
Hallaw, I'm comeback.
Tapi sebelum masuk ke cerita, aku mau promote dulu, nih.
Cerita baru, siapa tahu aja ada yang mau baca. Hehe
Happy reading, yes. 😉
********
Beberapa bulan berlalu, kehamilan Shien sudah memasuki usia tujuh bulan. Perutnya semakin membesar, tapi tidak mengurangi kecantikan yang terpancar di wajahnya. Bahkan di mata Langit, gadis itu malah terlihat semakin menggemaskan dengan perut buncitnya.
Shien mengalami pertambahan berat badan yang cukup pesat. Hal itu tentu saja terjadi karena berdasarkan hasil USG, Shien mengandung anak kembar. Lebih mengejutkannya lagi, itu kembar fraternal dan Dokter sudah memastikan jika jenis kelamin anak mereka adalah laki-laki dan perempuan.
Langit yang paling senang mendapat kenyataan itu. Begitu pun dengan keluarga besarnya. Apalagi Mama dan Papa Shien, mereka bahagia bukan main karena akan mendapatkan dua cucu sekaligus.
Namun karena Shien hamil anak kembar, Shien harus dalam pengawasan ekstra karena terkadang ia mengalami kelelahan yang ekstrim. Alhasil, Mama sangat khawatir dan memilih untuk tinggal di rumah yang sudah beberapa bulan ini Langit dan Shien tempati agar bisa mengawasi putri satu-satunya itu.
Sebenarnya Mama dan Papa menyarankan agar Shien dan Langit tinggal di rumahnya saja selama Shien hamil, tapi Langit dengan pendiriannya yang tidak bisa dibantah, tidak menyetujui saran itu.
Langit mengatakan bahwa ia ingin mulai membiasakan hidup mandiri bersama Shien di rumah mereka sendiri. Yaaa, walaupun sekarang belum sepenuhnya bisa karena Langit masih membutuhkan bantuan Mama untuk menjaga Shien selama ia bekerja dan Langit kurang percaya jika harus meninggalkan Shien dengan asisten rumah tangga. Tapi menurut Langit, tidak apa-apa melakukannya secara perlahan daripada harus tinggal satu atap bersama orang tua dan terus menerus bergantung pada mereka.
Tapi meski demikian, kehamilan Shien tidak termasuk rewel. Untuk urusan ngidampun tidak terlalu menyulitkan Langit maupun keluarganya. Justru pada trimester pertama, Langitlah yang menyulitkan Shien karena mengalami kehamilan simpatik, dia mengalami morning sickness parah, mood swing, ngidam, dan hanya bisa memakan sayur serta buah-buahan selama itu, namun beruntung hal itu sudah tidak terjadi lagi sekarang meski terkadang Langit masih mengalami mual-mual saat mencium bau daging atau ikan mentah.
Langit bersyukur karena sejauh ini Shien tidak pernah meminta sesuatu yang aneh-aneh padanya. Hanya tingkahnya saja yang lebih manja dari biasanya. Seperti halnya saat Langit libur, Shien akan terus menempel padanya sampai-sampai Langit tidak bisa melakukan kegiatan apapun. Mama bahkan terkadang menegur Shien karena saat laki-laki itu hendak ke pergi ke kamar mandi untuk menyelesaikan urusannya pun, Shien menungguinya di depan pintu sambil berteriak-teriak. “Laang, jangan lama-lama.”
Dan Mama hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sikap Shien yang mendadak kolokan itu.
Tidak hanya pada Langit, Shien juga mendadak bersikap manja pada orang tuanya. Terkadang ingin seharian makan disuapi Mama, terkadang juga ingin menonton televisi sambil bersandar di pundak Papa, atau juga ingin ditemani jalan-jalan di taman kompleks bersama Mama dan Papa. Semacam itulah manjanya si ibu hamil yang satu itu.
Tapi Mama dan Papa sama sekali tidak keberatan dengan itu, justru mereka malah senang karena semasa kecilnya Shien tidak mendapatkan waktu untuk bermanja-manja pada mereka. Mungkin saat inilah gantinya. Mama dan Papa bisa mengganti waktu yang hilang, di mana saat itu seharusnya mereka memanjakan Shien.
