So In Love

So In Love
EP. 96. Adik Ipar


__ADS_3

********


Langit menggeliat dalam tidurnya saat cahaya matahari masuk menembus gorden kamar dan menerpa kelopak matanya. Ia mengerjap-erjap, merasakan silau yang berhasil mengusik tidurnya.


Niat hati ingin menarik selimut untuk menutupi wajahnya agar terhindar dari cahaya matahari dan melanjutkan tidur, tapi ia urungkan saat merasakan keanehan dalam posisi tidurnya. Merasa ada sesuatu yang ia peluk, tapi bukan guling.


Mengerjap lagi, Langit masih berusaha mengumpulkan kesadarannya. Ia meringis saat mencoba untuk bangkit dari pembaringan, kepalanya benar-benar terasa pengar.


Perlahan, ia membuka kelopak matanya hingga netra kelam itu terbuka sempurna. Ia amati seluruh sudut ruangan. Terlihat tidak asing. Jelas, ini adalah kamar di apartemen miliknya.


Langit merasakan dagunya berada tepat di atas kepala seseorang, lalu ia gerakan kepalanya sedikit ke bawah, dan terkejut saat menyadari bahwa ia tidur meringkuk sambil mendekap seseorang. Seorang gadis.


Gadis itu sedang tidur lelap memungunginya. Tidak tahu siapa. Tapi yang yang jelas rambutnya panjang.


Seketika jantungnya berdendum hebat. Ia berusaha membuka memori tadi malam setelah ia pergi dari taman bermain.


Langit ingat. Ia pergi ke klub malam, bermaksud untuk menghibur dirinya sebentar. Setelah itu, ia bertemu dengan Mia, Perawat yang bekerja satu tim dengannya. Langit tidak menyangka, gadis yang terlihat polos dan kalem seperti Mia ternyata tongkrongannya tempat seperti itu.


Ahh, lupakan. Langit menggelengkan kepalanya karena malah bergosip di dalam hati. Lalu apa yang terjadi setelah ia bertemu Mia? Ahh, iya. Langit duduk di meja yang sama dengan gadis itu, lalu Mia memesankan cocktail dengan kadar alhohol rendah, padahal Langit tidak memintanya. Langit memang terkadang pergi ke klub malam, tapi ia tidak pernah menyentuh apalagi meminum minuman beralkohol.


Dan karena Mia terus memaksa, ditambah perasaannya sedang kacau. Langit akhirnya meminum itu. Hanya seteguk, dan ia tidak ingat apa-apa lagi setelahnya.


Langit hanya ingat sesuatu. Ia ingat dalam tidurnya, ia bermimpi melihat Shien ada di kamarnya, lalu berciuman panas. Ahh, bukan hanya itu. Lebih dari sekedar berciuman, ia juga menurunkan dress yang dikenakan Shien dan tangannya menjelajah ke mana-mana. Ia mengira itu mimpi basah, tapi. . . .


Langit melirik sekali lagi pada gadis yang masih di dekapnya.


Oh, ya ampun!


Langit tersentak dengan kedua mata membola sempurna. Wajahnya langsung memucat saking terkejutnya. Langit berpikir, jangan-jangan itu bukan mimpi.


Lebih parah dari mimpi. Jangan-jangan ia salah mengira gadis lain dan melihatnya sebagai Shien. Dan apa yang sudah ia lakukan tadi malam?


Buru-buru Langit melongok pada balik selimut. Wajahnya menegang saat mendapati bajunya sudah berganti dengan kaos putih polos yang biasa ia kenakan untuk tidur dan pada bagian bawahnya hanya menggunakan boxer berwarna hitam saja.


Lalu gadis yang sedang ia peluk. . . , hanya menggunakan kemeja putih miliknya tanpa bawahan. Dan karena tadi malam ia hanya bertemu Mia. Itu berarti. . . .


Langit salah mengenali Mia sebagai Shien, dan ia sudah melakukan sesuatu di luar batas tadi malam karena mabuk?


Ahh, Langit ingin mati saja sekarang juga. Seketika ia merutuki dirinya sendiri karena sudah coba-coba minum minuman beralkohol.


