So In Love

So In Love
EP. 62. Just Remember I Love You


__ADS_3

********


“Oh iya, Shi. Hari ini kok gak jalan sama Langit? Tumben banget, biasanya gak absen.” Tanya Fina heran, mengingat setiap hari, tepatnya setelah pulang bekerja, Shien akan menghabiskan waktu berdua bersama Langit. Entah itu hanya berduaan di kantor atau pergi ke tempat-tempat tertentu, alih-alih mengajaknya nongkrong menikmati suasana sore di atas balkon sebuah cafe.


Shien terdiam, mengingat-ingat apa yang terjadi tadi malam di resepsi pernikahan Tania, hingga terbawa pada perasaannya yang tidak begitu nyaman. Begitu bayangan kejadian itu melintas, Shien mengatupkan bibirnya, keningnya nampak sedikit terlipat. Ada guratan kegelisahan di sana.


Dan sejak Langit mengantarnya pulang tadi malam, Shien mendiamkan laki-laki itu, juga menghindari komunikasi dengan Langit dalam bentuk apapun.


Perasaannya mendadak gamang.


Shien menghembuskan napas gusar, satu tangannya mengaduk-aduk ice blended yang sama sekali belum diminumnya menggunakan sedotan.


“Shien?” Fina melambaikan tangannya di depan wajah gadis itu. Namun, Shien tetap bergeming dalam posisinya.


Fina merengut, aneh dengan sikap Shien hari ini yang lebih pendiam dari biasanya.


Gadis itu juga tidak konsentrasi pada perkerjaannya hari ini. Fina perhatikan, Shien terus bengong sepanjang waktu meeting. Beberapa laporan perusahaan yang harus diperiksanya pun ikut terbengkalai.


“YA AMPUN HUJAN, JEMURAN BELUM DIANGKAT.” Teriak Fina panik, membuat Shien terperanjat dan otomatis celingukkan ke arah luar untuk memastikan hujan benar turun atau tidak.


Detik berikutnya, Shien langsung mendengus sambil melemparkan kembali punggungnya pada sandaran kursi. Ia lantas melayangkan tatapan kesal pada Fina yang malah cengengesan karena reaksi refleks Shien.


Lagipula, kenapa Shien harus ikut panik? Sejak kapan coba gadis itu mengangkat jemuran? Ckckck . . . .


Lalu, tanpa aba-aba Shien melempar satu potong pastry ke wajah Fina, tapi Fina dengan tanggap mampu menangkap dan langsung ia masukkan ke dalam mulutnya.


“Kamu sih bengong terus.” Ucap Fina terdengar kurang jelas karena mulutnya penuh dengan makanan, tapi Shien cukup mampu untuk mengartikannya.


Shien kembali mendengus, lalu menatap Fina kesal.


Menyesap coffe blended untuk mendorong masuk makanan yang sudah dikunyahnya ke kerongkongan, Fina lantas balas menatap Shien. Cukup serius.


“Mau cerita?” Tawarnya seolah mengerti kegelisahan yang sedang melanda pikiran dan hati Shien.


Shien masih terdiam dengan alis terangkat sebelah. Cerita? Cerita apa? Lagipula, ia bukanlah orang yang suka berbagi cerita dengan orang lain.


“Shien, manusia itu makhluk sosial. Tidak ada salahnya kalau kita berbagi perasaan.” Pancing Fina.


Mungkin karena selama ini Shien lebih suka memendam perasaannya sendiri, tanpa sadar gadis itu menjadi orang yang sedikit berbeda karena termakan oleh perasaannya, sehingga dia menjadi orang yang tidak peduli dengan siapa pun atau apa pun.


“Dan aku juga bukan orang lain, Shien. Kita bukanlah orang yang baru kenal satu atau dua tahun. Kamu gak sendiri, Shi. Kamu bisa cerita kalau ada masalah.” Imbuh Fina, berharap Shien bisa terbuka padanya. Ia bukanlah orang asing, Fina akan berdiri di samping Shien untuk mendukungnya, apapun yang terjadi.


Menghembuskan napas lemah, Shien lantas menatap Fina ragu. Mungkin, tidak ada salahnya jika ia mencoba. Lalu, dengan terbata-bata, Shien menceritakan apa yang sudah terjadi tadi malam. Terutama kata-kata Terry yang sampai saat ini masih terngiang-ngiang dengan jelas di kepalanya, seolah Shien membawa rekamannya ke mana-mana.


“Apa begitu ya pandangan orang lain? Apa aku gak boleh bersama dengan orang yang aku sukai hanya karena aku sakit?” Shien tersenyum getir diiringi dengan helaan napasnya yang berat.


