So In Love

So In Love
EP. 55. Fine


__ADS_3

Berikan komentar terbaik kalian untuk cerita ini. Boleh juga kritik dan saran agar Author bisa memperbaiki tulisannya. 😊


********


Sepanjang perjalanan di dalam mobil hanya dihiasi dengan keheningan. Langit tidak membuka suaranya sama sekali begitu keluar dari mall, ia menutup rapat bibirnya dan hanya fokus menyetir.


Begitu juga dengan Shien, gadis itu berulang kali menghela napas bosan dan hanya bisa menatap keluar jendela mobil karena Langit tidak mengajaknya berbicara. Entah apa yang terjadi dengan makhluk tampan yang ada di sebelahnya ini, tidak biasanya Langit yang selalu mendominasi pembicaraan, kini lebih banyak diam.


Alunan musik lembut memberi sedikit hiburan. Namun, tidak mencairkan kebekuan di antara mereka.


“Udah nyampe, Shi.”


Suara Langit yang terdengar lembut membuat Shien yang sedang tenggelam dalam lamunannya seketika terlonjak kaget.


“Ehh, udah sampai, ya?” Gadis itu lantas mengedarkan pandangannya ke sekitar. Benar, mobil Langit sudah berhenti tepat di depan gerbang rumahnya yang menjulang tinggi itu.


Shien membuka pengait sabuk pengamannya, namun tak lantas beranjak untuk turun. Langit hanya menatapnya dalam diam.


“Ada apa, Shi?” Tanya Langit akhirnya.


Shien lantas menoleh, dia seperti terlihat ragu untuk mengatakan sesuatu.


“Ada yang ketinggalan.” Ucap Shien pelan. Sementara Langit hanya mengangkat sebelah alisnya tanda bertanya.


Lalu, tanpa banyak bicara Shien menyondongkan tubuhnya ke arah Langit untuk menggapai bibir laki-laki itu.


Namun, dengan segera Langit memalingkan wajahnya untuk menghindar hingga membuat gadis itu menatapnya protes.


“Lang. . . .” Raut wajah Shien terlihat kecewa. Tapi, Langit tak mengindahkannya.


“Aku pikir, kalian anak kembar itu saling mengenal dengan baik, karena kalian itu istimewa.” Ujar Langit, membuat Shien mengerjap tak mengerti dan perlahan memundurkan tubuhnya.


“Tapi. . . .” Langit menghela napas sejenak seraya menoleh ke arah Shien dan menyunggingkan senyum yang sulit diartikan. “Kayaknya kamu gak cukup mengenal saudara kamu, Shanna.”


Sudah cukup. Langit tidak akan membiarkan gadis yang duduk di sebelahnya ini terus berpura-pura menjadi kekasihnya. Langit tidak mengerti kenapa Shanna bisa berpura-pura menjadi Shien. Apa tujuan gadis itu melakukan hal seperti ini?


Wajah Shien yang sebenarnya bukan Shien itu seketika memucat dengan mata melebar sempurna saat mendapati Langit yang ternyata sudah mengenalinya. Gadis itu lantas terdiam mematung, kedua bahunya seolah terkulai lemas hingga membuat posisi duduknya tidak setegap semula. Bibirnya terlipat gugup, mendadak tangannya berkeringat karena gelisah.


“Aku gak akan pernah salah mengenali orang yang aku cintai, Shanna.” Langit berujar dengan penuh ketegasan, seolah mengatakan bahwa dia sangat mencintai Shien dan dia tentu saja mengenalnya dengan baik.


“Kamu harus tahu bebrapa hal kecil ini. Shien itu gak pernah mengambil inisiatif duluan, Shien gak pernah tersenyum ramah walaupun yang ada di depannya itu orang tua, Shien gak perlu pake cara zig-zag kalau lagi makan steak karena dia bisa menggunakan tangan kirinya buat motong daging.” Langit terdiam sebentar untuk mengambil napas, tatapannya penuh intimidasi hingga membuat Shanna membeku.


“Kamu emang sempurna berpenampilan seperti Shien sampai aku nyaris saja mengira kalau kamu itu beneran Shien. Tapi, sayang banget kamu gak bisa meniru dengan baik bahkan untuk kebiasaan kecilnya. Ck, acting kamu buruk, Sha.” Sambungnnya kemudian.


Shanna yang mendengar itu hanya mengeraskan rahangnya dengan tangan mengepal. Ia merasa jika Langit sedang mempermalukannya saat ini.


