
********
Mama, Shanna, dan juga Papa yang saat itu baru saja kembali dari kantor, dan langsung disambut wajah panik dan cemas istri serta anak sulungnya di depan ruang ICU.
Bukan waktu yang tepat untuk beliau menegur Shanna yang baru muncul setelah dua bulan lamanya. Papa tidak marah. Hanya saja, sebagai orang tua ia sangat khawatir anaknya berada jauh dari rumah dan tidak mengabarinya sama sekali.
Papa terus menenangkan keduanya, sementara lelaki paruh baya itu mungkin membutuhkan kekuatan lain untuk dirinya sendiri. Sama halnya dengan Mama dan Shanna, Papa juga diliputi rasa takut yang luar biasa setiap kali mendapati kabar jika Shien kembali mengalami henti jantung.
Memang begitulah seorang Ayah. Mereka selalu terlihat jauh lebih tegar dan kuat, padahal di dalam hatinya sendiri mungkin begitu rapuh.
“Nate, Shien gimana?” Mama langsung bertanya tidak sabar begitu mendapati Nathan baru saja keluar dari ruang ICU setelah menangani Shien di dalam sana.
“Shien masih bersama kita.” Jawab Nathan tersenyum menenangkan, membuat Mama, Papa, dan juga Shanna bernapas lega mendengarnya. Mereka sudah takut jika Tuhan akan benar-benar membawa pergi Shien dari hidup mereka.
“Tapi kenapa Shien lebih sering mengalami serangan jantung akhir-akhir ini, Nate? Apa gak ada cara lain untuk menghentikannya? Operasi atau pengobatan lainnya? Atau transfer ke rumah sakit terbaik di luar negeri? Mama kembali bertanya, kali ini bertubi-tubi.
Sungguh, ia tidak sanggup melihat kondisi Shien yang terkadang tiba-tiba memburuk seperti ini, apalagi itu terjadi cukup sering.
Nathan mengambil napas dalam untuk sejenak, sebelum kemudian ia mengajak mereka untuk berbicara di ruangannya tanpa menjawab pertanyaan Mama terlebih dahulu.
“Jadi, apa yang sebenarnya yang terjadi sama Shien, Nate?” Kali ini Papa yang mulai membuka suara saat mereka tiba di ruangan Nathan.
Nathan menggeleng lemah seiring dengan helaan napas beratnya. “Kondisinya benar-benar menurun. Dan hal itu bukan semata-mata karena akibat dari kecelakaan yang dialami Shien, tapi karena penyakit jantung bawaannya. Ditambah kondisi jantung Shien yang semakin lemah, oleh karena itu dia sering mengalami serangan jantung hingga akhirnya menyebabkan henti jantung yang sebenarnya itu akan berakibat sangat fatal jika terlambat sedikit saja ditangani.” Nathan kembali mengambil napas sejenak, sebelum kemudian melanjutkan penuturannya.
“Dan operasi korektif tidak bisa dilakukan lagi untuk menangani kelainan jantung bawaan Shien. Kondisinya sudah tidak memungkinkan. Jalan terbaik adalah dengan operasi transplantasi. Walaupun kami tidak bisa menjamin kesadaran Shien dari kondisi komanya, tapi dengan transplantasi, setidaknya kemungkinan Shien untuk terhindar dari keadaan kritis dan komplikasi, itu jauh lebih besar.” Jelasnya kemudian, sedikit menjawab pertanyaan yang Mama ajukan saat berada di depan ruang ICU tadi.
Mama dan Papa saling melirik cemas. Bahkan jika Shien melakukan operasi besar yang awalnya menjadi cara terbaik untuk kesembuhannya, tapi hal itu saat ini tetap tidak bisa menjamin gadis itu akan terbangun dari tidur panjangnya.
Tapi yang membuat Mama dan Papa khawatir adalah ketidaktersediaan donor yang cocok untuk Shien. Itu tidak semudah mendapatkan barang limited edition atau tender di perusahaan. Tidak semudah itu. Bahkan saat Shien berada di urutan pertama dalam daftar tunggu kandidat transplantasi.