“Ma. . . .” Shien menghampiri Mama yang duduk di tepi tempat tidur di kamarnya, sedang membantu melipat pakaian bayi yang baru saja dibeli dan selesai dicucinya.
Mama menghentikan kegiatannya melipat baju, ia menoleh untuk menatap sang putri dengan tatapan iba, wajah Shien terlihat lelah dan sedikit pucat. Terang saja karena baru setengah hari ini saja Shien sudah bolak-balik ke kamar mandi sebanyak tujuh belas kali untuk buang air kecil. Kehamilannya yang membuat Shien seperti itu, sebab kadar hCG di dalam tubuh meningkat sehingga menyebabkan Shien sering buang air kecil.
“Capeek.” Keluhnya sambil merebahkan diri di atas tempat tidur dengan posisi menyamping menghadap ke arah Mama.
“Sabar.” Ucap Mama lembut seraya mengusap keringat yang membasahi pelipis Shien. Hanya satu kata itu yang selalu Mama ucapkan setiap kali Shien mengeluh lelah padanya. Keluhan Shien karena kehamilan kembar memang sedikit jauh lebih berat dibandingkan kehamilan tunggal. Tapi memangnya ada cara apa lagi untuk menghadapi kondisi kehamilan tersebut selain dengan sabar dan menikmati prosesnya? Setiap ibu harus dan pasti bisa melalui tahap serta proses itu.
Shien terdiam tak menanggapi, ia hanya memejamkan mata sambil menetralkan napasnya yang tampak terengah.
“Shi. . . .” Panggil Mama yang mulai melanjutkan kegiatan melipat bajunya.
“Hum?” Sahut Shien, tangannya terulur meraih bantal untuk menumpu kepalanya.
“Kamu sebaiknya pindah ke kamar bawah, deh. Mama ngilu lihat kamu naik turun tangga bawa-bawa perut buncit.” Ujar Mama sedikit meringis dan tentu saja khawatir kala melihat anaknya yang selalu kepayahan baik saat menuruni atau menaiki tangga.
“Aku juga maunya gitu. Tapi Langit bilang dia mau renovasi kamarnya dulu biar bisa terhubung sama kamar bayi.” Jelas Shien yang kini membuka matanya, memperhatikan tangan Mama yang sangat lihai dalam melipat baju-baju mungil di depannya.
“Terus kapan renovnya? Bilangin jangan lama-lama. Emang dia gak kasihan sama kamu apa? Perut kamu semakin hari pasti semakin gede, lho, Shi.” Gerutu Mama sedikit kesal pada menantunya itu.
“Gak apa-apa, Ma. Aku bisa minta gendong dia buat turun naik tangga.” Sahut Shien santai seraya meraih boneka pisang dan memeluknya.
“Tapi kasihan Langitnya kalau gitu. Bisa-bisa sakit pinggang dia, soalnya kamu gak ringan lagi sekarang, Shi.” Balas Mama memperhatikan tubuh Shien lekat-lekat. Penuturannya itu jelas membuat Shien langsung memutar bola matanya malas karena ibunya itu sangat plin-plan. Tadi saja menggerutu, ehh detik berikutnya Mama sudah membela Langit saja.
“Ihh. Itumah resikonya. Lagian siapa suruh dia hamilin aku? Mana jadinya langsung dua lagi.” Ujar Shien seraya menghembuskan napasnya berat. Sebenarnya ia sedikit khawatir karena memikirkan dirinya yang harus melahirkan dua anak sekaligus dalam waktu beberapa bulan lagi. “Kira-kira aku sanggup gak ya ngelahirin mereka, Ma?” Tanya Shien akhirnya sambil mengelus perutnya yang buncit. Sejurus kemudian, ia tampak meringis ngilu saat merasakan pergerakan bayi di dalam perutnya.
__ADS_1
Mama tersenyum teduh, lalu ikut mengelus lembut perut Shien. “Kenapa? Kamu takut?”
Shien mengangguk lemah. “Sedikit.” Jawabnya terus terang. Bagaimanapun juga ini adalah pengalaman pertama untuknya, jadi wajar Shien merasa takut dan cemas memikirkan persalinannya nanti.
