalahkan diri sendirinya. Dan hari ini, seseorang dengan sembarangan mengguncang emosi Shien hingga membuatnya kembali diliputi rasa bersalah.


“Shien. . . .” Panggil Papa setelah beliau menyalakan lampu dan menyimpan makanan yang dibawanya ke atas meja nakas. Tapi, Shien hanya bergeming.


Papa menatap gadis kecilnya khawatir dan panik sekaligus. Tubuh Shien terlihat gemetar, tangannya mengepal erat hingga kuku-kukunya tidak sengaja melukai telapak tangannya.


“Shien, please don’t do this.” Papa meraih tangan Shien yang mengepal begitu ia duduk di sebelahnya.


“Shien, Papa bilang jangan lakukan ini.” Pinta Papa sekali lagi saat tangan itu malah terkepal semakin keras. Namun, gadis itu tetap tak mengindahkannya.


Lalu, dengan gerakan perlahan Papa melepaskan kepalan tangan Shien, kemudian melebarkan telapak tangannya yang sudah memerah dan sedikit terluka.


Melihat keadaan Shien yang menyiksa dirinya sendiri seperti ini membuat hati meringis perih. Papa tidak bisa membayangkan separah apa keadaan Shien sebelum ini. Lebih tepatnya, enam belas tahun yang lalu.


“Semuanya salah Papa. Tolong jangan menyalahkan diri sendiri lagi.” Papa mengusap telapak tangan itu dengan sangat lembut, seolah usapan itu bisa menyembuhkan lukanya. Baik luka di tangan maupun luka emosional yang diderita gadis itu.


Papa tidak menyangka, ternyata ucapannya di masa lalu menimbullkan siksaan emosional pada Shien hingga sebegitunya. Shien tetap bergeming, tapi kepalanya perlahan terangka, matanya yang sembab lantas memandang wajah Papa dengan tatapan kosong.


“Semua ucapan buruk Papa waktu itu, tolong kamu lupakan semuanya.” Ujar Papa, terdengar penuh penyesalan. Terlihat dari benih-benih air matanya yang mulai mengembang di sudut matanya yang tampak sedikit keriput.


“Ucapan Papa tidak sungguh-sungguh, Nak.” Sambung Papa dengan suara bergetar menahan sesak di dadanya.


“Saat itu Papa tidak bisa mengendalikan diri dan berpikir jernih. Maafkan Papa, Shien.”


“Papa tahu, ini mungkin sudah sangat terlambat dan tidak tahu malu. Tapi, Papa harap kamu bisa memaafkan Papa.” Sorot mata Papa terlihat memohon, nada terdengar suaranya memelas. Shien merasakan kedua tangan Papa yang sedang menggenggamnya itu gemetar.


Gadis itu menangkap ketulusan dalam kata-kata Papanya. Namun, bibir Shien mendadak kelu. Dia terlalu terkejut dengan permintaan maaf Papa yang tiba-tiba.

__ADS_1


“Maaf untuk semua ucapan buruk dan perlakuan kasar Papa, maaf karena sudah mengabaikan kamu, maaf kamu harus melewati masa-masa sulit karena Papa.” Ucap Papa dengan suara serak karena tak mampu lagi membendung air matanya.


“Gak apa-apa kalau kamu belum bisa maafin Papa sekarang. Tapi, Papa mohon jangan pernah menyalahkan dan menyiksa diri sendiri lagi.” Laki-laki paruh baya itu pun terisak dalam duduknya. Bahunya berguncang karena isak tangis. Wajahnya menunduk untuk menyembunyikan tangisnya itu.


Shien yang melihat itu lantas mengangkat kepalanya. Gadis itu menahan tangisnya begitu melihat kesedihan dan penyesalan Papa. Seumur hidupnya, ini adalah kali pertama Shien melihat kondisi Papa yang sedemikian pilu. Shien jadi tidak tega melihatnya. Ia pun melepaskan tangannya dari genggaman Papa, lalu diulurkannya tangan itu untuk mengusap air mata yang memenuhi wajah Papa.


Merasakan usapan lembut di wajahnya, Papa sontak mengangkat kepala dan kembali menatap wajah anak gadisnya yang tampak pucat. Walaupun Shien masih memasang wajah tanpa ekspresi, tapi reaksinya membuat hati Papa terenyuh.


“Can you call me Papa?” Tanya Papa penuh harap.