“Yang aku tahu, Shien itu gak mudah dijatuhkan.” Fina menyesap minumannya sejenak untuk kemudian ia kembali berujar. “Shi, siapa yang nyuruh kamu jatuh karena perkataan orang lain? Kamu nggak sadar kalau Langit itu tulus sama kamu?”


Perasaan Langit tulus? Ya, Shien tahu betul itu. Ia juga merasakannya. Tapi, ucapan Terry benar-benar mempengaruhi pikirannya. Benarkah ia terlalu serakah karena ingin memiliki Langit yang nyaris sempurna itu di sisinya?


“Bagaimanapun pandangan Terry sama perasaan kamu. Percaya, deh, itu karena dia itu cemburu karena dia nggak bisa mendapatkan hati Langit. Gak ada seorang pun yang berhak menentukan pantas atau nggak pantas untuk kita menjalin hubungan bersama seseorang.”


Shien mengerjap, memandang Fina dengan tatapan sedih. Benarkah seperti itu? Atau Fina hanya sedang menghibur dan menyemangatinya saja?


“Apa lagi yang kamu ragukan, Shien?” Tanya Fina. Shien terdiam tak menjawabnya.


“He loves you, just the way you are. Cukup kamu ingat hal itu.” Tambah Fina penuh penekanan.


Shien masih terdiam, menatap Fina skeptis. Detik berikutnya, ia tersadar. Sadar bahwa ia tidak boleh meragukan, apalagi menyia-nyiakan ketulusan Langit.


Shien sudah melangkah sejauh ini, tidak ada yang bisa menghentikannya untuk terus mencintai dan bersama Langit. Orang lain tidak berhak membuat keputusan atas hidupnya, bagaimanapun keadaannya.


********


Shien berdiri di depan pintu apartemen milik Langit, kepalanya menunduk lesu, memperhatikan kakinya yang menendang-nendang lantai dengan gerakkan pelan.


Sudah lebih dari satu setengah jam ia menunggu sang pemilik apartemen, namun yang ditunggu tak kunjung datang. Hingga beberapa saat kemudian, derap langkah kaki menarik Shien untuk mengangkat kepalanya, lalu menoleh ke arah sumber suara langkah kaki itu berasal.


Shien tersenyum tipis, menyambut Langit yang kini berjalan ke arahnya. Langkah laki-laki itu tampak lesu, begitu pun dengan penampilannya yang tidak rapi seperti biasa. Terlihat lusuh dengan kemeja yang sudah dikeluarkan dari sela celana di pinggangnya serta lengan kemeja yang digulung asal-asalan.

__ADS_1


“Ya ampun, Shi.” Langit berhambur memeluk Shien dengan erat begitu ia berhasil menghampirinya. “Kamu ke mana aja hari ini, hem? Dari pagi aku gak berhenti telepon sama chat kamu, tapi kamu terus mengabaikannya. Aku juga jemput kamu tadi pagi, tapi kamu udah berangkat lebih awal. Siangnya aku ke kantor kamu, tapi katanya kamu lagi keluar. Terus pulang kerja aku ke kantor kamu lagi buat jemput kamu, tapi. . . .”


Langit tidak melanjutkan kata-katanya, ia masih terlalu khawatir karena Shien mengabaikannya sejak tadi malam, dan sekarang ia senang melihat Shien datang sendiri ke apartemennya.


“Kamu ke mana aja, Shi? Rasanya aku mau mati karena seharian gak bisa ketemu dan denger kabar kamu.” Ujar Langit mengungkapkan kegelisahan hatinya seharian ini.


Langit memejamkan mata seraya membenamkan wajahnya di antara rambut Shien yang tergerai, lalu menghirup aroma tubuh gadis itu dalam-dalam, membuat perasaannya perlahan mulai lega.


“Tukang gombal.” Cibir Shien sambil mengelus-elus punggung Langit lembut, berusaha membuat laki-laki itu tenang seiring dengan deru napasnya yang terlihat masih berantakan.


“Emang kenyataannya kayak gitu, kok.” Sahut Langit seraya menarik diri untuk mempertemukan pandangannya dengan Shien.


“Jadi. . . .” Kedua tangannya lantas menangkup sisi wajah Shien dan menatap gadis itu lekat-lekat. “Jangan pernah menghindari atau mengabaikan aku lagi, apapun yang terjadi.” Pintanya penuh permohonan, seolah paham kenapa Shien menghindarinya hari ini.


Shien berjinjit sambil mengalungkkan lengannya di leher Langit, lalu tanpa ragu ia menyambar bibir Langit sekilas. “Yes, Doctor.”


Langit mengerjap, cukup surprise dengan apa yang dilakukan Shien. “Tumben?” Ledeknya kemudian. Namun, hal itu justru malah membuat Shien tersipu.