“Jangan mengkhawatirkan apapun, sayang. Kamu itu anak yang hebat, dan Mama yakin kamu pasti bisa membawa cucu-cucu Mama ini ke dunia dalam keadaan baik-baik saja. Dalam artian kalian bertiga.” Tutur Mama, membuat hati Shien terasa sedikit lebih tenang.
“Tapi aku gak sehebat Mama.” Shien meraih tangan Mama dari perutnya untuk kemudian ditempelkan ke pipinya.
“Iya, tapi kamu lebih hebat dari Mama.” Ucap Mama sambil membelai lembut pipi Shien penuh sayang.
“Ma. . . .” Panggil Shien setelah beberapa saat hening. Mama hanya hanya mengangkat sebelah alisnya sebagai sahutan.
“Kalau aku lahiran nanti, aku mau Mama nemenin aku. Boleh, ya?” Pintanya dengan tatapan penuh harap.
“Dengan senang hati, sayang.” Ucap Mama sambil mengulas senyuman hangat. Selama Shien membutuhkannya, Mama pasti akan selalu ada untuk gadis itu untuk mendukungnya. Shien tersenyum senang mendengar itu.
Tapi baru saja ia mengulurkan tangannya untuk memeluk perut Mama, pintu kamar tiba-tiba terbuka sehingga membuat Shien mengalihkan atensinya ke arah pintu dan mendapati Langit masuk dengan menenteng bungkusan plastik berukuran sedang di sebelah tangannya.
Melihat kedatangan suaminya, Shien lantas buru-buru bangun dengan bantuan Mama karena ia sedikit kesulitan untuk mengangkat tubuhnya.
“Lho, tumben udah pulang?” Tanya Shien sambil mengernyitkan keningnya heran, tapi di dalam hatinya ia merasa sangat senang.
“Kok kamu ngebiarin Mama lipat baju bayinya sih, Shi?” Tegur Langit tak mengindahkan pertanyaan Shien. Laki-laki itu lalu duduk di sebelah sang istri setelah sebelumnya mendaratkan satu kecupan penuh sayang di puncak kepala dan perut Shien secara bergantian.
“Gak apa-apa kali, Lang. Ini kan juga baju cucu-cucunya Mama.” Sahut Mama sambil menyelesaikan melipat baju yang terakhir.
“Tapi itu ngerepotin, Ma.” Ujar Langit tak enak hati melihat Mama mertuanya melakukan pekerjaan seperti itu. Meminta Mama menemani Shien saja sebenarnya Langit tidak enak hati karena merasa sudah membebaninya.
“Sebentar lagi kalian juga bakalan jadi orang tua dan pasti akan merasakannya sendiri kalau orang tua itu gak akan pernah merasa direpotkan sama anak-anaknya.” Ucap Mama sambil beranjak membawa tumpukan baju-baju bayi yang sudah selesai dilipatnya untuk disimpan ke dalam lemari yang sudah Shien siapkan khusus. Langit dengan sigap membantu Mama membawa setumpuk baju yang masih tertingal di atas tempat tidur.
“Kamu tumben masih siang gini udah pulang, Lang?” Tanya Mama yang mulai menata baju-baju bayi tersebut ke dalam lemari.
“Tapi kamu gak pulang lagi ke rumah sakit, kan?” Tanya Mama seolah memastikan, ia lantas menutup pintu lemari setelah kegiatannya menata baju bayi selesai. Lalu beranjak untuk kembali menghampiri Shien. Langit mengekorinya.
“Enggak, Ma. Kenapa?” Tanya Langit kembali mendudukkan dirinya di samping Shien.
“Kebetulan hari ini Mama sama Papa mau makan malam sama client penting perusahaan. Jadi Mama gak bisa nginap di sini hari ini.” Jelas Mama. Mendengar itu, Shien langsung menghembuskan napasnya lemah dan menatap Mama seolah tidak rela.
Langit mengangguk-angguk mengerti. “Ya udah, Ma, gak apa-apa.”
“Kalau gitu Mama pulang sekarang.” Ucap Mama.
“Lho, ini kan masih siang, Ma.” Protes Shien cepat.
