So In Love

So In Love
EP. 12. Dia Tersenyum


__ADS_3

********


Langit berjalan menuju parkiran basement rumah sakit dengan senyum semringah menghiasi wajahnya. Sejak ia bangun di tempat tidur, Langit sudah tak sabar menanti jam makan siang menghampiri.


Jelas, hari ini ia akan makan siang bersama Shien, gadis yang sudah mengganggu hatinya akhir-akhir ini. Ia harap gadis itu tidak melupakan janjinya hari ini. Ehh, sebenarnya Shien tidak pernah menjanjikan apapun. Langit sendiri yang memaksa gadis itu mentraktirnya. Tepatnya, ia berharap Shien datang.


Walaupun ini terkesan terlalu cepat, Langit sudah memilih untuk memberikan hatinya pada Shien, apapun konsekuensinya. Ia tahu Shien sakit dan ia tidak peduli. Penyakit itu bisa disembuhkan, bukan? Ada Tuhan, dan ada dokter sebagai perantara untuk menyembuhkannya.


Langit tersenyum geli. Ahh, ia sudah sangat percaya diri bisa mendapatkan gadis itu. Benar kata Papa dan teman-temannya, kali ini ia harus bertindak cepat. Ia tidak ingin kejadian seperti cinta pertamanya terulang lagi. Langit harus mendapatkan hati Shien secepat mungkin, sebelum dia diambil orang atau menjatuhkan hatinya pada orang lain.


Setibanya di restoran, Langit belum melihat Shien ada di meja yang sudah ia reservasi. Padahal, sebelum pergi ia sudah mengirimnya pesan. Tetap berpikir positif, Langit mengira Shien akan datang terlambat dan ia akan menunggunya.


Namun, setelah lebih dari satu jam ia menunggu, Shien tak kunjung datang.


Langit lalu memeriksa pesan yang tadi ia kirimkan pada Shien. Ia menghembuskan napas lemah tatkala melihat tanda centang dua belum berubah warna menjadi biru, yang artinya Shien belum membaca pesannya.


Dilihatnya jam tangan Rolex yang melingkar di pergelangan tangannya itu sambil mengernyitkan kening. “Masih banyak waktu.” Gumamnya dalam hati seraya tersenyum simpul. Beruntung siang ini ia senggang, ia juga tidak perlu menjemput Shanna pulang nanti sore karena gadis itu katanya tidak masuk kerja.


“Jangan harap bisa menghindar, Shien.” Langit tersenyum menyeringai, sebelum kemudian ia beranjak dari duduknya.


Langit mencari gadis itu ke kantornya, tapi receptionist mengatakan Shien tidak masuk kerja hari ini. Tidak menyerah, ia lantas menghubungi Shien, namun gadis itu mengabaikan panggilannya.


Langit kembali melajukan mobilnya keluar dari halaman kantor. Ia menghembuskan napas berat, Langit tidak tahu harus mencari Shien kemana. Sepertinya menyerah saja untuk kali ini. Toh, masih ada hari esok.


Tak lama, ia menepikan mobilnya di pinggir jalan, tepat di seberang taman. Taman yang asri yang terdapat lapangan basket di tengahnya dan beberapa kursi taman di pinggirannya. Sudah lama ia tak menginjakkan kakinya ke sini.


Dulunya taman ini adalah tempat pelariannya saat hatinya sedih, disaat ia tak tahan melihat kedekatan Biru dengan Jingga di rumah sakit, ia selalu pergi ke sini dan bermain basket hingga tubuhnya lelah.


Tapi tidak sekarang. Ia memutuskan memasuki taman itu hanya untuk menghabiskan makan siang yang tadi dibelinya secara take away di restoran. Tadinya ia berharap bisa memakannya bersama Shien di kantornya. Tapi sepertinya ia harus menghabiskan sendiri dua porsi tuna sandwich yang dibelinya.


