
********
“Kak. . . .” Sapa Shien di balik punggung kakak iparnya, Senja, yang sedang sibuk memotong buah untuk membuat smoothies, untuk sarapan putranya, Biel, karena anak itu tidak suka makan nasi.
Memang selalu seperti ini. Senja selalu terbangun lebih dulu daripada Shien saat berkunjung menginap di rumah Papa. Awal-awal Shien merasa canggung dan tidak enak hati. Tapi lama-kelamaan menjadi terbiasa. Shien bahkan senang karena Senja mengambil alih tugasnya untuk menyiapkan sarapan dan ia hanya sedikit membantu. Begitu pula dengan makan siang dan makan malam, Senja yang selalu lebih giat menyiapkannya jika sedang berada di sana.
Mau bagaimana lagi? Saat Langit libur, Shien akan sulit melepaskan diri darinya. Langit sudah seperti bayi, bedanya mungkin Langit adalah bayi besar yang tidak ada lucu-lucunya sama sekali. Dan beruntung Senja mengerti dan bukan tipe orang yang bersikap seperti tamu saat berkunjung ke rumah orang tuanya sendiri. Shien merasa beruntung mendapatkan Senja sebagai kakak iparnya.
“Udah bangun, Shi?” Tanya Senja tanpa mengalihkan perhatian dari kegiatannya memotong buah.
“Hmm.” Sahut Shien sambil memakai apron untuk membantu Senja. “Aku bantu apa, Kak?” Tanyanya setelah berdiri di samping Senja.
“Sarapannya udah siap semua di meja. Kamu sih kesiangan. Pasti Langit minum susu lagi, ya?” Ujar Senja meledek, dan itu seketika membuat wajah Shien memanas hingga rona merah timbul di pipinya.
Masih terukir jelas dalam ingatan Shien. Betapa malunya ia saat awal-awal pernikahan dulu, Senja masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu karena alasan lupa kalau sang adik sudah menikah, dan kemudian melihat Langit sedang bermain-main dengan dadanya.
Ahh, sial. Shien masih malu sampai sekarang. Mungkin juga akan malu seumur hidup.
“Ehem. . . .” Shien berdehem untuk menghilangkan kekikukkannya. “Apaan sih, Kak?” Cicitnya sambil menunduk malu, lalu mengalihkan perhatian dengan meraih pisau dan pisang, kemudian dipotong-potongnya buah yang kaya akan vitamin tersebut.
Shien sedikit merengut. Senja memang menyebalkan seperti Langit. Sama-sama suka menggodanya.
“Ciyee, malu. Gak usah ngalihin perhatian pake potong pisang segala, kali.” Senja rupanya masih betah meledek adik iparnya itu. “Udah simpan lagi. Segini udah cukup, kok, buat Biel.” Ujar Senja seraya menunjuk piring berisi potongan pisang dan mix berry yang siap di blender.
“Tambahin aja, Kak, buahnya. Aku sekalian mau minta buat Langit. Dari kemarin dia gak bisa makan soalnya.” Ujar Shien sambil berjalan ke arah lemari es untuk mengambil strawberry sebagai tambahan setelah menyelesaikan kegiatan memotong pisangnya.
“Lho, kenapa? Tumben, biasanya paling banyak kalau makan?” Tanya Senja heran, matanya bergerak seiring dengan pergerakkan Shien.
Shien mendesah pelan dengan tangan sibuk mencuci buah berwarna merah yang kaya akan antioksidan itu, lalu kembali menghampiri Senja.
“Gangguan pencernaan. Katanya perutnya gak enak, Langit juga mual sama muntah parah dari kemarin. Cium bau daging sama ikan langsung muntah, habis itu dia cuma bisa makan sayur sama buah. Tapi malemnya muntah lagi, tadi pagi pas bangun juga.” Terangnya kemudian, raut wajahnya menampakkan penuh kekhawatiran.
“Udah berapa hari?” Tanya Senja memastikan.
“Dari kemarin, Kak.”
“Terus, kamu udah periksa?” Tanya Senja lagi.
Shien menggeleng pelan. “Kayaknya aku harus bawa dia ke rumah sakit hari ini.”
Namun sepertinya Shien salah tanggap akan pertanyaannya, karena bukan itu jawaban yang diinginkan Senja.
“Iya. Ajak dia ke Dokter kandungan, terus kamu yang periksa.” Sahut Senja, kini ia merubah posisinya dengan bersandar pada kabinet bawah. Ia menatap Shien serius.