“Ya Mama mau siap-siap dulu, Shi. Nyalon biar cantik gitu.” Sahut Mama, Shien hanya mendengus kecil dan sedikit memasang wajah cemberut.
“Udah jangan manyun, kan sekarang udah ada Langit. Mama pulang dulu.” Lantas Mama mencium pipi kanan dan kiri Shien sebelum beranjak dari kamar. Langit menawari Mama untuk mengantarnya pulang, tapi dengan tegas wanita paruh baya itu menolaknya, memilih untuk meminjam mobil Langit dan menyetir sendiri.
********
“Aku udah beliin kebab yang kamu pesen tadi pagi. Ayo makan.” Ucap Langit yang melihat Shien masih terdiam memandangi pintu kamar selepas kepergian Mama.
Shien mendesah pelan, lalu menatap Langit dengan perasaan sedikit bersalah. “Maaf, Lang. Tapi aku udah gak mau.”
Langit mengerjap, keningnya berkerut heran. Padahal, tadi pagi sebelum berangkat kerja Shien terus mengingatkannya agar tidak lupa membeli kebab Turki saat dirinya pulang nanti. “Lho, kok gitu?”
“Tadi pagi kak Senja titip Noah ke sini soalnya dia mau belanja ke super market, terus aku minta dia beliin kebab setelah pulang dari sana. Habisnya kalau nunggu kamu pulang lama, sih.” Jelas Shien dengan memasang ekspresi tanpa dosa.
Dan Langit hanya bisa menghela napas dalam-dalam dengan sikap tak sabaran Shien. “Ini aku pulangnya lebih awal lho, Shi.”
__ADS_1
“Ya kamu gak ada bilang sama aku kalau mau pulang awal.” Shien jadi sewot sendiri menanggapi suaminya itu.
“Terus, itu kebabnya mau di kemanain? Mana kamu pesennya enam.” Tanya Langit sambil menunjuk bungkusan kebab Turki yang tadi ia bawa di atas meja, yang berada tepat di seberang tempat tidur mereka.
Shien memang tidak pernah meminta sesuatu yang aneh. Tapi sekalinya gadis itu meminta Langit membelikannya makanan, maka jumlahnya pasti berlipat-lipat. Alasannya jelas karena dua anak Langit yang berada di dalam perutnya. Langit sampai dibuat geleng-geleng kepala dengan kenyataan itu.
“Kamu aja yang makan.” Sahut Shien enteng.
“Ihh, gak mau. Bisa-bisa perut aku ikutan kayak gini kalau kebanyakan makan.” Ujar Langit meledek sambil mengusap perut buncit Shien.
Shien mengerucutkan bibirnya lucu, tapi tidak tersinggung dengan ucapan Langit karena ia tahu jika suaminya itu bukan sedang mencemoohnya.
“Ya udah, kalau gitu kamu kasih Mbak Nisa aja. Sekalian suruh dia pulang, kan kerjaannya udah selesai.” Ucap Shien.
“Terus makan malam?” Tanya Langit lagi, mengingat Mbak Nisa, asisten rumah tangga yang dipekerjakannya secara paruh waktu dari pagi hingga jam enam sore itu masih harus menyiapkan makan malam untuk mereka.
“Makan di luar aja, ya? Udah lama banget soalnya gak keluar sama kamu.” Jawab Shien sambil bergelayut manja di lengan suaminya.
“Oke deh kalau gitu.” Langit menyambar bibir Shien sekilas hingga membuat gadis itu mendengus, tapi dalam hati menyukainya.
“Ya udah aku ke bawah dulu sekarang.” Ucap Langit kemudian sambil melepaskan tangan Shien yang bergelayut di lengannnya.
“Lho, mau ngapain?” Tanya Shien.
“Kan mau ngasih kebab sekalian nyuruh Mbak Nisa pulang, sayaang.” Langit menarik hidung mancung Shien gemas.
Shien terkekeh pelan. Saking tidak ingin jauh-jauh dari Langit, ia sampai melupakan hal itu.
“Jangan lama-lama.” Ucap Shien sebelum Langit keluar dari kamar dengan membawa serta bungkusan plastik berisi kebab di tangannya.