Mulut Shien yang sejak tadi mengatup, perlahan terbuka. Layaknya seorang anak yang baru belajar berbicara, Shien terlihat sedikit kesulitan untuk mengucapkan satu kata itu.


“Pa. . . , Papa. . . .” Ucap Shien akhirnya, walaupun dengan suara lemah.


Papa tersenyum penuh keharuan. Perasaan bahagia menyeruak dalam hatinya. Perasaan ini sama bahagianya seperti saat beliau mendengar kata pertama yang diucapkan Shien saat gadis itu masih bayi. Dan “Papa” adalah kata pertamanya. Papa ingat betul masa-masa itu.


Orang tua mana yang tidak bahagia mendengar anak mereka akhirnya bisa memanggil Papa dan Mama?


“Terima kasih, Nak.” Papa lantas berhambur memeluk Shien dan kembali terisak.


Walaupun Papa tidak mendengar kata maaf dari anak gadisnya, tapi mendapati sikap Shien yang tidak menolaknya lagi dan bisa memanggilnya Papa, itu sudah cukup membuat dia bahagia dan sangat bersyukur.


“Maafkan Papa, Shien. Maaf. . . .”


Melihat Papanya yang menangis terisak hingga bahunya berguncang, air mata Shien pun ikut berlinang, namun dengan segera ia menyekanya. Shien pun terdorong untuk mengangkat tangannya, lalu ikut memeluk Papa, mengusap-usap punggung laki-laki paruh baya itu untuk menenangkannya.


Shien masih menutup rapat mulutnya. Gadis itu bukannya tidak ingin mengatakan bahwa ia sudah memaafkan orang tuanya. Tapi, perasaan kecewa itu masih bercokol di dalam hatinya. Shien tidak bisa memaafkan orang tuanya semudah itu. Shien ingin maaf itu benar-benar tulus dari hatinya, bukan hanya dari mulutnya saja.


Shien membutuhkan waktu untuk menerima kehadiran orang tuanya dengan setulus hati, dan ia sudah bertekad akan melakukannya perlahan-lahan, sehingga ke depannya Shien bisa melangkah tanpa ada rasa dendam, kesal ataupun kecewa di dalam hatinya.


Papa melepaskan pelukannya setelah dirinya jauh lebih tenang. Shien juga merasakan getaran pada tubuh Papanya mulai mereda.


“Jadi, kamu gak keberatan, kan, memberi kesempatan pada Papa untuk menjadi Papa yang lebih baik buat kamu? Toling berikan kesempatan pada Papa dan Mama untuk membayar semua waktu yang selama ini kami gunakan dengan mengabaikan kamu.” Papa menjauhkan sedikit tubuhnya agar bisa menjangkau wajah Shien.


Shien mengangguk dengan seulas senyum tipis tersungging dari kedua sudut bibirnya. Papa tersenyum senang, lalu mengucapkan banyak terima kasih pada anak gadisnya itu.


Memaafkan memang tidak akan mengubah masa lalu yang sangat menyakitkan, tapi memaafkan setidaknya mampu mengubah masa depan yang lebih baik. Dan Shien ingin memperbaiki hubungannya dengan orang tuanya. Tidak bisa dipungkiri, jika Shien juga merindukan kebersamaan dengan orang tuanya seperti dulu.


Memaafkan dengan setulus hati memang butuh proses yang panjang sampai rasa sakit itu benar-benar sembuh. Dan Shien berharap, perlahan perasaannya terhadap kedua orang tuanya akan kembali normal.


“Jangan terpengaruh dengan ucapan orang lain.” Tutur Papa saat mengingat cerita Shanna tadi. “Papa ingin kamu tahu satu hal, kalau Shienna adalah putri kesayangan Papa dan Mama.” Lalu elusan lembut Shien rasakan di kepalanya. Sangat nyaman, Shien merasa terlindungi.


Shien masih tidak ingin membuka suara, karena sekali ia membuka suara, sudah dipastikan air matanya akan ikut tumpah. Dan Shien tidak ingin Papa melihatnya menangis. Hingga akhirnya, gadis itu hanya menyahuti Papa dengan anggukkan lemah.


“Gadis baik.” Sekali lagi, Papa mengusap lembut puncak kepala Shien. Membuat sebersit kehangatan muncul di hati gadis itu. Ada rasa bahagia ketika ia bisa sedekat ini dengan Papa.