“Ngeselin.” Dengus Shien seraya memukul dada Langit pelan. Sementara Langit hanya terkekeh melihat wajah kesal Shien yang selalu menggemaskan di matanya.


Tak lama kemudian, Langit tiba-tiba merengkuh pinggang Shien, membungkuk sedikit dan mengangkat tubuh Shien.


Gadis itu sedikit terkejut hingga suara pekikkan tertahan keluar dari mulutnya, namun dengan natural ia melingkarkan kakinya di sepanjang pinggang Langit, kedua lengannya memeluk erat leher laki-laki itu untuk berpegangan.


“Buka pintunya.” Titah Langit.


“Mending kamu turunin aku, deh.” Saran Shien.


Langit menggeleng tegas. “Udah cepetan masukin passcodenya.”


Shien berdecak kesal. “Passcodenya?”


“Enam digit.” Sahut Langit jahil. Shien lantas memukul punggung laki-laki itu dengan keras. “Yang bener.”


Langit tergelak pelan. “Hari kemerdekaan Indonesia.”


“Aku gak nyangka, ternyata orang patakilan kayak kamu punya jiwa nasionalisme juga.” Ujar Shien dengan sebelah tangan mulai memasukkan satu per satu dari enam digit angka agar pintu terbuka.


Setelah pintu terbuka, Langit langsung masuk, berjalan ke bagian dapur dan mendudukkan tubuh Shien di atas meja makan.


Untuk beberapa saat, mereka saling bersitatap, Langit memandangi bola mata jernih yang ada di depannya.


“Shien. . . .” Panggil Langit.


“Hum?” Sahut Shien lirih, sebelah alisnya terangkat sedikit.


Menghela napas dalam, Langit memandang wajah gadisnya itu lekat-lekat. “Ucapan orang lain yang menyakiti hati kamu, jangan didengerin.”


Shien terdiam, ia tahu maksud ucapan Langit merujuk ke mana. Pasti kata-kata Terry tadi malam.


“Hem?” Tanya Langit karena Shien tak kunjung meyahutinya, sebelah tanganya terulur untuk membelai lembut pipi Shien.


“Shien?”


“Iya.” Jawab Shien lirih, lalu berhambur memeluk Langit, menenggelamkan wajahnya di dada bidang laki-laki itu.


Langit mengecup puncak kepala Shien cukup lama. Langit benar-benar takut jika kalimat murahan seperti yang dilontarkan Terry atau kalimat sejenisnya yang diucapkan orang lain akan mempengaruhi perasaan dan pandangan Shien padanya.


Ia sangat mencintai Shien tanpa mempedulikan kelemahannya, lagipula ia juga bukan orang yang sempurna. Lantas, kenapa orang lain tega mengucapkan kata-kata yang menyakitkan seperti itu pada Shien?


“Jangan mudah goyah, Shien.” Langit mendekap Shien erat seolah takut jika gadis itu pergi. “Just remember I love you. More than I can say, just remember I love you.” Lalu kembali mendaratkan kecupan di puncak kepala Shien dalam-dalam, sedalam cintanya pada gadis itu.


Shien merasakan hatinya menghangat begitu mendengar penuturan Langit. Ia jadi sadar akan kebodohannya sendiri. Tidak seharusnya ia terpengaruh dengan ucapan Terry. Shien malu karena sudah membuat Langit stres seharian mencari dirinya.


“Maaf. . . .” Cicit Shien dalam dekapan laki-laki itu.


Langit mendengus. “Minta maaf doang mana cukup. Kamu udah bikin aku stres seharian sampai kepala aku rasanya mau pecah tahu gak, Shi?”


Shien sedikit menarik diri tanpa melepaskan pelukannya, lalu mendongak untuk menjangkau pandangannya dengan Langit. “Terus?”

__ADS_1


Langit lantas menunjuk bibirnya sendiri tanpa berkata-kata.


“Iish.” Shien menepuk pundak Langit antara gemas dan sebal sekaligus. Ia kemudian membuang pandangannya dengan wajah malu-malu.


“Kenapa?” Langit menarik wajah Shien agar kembali menghadapnya. “Tadi aja di depan pintu, kamu udah ci. . . .”


Shien dengan cepat membungkam mulut Langit menggunakan telapak tangannya.


Tadi itu gerakkan spontan, di luar kesadarannya. Jadi, jika Langit meminta Shien menciumnya dalam keadaan penuh kesadaran, jelas Shien tidak mau melakukannya. Walaupun sudah sering, tapi Shien masih terlalu malu untuk melakukannya lebih dulu.


Shien refleks menjauhkan tangannya saat merasakan lidah Langit menjilati telapak tangannya hingga basah. “Jorok, ihh.”