Tapi jujur, sebenarnya Langit tidak pernah ingin atau ada niatan untuk menindas atau mempermalukan Shanna seperti ini. Langit hanya merasa. . . , harus menghentikan Shanna melakukan hal yang tidak seharusnya.


“Dan satu hal lagi yang kamu lupakan. . . .” Langit kembali bersuara setelah beberapa saat terdiam dan saling melempar tatapan tajam dengan Shanna.


“Shien mencampur farfumnya.” Lanjut Langit, ia paling tahu hal yang satu ini. Walaupun pada dasarnya Shien menyukai orange blossom, tapi gadis itu selalu memadukannya dengan aroma bunga yang lembut sehingga menciptakan wangi yang khas. Sesuai dengan kepribadian Shien yang selalu ingin tampil berbeda dengan orang lain. Gadis itu sangat memperhatikan segala sesuatu yang menjadi penunjang penampilannya.


“CUKUP!” Sambar Shanna dengan emosi yang meluap-luap. “Apa kamu gak kelewat keterlaluan, Langit? Kamu mau nunjukin kalau hubungan kalian sudah sejauh itu, iya?”


“Aku gak tahu kenapa kamu melakukan hal kekanak-kanakan seperti ini, Sha.” Langit mengabaikan ucapan Shanna. “Shien akan kecewa kalau dia tahu ini.” Lanjutnya seraya menggeleng tak percaya.


Shien menyunggingkan senyum sarkas. “Kecewa? Siapa yang mengecewakan siapa?” Gadis itu lantas menyeringai dengan tatapan mencemooh. “Shien tahu perasaan aku sama kamu, tapi apa yang dia lakukan?”


“Dan apa yang kamu tanyakan tadi?” Shanna menghentikan kalimatnya sejenak, dia menarik napas dalam-dalam guna mencari sedikit ketenangan di sana. “Kenapa aku bisa melakukan ini?”


Langit hanya terdiam sambil menatapnya tajam, membiarkan gadis itu menyelesaikan apa yang ingin dikatakannya.


“Itu karena aku suka sama kamu. Langit, aku cinta sama kamu.” Bibir Shanna bergetar, matanya mulai berkaca-kaca.


“Jadi, rasanya menyakitkan saat aku tahu kalau kalian. . . .” Gadis itu tidak bisa melanjutkan kalimatnya, suaranya tercekat seolah ada sesuatu yang mengganjal di kerongkongannya.


“Aku selalu berusaha untuk mendapatkan hati kamu, tapi kenapa kamu malah milih Shien yang nggak berbuat apa-apa? Dan aku tahu kamu gak bodoh untuk bisa melihat itu. Tapi kamu malah selalu membatasi diri dan hanya menganggap aku sebagai teman.” Ujarnya lagi dengan suara bergetar.


“Shanna, aku udah bilang kalau kita gak pernah bisa memilih untuk jatuh cinta pada siapa.” Sahut Langit.


“Kenapa?” Sambar Shanna cepat. Rupanya, gadis itu menginginkan penjelasan. Shanna tidak bisa menerima semua ini begitu saja. Harus ada alasan yang tepat kenapa Langit memilih Shien dan bukan dirinya.


Langit menatap Shien yang terlihat sedih.


“Karena Shien adalah Shien.” Jawab Langit ragu, tidak yakin jika Shanna akan mengerti.


“Apa maksud kamu?” Sahut Shanna. “Kenapa, Lang? Kenapa harus Shien dan bukan aku?”


Langit tidak menjawab. Ia bergeming, membiarkan Shanna untuk mengungkapkan semua perasaan yang selama ini mungkin terpendam di dalam hatinya terlebih dahulu.


“Kenapa? Padahal, kami kembar. Wajah kami sama. Kamu bahkan ketemu aku lebih dulu. Kamu juga tahu kalau aku selalu nunjukin perasaan aku yang sebenarnya.Tapi kenapa kamu malah pilih dia? Apa karena dia kelihatan lebih polos? Apa karena dia pendiam? Atau karena dia sakit parah dan terlihat lebih lemah daripada aku?” Seru Shanna lagi, terlihat berapi-api.


Langit menggeleng. Saat ini, Shanna yang dikenalnya, yang selalu ceria, sedang berada di luar kendali.