“Lho? Kok Dokter kandungan? Ngaco kakak, nih.” Shien berdecak geli dan mulai memotong strawberry dengan membelahnya menjadi dua bagian.
“Kamu kayaknya hamil deh, Shi.” Senja merebut pisau dapur dari tangan Shien agar adik iparnya itu lebih fokus mendengarkannya.
Shien mengerjap, lalu menatap Senja dengan tatapan geli. “Gak mungkin, lah. Aku masih konsumsi pil kontrasepsi sampai sekarang.” Sanggahnya kemudian, sedikit menurunkan nada suaranya dan melirik sekitar dengan tatapan waspada, takut-takut Papa Wijaya mendengarnya dan kecewa.
“Kakak lihat kamu juga gendutan, terus makan kamu banyak, malem aja kamu ngendap-ngendap ke dapur terus makan camilan sama Biel. Iya, kan?”
Shien mengerjap lagi. Dari mana Senja tahu? Seingatnya ia sangat berhati-hati saat berjalan agar tidak membangunkan orang rumah. Ia juga membekap mulut Biel yang tidak sengaja keluar bersamaan dari kamar dan menggendongnya agar anak itu tidak cerewet.
“Gak udah dipikirin kakak tahu dari mana.” Senja mengusap penuh wajah Shien yang terbengong-bengong dengan gemas.
__ADS_1
“Ya aku lagi enak makan aja, Kak. Gak bisa dong kakak jadiin banyak makan sebagai patokan aku hamil atau enggak? Biel kan juga banyak makannya dan suka ngemil.” Protes Shien yang masih tak terima dirinya dikatai hamil.
“Tapi waktu kakak hamil Biel, Bintang kayak Langit gitu, Shi. Kehamilan kakak gak terlalu rewel. Tapi Bintang yang kerepotan morning sickness sama ngidam, lebih parah dia cengeng banget lagi, apa-apa nangis, dikit-dikit nangis.” Ujar Senja yang teringat kehamilan pertamanya dulu yang tidak serepot kehamilan kedua.
“Tapi aku masih minum pil kontrasepsi, Kak.” Shien kembali menegaskan dan mengingatkan.
“Bisa jadi kebobolan. Banyak, kok, kasus kayak gitu.” Sahut Senja. Shien terdiam dengan wajah gamang. Ia tidak ingin mempercayainya karena itu tidak mungkin terjadi padanya.
“Datang bulan kamu gimana?” Tanya Senja kemudian.
Shien mendudukkan dirinya di meja kabinet, matanya menerawang, mengingat-ingat kapan terakhir kali ia datang bulan. Dan terakhir kali itu terjadi adalah setelah resepsi pernikahannya. Selama dua bulan ini ia tidak mendapatkannya, begitu pun dengan bulan ini.
“Dua bulan ini aku telat menstruasi, sih.” Mata Senja berbinar senang mendengar itu. Sudah pasti hipotesisnya benar. “Tapi itu bisa aja karena pengaruh pil kontrasepsi. Terus waktu aku umur tujuh belas tahun juga pernah telat sampai tiga bulan. Jadi itu juga gak bisa dijadiin patokan.” Imbuh Shien kemudian.
“Enggak!” Sambar Senja dengan nada suara satu oktaf lebih tinggi hingga membuat Shien berjengit kaget. “Ini fix. Pasti kamu hamil.” Sambung Senja sambil mengacung-acungkan jari telunjuknya di hadapan wajah Shien.
“Kak, gak mung–”
“Shuut! Udah kamu jangan ngapa-ngapain, duduk di meja makan sana. Kakak mau telepon Biru buat nitip beliin testpack.” Senja dengan heboh lantas mengambil ponsel yang disimpan di saku apronnya, lalu menghubungi Biru yang kebetulan dalam perjalanan ke rumah Papa Wijaya untuk mengantarkan berkas Ayah pada Bintang.
Shien mendesah pasrah melihat kehebohan kakak iparnya itu. Dan Semakin bertambahlah baban pikirannya. Bagaimana kalau sampai Senja salah menerka dan hasilnya tidak hamil? Mungkin dia akan kecewa, begitu pun dengan Shien sendiri karena di dalam hati kecilnya ia juga sedikit berharap jika kenyataan itu benar.
********
Tidak sampai setengah jam, Biru sudah tiba di kediaman mereka. Laki-laki itu langsung diseret Senja ke ruang makan setibanya di sana. Bintang yang saat itu baru bergabung terheran-heran melihat Senja yang heboh menarik tangan Biru, bahkan membimbingnya duduk di meja makan.
“Mana?” Senja menadahkan tangan, menagih pesanannya.
