
********
Hari ini pekerjaan Langit cukup padat. Setelah melakukan operasi dan memeriksa pasien beberapa jam yang lalu, kini Langit duduk selonjoran di sofa di ruangannya ditemani Bian, Biru, dan Bisma yang memang sengaja datang ke ruangannya untuk makan siang bersama.
Beberapa menu makan siang yang tadi mereka pesan lewat aplikasi pesan antar makanan online sudah ditata rapi di atas meja oleh Biru, sementara Bian asyik bermain-main dengan action figure Optimus Prime milik Langit yang ada di atas meja kerja laki-laki itu.
“Awas rusak.” Langit memberi peringatan tanpa menoleh ke arah Bian, satu tangannya sibuk memijat pelipisnya yang terasa berdenyut nyeri. Mungkin karena hampir setengah hari ini Langit sibuk berdiri di ruang bedah dan memeriksa pasien tanpa beristirahat sedikitpun, maka dari itu kepalanya sedikit nyeri.
“Bapak lo kan banyak duit, Lang. Sepabrik-pabriknya bisa dia beli.” Sahut Bian enteng. Langit hanya mendengus mendengarnya.
“Lagu favoritnya Jingga.” Ucap Bisma kala ia memutar lagu Imagination milik Shawn Mendes dari ponselnya. Lagu itu mengalun indah, membuat siapa saja yang mendengarnya akan terhayut di dalamnya.
“Gue juga suka.” Timpal Langit sambil mengubah posisi duduknya dengan posisi yang lebih benar, yaitu duduk tegap menghadap ke arah meja.
“Yaaa kalian emang banyak kesamaan.” Balas Bisma seraya mengambil fruit tea, lalu menyesapnya.
“Sayangnya, Jingga salah milih jodoh. Padahal, kalau gue lihat kalian lebih serasi.” Sahut Bian yang kini bergerak menuju sofa, lalu menghempaskan dirinya tepat di sebelah Langit.
Biru yang masih sibuk menata makanan langsung mendengus dan menyoroti Bian dengan tatapan tajam. Sementara yang ditatap malah mengerlingkan matanya seolah mencibir.
“Sialan.” Umpat Biru, lalu ia melempar bantal sofa dan tepat mengenai wajah Bian. Bisma dan Langit yang menyaksikan itu hanya tergelak pelan sambil geleng-geleng kepala.
Selalu seperti ini setiap kali lima serangkai itu berkumpul. Tanpa ada kegiatan bully membully, sepertinya persahabatan mereka tidak akan berwarna.
“Gue gak bisa bayangin apa yang akan terjadi sama nih kambing kalau Jingga gak nikahin dia.” Ujar Bian seraya mengedikkan dagunya ke arah Biru dan mulai memakan chicken katsu miliknya.
“Paling nangis di pojokan sambil meluk lutut, tremor, atau paling parah dikit percobaan bunuh diri lah.” Albi yang baru saja masuk ke ruangan Langit langsung nimbrung diiringi gelak tawa membahana yang ia arahkan untuk meledek Biru.
Laki-laki itu kemudian mengambil tempat duduk di tengah-tengah antara Langit dan Bian.
Biru menghela napas dalam-dalam, sekedar mencari kesabaran guna menghadapi teman-teman sialannya ini.
Biru heran, dosa apa yang sudah ia perbuat hari ini, sehingga teman-temannya tiba-tiba meledeknya seperti ini?
“Heran gue, badan L-Men tapi hati kok macem bayi Bebelac.” Tambah Albi, mengingat dulu ia sering mendapati Biru menangis sendirian saat Jingga meninggalkannya.
Baik Albi atau yang lainnya, mereka tidak menyangka jika Biru yang biasa dijuluki Mr.Perfect ternyata memiliki hati serapuh itu.
Sontak saja suasana ruangan Langit yang tidak terlalu besar itu mendadak riuh dengan gelak tawa, dan mungkin bisa terdengar sampai keluar ruangan.