Mata Langit menyipit saat dari kejauhan pandangannya menangkap seorang gadis bersandar pada pohon dengan kepala yang terantuk ke kiri dan ke kanan. Lalu tanpa sadar, kaki Langit melangkah mendekati gadis itu.


Alangkah terkejutnya Langit, saat ia mendapati bahwa gadis yang duduk bersandar pada pohon itu adalah Shien. Gadis itu ada di sana dan tertidur hingga terantuk-antuk.


“Tidur sembarangan.” Langit berdecak geli. Ia lantas berjongkok tepat di sebelah Shien. Mengamati gadis yang tengah tertidur di sembarang tempat itu.


Shien terlihat sangat manis saat tertidur. Kepalanya yang terantuk-antuk, ingin rasanya ia menahan dan menyandarkannya di pundaknya.


Detik berikutnya, Langit terkejut saat melihat gadis itu nyaris saja menjatuhkan tubuhnya ke tanah. Tangannya hampir meraih tubuh Shien, tapi gadis itu lebih dulu terbangun.


Langit terus mengamati Shien yang sepertinya belum menyadari keberadaannya. Gadis itu tampak linglung saat membuka matanya. Ia mengernyitkan keningnya tatkala melihat Shien mendesis sambil memegangi kepalanya. Apa gadis itu sakit lagi? Kekhawatiran seketika menjalar di hatinya.


Tapi, sejurus kemudian ia tersenyum geli saat mendengar perut Shien berbunyi, ia juga melihat gadis itu memegangi perutnya dengan ekspresi lucu. Lalu, dengan segera ia mengambil freshdrink yang tadi dibelinya, kemudian menempelkannya ke pipi Shien.


“Fotosintesis. . . .” Seruan Langit sontak membuat gadis itu tersentak kaget dan otomatis menoleh ke arahnya dengan memasang raut wajah bingung. Bingung karena tiba-tiba Langit ada di hadapannya saat ini.


“Gak usah bingung gitu. Walaupun kamu pergi jauh buat menghindar dari aku, aku pasti bakal nemuin kamu.” Ujar Langit percaya diri, padahal tadi ia tidak sengaja menemukan Shien ada di sina.


“Tck, siapa juga yang menghindar?” Ujar Shien seraya memalingkan wajahnya, melemparkan pandangannya ke sembarang arah.


“Terus, kenapa gak datang buat makan siang sama aku? Aku yakin kamu baca pesan aku kemarin.” Langit lantas ikut mendudukkan dirinya dengan bersandar di pada pohon, membuat Shien refleks menggeser tubuhnya untuk membuat jarak.


“Apa harus bayar dengan cara itu?” Shien balik bertanya. “Aku gak ada waktu.” Tambah Shien malas.


“Tapi kamu ada waktu buat tiduran di sini.” Cebik Langit yang tak disahuti oleh Shien.


“Pokoknya aku gak mau dengar penolakan kamu lagi. Kamu tetap hutang untuk traktir aku makan siang dan malam tiga kali.” Langit kembali menegaskan. Shien yang mendengarnnya hanya mendengus.


“Traktir doang, kan?” Tanya Shien memastikan. Langit menanggapinya dengan anggukkan kepala.


“Oke.” Sahut Shien dengan senyuman licik tersungging di salah sudut bibirnya. Ia sudah mendapatkan cara untuk tetap bisa membayar hutangnya tanpa harus saling bertemu.


“Jangan coba-coba menghindar lagi.” Langit mempertingatkan. “Hmm.” Sahut Shien singkat.


“Kalau gitu, aku pergi duluan.” Pamit Shien dan bersiap-siap untuk beranjak, tapi Langit menahan lengannya.


“Mau kemana?” Tanya Langit tanpa melepaskan cekalan tangannya di pergelangan tangan Shien.


Shien meliriknya sebal. “It’s not your business.” Kemudian ia menghempaskan tangan Langit, namun tak berhasil. Laki-laki itu mencekal tangannya terlalu kuat.


“Please let me go.” Pinta Shien sekali lagi. Tatapannya mulai berubah kesal, namun Langit hanya menggeleng santai.