“Kenapa, Lang? Apa karena di mata kalian para cowok, Shien begitu menarik perhatian? Iya? Karena dia selalu terlihat lemah, kalian merasa ingin melindunginya?” Shanna tertawa miris.


“Aku kurang apa, ya, Lang? Bisa dibilang, aku malah lebih segalanya dari Shien. Iya, kan? Aku lebih pandai bergaul, aku lebih mandiri, aku juga jauh lebih sehat, aku lebih segalanya.” Shanna mengatakan itu dengan sorot mata penuh putus asa.


“Tapi kenapa, Lang? Kamu malah milih Shien. Sama kayak orang lain yang lebih memilih dia. Shien yang sakit, Shien yang gak berdaya, Shien yang gak bisa apa-apa.” Shanna berhenti sejenak untuk menghapus air matanya yang jatuh, kemudian melanjutkan kalimatnya. “Apa gadis lemah kayak dia lebih menarik di mata kamu, Lang? Apa kamu kasihan sama dia?”


Langit menggeleng. “Enggak!” Sahut Langit tegas. Raut wajahnya terlihat kesal, Langit tidak menyukai kata-kata Shanna yang semakin liar, terlebih menyebut saudaranya sendiri gadis tidak berdaya. Shien tidak selemah itu.


“Aku gak pernah kasihan sama Shien. Aku emang sayang sama dia, Sha. Dan kamu salah. Aku lebih dulu ketemu sama Shien. Aku jatuh cinta sama Shien, bahkan sebelum aku tahu keadaan dia. Dan aku gak mempermasalahkan itu. She is the love of my life, there is nothing that will ever change that. I will always love her, no matter what.” Langit berucap penuh keyakinan dan ketegasan, membuat benih-benih kebencian di hati Shanna terhadap Shien semakin bertambah setelah mendengarnya.


Shanna terdiam mendengar penuturan Langit, lalu tertawa sarkas. “Kamu jatuh cinta sama Shien karena kamu ketemu dia lebih dulu?” Tanya Shanna, berhenti tertawa kemudian memandang nanar ke arah luar jalanan kompleks perumahan yang cukup sepi. “Dan sial banget aku gak kepilih cuma karena. . . .”


“Dan aku yakin, aku akan tetap jatuh cinta sama Shien walaupun dia datang setelah kamu.” Langit menyela kalimat Shanna. Merasa Shien adalah takdirnya, yang Tuhan ciptakan untuk hadir dalam hidupnya.


“Lang, aku butuh alasan.” Ucap Shanna dengan suara lemah. “Alasan yang logis.”


Menghela napas, Langit menatap Shanna yang tampak sudah mulai tenang.


“Sha, satu-satunya alasan kenapa aku sayang sama Shien, yaitu karena Shien adalah Shien. Kalau dia bukan Shien, aku gak akan sayang sama dia. Cuma dia yang bisa membuat jantung aku berdebar, cuma dia yang selalu ada di pikiran aku, Shien adalah hal terakhir dalam pikiran aku sebelum tidur dan pertama kali setelah aku bangun setiap pagi. Cuma dia satu-satunya orang yang bisa menjadi sumber kebahagiaan aku, pusat dunia dan seluruh hati aku.” Tutur Langit sungguh-sungguh. Jawaban yang sama dengan yang ia berikan kepada Shien dulu saat gadis itu menanyakan hal yang sama dengan Shanna.


“Walaupun ini terdengar konyol, tapi Shien terus tumbuh dalam pikiran dan hati aku setiap harinya.” Lanjut Langit.


Shanna terdiam dengan air mata yang terus mengalir membasahi wajahnya. Ia tidak bisa mengatakan bahwa pemikiran Langit itu konyol. Nyatanya, Shanna melakukan hal yang sama. Sosok Langit juga tumbuh dalam benaknya dari hari ke hari.

__ADS_1


“Aku tahu, mungkin sulit buat kamu mengerti dan menerima hal ini. Aku juga gak akan minta kamu buat cepat menerima hubungan kami. Tapi, aku harap kamu jangan membenci Shien karena hal ini, karena di antara kita bertiga gak ada yang bersalah sama sekali.”


“Emangnya aku punya pilihan lain, Lang?” Sahut Shanna sinis. “Apa aku harus hidup dengan berpura-pura nggak tahu kalau kalian udah bersama. Lagian apa bedanya kalau aku menerima hubungan kalian atau enggak? Kalian akan terus bareng, kan? Ck, Papa kamu sama orang tua aku bahkan udah merancang masa depan buat kalian.” Suaranya terdengar pilu begitu ia mencapai kalimat terakhir.