“Lalu, dalam kondisi Shien saat ini. . . .” Nathan menjaga kalimatnya sebentar. “Untuk transfer ke rumah sakit di luar negeri itu sangat tidak memungkinkan dan tidak disarankan. Tapi untuk memanggil dokter terbaik dari sana, itu bisa dilakukan. Rumah sakit bisa mengatur semuanya untuk Shien.”
“Dokter di sini sudah yang terbaik.” Sahut Papa, mengingat staf dan fasilitas di rumah sakit tempat anaknya dirawat itu tidak sembarangan. “Jadi untuk mendatangkan dokter dari luar negeri, Om rasa itu tidak perlu. Om percaya sama kamu dan semua Dokter di rumah sakit ini yang merawat Shien.” Tuturnya bijak. “Menurut Om, lebih baik rumah sakit mengusahakan untuk segera mendapatkan donor.” Sambung Papa kemudian.
Walaupun itu tidak menjamin kesadaran Shien, tapi setidaknya akan mengurangi rasa sakit yang dialami putri bungsunya.
“Kami pasti mengusahakannya.” Ucap Nathan, mengakhiri pembicaraan mengenai kondisi Shien sore itu.
“Tapi. . . .” Ucapnya lagi saat teringat sesuatu. “Mengenai permintaan Om dan Tante waktu itu yang meminta ruangan tersendiri untuk Shien, maaf kami tidak bisa mengabulkannya. Karena Shien termasuk pasien darurat medis yang membutuhkan pengawasan khusus, ruang ICU adalah yang terbaik.” Jelasnya. Ia lantas menambahkan bahwa akan terlalu beresiko jika memindahkan Shien dari ruang ICU, walaupun fasilitas di rumah sakitnya sangat memadai.
“Kalau begitu, Om serahkan saja bagaimana baiknya sama tim medis di sini.” Papa menghela napas besar. Ia tidak akan tawar menawar lagi mulai sekarang. Papa hanya ingin yang terbaik untuk Shien, sehingga dia bisa secepatnya pulih.
********
Sore itu, Langit duduk sendirian di kedai kopi yang menjadi salah satu fasilitas di mana tempatnya bekerja. Ia melemparkan pandangannya kosong ke arah luar yang hujan dari balik jendela kaca besar.
Helaan napas berat berulang kali terdengar keluar dari bibir laki-laki itu. Sudah lebih dari tiga puluh menit Langit bergeming dalam posisinya, bahkan kepulan asap dari espresso yang ada di hadapannya semakin menipis seiring dengan menurunnya suhu dari cairan hitam pekat tersebut.
Sudah lebih dari dua bulan, Shien tak kunjung bangun.
Dan semuanya masih sama. Langit tidak bisa keluar dari perasaan bersalah dan penyesalan tak berujung itu.
Setiap hari Langit selalu merutuki kebodohannya. Ia benar-benar kecewa. Kecewa pada dirinya sendiri yang sudah meragukan dan menyakiti hati Shien, kecewa karena ia tidak berpikir sebelum bertindak.
__ADS_1
Semua kenangan di mana ia melakukan kesalan berputar di kepalanya tanpa ada yang terlewat setiap waktu, hal itu mengiris hatinya bagai sebuah siksaan tanpa henti.
Seketika Langit berandai-andai jika ia bisa kembali ke masa lalu walau hanya satu detik. Ia akan memperbaikinya, sehingga Shien tidak harus terbaring tak berdaya dengan semua alat penunjang hidup yang merantai tubuhnya di atas ranjang rumah sakit.
Langit tersenyum getir seraya diam-diam menyeka sudut matanya yang tahu-tahu sudah berair. Seandainya semua itu tidak terjadi, mungkin sekarang Shien sedang duduk di hadapannya menikmati sore hari yang dingin karena hujan bersama-sama.
Mungkin. . . .
Saat ini ia dan Shien sedang saling melempar ledekan atau saling menggoda seperti yang biasa mereka lakukan. Dan Langit hanya bisa kembali tersenyum pedih membayangkannya.