Sial.


Langit segera menarik kedua tangannya yang melingkar di perut gadis itu dan bangkit duduk seraya menjauhkan tubuh.


Memandangi sejenak punggung gadis yang ia kira Mia, ia tak lantas membangunkannya. Ia tidak siap melihat gadis itu. Lebih tepatnya, sangat tidak ingin.


Langit lalu memijat keningnya yang terasa lebih pening daripada saat ia bangun tadi. Ingatan tentang kejadian semalam begitu rancu. Rasanya, Langit tidak ingin mempercayai kenyataan bahwa ia sudah menodai anak gadis orang. Benarkah? Benarkah ia sudah melakukan itu?


Bagaimana kalau Shien tahu? Itulah yang pertama terlintas dalam benaknya saat ia sadar terbangun dengan gadis lain di atas tempat tidurnya. Langit sudah bersumpah tidak akan menyakiti Shien lagi. Tapi sekarang, karena kecerobohannya, sekali lagi Langit sudah menyakiti Shien. Dan kali ini mungkin tidak termaafkan.


Di saat ia masih dilanda rasa panik, terkejut, takut, dan pusing yang bercampur jadi satu. Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan masuklah satu lagi perempuan yang menatapnya meminta penjelasan.


“Lang, ini udah hampir jam sebelas. Libur tahun baru mana boleh cuma dipake buat tidur–”


Senja mengerjap, speechless. Menyoroti sang adik yang masih bergeming, duduk di atas tempat tidur dengan seorang gadis masih terlelap tepat di sebelahnya. Tempat tidur yang awut-awutan serta penutup dada yang tergeletak di lantai membuat pikiran Senja yang semula liar semakin liar.


“Kak–”


“Bundaaaaaa.”


Teriakan Senja menyela Langit yang baru saja membuka mulutnya untuk menjelaskan sesuatu.


Langit semakin panik. Siapa yang Senja bilang barusan? Bunda? Bunda ada di sini juga?


Shit.


Matilah Langit. Apa yang akan ia jelaskan jika wanita yang sudah ia anggap ibunya sendiri itu melihat semua kekacauan ini? Langit sendiri masih bingung karena ingatan tentang kejadian semalam belum begitu jelas.


“Bunda lagi beresin makanan buat Langit. Kamu kenapa, kok malah teriak-teria– oh ya ampun. . . .”


Bunda yang baru saja datang langsung menekap mulutnya yang terperangah, matanya melebar sempurna begitu melihat pemandangan di depannya.


“Langit, kamu. . ., ya ampun, Bunda khawatir kamu kecapekan karena sibuk kerja, makannya kata Papa kamu sampai gak bisa pulang. Tapi ternyata kamu sibuk kayak gini.” Omel Bunda, tidak tahu lagi harus berkata apa.


Bunda sama sekali tidak menyangka jika Langit dengan segala perilaku lurusnya sudah melakukan hal seperti ini. Bunda tahu kalau Langit pernah tinggal di Amerika hampir sembilan tahun, dan mungkin mengikuti gaya hidup kebarat-baratan. Tapi Bunda juga sangat tahu kalau Langit masih tahu batasan untuk sampai tidak tidur bersama sebelum ada ikatan yang pasti. Bunda juga selalu mewanti-wantinya mengenai hal itu.


“Bun, aku. . . .”


“Dan itu. . . .” Bunda menunjuk-nunjuk Shien yang masih tidur di sebelah Langit. “Dia siapa?”


“Aku juga gak tahu, Bun.” Jawab Langit lemah dengan memasang tampang bingung. Ia memang mengira gadis yang tidur bersamanya adalah Mia, tapi ia tidak yakin karena belum memastikannya.

__ADS_1


Bunda semakin terperangah. Begitu juga dengan Senja.


“Kamu udah tidur sama dia, tapi kamu masih bilang gak tahu?” Kali ini Senja menimpali.


“Aku gak tahu, Kak. Semalem aku mabuk, terus pas aku bangun udah kayak gini.” Sahut Langit berterus terang. Ia menatap Bunda dan Senja bergantian dengan tatapan frustrasi, menandakan bahwa hati dan pikiran laki-laki itu memang sedang kacau. Kacau karena tahu-tahu terbangun bersama seorang gadis di sampingnya tanpa mengingat apapun dengan jelas sebelumnya.