Langit menatap Shanna dengan perasaan bersalah. Tapi bersalah karena apa? Hati manusia adalah hal yang sulit untuk dikendalikan dengan pikiran.


“Kenapa harus dia, sih, Lang? Kenapa bukan orang lain? Kenapa harus adik kembar aku?” Tanya Shien lagi. “Gak usah dijawab!” Serunya kemudian sebelum Langit membuka mulutnya. “Karena Shien adalah Shien. Aku tahu.”


Langit dan Shanna sama-sama terdiam untuk beberapa saat. Shanna menyeka air mata yang terus membasahi wajahnya.


“Bukan berarti aku gak sayang sama kamu, Sha.” Ucap Langit, membuat Shanna mendengus.


“Kamu gak usah ngasihanin aku, Lang. Simpan aja. . . .”


“Aku bukan kasihan sama kamu.” Sambar Langit cepat. “Tapi, aku sayang sama kamu. Kamu pikir, karena aku cinta sama Shien, aku benci sama kamu? Enggak, Sha. Kamu masih sahabat aku, bahkan udah aku anggap sebagai saudara sendiri.”


Shanna menatap Langit getir. Bukannya tidak tahu jika laki-laki itu menyayanginya. Hanya saja, Shanna tidak bisa menerima kenyataan itu. Tidak sebagai saudara.


“Sahabat? Saudara? Kamu becanda?” Shien kembali tersenyum sinis. “Sorry, Lang. Aku gak bisa nerima itu.”


“Aku mau, kamu melihat aku seperti Shien.” Ucapan Shanna yang kembali tak terkendali.


“Jangan gila!” Seru Langit diiringi tatapan tajam.


“Aku gak akan nyerah. Aku akan nunjukin sama kamu kalau aku yang lebih pantas buat kamu.” Sahut Shanna menggebu-gebu.


Langit memejamkan mata seraya menghela napasnya dalam-dalam untuk membuat dirinya tetap tenang.


“Shien adalah yang terbaik dan akan selalu menjadi yang terbaik. Gak ada cewek mana pun yang lebih pantas aku cintai selain dia.” Ujar Langit penuh penekanan di setiap katanya.


“Shien itu. . . .” Shanna bergumam seraya melepas wig, salah satu alat yang diigunakannya agar telihat mirip Shien. Dan kini, terpampanglah rambut warna-warninya yang dicepol. “Orang yang beruntung.” Sambungnya sambil tersenyum miris.


“Tapi, aku gak akan nyerah buat rebut kamu dari dia.” Gadis itu lantas menyunggingkan seringai licik.


“Kamu gak akan berhasil.” Sahut Langit sambil menahan geram.


Ya. Kita tidak bisa memaksa seseorang untuk mencintai kita.


Saat kita memiliki perasaan yang sangat mendalam pada seseorang, namun dia tidak balas mencintai kita, maka tidak ada hak untuk kita terus memaksakan kehendak.


Cinta bukanlah hal yang bisa dipinta, kita tidak akan pernah bisa memaksa seseorang untuk memiliki perasaan yang sama terhadap kita. Sampai kapan pun, kita tidak akan mendapatkan perasaan cinta itu jika memaksa.


Ada kalanya kita harus menjadi orang yang mampu menerima kenyataan itu, menerima kenyataan bahwa orang yang kita cintai, tidak mencintai kita.


“Lihat aja nanti.” Balas Shanna terdengar menantang.


“Dan yang akan kamu dapatkan hanya sakit hati.” Langit memperingati.


“Aku gak peduli.” Sentak Shanna semakin emosi. Terlihat dari deru napasnya yang mulai tak beraturan.


“Di luar sana, ada banyak orang yang akan mencintai kamu dan menghargai perasaan ka-“


“BERHENTI.” Teriak Shanna sambil menutup telinga dengan kedua telapak tangannya.


“Jangan keras kepala, Shanna.” Seru Langit geram, suaranya terdengar satu oktaf lebih tinggi.


Gadis itu lantas langsung membuka pintu dan keluar dari dalam mobil.


Sebelum melangkah memasuki rumahnya, Shanna lebih dulu membanting pintu mobil Langit dengan sangat kasar hingga terdengar debuman yang sangat keras.


********


Shanna langsung berlari kecil menapaki anak tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua begitu ia masuk ke rumah.