“Kak Senja hamil lagi?” Tanya Biru seraya menyerahkan kantong plastik berisi testpack yang tadi ia beli di apotik dalam perjalanannya ke sini.
“Sayang?” Bintang menatap Senja penuh tanya begitu melihat kemasan testpack digital yang dikeluarkan Senja dari kantong plastik pemberian Biru. “Kamu hamil lagi?”
“Wahh, yang bener, Shi? Selamat, ya.” Biru ikut berbinar senang. Akhirnya sahabat laknatnya akan menyusul menjadi Ayah seperti dirinya. Biru tahu betul kalau Langit sangat menginginkan hal itu. “Kemarin aku sempat nebak kalau Langit ngalamin gejala kehamilan simpatik. Ehh, dugaan aku bener ternyata.”
“Kan belum dicek, Kak. Jangan bilang selamat dulu.” Protes Shien memasang wajah juteknya. “Terus kehamilan simpatik itu apa?” Tanyanya kemudian, itu terdengar menarik sehingga ia ingin tahu.
“Duhh, udah deh nanti aja nanyanya. Sekarang kamu cek dulu, ayo aku temenin.” Senja yang heboh langsung membungkam mulut Biru yang baru saja membuka mulutnya untuk menjelaskan. Perempuan itu kemudian menarik lengan Shien dan membawanya ke kamar mandi terdekat yang ada di dapur.
Shien melakukannya sendiri di kamar mandi, padahal Senja memaksa ingin ikut karena sangat penasaran dengan hasilnya. Tapi Shien menolaknya mentah-mentah. Yang benar saja ia harus diperhatikan orang saat buang air? Langit saja tidak pernah melihatnya. Huuh.
Alhasil, Senja hanya bisa menunggu Shien di depan pintu kamar mandi sambil mondar-mandir ke sana ke mari, harap-harap cemas karena sudah hampir sepuluh menit Shien tak kunjung keluar.
“Sh–” Senja yang hendak mengetuk pintu untuk memanggil Shien terurungkan saat tiba-tiba pintu terbuka.
“Mana?” Tagih Senja. Shien dengan lesu menyerahkan benda berbentuk stick dengan layar kecil di tengahnya itu pada Senja.
“Pregnant 7-8.” Senja langsung menekap mulutnya, matanya melebar sempurna seolah tak percaya. Hatinya bungah walaupun bukan ia yang hamil.
“Ya ampun, Shi. Selamat, ya. Akhirnya usaha kalian tiap malem berhasil juga.” Ucap Senja sedikit nyeleneh, lalu berhambur memeluk Shien senang.
Sementara Shien hanya terdiam lesu. Entahlah, ia terlalu terkejut. Tidak tahu bagaimana harus menggambarkannya. Ia senang, tapi juga masih takut. Ini terlalu mendadak.
Senja yang berjingkrak-jingkrak dan mengeluarkan suara heboh sontak menarik perhatian Bintang dan Biru yang ada di ruang makan sehingga menghampiri mereka ke dapur.
“Heboh banget, sih, Kak.” Komentar Biru yang melihat kakak iparnya itu kelewat senang. Namun Senja tidak peduli. Ia memang sangat senang karena akhirnya sang adik mendapatkan apa yang diinginkannya selama ini.
__ADS_1
“Ngomong-ngomong, hasilnya gimana?” Tanya Bintang penasaran seraya menatap Senja dan Shien bergantian meminta jawaban. Lantas Senja tanpa bicara langsung mengacungkan testpack Shien pada dua laki-laki di depannya itu.
“Wahh, selamat, Dek.” Bintang ikut senang. Begitu pun dengan Biru yang kembali memberinya ucapan selamat.
Shien hanya membalasnya dengan senyum dipaksakan. Ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. Bagaimana bisa ia sudah hamil selama itu dan baik-baik saja, padahal terus mengkonsumsi pil kontrasepsi setiap harinya? Bukankah itu berbahaya? Bukannya Shien tidak bersyukur karena dirinya baik-baik saja. Bukan. Hanya saja ini terlalu aneh.
“Tapi masa iya kebobolan selama ini, Shi? Usia kehamilan kamu hampir selama umur pernikahan kalian, lho.” Dan Biru mewakilinya mengungkapkan ganjalan yang ada di dalam hati dan pikirannya. “Bukannya kamu bilang masih konsumsi pil kontrasepsi tiap hari?”
Shien mengangguk yakin. “Aku juga bingung. Pilnya palsu kali, ya?” Ia lantas berjalan menuju kabinet penyimpanan obat untuk mengambil pil kontrasepsi miliknya.