Sekembalinya ke kamar setelah menemui Mbak Nisa di bawah, Langit melihat Shien sudah merebahkan dirinya lagi di atas tempat tidur dengan posisi menyamping sambil bermain ponsel. Memang kondisi perutnya yang kian membesar membuat Shien kesulitan menemukan posisi tidur yang nyaman dan pas. Langit juga menyaksikannya setiap malam Shien terbangun untuk merubah posisi tidurnya, dan yang bisa ia lakukan untuk membantunya kembali tertidur adalah dengan mengusap-usap punggung Shien dari belakang. Beruntung hal itu bisa membantu Shien kembali terlelap dengan tenang.
“Lagi lihat apa, sih, fokus banget?” Komentar Langit yang ikut merebahkan dirinya di samping Shien, lalu mendekap tubuh istrinya itu dari belakang dan mulai menciumi pelipis hingga turun ke rahangnya. Langit memang tidak bisa membiarkan Shien nganggur sedikit saja. Jika sedang berada di rumah, seperti inilah kelakuannya. Langit akan menguasai Shien.
“Lagi lihat-lihat tempat wisata yang seru.” Sahut Shien seraya menunjukkan foto-foto pemandangan cantik Labuan Bajo pada Langit.
“Kamu mau liburan?” Tanya Langit, kemudian mengangkat kepalanya sedikit agar bisa memandangi wajah Shien dengan baik.
“He’em.” Shien mengangguk sambil menatap mata Langit dengan memasang puppy eyesnya. “Aku bosan di rumah terus.” Tambahnya jujur.
Menghela napas sejenak, Langit lalu mengecupi pipi Shien yang mulus dan sedikit berisi itu. “Nanti aja habis lahiran, ya? Kamu mau keliling dunia aja aku pasti bolehin.” Bujuknya dengan tangan yang mulai meraba-raba dada Shien yang semakin membesar seiring usia kehamilannya.
Shien mendengus, kemudian merubah posisi tidurnya dengan berbalik hingga kini ia berhadapan dengan Langit. “Ya tapi aku maunya sekarang-sekarang. Kamu ajak jalan-jalan aku ke mana aja gitu yang deket.”
“Yang deket tuh ke mana, sayang?” Tanya Langit, tangannya lantas merayap ke bawah, menyusup ke dalam dress hamil yang dikenakan Shien dan meremas bagian belakang tubuh gadis itu dengan sensual. Shien sendiri tidak protes karena ia pun menyukai itu. Sentuhan yang selalu diberikan Langit pada tubuhnya, Shien tidak pernah bisa menolak itu jauh sebelum dirinya menikah dengan Langit.
“Ya kamu pikirin sendiri. Gak asyik banget kamu.” Cebik Shien, lalu mendesah pelan saat tangan Langit menyusup ke dalam kain berenda warna hitam di bawah sana dan bertemu langsung dengan pusat tubuhnya.
“Ya udah besok kita liburan ke villa Papa yang ada di Lembang aja gimana?” Tanya Langit lagi sambil memberikan sedikit tekanan di pusat tubuh Shien dengan jarinya sehingga membuat napas gadis itu mulai memburu seiring dengan sensasi panas yang perlahan menjalar di sekujur tubuhnya.
“Eumh. . . .” Shien mengangguk setuju. Ia tidak bisa mengatakan lebih banyak. Gerakan tangan Langit di pusat tubuhnya membuat kepala Shien pusing.
“Soalnya aku gak bisa bawa kamu keluar kota, apalagi naik pesawat. Aku takut terjadi apa-apa sama kamu dan anak-anak kita.” Ujar Langit.
Shien mendengus karena Langit terus berbicara sementara tangan laki-laki itu terus bermain-main dengan tubuhnya. Lantas dengan cepat ia menangkup kedua sisi wajah Langit dan menciumnya dengan rakus. “Jangan ngomong lagi.”
Langit tersenyum di sela-sela ciuman panasnya. Menggoda Shien untuk memintanya lebih dulu sudah menjadi keahliannya sekarang. Ia lantas menarik tangannya, kemudian tanpa waktu lama, Langit langsung menurunkan resleting dress Shien dan melucuti pakaian yang menempel di tubuh istrinya itu satu per satu.
********
__ADS_1
To be continued . . . .