“Lang, Kakak tahu kamu gak biasa mabuk.” Ujar Senja heran.


Langit menyugar rambutnya kasar, lalu kembali menggeleng lemah. “Aku lagi pusing semalem. Aku kepikiran Shien yang gak pulang, terus aku ke klub, coba-coba minum, dan. . . .” Menghembuskan napas lemah, Langit tidak sanggup lagi melanjutkan kalimatnya.


“Dan berakhir tidur sama cewek sembarangan? Itulah kenapa selama ini Papa selalu larang kita buat ngejauhin alkohol walaupun dia ngebebasin kita, Lang.” Sambar Senja cepat dan marah tentunya. Sementara Langit hanya bungkam dengan wajah lesu. Ini sudah terlanjur terjadi. Apa yang bisa ia katakan lagi?


“Gimana kalau dia ham–”


“Senja.” Bunda memotong ucapan Senja.


Rasanya ia tidak sanggup mendengar kalimat itu. Langit sudah seperti anak kandungnya sendiri yang ia ikut rawat dari kecil. Bahkan Bunda yang menemani Langit di rumah sakit setelah anak itu disunat. Bunda tahu bagaimana pertumbuhan dan perkembangan Langit dari hari ke hari. Jadi membayangkan seandainya Langit menghamili gadis yang tidak jelas, hatinya tidak terima.


Senja mendengus sebal. Lantas dengan geram ia berjalan ke arah tempat tidur Langit, bermaksud untuk membangunkan gadis yang masih tidur lelap di ranjang adiknya itu. Bunda membuntutinya.


“Shien masih di Amerika dan dia pasti kembali suatu saat. Tapi berani-beraninya kamu malah mabuk terus tidur sama cewek la–” Mata Senja membelalak kaget begitu melihat seseorang yang dirasa tidak asing saat ia menghampiri gadis itu.


“Shien?” Senja menatap Shien yang masih terlelap tenang itu dengan kening berkerut dalam. Memastikan jika gadis itu benar-benar Shien.


Senja memang tidak pernah bertemu secara langsung dengan Shien. Tapi ia mengenali wajahnya karena pernah melihat Shien dari foto yang Langit tunjukan beberapa bulan lalu. Memang sedikit berbeda, namun tidak signifikan, sehingga Senja masih bisa mengenalinya. Menurut Senja, visual aslinya lebih cantik dan yang membuatnya tampak berbeda hanya rambut Shien yang panjang, sementara di dalam foto dipotong pendek.


“Shien?” Tanya Langit diiringi kening mengernyit, berusaha mencari maksud ucapan sang kakak.


“Apa maksud kamu, Senja? Dia siapa?” Bunda tak kalah heran, juga penasaran dengan gadis cantik yang sepertinya sama sekali tidak terganggu dengan keributan yang sedang terjadi.


“I– ini Shien, Bun.” Ucap Senja gelagapan, antara yakin dan tidak yakin.


“Ya?” Sahut Langit dan Bunda bersamaan. Tapi hati Langit langsung berdesir, jantungnya sudah berpacu dengan hebat lagi. Namun ia masih harus memastikannya, ia akan sangat bersyukur kalau yang tidur bersamanya adalah Shien.


“Lang, ini Shien, kan?” Tanya Senja memastikan.


Lantas tanpa menjawab pertanyaan sang kakak, Langit buru-buru mendekati gadis itu kembali dan membaliknya hingga posisi Shien kini telentang.


Langit langsung mengucek mata dan mengerjapkannya beberapa kali untuk memastikan penglihatannya tidak salah.


Seketika Langit langsung bernapas lega. Ia tidak peduli apa yang sudah terjadi tadi malam. Asalkan itu bersama Shien, itu tidak apa-apa.


“Shi. . . .” Langit mengguncang bahu Shien lembut.Walau bagaimanapun, ia harus membangunkan Shien dan tetap menanyakan apa yang sudah terjadi tadi malam dan bagaimana bisa Shien ada bersamanya?