Langkahnya terhenti begitu ia berpapasan dengan Shien, tepat di tengah-tengah tangga. Tubuh mereka nyaris bertabrakan hingga Shanna hampir terhuyung ke belakang. Beruntung tangannya berpegangan pada railing tangga.


“Baru pulang?” Tanya Shien. Datar dan tanpa ekspresi seperti biasanya.


Shanna tidak menjawab, dia menatap adik kembarnya itu dengan tatapan dingin.


Shien yang terlihat lebih pucat tanpa polesan make up, wajahnya begitu polos seperti anak kecil, matanya terlihat sayu. Sepertinya kondisi gadis itu tidak begitu baik. Cih, Shanna tiba-tiba muak melihat Shien yang tampak lemah itu.


Tapi, tidak bisa dipungkiri jika di dalam hatinya yang paling dasar, Shanna mengkhawatirkan gadis itu. Walau bagaimana pun, Shien masih adik yang paling disayanginya.


“Kak, aku mau ngomong sesuatu sama ka-”


“Hari ini aku capek banget.” Shanna menyentak dengan kasar tangan Shien yang baru saja menyentuh lengannya.


“Tap-”


Dan tanpa memberi kesempatan Shien untuk kembali berbicara. Shanna buru-buru beranjak meninggalkan sang adik dan masuk ke kamarnya.


Sementara Shien yang merasakan perubahan sikap sang kakak sejak kemarin hanya terdiam. Pandangannya mengikuti punggung Shanna yang semakin menjauh dan kemudian hilang dari tangga.


Gadis itu menghembuskan napas berat. Shien tidak perlu menebak atau bertanya-tanya kenapa Shanna tiba-tiba bersikap dingin padanya. Shanna pasti sudah mengetahui semuanya, dan walaupun demikian, Shien tetap ingin dan harus memberitahu Shanna secara lanngsung.


Tak lama setelah Shanna hilang dari pandangannya, Shien lantas melanjutkan kembali langkahnya menuruni anak tangga untuk mengambil air minum di dapur. Langkahnya terlihat sangat lemah seiring dengan dadanya yang terus berdenyut nyeri hingga menimbulkan rasa sesak. Shien sedang tidak begitu sehat saat ini.


********


Di dalam kamar, Shanna langsung melempar tasnya ke sembarang tempat dengan kesal, kemudian duduk di depan cermin yang menyatu dengan meja rias.


Shanna terdiam dengan tatapan kosong, menatap pantulan wajahnya di depan cermin. Wajah yang persis sama dengan orang yang sangat dicintai dan juga. . . , dibencinya.


Tidak pernah Shanna menjadi sepengecut ini seumur hidupnya.


Mencuri cincin. . . .


Ahh, bukan. Shanna hanya meminjamnya sebentar untuk menyempurnakan penyamarannya berpenampilan seperti Shien.


Shanna terpaksa melakukan itu. Shanna tidak rela Shien ternyata gadis yang Langit sukai. Shanna tidak rela mereka bersama.


Selama ini, Shana yang berusaha mati-matian mengejar Langit. Tapi, kenapa malah Shien yang mendapatkannya?


Maka dari itu, Shanna berpura-pura menjadi Shien. Bermaksud ingin mengetahui bagaimana cara Langit memperlakukan gadis itu, dan ingin menghancurkan hubungan mereka melalui penyamarannya.


Namun siapa sangka, disaat orang tuanya bisa ia kelabui, tapi tidak dengan Langit. Padahal, Shanna sudah sangat percaya diri. Bahkan saat ia meminjam ponsel Shien dan menghubungi Langit untuk menonton, dia masih belum sadar jika dirinya adalah adalah Shanna.

__ADS_1


Sial sekali, laki-laki itu ternyata sangat mengenal Shien bahkan sampai hal terkecilnya. Dan Shanna melupakan itu.


Ia kira, hanya dengan penampilan dan cukup berpura-pura lugu, lebih banyak diam, serta memasang wajah dingin, semua itu cukup.


Tapi ternyata tidak. Shanna masih terlalu ceroboh dan bodoh untuk bermain peran. Itu kesalahannya, seharusnya ia mendalami peran yang akan ia mainkan terlebih dahulu. Seharusnya, ia tidak terburu-buru dan pada akhirnya mendapatkan kegagalan, juga dipermalukan seperti ini oleh Langit.


Ternyata, laki-laki itu sudah mengenalinya sejak awal.