“What do you want?” Tanya Shien malas. Seketika senyum Langit yang sempat menyurut kini timbul kembali.


“Ayo makan siang bareng.” Langit mengangkat kantong berisi makanan yang tadi debelinya. “Aku udah beli ini buat kita. Tadinya, aku kira kamu ada di kantor, eh tahunya di sini.” Shien melongo. Jadi Langit benar-benar datang ke kantornya hanya untuk mengajaknya makan siang bersama?


“Orang ini benar-benar. . . .” Shien menggeram dalam hati. Tak habis pikir karena Langit begitu niat mengajaknya makan siang. Apa dia tidak memiliki teman yang bisa diajaknya?


“Terima kasih, tapi aku gak lapar dan aku harus pergi.” Tolak Shien, masih berusaha melepaskan cekalan tangan Langit.

__ADS_1


“Kamu lapar dan bisa pergi nanti.” Seru Langit tak mau kalah.


“Aku bilang aku gak la. . . .” Kalimat Shien menggantung tatkala perutnya tiba-tiba berbunyi. Sialan. Seumur hidupnya, ia tidak pernah merasa dipermalukan seperti ini, terlebih oleh perutnya sendiri. Hiish, dimana ia harus menaruh wajahnya sekarang? Dan dapat ia lihat kini Langit tengah tersenyum meledek ke arahnya.


“Aku gak denger apapun.” Shien mendengus antara kesal dan malu sekaligus melihat Langit yang terus memasang ekspresi penuh ledekan.


“Aku anggap hutang makan siang berkurang satu.” Shien kembali pada posisi duduknya semula.


“Mana bisa kayak gitu? Makanan ini aku yang beli.” Protes Langit seraya menyerahkan tissue basah untuk Shien membersihkan tangannya.


“Aku bisa bayar ini.” Sahut Shien yang mulai membersihkan tangannya.


“Dan aku gak jual.” Balas Langit, lantas mengeluarkan satu tuna sandwich yang langsung diterima Shien.


“Kalau kamu mau bayar, aku tambahkan ini ke daftar hutang makan siang kamu. Jadi totalnya empat kali makan siang dan tiga kali makan malam, gimana?” Shien mendengus mendengarnya. Orang yang duduk di sebelahnya ini memang benar-benar pandai membuat kesepakatan yang menguntungkan untuk dirinya sendiri.


“Aku anggap ini gratis saja.” Sambar Shien cepat. Malas sekali lama-lama berurusan dengan orang ini.


Tak ingin membuang waktu lebih banyak, tangan Shien bergerak menancapkan sedotan pada cup freshdrink miliknnya untuk kemudian ia meminumnya.


“Thanks in advance.” Ucap Shien tulus sebelum ia memulai kegiatan makannya. Langit menyahuti dengan anggukkan kecil disertai senyum manisnya.


Shien yang memang sudah lapar langsung menggigit besar roti isi itu tanpa ampun. Pipinya naik turun saat mengunyah makanan, sehingga ekspresinya berubah lucu.


Langit yang mengawasi gadis itu hanya mendengus geli. “Makan yang banyak. Kalau masih kurang, kamu bisa makan punya aku.” Langit mengelus kepala Shien layaknya seekor kucing hingga membuat gadis itu sejenak tertegun, lalu melanjutkan kembali kunyahannya. Mengabaikan perasaan aneh yang beberapa detik lalu menyerang hatinya.


“Thanks.” Shien menelan kunyahannya. “Tapi itu gak perlu.”


“Okay.” Langinlt kemudian mulai menyusul Shien menyantap makanannya dengan pandangan yang tak lepas memperhatikan Shien.


“Orang ini kenapa?” Shien yang menyadari Langit terus mengawasinya merasa tidak nyaman. Lantas ia menjejalkan roti isi itu dengan potongan lebih besar untuk membuat Langit risih dengan cara makannya hingga laki-laki itu tidak memperhatikannya lagi, tapi itu malah terlihat semakin lucu di mata Langit karena mulut Shien yang mengembung penuh makanan.