“Orang mabuk mana sadar, Bun.” Sindir Senja sebal. Ia masih kesal dengan sang adik yang sudah berani-beraninya menyentuh minuman yang bisa membuat siapa saja yang mengkonsumsinya kehilangan kesadaran itu


Tapi, dalam hati Senja juga merasa sedikit lega. Jujur, ia tidak akan terima jika adiknya tidur dengan perempuan tidak benar, seperti halnya perempuan bayaran. Senja bergidik, mana mau ia memiliki adik ipar seperti itu.


“Udah deh, Kak, diem dulu. Biarin aku bangunin Shien dan mastiin apa yang terjadi sebenarnya.” Langit berujar sengit.


“Hiliih, udah jelas kamu nidurin dia. Dua orang dewasa tidur di ranjang yang sama, gak mungkin cuma tidur doang.” Sahut Senja bersungut-sungut. “Udah ahh, kakak mau telepon Papa, biar dia lihat kelakuan anak kesayangannya kayak gimana.” Sambungnya seraya mengeluarkan ponsel dari tas selempang yang dikenakannya. “Ohh, iya. Shien anaknya Om Sendy, kan? Sekalian kakak suruh Papa ajak dia ke sini biar kalian langsung ditindaklanjutin. Tanggung jawab kamu, Lang.”


“Kak–” Teriak Langit, bermaksud ingin melarang Senja melakukan itu. Tapi Senja malah mengedik tak peduli sambil bergerak melangkah untuk keluar dari kamar setelah sebelumnya dia melemparkan senyuman licik pada Langit. Dan Langit seperti memiliki firasat buruk kalau-kalau kakaknya itu akan memanfaatkan situasi ini untuk menyudutkannya.


Langit hendak beranjak untuk mencegah Senja menelepon Papa, tapi gadis yang sedang tertidur di bawah gulungan selimutnya itu tiba-tiba melenguh, menggeliat kecil seperti bayi sambil mengerjapkan matanya sebelum kemudian sadar dan membuka mata jernih itu dengan sempurna.


Shien menatap Langit dengan tatapan polos, tapi itu tidak berlangsung lama sebelum kemudian Shien beranjak duduk, lalu memukul kepala Langit menggunakan bantal dengan kesal tanpa menyadari ada Bunda yang sedang melayangkan tatapan tajam padanya.


“Shi. . . , beneran, aku gak inget jelas apa yang udah terjadi semalem. Aku mungkin udah ngelakuin sesuatu di luar batas sama kamu, aku minta maaf, dan aku pasti tanggung jawab.” Langit menahan bantal kedua yang hendak Shien layangkan di kepalanya.


Shien mendelik sebal dengan wajah merengut saat mendengar ucapan Langit yang seperti sedang meracau baginya.


“Kamu berani-beraninya. . . .” Kali ini Shien memukul lengan bahu Langit menggunakan tangannya sendiri.


“Iya aku minta maaf.” Cicit Langit. Ia pikir, sepertinya memang sudah terjadi sesuatu di antara mereka. “Tapi, kamu kapan pulang, Shi? Aku kira kamu gak akan datang tadi malam.” Tanyanya kemudian. Sudah sejak tadi ia dirundung penasaran tentang kapan gadis itu kembali dan berakhir tidur bersamanya.


Sementara Bunda memilih untuk tidak angkat bicara dan memperhatikan dua anak muda di depannya terlebih dahulu.


“Aku cuma telat satu jam, dan kamu gak nunggu aku?” Dumel Shien.


“Jadi tadi malam kamu datang ke taman?” Tanya Langit memastikan.


Shien memutar bola matanya malas. “Kalau gak datang, aku gak mungkin berakhir di sini.” Ujarnya ketus.


“Tapi semalem aku. . . ., maksud aku, eung. . . .” Langit menggaruk kepalanya dengan tampang bingung.


“Semalem bukannya nunggu aku, tapi malah mabuk sama cewek lain, iya?” Sambung Shien mengingatkan. Jangan lupakan delikan sebalnya tetap ia berikan pada Langit.