“Udah, jangan diledekin terus. Ntar dia nangis. Tuh lihat wajahnya udah merah gitu.” Bisma menanggapi. Tidak takut sama sekali dengan tatapan kesal dan marah yang dilayangkan Biru padanya.
“Rumah sakit cabang Surabaya masih kekurangan Dokter Spesialis Ob Gyn, Anestesi, . . . .”
“Gue gak ikutan.” Sambar Langit langsung menghentikan derai tawanya. Begitu pun dengan Albi, Bian, dan Bisma yang ikut menutup rapat mulutnya, sehingga menghentikan kalimat andalan yang biasa digunakan Biru untuk mengancam mereka kala meledeknya.
“Nah, kalau mulut kalian diem kan enak.” Ucap Biru, menyoroti wajah teman-temannya satu per satu dengan tatapan kesal.
“Males gue nih, ujung-ujungnya manfaatin jabatan buat ngancem. Gak asyik banget lo mah jadi bos.” Protes Albi yang langsung diangguki serempak oleh ketiga temannya. Namun, Biru hanya mengedik tak peduli. Siapa suruh mereka meledeknya? Huuh.
“Ngomong-ngomong, itu kebabnya tadi gue ludahin dulu.”
Albi tersedak dan langsung mengeluarkan kembali kebab yang baru saja masuk ke mulutnya begitu kalimat itu terucap dari bibir Biru.
“Ngeselin lo.” Dengus Albi. Semua orang tertawa melihatnya. Sudah tahu hanya gurauan, tapi anak itu percaya begitu saja dan menyingkirkan kebab yang hendak dimakannya tadi, kemudian memilih memakan katsu yang sama dengan Biru.
“Ohh iya. Ayo kita ke karaoke sepulang kerja. Udah lama banget gak main di luar.” Ajak Bisma tiba-tiba, mengingat waktu kebersamaan dengan teman-temannya berkurang akhir-akhir ini karena kesibukan masing-masing. Rasanya, Bisma butuh hiburan.
“Gue sih oke. Tapi lo yang minta izin sama Ibu Ratu.” Ucap Biru diiringi hembusan napas berat, mengingat sang istri pasti tidak akan memberinya izin keluar bersama teman-temannya. Gadis itu sedang manja-manjanya dan ingin terus menempel padanya sekarang. Pulang terlambat saja Jingga akan merajuk, apalagi jika Biru hangout, jatah tiga kali dalam seminggunya pasti hangus.
“Jingga jadi Ibu Macan semenjak dia hamil. Gak berani gue.” Keluh Bisma sambil bergidik ngeri membayangkan ekspresi galak Jingga.
“Gue nemenin Ibu Suri ke salon kuku. Sorry.” Ucap Albi seraya mengangkat sebelah tangannya. Menjadi Dokter Spesialis Ob Gyn membuat Albi semakin menghormati ibunya. Jadi, ia tidak akan mungkin membatalkan janji yang sudah dibuat dengan ibunya demi keluar karaokean.
“Gue udah ada janji buat ngebimbing tesis mahasiswa.” Timpal Bian menyayangkan. Padahal, dia sangat ingin. Tapi, Bian tidak mungkin mengabaikan tanggung jawabnya begitu saja.
“Nanti malem gue ada konferensi Pediatri.” Sahut Langit menambahi.
“Besok malem?” Tanya Bisma lagi dengan tatapan penuh harap.
“Gue ada rapat sama nih bocah.” Jawab Albi cepat sambil menyikut lengan Langit dan langsung disusul dengan anggukannya.
“Kenapa?” Tanya Biru penasaran, tentu saja pertanyaan ini ia arahkan pada kondisi pasien.