Pandangan Langit lantas beralih pada ponsel di atas meja yang tiba-tiba menyala dan menampilkan notifikasi berita terbaru saat ini yang sebelumnya sengaja Langit atur otomatis di ponselnya. Tapi bukan itu fokusnya, melainkan tampilan layar utama ponsel yang menampilkan foto dirinya dan Shien saat berada di taman kompleks beberapa bulan yang lalu. Shien berekspresi malas di dalam foto tersebut. Jelas, karena saat itu Langit memaksanya untuk berfoto berdua saat itu.
Dengan melihat foto kebersamaannya dengan Shien, membuat semua kenangan Langit dan gadis itu seketika terbuka. Dari awal sampai saat di mana ia melihat Shien perlahan menutup mata yang berakhir dengan tidur panjang.
“Bodoh. . . .” Umpat Langit berbisik, lalu tertawa getir sembari menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Ia kembali disadarkan akan sesuatu.
Tidak mudah baginya saat itu membujuk dan membuat Shien percaya hingga gadis itu memutuskan untuk bersamanya. Langit sendiri yang memaksa Shien membuka hati untuknya. Tapi di saat Shien sudah memberikan seluruh hatinya, dalam sekejap mata Langit sendiri yang menghancurkannya dengan sangat mudah, hanya karena sebuah kesalahpahaman bodoh dan mengira Shien tidak membalas perasaan serta mengkhianatinya.
Ck, bagaimana bisa ia sampai berpikir seperti itu?
Semua tudingan tidak berdasar itu. . . .
Adalah kebodohannya!!!!
Seandainya saat itu Langit mengingat bagaimana perjuangannya untuk mendapatkan Shien. Mungkin semua ini tidak akan. . . .
“Boleh duduk di sini?” Pertanyaan seseorang membuat Langit menghentikan lamunannya. Dilihatnya Nathan dengan espresso dan kudapan di masing-masing tangannya, bergerak duduk di hadapan Langit tanpa menunggu persetujuannya.
“Kursinya penuh semua.” Ujar Nathan santai, lalu mulai menghirup asap dari pinggiran cangkir kopi tersebut sebelum kemudian menyeruputnya perlahan. Rasa pahit yang terasa pas menyapa indra pengecapnya, membuat Nathan sedikit tersenyum puas.
Sementara Langit hanya mengedikkan bahu tak peduli dan melempar kembali pandangannya ke arah luar walau kacanya berembun tebal akibat hujan di luar yang kian deras di sore hari menjelang malam itu.
Sesaat tidak ada percakapan di antara keduanya. Hanya suara sedikit riuh dari pengunjung lain dan alunan musik jazz yang diputar di kedai kopi itu. Langit terus menghela napas berat berulang-ulang. Sementara Nathan sibuk mengunyah pastrynya dengan malas, ia ikut melempar pandangannya ke luar sesaat sebelumnya Nathan mengusap kaca menggunakan tissue agar pemandangan di luar tidak kabur. Suasana sore itu seolah menjadikan mereka berdua manusia terdingin bersama pikiran yang entah kabur ke mana.
“Berapa persen kemungkinan Shien bangun?” Langit memandang Nathan dengan tatapan sendu. Lalu satu hembusan napas berat kembali terdengar dari bibirnya.
Sebenarnya Langit tidak pernah berpikir untuk menanyakan ini karena takut mendengar jawaban yang tidak diharapkan. Tapi rasa ingin tahu yang terlalu besar mendorongnya untuk bertanya.
Nathan mendesah, ia meletakkan kembali potongan pastry yang belum habis dimakannya ke atas piring. “Kalau mau pake perhitungan matematika, persentasenya sangat kecil.”
Kepala Langit menunduk sedih. Pandangannya jatuh pada kopi miliknya yang sedikit memantulkan wajahnya. Ada senyuman getir di sana. Penyesalan itu semakin menumppuk di hatinya setelah mendengar jawaban Nathan.
“But. . . .” Sambung Nathan menggantung, membuat Langit kembali mengangkat kepalanya menatap Nathan. “Nothing impossible if God work on.” Ucapnya optimis. Nathan selalu percaya pada Tuhan dan melibatkan-Nya dalam segala hal. Memang kepada siapa lagi manusia harus berpegang teguh selain kepada Tuhan yang maha segalanya?