Langit tersenyum gemas hingga tanpa sadar saus dan remahan roti yang dimakannya itu belepotan di sekeliling mulut dan wajahnya.


“Kalau lagi makan tuh fokus ke makanannya. Tuh lihat, wajah kamu jadi ikutan makan.” Shien menoleh seraya mengedikkan dagu ke arah Langit.


“Ohh, ya?” Langit mengangkat sebelah alisnya.


“Sebenarnya kamu gak sopan ngomong kayak gitu, harusnya kamu bersihin langsung.” Langit menyerahkan tissue basah pada Shien yang jelas kebingungan.


“Ayo bersihin. Aku, kan, gak bisa lihat.” Ucap Langit lagi seraya menyodorkan wajahnya.


“Gak deh, takut nyolok mata.” Shien berkelit cepat.


Langit menghembuskan napas kesal, lalu meraih kembali tissue basah dari tangan Shien dan membersihkan mulut serta wajahnya dengan kasar. Gadis di sebelahnya ini benar-benar tidak bisa dimodusin sedikit saja.


“Emangnya kamu kenapa? Buta?” Sindir Langit sambil mendelik sebal, membuat Shien yang mendengarnya tersenyum geli. Namun, itu tidak berlangsung lama karena Shien kembali memakan sandwich miliknya dengan tenang.


“Dia tersenyum?” Langit dibuat tertegun karena beberapa saat lalu ia baru saja melihat senyuman Shien yang langka. Bukan langka, ini pertama kali ia melihatnya. Senyuman Shien yang tulus tanpa dibuat-buat. Sangat manis.


Walaupun ia sering melihat Shanna tersenyum, tapi senyuman mereka terlihat berbeda. Tidak hanya itu, di mata Langit bahkan wajah mereka berbeda sekarang. Dan yang hanya bisa menarik perhatiannya hanyalah Shien.


Sepertinya Langit sudah benar-benar dibuat jatuh cinta dengan gadis ini. Shien tidak seperti gadis lain yang pernah dijumpainya.


Shien tanpa sengaja menyenggol sandwichnya sehingga saus berwarna putih itu menghiasi pipinya.


Dengan sigap tangan Langit terangkat, mendekat ke wajah Shien yang membeku dengan ekspresi sedikit bingung. Langit lantas membersihkan saus yang ada di pipi Shien. Jarak mereka kini hanya beberapa sentimeter saja.


Begitu mata Shien yang jernih beradu pandang dengan tatapan hangat Langit, waktu seolah berhenti. Mendadak jantung Shien berdetak lebih cepat tanpa bisa dikendalikan. Untuk beberapa saat ia seperti tak bisa bernapas. Tapi, sejurus kemudian ia dibuat mengangakan mulutnya tatkala Langit menjilat jarinya yang belepotan saus dari pipi Shien.


“Idiot.” Komentar Shien sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


“American.” Balas Langit, lalu tertawa renyah.


********


Shien kembali pulang ke rumah orang tuanya menggunakan taksi dengan suasana hati yang sudah berubah baik.


Sebelumnya, Langit memaksa ingin mengantar Shien pulang. Namun, gadis itu dengan tegas menolaknya dengan alasan masih ada urusan yang harus ia selesaikan. Dan urusannya itu adalah menonton film, sendirian. Ya, Shien memang membutuhkan waktu sendiri untuk menghibur dirinya. Maka dari itu, ia segera menghentikan taksi dan meninggalkan Langit begitu saja. Ia pergi ke bioskop dan menonton film genre komedi hingga membuat suasana hatinya lebih baik dari sebelumnya.


Menghela napas berat, Shien ragu untuk masuk ke rumah. Pasalnya, hari sudah malam. Apa ia akan dimarahi? Ia bahkan melipat satu per satu sepuluh jari tangannya seraya bergumam. “Masuk, jangan, masuk, jangan. . . .”