“Bodo.” Sahut Langit seraya menjulurkan lidahnya meledek.


Shien menatapnya kesal diikuti bibirnya yang mengerucut, membuat Langit gemas dan refleks memberikan kecupan singkat di sana. “Udah jangan dimanyun-manyunin bibirnya. Jadi pengen aku kunciin di kamar tahu, gak?” Ancamnya kemudian sambil senyum-senyum.


Spontan Shien memukul lengan Langit yang masih betah menggodanya. “Rese kamu.”


“Baru tahu, ya?” Langit tersenyum miring.


“Iya, ngeselin banget.” Shien melengos melihat wajah Langit yang semakin dekat padanya.


Perlahan, Shien memejamkan matanya saat jarak wajah mereka kian dekat. Namun, ia tidak merasakan apapun menyentuh bibirnya, karena yang Shien rasakan saat ini adalah bahunya yang cukup berat karena Langit menjatuhkan kepalanya di sana. Shien menggigit bibirnya malu. Ahh, Langit menggodanya lagi.


Sementara Langit yang kembali berhasil menggoda gadisnya itu hanya tersenyum geli di balik bahu Shien.


“Shi. . . .” Panggil Langit setelah beberapa saat hening. Shien merasakan napas Langit terdengar berat.


“Ada sesuatu?” Tebak Shien yang merasa jika Langit tengah memikirkan sesuatu.


Menghembukan napas gusar, Langit kemudian berujar ragu. “Aku merasa bersalah sama Terry.”


Shien terdiam, tangannya bergerak naik turun, mengusap-usap lembut punggung Langit.


“Aku nggak pernah sekasar itu sama cewek, Shi. Tapi, tadi malam aku emosi banget. Aku gak benci sama Terry, tapi aku nggak suka kata-katanya. Dan mungkin aku bisa berbuat lebih dari itu kalau semisal kamu kenapa-napa.”


Shien terenyuh. Entah ia harus senang atau tidak karena Langit sudah membelanya hingga sebegitunya.


Menghela napas dalam-dalam, Shien mencoba berbesar hati. “Kalau gitu, kamu harus minta maaf sama dia.”


Secara personal, Shien sebenarnya kurang suka dengan ide itu. Tapi, Shien sadar jika terkadang ia harus melihat sesuatu dari sudut pandang lain. Maka dari itu, di luar perasaan pribadi terhadap Terry dan juga Langit, Shien merasa idenya itu memang bukanlah ide yang luar biasa. Hal itu sudah sepantasnya Langit lakukan. Dengan catatan, jika Langit memang merasa bersalah.


“Kamu gak keberatan?” Langit menarik diri agar bisa menatap wajah cantik gadisnya itu. Shien hanya menggeleng pelan sebagai jawaban, walaupun sebenarnya dalam hati Shien tidak rela Langit harus bertemu Terry.


Langit tersenyum tipis, Shien begitu pengertian. Langit janji, ia tidak akan mengecewakan gadis itu.


“Maaf ya, Shi, karena aku udah membiarkan kamu melihat sesuatu yang nggak seharusnya. Kamu pasti terkejut, kan?”


“Sedikit.” Jawab Shien pelan, terlalu pelan hingga nyaris berbisik.


Shien memang terkejut melihat Langit melakukan kekerasan, terlebih pada seorang gadis. Tapi, ucapan Terry padanya jauh lebih menyakitkan. Jadi, menurut Shien, tamparan dari Langit sebenarnya adalah balasan yang cukup atas sikap keterlaluan Terry padanya.


“Aku sayang kamu, Shien.” Ungkap Langit tulus.


Shien membalasnya dengan tatapan penuh cinta. “Aku juga.”


Dan tidak lama setelah itu, Langit mendekatkan wajahnya. Sampai hidung mereka bersentuhan, Langit lantas memiringkan wajahnya, lalu mempertemukan bibir mereka.


Tidak peduli pada waktu yang terus bergulir, mereka terus mengekspresikan cinta mereka melalui ciuman yang dalam, hangat, dan panjang. Mengambil pasokan oksigen beberapa kali, kemudian menyatukannya lagi.


Tautan bibir itu terlepas saat perut Shien yang berbunyi terdengar. Mereka lantas menarik diri, menciptakan jarak sambil terkekeh pelan.


“Kamu belum makan?” Tanya Langit dengan senyum meledek.


Shien mengangguk malu-malu. Ahh, perut berbunyi memang peristiwa yang cukup memalukan.


Shien memang tidak makan dengan benar seharian ini. Bahkan camilan sore saat dirinya sedang berada di cafe dengan Fina pun tidak ia sentuh sama sekali.


********

__ADS_1


To be continued. . . . .


__ADS_2