Shanna memejamkan matanya diiringi helaan napas dalam, guna mencari ketenangan di sana.


Pantas saja, saat makan malam Langit begitu dingin padanya. Padahal, katanya Shien adalah seseorang yang paling dicintainya.


Shanna tersenyum kecut. Bahkan saat ia berpura-pura menjadi Shien pun, Langit tetap membuat batasan dengan memasang dinding yang teramat tebal di hatinya. Tidak memberikan celah untuk Shanna masuk barang sedikit pun.


Langit bahkan secara terang-terangan mengatakan bahwa dia sangat mencintai Shien. Shien begitu spesial di hatinya, seolah tidak bisa tergantikan.


“Lihat aja. Aku akan membuat Shien sendiri yang menyerah sama kamu, Lang.”


Shanna berbicara sendiri di depan bayangannya. Kedua tangannya mengepal keras di atas meja, menahan segala macam emosi yang ada di dalam dada.


********


Sore itu, Shanna langsung pulang begitu ia selesai bekerja dan mengganti pakaiannya dengan pakaian olahraga.


Gadis itu lantas keluar dari rumah untuk kemudian berlari mengelilingi taman kompleks, walaupun saat itu sedang gerimis.


Begitu banyak hal yang dipikirkannya. Setelah mengetahui dengan jelas bahwa sekarang Langit milik Shien. Shanna sangat tidak baik-baik saja, it's not fine.


Pekerjaan di kantor terbengkalai, dia pun tidak bisa berkonsentrasi saat mengajar bahasa asing pada anak didiknya, sehingga ia sering absen dan terpaksa harus mencari guru pengganti.


Terhitung sudah lebih dari sepuluh putaran ia berlari, namun Shanna sepertinya masih enggan untuk berhenti walaupun kakinya mulai pegal dan kecepatan berlarinya semakin pelan, bahkan langkahnya nyaris tertatih.


“Ahh, Sial.” Umpat Shanna kesal kala ia terjatuh karena tersandung tali sepatunya yang terlepas. Ia lantas beranjak, lalu berjongkok untuk mengikat kembali tali sepatunya.


“Kak. . . .”


Shanna terkejut, dan mendapati Shien sedang berdiri tepat di belakangnya di bawah lindungan payung. Hari ini, mengenakan buttoned dress dengan kerah sabrina dan black belt, dia tampak berkarisma dengan balutan style kantor berkelasnya.


Apakah itu yang disukai Langit dari Shien? Cih.


Shanna mendengus seraya membuang pandangannya. Dan untuk pertama kalinya, Shanna benci memiliki wajah yang sama dengan adik kembarnya itu.


“Ujan, kak.” Shien mengingatkan sambil menatap Shanna yang masih bergeming dalam posisinya. Pakaian yang dikenakan gadis rambut warna-warni itu sekarang sudah basah, dan Shien berusaha memayunginya. “Nanti sakit.”


“Apa peduli kamu, sih?” Sambar Shanna kesal seraya beranjak berdiri. Mendengar nada suara kakaknya yang cukup tinggi, sontak membuat Shien terperanjat kaget.


Sungguh, Shanna tidak bermaksud begitu keras pada Shien, hanya saja kekesalannya sudah memuncak. Shanna benci Shien, Shanna. . . , sangat kecewa padanya.


“Ya peduli, lah.” Jawab Shien. “Kamu kenapa, sih, kak? Ada masalah?”


Shanna tersenyum kecut, perhatiannya terpusat pada Shien. Ck, mengapa dia masih bertanya hal-hal semacam itu? Bukankah seharusnya Shien tahu apa masalahnya?


“Kak, aku sama Langit udah. . . .” Shien tidak bisa berlama-lama lagi untuk tidak mengatakan hal ini pada kakaknya, walaupun Shanna sebenarnya sudah tahu.


“Aku tahu.” Tandas Shanna, tidak ingin mendengar lebih.


“Aku minta ma-”


“Kenapa?” Sambar Shanna cepat. Nada suaranya yang tinggi membuat jantung Shien berdegup kian cepat. “Kenapa kamu gak bilang dari awal kalau kamu suka sama dia?”


Shien diam tidak bisa menjawab. Ia menatap sedih Shanna yang bergerak menjauh hingga tubuhnya basah kuyup oleh air hujan. Shanna sekarang terlihat lebih defensif. Padahal, Shien ingin sekali memeluknya.