__ADS_1
“Ibu hamil dengan janin yang mengalami kelainan bawaan. Gastroschisis. Cacat lahir pada dinding perut yang membuat bayi lahir dengan usus atau organ pencernaan lain berada di luar tubuh.” Jelas Albi, membuat Bisma seketika mual mendengrnya. Walaupun sudah menemui berbagai kasus penyakit di lapangan, tapi jika mendengarnya dari orang lain rasanya berbeda, dan terkadang itu membuat Bisma merinding.
“Usia kandugannya udah 34 minggu. Makannya gue perlu konsultasi sama nih bocah karena bayinya harus di operasi begitu dia lahir.” Lanjutnya dengan mulut penuh makanan, sehingga pipinya bergerak naik turun terlihat lucu.
“Bukannya kemungkinan bayi meninggal tinggi?” Tanya Bian ragu.
Albi menggeleng penuh percaya diri. “Kasus kayak gini emang gak banyak, tapi kadang terjadi. Biasanya dioperasi setelah lahir, dan mereka bisa sehat lagi.” Bian mengangguk-aggukkan kepalanya tanda mengerti atas penjelasan Albi.
“Terus, kapan kita bisa ke karaoke?” Bisma kembali pada pembahasan awal. Teman-temannya hanya mengangkat bahunya serempak.
“Hiish. Oke-oke. Kita gak usah main lagi. Apa kalian pikir gue punya banyak waktu, terus ngajak kalian ke karaoke? Gue juga sibuk. Gue harus baca buku cerita dan ngajak main anak gue. Emang kalian aja yang sibuk? Hiliihh, ngeselin emang.” Bisma menggerutu kesal, lalu menggigit paha ayam dengan buas, seolah menyalurkan semua kekesalannya di sana.
“Ya udah, kalau gitu lo bawa aja anak sama istri lo ke karaoke sana.” Sambar Albi, membuat Bisma mendengus.
Di saat teman-temannya masih berdebat kecil membahas karaoke. Langit yang sedang fokus pada makan siangnya tiba-tiba merasakan ponsel yang ia letakan di saku seragam srubnya bergetar.
Laki-laki itu lalu mengambil ponsel tersebut dan memeriksa notifikasi chat yang masuk.
“Ehh, Shien.” Gumam Langit dalam hati sambil tersenyum-senyum sendiri kala melihat layar ponselnya. Beberapa saat yang lalu ia mengirim pesan pada gadis itu dan menanyakan apakah dia sudah berangkat atau belum, mengingat Shien mengatakan bahwa penerbangannya ke Bali adalah siang ini. Dan sepertinya notifikasi itu adalah pesan balasan dari Shien.
Shienku:
Aku lagi nunggu boarding. Sebentar lagi berangkat.
Langit mendengus. Gadis itu tidak ada manis-manisnya sama sekali. Padahal, Langit berharap jika Shien mengirimkan pesan semacam ini: “Sebentar lagi aku berangkat. Hiks, sedih. Pasti aku bakalan kangen berat karena seminggu gak bisa ketemu kamu. Kamu susul aku dong nanti. 😟”
Namun, sepertinya harus menunggu lebaran monyet lebih dulu, mungkin Shien baru bisa mengim pesan semacam itu. Ck, dasar kaku.
Langit :
Kamu gak sedih?
Shienku :
Bodoh. Mau liburan ya seneng.😑
Langit melongo takjub dengan pesan balasan dari Shien. Gadis itu benar-benar.
Langit :
Shienku :
Aku doain kamu jadi jelek kalau berani.
Langit tersenyum geli. Kedua ibu jarinya lantas kembali bergerak lihai di atas layar pipih itu untuk mengirim pesan balasan.
Langit :
Serem amat doanya.
Kalau gitu aku ganteng, dong?😄😄😄
Shienku :
Karena mata aku kayaknya bermasalah, jadinya kamu kelihatan ganteng.
Senyum semringah terbit dari kedua sudut bibir Langit, diiringi dengan rona wajahnya yang kian bersemu merah.