“Cause only God can make change our destiny.” Tambah Nathan penuh keyakinan, membuat semangat Langit yang sempat turun kembali lagi.
Benar. Ia memiliki Tuhan yang maha penyembuh, tidak seharusnya ia berhenti berharap pada-Nya, dan tidaklah pantas jika ia menyangsikan-Nya. Selama ada Tuhan, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.
“Kenapa? Lo udah nyerah sama Shien? Mau ninggalin dia? Nyari cewek baru?” Nathan berdecih sinis, lalu kembali melempar pandangannya ke luar.
Langit tersenyum kecut seraya menggelengkan kepalanya lemah. “Gue gak pernah ada kepikiran ke sana.” Ucapnya dengan nada terendah seiring dengan rasa sesak yang melingkupi dadanya. Langit teringat dengan ucapannya sendiri saat meminta Shien menjadi yang terakhir untuknya.
__ADS_1
“Dan seandainya cuma tinggal ada satu cewek terakhir di dunia ini, gue gak akan pernah melihat dia kalau itu bukan Shien.” Tambah Langit sambil sedikit menyunggingkan senyuman geli mendengar kalimatnya sendiri. Memang sedikit berlebihan, tapi itu kenyataannya.
Sementara Nathan yang mendengar itu hanya mencebik. Sungguh menggelikan. “Lo pikir gue bakalan percaya?”
Langit hanya mengedikkan bahunya santai, terserah. Kemudian mulai menyesap kopi yang sedari tadi belum disentuhnya. Suhu kopinya sudah dingin, sehingga meninggalkan rasa asam yang cukup pekat di lidah setelah ia meminumnya.
“Lo udah buat kesalahan sama Shien sebelum ini, kan?” Tanya Nathan tiba-tiba. Laki-laki itu menatap wajah Langit penuh selidik.
“Shien cerita?” Langit balik bertanya dengan nada yang terdengar ragu, sebelah alisnya terangkat – heran.
“Tanpa dia cerita pun, gue bisa nebak kalau itu ulah lo.” Sahut Nathan sinis, lalu bersedekap dengan wajah sombong.
“Karena selama enam bulan sejak gue ketemu lagi sama dia. Gak pernah sekali pun gue lihat Shien semurung itu sebelum dia ketemu sama elo.” Ia lantas mendengus kasar. Seketika Nathan menyesal pernah menyarankan Shien jujur pada perasaannya. Jika ia tahu laki-laki itu adalah Langit yang berengsek. Nathan tidak akan pernah menyarankan hal seperti itu, bahkan ia akan meminta Shien untuk jangan meliriknya sama sekali dan berhenti menyukainya.
Entahlah. Setelah ia kehilangan respect terhadap Langit, ia menjadi sangat sebal bahkan untuk melihat wajahnya. Tapi begitu bodohnya ia malah duduk berhadapan dan mengobrol dengan Langit saat ini.
“Selain itu, wajah lo jelas banget nunjukin kalau lo emang udah berbuat salah sama Shien. Dan kalau tebakan gue salah, gak mungkin selama dua bulan ini lo gak jengukin dia di ICU.” Nathan lantas menuding-nuding wajah Langit menggunakan satu jari telunjuknya.
Menyesap kopinya sebentar, Langit kemudian mulai menceritakan apa yang terjadi padanya dan Shien. Tentang ia yang mendapatkan foto dari seseorang, sehingga membuanya dibutakan oleh rasa cemburu dan akhirnya menyangsikan Shien, hingga berakhir menyakitinya.
Entah apa yang membuat Langit menceritakan itu pada Nathan yang sama sekali tidak dekat dengannya. Mungkin karena ia tidak bisa menampung sendirian perasaan bersalahnya pada Shien yang menumpuk di hati, yang belum sempat ia akui pada Shien.
Satu lagi, Langit juga tidak ingin mengganggu Jingga dan Biru di Korea sana untuk berbagi keluh kesahnya, sehingga selama ini ia memendam semuanya sendirian.