Namun, baru saja ia melipat delapan jarinya, tiba-tiba pintu rumah terbuka.


Shien sontak terperanjat kaget dengan wajah sedikit takut, seolah ia adalah anak SMA yang kena gep pulang terlambat oleh orang tuanya.


Tampak Mama berdiri di ambang pintu dan menatap Shien dengan tatapan yang tak bisa ia artikan.


“A . .aku . . . .” Belum selesai ia menyelesaikan ucapannya yang terasa tercekat itu, Mama tiba-tiba berhambur memeluknya, sehingga membuatnya kebingungan.

__ADS_1


“Mama khawatir kamu gak akan pulang lagi.” Shien bergeming, ia merasakan baju di bagian pundaknya basah. Sepertinya wanita paruh baya itu menangis, membuat pertahanan Shien nyaris runtuh.


“Barang-barang aku masih di sini.” Ucap Shien seraya melepaskan pelukan Mama.


“Apa aku boleh masuk sekarang?” Tanya Shien kemudian dengan wajah tanpa ekspresinya.


“Ini rumah kamu, kenapa harus minta izin segala?” Shut Mama diiringi senyuman lembut, selembut peri. Namun, kata-kata menyakitkan yang pernah keluar dari mulut wanita itu membuat mata Shien buta untuk melihat senyumannya.


“Ayo.” Mama meraih pundak Shien dan membimbingnya masu ke rumah. Mama senang karena kali ini tidak ada penolakan dari Shien. Tidak seperti sebelum-sebelumnya yang langsung menjauh begitu ia mendekatinya.


“Shien udah pulang? Syukurlah.” Langkah Shien sejenak berhenti saat melihat Papa keluar dari arah ruang kerjanya. Tampak laki-laki itu tersenyum lega mendapati putri bungsunya telah kembali. Padahal, baru saja ia hendak mencarinya. Beliau khawatir karena gadis itu keluar rumah tanpa membawa apa-apa.


“Ayo ke ruang makan. Kita makan malam bersama.” Ajak Papa kemudian, matanya terlihat berbinar senang. Jelas saja, ini kali pertama ia berkumpul kembali dengan putri bungsunya.


“Kalian bisa makan tanpa aku.” Ujar Shien sambil memandang Papa dingin.


“Mana bisa kayak gitu, makan malam itu waktunya keluarga berkumpul.” Shien mendengus saat Shanna tiba-tiba menyambar dan muncul turun dari tangga.


“Tck, kayak ada pembicaraan keluarga aja.” Gumam Shien sengit.


Shanna tak mempedulikan ucapan sang adik. Ia lalu meraih lengan Shien dan dengan cepat menariknya menuju ruang makan.


“Gadis nakal, kamu keluyuran kemana seharian ini?” Shien tak tanggung-tanggung menjitak kepala Shien. “Padahal hari ini ulang tahun kita.” Sekali lagi Shanna mendaratkan satu jitakan di kepala adiknya hingga membuat Shien berteriak kesal.


“SHANNA, STOP IT!”


“Kakak, panggil aku kakak. Aku lima menit lebih tua.” Shanna membalasnya tak kalah berteriak.


Mama dan Papa yang melihat pertengkaran kecil kedua putrinya tersenyum senang. Rumahnya yang semula sepi kini terasa hangat. Ahh, mereka benar-benar menyesali sudah membuat anaknya jauh dari mereka.


Kini keluarga kecil itu sudah berkumpul di meja makan. Meskipun demikian, Shien merasakan suasana lebih suram alih-alih hangat.


“Hadiah.” Papa menyodorkan kotak hadiah berbentuk persegi panjang pada Shanna dan Shien. “Selamat ulang tahun kalian.”


“Wahh, apa nih?” Shanna berseru senang mendapatkan hadiah ulang tahun dari orang tuanya. “Buka aja, Sha.” Sahut Mama tersenyum penuh arti. Tapi berbeda dengan Shanna, Shien sama sekali tak tertarik dengan hadiah itu.