“Enggak! Aku gak sengaja ketemu Mia di sana.” Kilah Langit cepat. Well, Shien sudah tidak terlalu mempermasalahkan itu. Ia percaya kalau Langit tidak bermain-main dengan gadis lain. Tapi Shien masih kesal karena Langit tidak menunggunya dan malah mabuk.


“Tapi, kamu tahu dari mana aku ada di S Bar?”

__ADS_1


Shien mendengus kesal. Kesal karena ia jadi teringat lagi dengan gadis bernama Mia yang bersama Langit tadi malam.


“Cewek itu jawab telepon aku, bilang kalau kamu ada di sana, terus aku susulin dan bawa kamu pulang.” Jelas Shien malas. Sekarang Langit mengerti kenapa Shien tiba-tiba ada bersamanya. Tapi itu belum selesai . . . .


“Terus?” Tanya Langit lagi, merasa Shien belum tuntas memberinya penjelasan. Ya, Langit masih butuh penjelasan untuk mengetahui kejelasan apa yang terjadi setelah Shien membawanya pulang.


“Terus apanya? Gak ada terusnya. Aku bawa kamu pulang ke sini, udah beres.” Sahut Shien berujar sengit.


Dan Langit menyadari sesuatu. Sejak kapan gadisnya menjadi cerewet dan banyak bicara seperti ini? Mungkinkah karena jantung Shanna? Ahh, masa bodoh. Langit tidak peduli. Yang penting Shien sudah kembali padanya.


“Terus. . . , itu. . ., ehem. . . .” Langit gelagapan, ia berdehem, lalu takut-takut melirik Bunda yang masih berdiri sambil bersedekap di sisi ranjang. Wanita itu mengerjapkan mata sambil mengangguk pelan, seolah memberi kesempatan pada Langit untuk melanjutkan apa yang ingin ditanyakannya.


“Apa sih?” Tanya Shien bingung.


“Itu, tadi malam aku ada apa-apain kamu, gak? Kita. . . , gak sekedar tidur bareng, kan?” Tanya Langit menekankan kata ‘tidur bareng’.


Shien mengerjap. Ia mengerti maksud dari pertanyaan Langit.


“O-oh. . ., itu.” Shien seketika berubah gugup. Tubuhnya tahu-tahu bergerak gelisah dan beringsut mundur. “Tidur doang, kok.”


Ingatan Shien berputar ke beberapa jam yang lalu, tepatnya tadi malam. Ia dan Langit memang hanya menghabiskan malam dengan tidur bersama, dalam artian benar-benar tidur. Tidak terjadi apa-apa seperti yang Langit duga.


Okay ralat. Mereka memang hampir melakukan itu. Langit bahkan sudah menurunkan dress dan melucuti pakaian dalam di bagian atas tubuh Shien. Tapi kegiatan mereka terhenti karena Langit tiba-tiba muntah dan tidak sempat pergi ke kamar mandi, sehingga Langit memuntahkan hampir seluruh isi perutnya tepat di atas tubuh Shien. Hal itu juga mengotori tubuhnya sendiri dan juga sprei.


Alhasil, semalaman Shien mencak-mencak dan tidak berhenti menggerutu pada Langit karena ia harus mandi malam-malam, terpaksa harus membersihkan kasur Langit dan mengganti spreinya, dan yang paling menyebalkan adalah Shien juga harus membersihkan tubuh Langit serta mengganti pakaiannya karena laki-laki itu sangat bau.


Muntahannya berceceran ke mana-mana dan mengenai semua benda yang ada di sekitarnya termasuk baju Shien, sehingga terpaksa lagi ia harus memakai kemeja milik Langit yang ia ambil dari lemarinya secara random karena Shien tidak menyimpan pakaian di unit apartemennya yang ada di sebelah unit milik Langit.


Dan untuk tidur seranjang dengan Langit, itu karena Shien sudah terlalu lelah ingin mengistirahatkan tubuhnya yang nyaris belum istirahat sama sekali setelah kepulangannya dari Amerika.


“Jangan bohong, Shi.” Seru Langit tak percaya. Begitu pun dengan Bunda yang manggut-manggut setuju dengan seruan Langit. Ia juga tidak percaya.