Membaca isi pesan seperti ini saja sudah membuat hati Langit berbunga-bunga. Seandainya Shien ada di sebelahnya, Langit yakin akan menghujani gadis itu dengan ribuan ciuman di wajahnya.
Tiba-tiba notifikasi pesan kembali muncul hingga mengurungkan niat Langit yang baru saja hendak membalas pesan dari Shien tadi.
Shienku :
Sebentar lagi take off. Udah dulu, ya.
Jangan genit-genit sama cewek lain.
Langit :
Haha. Tenang aja, aku genitnya cuma sama kamu, kok. 😉
Nanti di sana kalau aku telepon jangan suruh Papa kamu lagi yang angkat.
__ADS_1
Safe fligt, sayang.
“Safe fligt saya. . . .aaaaww.” Langit dengan cepat mendaratkan cubitan sekeras-kerasnya di pinggang Albi yang ternyata sejak tadi mengintipnya. Dasar tidak sopan.
“Siapa, sih? Baca chat doang udah kayak orang kesambet lo, Lang. Senyum-senyum sendiri.” Tanya Bisma. Kini semua orang menatapnya dengan tatapan penuh curiga.
“Gak mungkin kalau bukan dari betina.” Celetuk Bian menebak, dan tepat sasaran.
“Kepo lo pada. Lagian kalau isi chatnya lucu, kalau gak senyum itu namanya gak normal.” Sahut Langit sewot seraya memasukkan kembali ponsel ke dalam saku bajunya. Sementara teman-temannya terus memasang ekspresi penuh curiga, seolah mendesaknya untuk berkata jujur. Namun, Langit segera lari dari pandangan mereka dengan meminum fruit teanya.
“Siapa?” Albi menaik-turunkan alisnya, bermaksud untuk menggoda teman termudanya ini. Karena selama ini, belum pernah ia melihat Langit membaca pesan sambil senyum-senyum sendiri hingga wajahnya memerah seperti tadi. Menurutnya, Langit terlihat seperti orang yang sedang kasmaran.
“Yang rambut warna warni kayak permen loli atau si rambut normal yang kayak patung dikasih nyawa?” Goda Albi kemudian, teringat dua gadis kembar yang kemarin malam tidak sengaja bertemu saat dirinya dan Langit masuk ke toko sepatu di mall.
“Langit.” Mata Biru memicing meminta penjelasan. Dan semua orang menatapnya penuh rasa penasaran.
Langit hanya memutar bola matanya malas. Teman-temannya ini benar-benar memiliki tingkat kekepoan layaknya ibu-ibu tukang gosip.
“Apaan sih, Al? Ngaco lo.” Elak Langit seraya melempar wajah Albi menggunakan sedotan. Namun, Albi hanya mencebik dengan tatapan penuh ledekan.
“Udah ahh, gue mau ke NICU.” Langit buru-buru beranjak dari duduknya sebelum teman-teman menyebalkannya itu terus mendesaknya.
“Ehh, mau ke mana lo? Pertanyaan gue belum lo jawab.” Sahut Albi meraih pergelangan tangan Langit. Namun, dengan cepat Langit menepisnya.
“Bekas makanannya jangan lupa dibersihin. Mejanya juga dilap, jangan sampai ada kotoran yang tersisa.” Pesan Langit sebelum kemudian benar-benar pergi dari ruangan, mengabaikan seruan keempat temannya yang mencegahnya untuk pergi.
“Ya elah, si kambing malah kabur. Gak sopan banget ninggalin orang tua di sini.” Gerutu Bian.
“Kalau ngelak gini pasti bener tuh kambing lagi deket sama betina.” Ujar Bisma menerka-nerka sambil mengacung-acungkan satu jari telunjuknya.
“Siapa?” Kini Biru angkat bicara, pandangannya menatap lurus pada Albi, mengingat tadi laki-laki itu membahas si rambut warna warni dan si rambut normal. Dan Birunyakin itu seorang gadis.