“Seandainya kamu bilang lebih awal, aku bisa mundur lebih awal, Shi, sama dia.” Suara Shanna terdengar mencicit di akhir kalimat.


Shien tetap bergeming. Ya, itu memang salahnya. Shien yang tidak jujur sejak awal. Dan siapa yang menyangka kalau ia akan jatuh cinta pada laki-laki itu dan memutuskan bersamanya. Sebelumnya, itu tidak pernah ada di dalam rencana hidup Shien.


“Aku udah bilang, aku bisa melepaskan dia buat kamu.” Imbuh Shanna bersamaan dengan air matanya yang mulai menetes, bercampur dengan air hujan, hingga membuat derai air mata itu tersamarkan.


“Tapi, apa yang kamu bilang waktu itu? Kamu dengan sombongnya bilang gak tertarik sama sekali sama dia.” Shanna menjeda kalimatnya sejenak, matanya terlihat menyipit karena guyuran air hujan. “Dan sekarang apa yang terjadi? Kamu jalan sama dia di belakang aku. Bahkan hubungan kalian udah sangat jauh. Jahat kamu, Shi.”


“You’re the sweetest little witch i ever knew.” Sambung Shanna sambil menuding Shien dengan jari telunjuknya.


“Maaf.” Hanya itu yang bisa Shien katakan. Gadis itu lantas mengeratkan genggaman tangan pada gagang payungnya, berusaha menahan sakit di dadanya yang kian menjadi-jadi.


Shanna tersenyum menyeringai. “Maaf? Apa itu bisa diselesaikan dengan kata maaf?”


“Apa kamu gak mikirin perasaan aku, Shi?” Shanna mendorong tubuh rapuh Shien dengan satu jari telunjuknya hingga membuat gadis itu sedikit limbung.


“Aku udah terlanjur cinta sama dia, dan sekarang aku gak bisa menyerah begitu aja.” Jerit Shanna putus asa.


“Kak. . . .” Shien hendak protes, tapi Shanna kembali menyela ucapannya.


“Lebih baik kamu yang nyerah sama dia, Shi. Kalau kamu ada di sisi Langit, kamu cuma bisa jadi beban buat dia. Kamu ngerti, kan, maksud aku?”


Shien tersentak, bahkan tubuhnya nyaris terhuyung ke belakang. Ucapan Shanna cukup menyakiti hatinya.


“Kenapa? Sakit?” Tanya Shanna dengan tatapan mencemooh saat melihat Shien meremas baju di depan dadanya.


“Aku iri sama kamu karena kamu selalu mendapat segalanya tanpa harus meminta atau berbuat apa-apa.” Sindir Shanna sambil meraih tangan Shien yang digunakan untuk memegangi dadanya dengan gerakan kasar.


Melihat sebentar detak jantung Shien yang ditunjukan jam tangan pintarnya, Shanna lantas menyentak tangan rapuh itu sama kasarnya seperti saat ia meraihnya tadi.


“Selama ini, kamu selalu mendapatkan apa yang kamu inginkan. Karena kamu sakit, semua orang akan memberikan dan melakukan apa saja buat kamu. Kamu selalu berhasil membuat siapa saja menjadi gak berdaya di hadapan kamu.”


Walaupun kulitnya terasa dingin karena cuaca saat ini hujan, tapi Shien merasa hatinya panas setelah mendengar Shanna mengucapkan kata-kata seperti itu padanya. Tidak masalah jika yang mengatakannya itu Terry atau orang lain. Tapi Shanna. . . , ucapan yang keluar dari mulut gadis itu membuat sakit di hati Shien berlipat-lipat.


“Jangan ngomong kayak gitu.” Ucap Shien terbata seiring dengan penurunan kapasitas paru-parunya dalam menampung udara saat bernapas.


Shanna mendengus, lalu membuang pandangannya dan berjalan menjauh, meninggalkan Shien yang jatuh terkulai di lantai taman yang terbuat dari batu alam itu.


Sementara Shien hanya bisa melihat kepergian Shanna dengan tatapan terluka. Shien tidak memiliki tenaga bahkan untuk sekedar memanggil nama Shanna.


Samar-samar, ia mendengar suara Reno memanggil nama dan menggoyangkan tubuhnya. Namun, Shien tidak dapat merasakan apapun lagi setelah kesadarannya benar-benar menghilang.


********


To be continued. . . .

__ADS_1


__ADS_2