“Ohh iya. Papa sampai lupa.” Papa menggantungkan kalimatnya sebentar sambil menghapus sisa-sisa air mata di wajahnya. “Papa bawain kamu makan malam. Kamu belum sempat makan malam, kan?” Tanyanya kemudian. Dan Shien kembali menyahutiya dengan anggukkan kepala.


“Ya udah, kalau gitu kamu makan dulu, habis itu Papa bantu obatin tangan kamu ini.” Lanjut Papa seraya mengedikkan dagunya ke arah telapak tangan Shien yang terluka.


“Terima kasih. . . .” Shien akhirnya membuka suara walaupun susah payah.


“Tapi aku bisa obatin sendiri.” Ujar Shien kemudian, ia masih merasa canggung untuk menerima bantuan Papa. Lagipula, luka di telapak tangannya tidak sulit untuk ia obati sendiri.


Papa hanya mendesah pasrah, memang tidak akan secepat yang diharapkan untuk mereka bisa dekat kembali. Beliau lantas memilih beranjak untuk meninggalkan kamar Shien. “Ya udah, kalau begitu Papa pergi dulu. Makan malamnya dihabisin, jangan lupa minum obat juga.” Lalu sekali lagi mengusap puncak kepala Shien sebelum kemudian berlalu pergi dari hadapan gadis itu.


“Tapi, kalau Papa mau bantu sesuatu. . . .”


Papa yang sudah sampai di ambang pintu, memutar tubuhnya kembali saat mendengar suara lembut dan dingin Shien. Laki-laki paruh baya itu kemudian menatap Shien dengan sebelah alisnya terangkat.


“Bisa tolong tegur orang ini?” Shien mengulurkan ponselnya ke arah Papa. Di sana, tertera nomor tanpa nama yang sejak tadi tidak berhenti menghubunginya memenuhi layar.


“Siapa, Shi?” Tanya Papa penasaran seraya melangkahkan kakinya menghampiri Shien kembali.


“Orang jahat yang muji semua gadis itu cantik.” Jawab Shien. Kedongkolan kembali menyerang hatinya saat mengingat Langit yang tersenyum ramah sambil memuji Terry.


“Laki-laki? Dia gangguin kamu?” Tanya Papa heran dan juga khawatir. Shien hanya mengangguk.

__ADS_1


“Apa itu semacam f*ck boy?” Tanya Papa lagi, mengingat anak muda jaman sekarang mengistilahkan laki-laki jahat yang suka bermain-main dengan banyak gadis dengan julukan itu.


Shien terdiam sejenak. Tapi, detik berikutnya ia mengangguk ragu. Masa bodoh, Shien sedang kesal sekarang. Ia akan mengerjai Langit malam ini. Siapa suruh laki-laki itu ramah pada gadis lain? Huuh.


“Kamu tenang aja. Papa pastikan dia gak bakal gangguin kamu lagi.” Meraih ponsel dari tangan Shien. Papa lantas berjalan menuju balkon untuk mengangkat telepon dari orang yang sudah berani-beraninya menggganggu putri bungsunya itu.


********


“Shi, kamu kemana aja? Dari tadi aku telepon gak dijawab terus. Lupa cara angkat telepon?” Omel seseorang di seberang sana begitu Papa menggeser icon warna hijau dan telepon tersambung. Langit.


“Siapa kamu sampai-sampai anak saya harus jawab terlepon dari kamu? Orang penting?” Sahut Papa terdengar galak, sehingga membuat Langit yang mendengarnya terkejut. Bahkan spontan menjauhkan ponsel dari telinganya.


“Maaf. I. . .ini siapa?” Langit bertanya seperti orang bodoh. Tapi, ia hanya ingin memastikannya jika seseorang yang sedang berbicara dengannya saat ini adalah benar-benar Om Sendy, Papa Shien.


“Saya Papanya. Kenapa?” Jawab Papa sewot.


“Sudah malam begini telepon-telepon terus. Gak tahu waktu kamu? Mana saat diangkat langsung ngomel. Apa kamu tidak tahu cara mennyapa orang dengan benar?” Sindir laki-laki paruh baya itu kemudian.


“Om. . . .”


“Jangan sok akrab kamu.” Sela Papa. Tidak memberi kesempatan Langit untuk berbicara.