“Gak bohong. Gak ada untungnya juga buat aku.” Shien mendelik sewot.


“Kalau gak bohong, kenapa kamu bisa tidur di kasur sama pake baju aku? Baju aku juga bukan yang kemarin aku pake. Kamu yang ganti, kan?”


“Itu karena kamu muntah. . . .”


Shien lantas menjalaskan kenapa pakaian Langit sudah berganti dan ia memakai pakaian Langit. Hanya perihal Langit muntah dan dibumbui sedikit kebohongan. Shien tidak ingin menceritakan bahwa mereka hampir melakukan ‘itu’ karena Lagit sendiri tidak ingat.


“Apa kamu harus melepas ini dan membuangnya ke lantai, Shi? Ini masih bersih.” Suara seorang wanita yang terdengar begitu tegas membuat Shien langsung menoleh dan tersentak dengan mata bola mata melebar selebar-lebarnya.


Wanita paruh baya yang kira-kira seusia ibunya, sedang berdiri di sisi kanan ranjang sambil mengacung-acungkan kain penutup dada miliknya yang semalam dilempar Langit dan ia lupa mengambilnya.


Tapi. . .


Sejak kapan wanita itu ada di sana? Siapa dia? Wajahnya terlihat tidak asing.


Ahh, masa bodoh asing atau tidak. Yang jelas, Shien sangat malu sekarang. Ia lantas melirik Langit dan melayangkan tatapan protes, seolah dari pancaran matanya itu mnegatakan seharusnya Langit memberitahu kalau ada orang lain bersama mereka.


“Dia Bundanya Jingga yang udah kayak Bunda aku juga.” Bisik Langit yang salah tanggap. Tapi, Shien memang membutuhkan informasi itu.


Shien menatap Bunda dengan memasang wajah tegang. Padahal, ia tidak melakukan kesalahan. Tapi kenapa ia merasa sedang disudutkan seperti ini?


“Jadi, kamu Shien yang sering Langit ceritain itu?” Tanya Bunda tersenyum ramah, wanita itu lantas bergerak dan duduk di samping Shien.


“I-iya, Tante.” Jawab Shien gugup. Duuh. Tolong keluarkan Shien dari situasi ini sekarang juga.


“Kamu boleh panggil Bunda. Tante udah seperti Bundanya Langit.” Bunda mengusap lembut lengan bahu Shien.


“Kamu gak usah takut. Cerita sama Bunda, apa yang udah Langit lakukan sama kamu? Kamu mungkin gak mau cerita karena Langit melakukan itu di bawah pengaruh alkohol dan tanpa sadar. Iya, kan?”


“Tapi, kami gak melakukan apa-apa, Tante.”


“Tapi Bunda percaya dengan apa yang Bunda lihat. Kalian dua orang dewasa tidur di tempat yang sama, terus penampilan kamu kayak gini. Siapa yang akan percaya kalau gak terjadi sesuatu?”


Ohh, Shien ingin menangis sekarang juga. Ia sudah berkata jujur. Kenapa wanita ini tidak mau percaya?


“Tap–”


“Bener tuh, Bun.” Sahutan seseorang yang tiba-tiba masuk langsung membungkam mulut Shien yang baru saja terbuka untuk menyanggah.


Mata Shien mengikuti gadis cantik yang wajahnya mirip Langit, sedang bergerak mendekatinya. Siapa lagi itu? Ahh, kepala Shien mulai pusing sekarang. Rasanya ia ingin pingsan saja.


“Adik ipar. Kamu ganti baju dulu.” Senja menyerahkan goodie bag berisi pakaian miliknya yang baru saja ia ambil dari mobil pada Shien yang sedang menatapnya bingung.


“Papa sama Om Sendy lagi on the way ke sini.” Ucap Senja sambil mengerlingkan matanya penuh arti pada Langit dan Shien.


“Siap-siap kena damprat kamu sama calon mertua.” Lanjut Senja sambil menoyor kepala Langit, lalu tertawa puas.


********

__ADS_1


To be continued. . . .


__ADS_2