“Pasti kalung pasangan sama Shien, nih.” Tebaknya seraya sibuk membuka kotak hadiah itu. Beberapa detik kemudian, bola mata Shien membulat seolah akan keluar dari tempatnya. Tak lupa, mulutnya ikut menganga lebar saat ia melihat apa isi dari kotak hadiah tersebut. Kunci mobil. Mobil yang diinginkannya selama ini.


“Lamborghini Veneno. Bener, kan?” Shien menatap Papa dan Mama bergantian.


“Yes.” Jawab Papa mantap. Sontak Shien langsung beranjak heboh dari duduknya.


“Warna merah, kan? Dimana dia sekarang?” Tanyanya tak sabaran. Papa dan Mama hanya terkekeh geli melihat kehebohan Shanna.


“Kamu bisa cek di garasi. Tapi sekarang kita makan dulu.” Senyum di wajah Shanna sontak menyurut, tapi sedetik kemudian muncul kembali.


“Oke deh, terima kasih kalian.” Shanna langsung berlari menghampiri kedua orang tuanya dan menghadiahkan satu kecupan di pipi masing-masing.


Shien yang melihat kedekatan Shanna dan orang tuanya diam-diam tersenyum getir. Rasanya, ia tidak mungkin bisa seperti itu lagi.


“Kamu gak mau buka hadiah kamu, Shi?” Tanya Mama mengalihkan pandangannya pada Shien setelah Shanna kembali ke tempatnya.


Shien menatap kotak hadiah berwarna hitam itu ragu-ragu sebentar, lalu dengan gerakan perlahan ia membukanya. Tampak hadiah yang sama ia dapati dalam kotak hadiah itu. Tapi ekspresinya sangat biasa-biasa saja, sehingga membuat Shanna keheranan. Begitupula kedua orang tuanya.


“Wahh, samaan. Apa Mama sama Papa beliin Shien warna yang beda?” Dan Shanna dengan kehebohannya mewakili Shien untuk terkejut. Papa menanggapinya dengan anggukkan.


“Kalau gitu kita bisa gantian, Shi.” Shanna tak bisa menyembunyikan binar senangnya.


“Kamu mau ambil juga boleh.” Sahut Shien enteng. “Kamu gak suka hadiahnya, Shi?” Tanya Mama heran.


“Aku gak bisa nyetir.” Jawab Shien, membuat Mama dan Papa sedikit menyesalinya karena sepertiya mereka membeli hadiah yang salah.


“Maaf, Shi. Kami gak tahu kalau kamu. . . .”


“Emang apa yang kalian tahu?” Seru Shien seraya menyunggingkan senyum sarkas. Ucapannya berhasil membuat hati Mama dan Papa tertohok. Benar, mereka memang tidak tahu apa hadiah yang cocok untuk Shien sehingga membelikannya yang sama dengan Shanna. Mereka orang tua yang tidak tahu apa yang disukai dan tidak disukai oleh Shien.


“Maaf, kayaknya aku udah kenyang.” Ucap Shien, padahal jelas makanannya belum disentuh sama sekali. Ia lantas beranjak dari duduknya, lalu meninggalkan meja makan.


“Shien, kamu belum makan sedikit pun.” Seru Papa, namun Shien tak mengindahkannya. Gadis itu mengambil langkah besar untuk pergi ke kamarnya.


Shien mendudukkan dirinya di samping tempat tidur. Lalu memegangi dadanya yang terasa sesak. Dunia tidak adil. Tidak pernah adil padanya.


Kenapa kedua orang tuanya harus mempermainkan hatinya seperti ini? mereka dulu mengabaikan Shien seenaknya dan sekarang mereka datang seenaknya serta bersikap seolah tak terjadi apa-apa sebelumnya.


Sejurus kemudian, ia segera mengambil kotak obat hariannya dari dalam laci, lalu meminum obat itu untuk kemudian ia tertidur. Tidur adalah metode paling tepat untuk melupakan rasa sakit sejenak.


********


To be continued . . . .

__ADS_1


__ADS_2