Di seberang sana, Langit merengutkan wajahnya. Bingung karena Om Sendy terdengar begitu galak. Karena yang ia tahu, calon Papa mertuanya itu selalu ramah padanya.


“Berandal kayak kamu mau menggoda anak saya? Jangan harap itu bisa terjadi.” Omel Papa to the point.


Shien yang mencuri dengar di balik pintu yang menghubungkan kamarnya dengan balkon hanya menahan tawanya. Membayangkan ekspresi Langit yang pasti sedang kebingungan sekarang.


“Anak saya itu baik, polos, dan lugu. Saya tidak akan membiarkan laki-laki seperti kamu mendekatinya.”


“Tapi, Om, aku ini. . . .”


“Ahh, sudah-sudah. Jangan pernah ganggu anak saya lagi.” Papa kembali memotong ucapan Langit, lalu dengan cepat mengakhiri sambungan teleponnya.


Sementara Langit hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya, ia dilanda kebingungan yang luar biasa.


Setelah itu, Papa lantas menghampiri Shien yang saat ini tengah menikmati makan malamnya di sofa. Laki-laki paruh baya itu menyerahkan kembali ponsel milik Shien. Beliau juga menawarkan diri untuk menegur si f*ck boy yang dimaksud Shien secara langsung agar tidak mengganggunya lagi. Tapi, Shien dengan cepat mengatakan tidak perlu karena teguran di telepon saja sepertinya sudah cukup.


Papa hanya mengangguk ragu, sebelum kemudian beliau berlalu meninggalkan kamar Shien.


Shien menghembuskan napas lega setelah Papa hilang dari pandangannya. Nyaris saja ia terjebak dalam permainannya sendiri.


********


Keesokan paginya, Shien terbangun dengan suasana hati yang lebih baik.


Saat ini gadis itu sedang berjalan santai sambil menikmati sebatang lolipop rasa buah di mulutnya, melintasi area hari bebas kendaraan bermotor atau yang biasa kita sebut dengan car free day.


Tadi, pagi-pagi sekali Shien meminta sopir pribadi Papanya untuk mengantarnya ke sana sebelum jalan di tutup.


Pemandangan jalan raya dengan taman kota di tengahnya itu tampak padat. Banyak sekali orang dari mulai anak-anak sampai lansia yang memanfaatkan momen car free day ini untuk sekedar jalan-jalan santai seperti dirinya, berolah raga, bersepeda, bermain sepatu roda, berjalan-jalan dengan hewan peliharaan, atau hanya sekedar nongkrong untuk berpacaran di bawah pohon yang ada di taman kota sana, seperti yang saat ini Shien lihat.


Shien bukannya menerka-nerka. Hanya saja, ia memang melihat sepasang anak remaja duduk di bawah pohon sambil sentuh sana dan sentuh sini. Kalau mereka bukan sedang pacaran, lalu apa namanya?


Shien berdecak sambil geleng-geleng kepala, mengomentari kelakuan remaja jaman sekarang yang cukup berani.


Melakukan skinship yang melampaui batas di depan umum, itu membuat orang sekitar tidak nyaman. Shien lantas meringis. Apa mereka tidak bisa mencari tempat yang lebih sepi sedikit? Toh, itu lebih aman.


Detik berikutnya, Shien menggelengkan kepalanya tersadar. Sejak kapan dirinya peduli dengan apa yang dilakukan orang lain? Bahkan sampai berkomentar dalam hati segala. Ahh, ini mungkin efek suasana hati yang sedang bahagia.


“Kayaknya seneng banget jalan-jalan sendirian.” Suara seseorang yang bagaikan lullaby terdengar begitu lembut di telinga Shien.


Shien mendengus saat tiba-tiba mendapati sosok laki-laki yang tadi malam membuatnya kesal berdiri dan menghadang tubuhnya. Lalu, tanpa permisi laki-laki itu merampas lolipop dari mulut Shien, kemudian mengemutnya sendiri.


Shien tertegun sesaat. Hanya mengemut lolipop saja, kenapa Langit terlihat mempesona. Tapi, Shien dengan segera mengembalikan kewarasannya.


“Enggak lagi setelah kamu datang.” Gadis itu mendelik kesal, lalu memutar tubuhnya ke arah berlawanan dan melangkahkan kakinya meninggalkan Langit.

__ADS_1


********


To be continued. . . .


__ADS_2