“Kepo.” Albi turut beranjak dari duduknya dan bersiap-siap untuk meninggalkan ruangan.
“Udah ahh, gue mau jenguk dede bayi dulu.” Lalu si Dokter Spesialis Ob Gyn itu berlalu begitu saja dengan senyum mengembang. Puas melihat wajah penasaran teman-temannya itu.
********
Setelah meghabiskan waktu sekitar kurang lebih dua jam di pesawat. Akhirnya Shien sampai di Bandara Ngurah Rai, Bali, dengan wajah ditekuk masam. Bagaimana tidak, Shanna menipunya dan membiarkan ia pergi bersama Papa dan Mama. Hanya bertiga. Sementara Shanna tadi meninggalkannya begitu saja saat mereka sudah mengantre di gate keberangkatan. Lebih parahnya, dia tersenyum lebar dan melambaikan tangan pada Shien, seolah mengatakan “Selamat bersenang-senang.”
Shien menghentakkan kakinya. Menyebalkan. Ternyata semua ini rencana Shanna. Shien sadar betul sekarang.
Awas saja saat ia pulang nanti. Shien tidak akan meminjamkan Shanna kartu hitamnya lagi.
Kedatangan mereka langsung disambut oleh petugas hotel yang akan menjemput dan membawa ke hotel tempat mereka menginap yang sudah Papa booking.
Mereka bertiga lantas menaiki mobil. Suasana terasa canggung. Ini pertama kalinya setelah enam belas tahun berlalu Shien duduk sendirian dengan kedua orang tuanya, dalam artian tanpa ada Shanna di tengah-tengah mereka.
Walaupun Shien sudah mulai menerima kehadiran Papa dan Mama, tapi suasana seperti ini masih terasa asing baginya. Shien belum terbiasa. Sementara Mama merasa Shien tidak cukup nyaman dengan dengan perjalanan mereka.
“Shi. . . .” Panggil Mama, membuat Shien menoleh. Wajahnya yang ditekuk berubah datar.
“Kenapa?” Mama lantas menyelipkan beberapa anak rambut Shien yang berantakan ke belakang telinga gadis itu.
“Kamu gak suka kita cuma pergi bertiga?” Raut wajah Mama terlihat sedih.
Shien bergeming sejenak, kemudian menggeleng lemah. Bukan tidak suka, Shien hanya tidak tahu apa yang akan dilakukannya jika tanpa Shanna di sisinya. Tujuh hari ke depan pasti akan sangat canggung untuknya.
Papa dan Mama memanglah orang tuanya. Tapi, enam belas tahun tanpa berkomunikasi dengan mereka, Shien jadi merasa Papa dan Mama seperti orang baru baginya. Perlu penyesuaian yang ekstra untuk bisa dekat kembali.
“Terus kenapa wajah kamu ditekuk kayak gini, hem?” Tanya Mama hati-hati dengan sebelah tangan memberi usapan lembut pada sisi wajah gadis itu.
Shien menghembuskan napas lemah, sebelum kemudian berdalih. “Aku. . . ., cuma agak capek.”
Mama bernapas lega mendengarnya. “Ya udah, kalau capek kamu tidur aja.”
“Iya, Shi. Kalau kamu capek bisa tidur dulu. Dari sini ke Seminyak butuh waktu dua puluh menit. Nanti Papa bangunin kalau udah sampai.” Timpal Papa yang duduk di kursi depan, beliau menoleh sekilas untuk mempertemukan pandangannya dengan Shien.
Shien lantas mengangguk tanpa bersuara. Ia kemudian menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dengan wajah berpaling ke luar jendela mobil. Sepertinya pura-pura tidur lebih baik daripada ia harus terjebak dalam suasana canggung bersama orang tuanya.
********
To be continued. . . .
__ADS_1