“Ck, Bego!” Umpat Nathan marah, tapi masih menjaga nada suaranya agar tidak mengganggu pengunjung lain yang ada di sana. “Jadi cuma gara-gara foto, lo ngira kalau gue sama Shien dan juga si Writer Traveler itu – ahh, gak ada orang yang sebego elo yang pernah gue temuin. Gak tahu gue gimana caranya lo bisa jadi Dokter dengan otak gob*lok kayak gini.” Nathan menggeleng tak percaya. Apa Langit tidak benar-benar mengenal Shien? “Bener-bener brengsek lo jadi orang.”
“Gue tahu. . . .” Sahut Langit lemah sambil tersenyum kecut. Ia tidak tersinggung dengan ucapan kasar Nathan, yang menurut Langit sendiri ucapan laki-laki itu memang benar adanya.
“Terus sekarang lo nyesel?” Nathan tersenyum miring, nada suaranya terdengar meledek. “Dan itu udah terlambat.” Cibirnya kemudian. Sedangkan Langit hanya terdiam dengan wajah sedih. Lagi, ia kembali membenarkan ucapan Nathan.
“Lo tahu, Dokter Langit, apa yang paling pengen gue lakuin saat tahu lo udah nyakitin Shien?” Langit terdiam menatap Nathan yang juga tengah menatapnya dingin.
Lalu tanpa pernah Langit duga, Nathan melayangkan tinju di pipi kanannya, hingga membuatnya nyaris terhuyung dan jatuh dari kursi yang ia duduki. Begitu pun dengan semua pengunjung yang langsung mengalihkan perhatian ke arah mereka.
“Itu buat kelakuan lo yang udah nyakitin Shien waktu di Dufan. Dan ini. . . .”
Satu lagi, Nathan memberikan tinjunya di pipi kiri Langit. Kali ini lebih keras hingga membuat bibir Langit berdarah.
“. . . . Untuk semua perlakuan buruk lo sama Shien.” Lanjut Nathan sebelum kemudian mendudukkan dirinya kembali di kursi dengan napas sedikit memburu. Ia lantas mengangkat sebelah tangannya guna menghentikan pelayan yang hendak menghampiri meja mereka, mungkin bermaksud untuk menghentikannya.
Semua pengunjung yang sebagian besar adalah Dokter dan Perawat RH Hospital masih melongo, terkesima, dan terheran-heran melihat dua Dokter terkenal seantero rumah sakit itu berkelahi. Entah karena apa, tapi mereka tidak bisa kepo meskipun sangat ingin tahu penyebab pertengkaran keduanya. Mereka akhirnya memilih untuk mengabaikan itu dan kembali pada kegiatan masing-masing.
Langit menyeka darah di sudut bibirnya, rasanya perih. Mungkin bibirnya sobek. “Ck, gak tahu tempat lo.” Cibirnya, megingat ini adalah tempat umum. Tapi entah kenapa, pukulan Nathan membuatnya merasakan sedikit kelegaan dalam hatinya.
“Gue udah pernah bilang kalau Shien udah gue anggap kayak adik gue sendiri. Gadis kecil yang gak punya kemampuan sosial yang baik karena selalu terkurung di rumah, sejak kecil dia gak punya banyak teman, nyaris gak punya malah. Dan mungkin karena itu, Shien tumbuh jadi cewek dingin yang sulit ngasih kepercayaannya sama orang lain. Tapi sekalinya dia ngasih, orang itu malah ngancurin kepercayaannya gitu aja.” Terselip nada sindiran dari kalimat Nathan. Langit sadar akan hal itu.
“Awas aja kalau setelah ini lo masih berani nyakitin Shien. Gue gak akan mukul lo lagi. Tapi gue bakal keluarin semua organ tubuh lo, terus gue sumbangin sama pasien yang membutuhkan.” Ancam Nathan sebelum kemudian ia beranjak, sesaat setelah ia menjawab panggilan darurat yang masuk di smartwatchnya.
Langit hanya tersenyum tipis mendengar itu. Ternyata tidak buruk juga berbicara dengan Nathan seperti ini. Setelahnya, ia lantas memandangi tubuh jangkung laki-laki itu yang perlahan menghilang di balik pintu kaca kedai kopi, terlihat berlari untuk menghindari cipratan air hujan, kemudian benar-benar menghilang dari pandangannya.
********
To be continued. . . . .
__ADS_1