“Tapi ini aku dapat dari Dokter kandungan aku. Masa iya kualitasnya jelek?” Shien menyerahkan botol berisi pil kontrasepsinya pada Biru, memintanya untuk memeriksa pil tersebut.
“Suhu penyimpanan biasanya juga jadi pemicu kebobolan, Shi.” Timpal Senja yang mengetahui hal tersebut dari beberapa artikel yang pernah ia baca.
“Kakak tahu sendiri gimana tempat penyimpanan obat di rumah ini.” Shien mengingatkan kecanggihan rumah Papa Wijaya yang tidak boleh diragukan.
Sementara Biru terdiam seraya memperhatikan lekat-lekat pil yang baru saja ia keluarkan dari botol kecil berwarna putih di tangannya. Sejurus kemudian, bibirnya tertarik ke atas, menyunggingkan senyum yang sulit diartikan semua orang yang melihatnya.
“Ini bukan pil kontrasepsi, Shi.”
Ucapan Biru itu sontak membuat semua orang di sana terkejut dan bingung sekaligus.
“Emang bentukannya agak mirip, tapi aku yakin ini vitamin untuk meningkatkan nafsu makan. Aku juga punya ini di rumah.” Sambung Biru sambil menyerahkan kembali botol obat tersebut pada Shien.
“Vitamin?” Tanya Shien, ia berdecih tak percaya. “Untuk meningkatkan nafsu makan?” Ulangnya kemudian, lalu menyeringai. Ia tahu betul siapa yang melakukan ini.
“Yep. Kerjaan si kunyuk nih pasti.” Sahut Biru menebak. Memang siapa lagi yang akan melakukan hal konyol seperti ini?
“Langiiiiit.” Shien menggeram dalam hati, tangannya menggenggam erat-erat botol obat di tangannya.
Sejurus kemudian, ia merampas testpack dari tangan Senja. “Maaf, Kak.” Lalu beranjak dari dapur untuk pergi ke kamarnya dengan memasang ekspresi tak terbaca sehingga membuat semua orang terheran-heran melihatnya.
********
Sesampainya di kamar, Shien melihat Langit masih meringkuk di bawah gulungan selimut dengan tubuh tanpa busana. Ia lantas menghampiri Langit dengan langkah terburu-buru, kemudian meraih satu bantal untuk memukuli suaminya itu.
“Langit sial–” Shien langsung menghentikan kalimatnya. Ia teringat ucapan Mama yang harus menjaga setiap ucapan saat sedang mengandung.
“LANGIT. IHH. . . .” Shien memukuli Langit dengan bantal secara membabi buta, sehingga membuat laki-laki yang sedang terlelap dalam mimpinya itu terkejut dan langsung membuka matanya.
“Kamu keterlaluan banget, ya? Ihh, ngeselin. . . .” Shien menyibak selimut Langit hingga menampakkan tubuh telanjangnya, kemudian kembali memukulinya sekuat tenaga. Shien tidak peduli dengan jeritan tertahan Langit. Yang jelas saat ini ia benar-benar kesal pada suaminya itu.
“Shi, kamu kenapa? Kok mukulin aku?” Tanya Langit sedikit kesal, ia lantas beranjak duduk dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang terasa dingin karena udara dari pendingin di kamar langsung menerpa kulitnya yang tak berpenghalang.
“Kenapa? Kamu tanya kenapa?” Ucap Shien geram, wajahnya sudah memerah menahan amarah.
“Iya, kamu kenapa? Udah, doong.” Langit merebut bantal yang digunakan Shien untuk memukulinya.
Shien menatap berang sang suami yang sedang mengucek matanya itu. Napasnya terlihat memburu. “Kamu jahat banget, ya?” Suara gadis itu tampak tercekat, Shien hampir menangis. Sejurus kemudian, ia lantas melemparkan testpacknya dan berhenti tepat di pangkuan Langit.
Langit yang masih belum sepenuhnya mengumpulkan nyawa itu mengerjap, berusaha memperjelas pandangannya pada benda yang dilemparkan Shien. “Ngapain kamu bawa stick es krim ke sini? Pagi-pagi kok udah makan es krim sih, Shi?”
Shien mendengus tak percaya. Suaminya sedang berpura-pura bodoh atau memang bodoh?
“Es krim kepala kamu.” Shien menimpuk kepala Langit menggunakan bantal, kemudian beranjak dari kamar setelah sebelumnya ia menyambar tas selempangnya yang tergeletak di atas meja rias.
__ADS_1
********
To be continued. . . .