
********
Hidup di zaman modern memang menguntungkan. Kita hidup dimana orang-orang tergerak oleh bantuan mesin yang cukup mampu meringankan pekerjaan. Termasuk salah satunya adalah keberadaan ponsel pintar. Dengan adanya benda tersebut, kita dapat menghemat waktu kita baik untuk berhubungan dengan orang lain dari jarak jauh sampai dengan layanan pesan antar makanan daring.
Kaum millennials seperti Shanna benar-benar sudah dimanjakan dengan benda pipih itu. Jika dulu ketika lapar, maka pilihannya ada dua. Mau berkorban tenaga untuk membeli makanan di luar atau memasak sendiri dengan bahan yang ada di rumah.
Namun, sekarang tidak perlu serepot itu. Kemunculan layanan pesan antar makanan daring berbasis aplikasi sudah menggeser perilaku konsumen, termasuk Shanna. Shanna tidak perlu repot keluar saat dirinya kelaparan, karena sekarang solusi perut keroncongan ada di ujung jari. Dalam beberapa klik, Shanna tinggal memilih makanan yang diinginkannya hanya dengan mengandalkan smartphone. Tinggal duduk cantik, dan tidak terasa pesanan sudah datang saja.
Setelah mengambil paket makanan berisi dua bungkus batagor dari kurir, Shien kembali ke kantornya. Tentu saja dengan harapan bisa menikmati batagor itu dengan tenang sambil melihat-lihat beberapa destinasi wisata untuk study tour peserta didik Little Brown Education miliknya.
Nmun, Baru saja Shanna membuka penutup kemasan berbahan plastik food grade berisi batagor itu, tiba-tiba kepala sekretarisnya yang tampan menyembul dari balik pintu kaca tanpa wallpaper.
“Kenapa belum pulang, Sep?” Tanya Shanna begitu laki-laki berpenampilan kasual itu masuk ke ruangannya. Mengingat ini memang sudah waktunya pulang kerja.
“Udah gue bilang panggil gue Aigo, Bu Direktur.” Protes laki-laki itu sambil memukul kepala Shanna menggunakan gulungan brosur tempat les.
Shanna mencebik. “Lah, nama lo, kan, emang Asep Aigo Purwanto.” Lalu tawa ledekan keluar dari mulut Shanna, terdengar cukup nyaring dan sangat menjengkelkan di telinga Aigo.
Aigo si sekretaris sekaligus sepupu Shanna dari pihak Papa, membuat hubungan mereka yang pada dasarnya atasan dan bawahan tidak harus terjebak dalam situasi formal.
“Ngeselin lo.” Aigo mendengus kesal. Kesal karena Shanna meledeknya, dan kesal karena orang tuanya menyantumkan kata Asep dalam namanya. Memang artinya sangat baik, dalam bahasa Sunda, Asep berarti tampan. Tapi, tetap saja Aigo urung menerimanya. Menurutnya itu tidak keren.
“Ada apa?” Tanya Shanna seraya mengusap sudut matanya yang berair.
“Ada tamu. Di ruang tunggu.” Jawab Aigo, masih dengan memasang tampang masam.
“Tamu?” Shanna merengut bingung. Rasanya, hari ini Shanna tidak membuat janji dengan siapapun, kecuali Langit yang tadi ia ajak berbelanja. Dan kalaupun Langit datang menjemputnya, maka Aigo tidak akan melaporkannya karena dia sudah mengenalnya dan Langit bukanlah tamu untuk Shanna.
“Who’s that?”
Sebelum Aigo sempat membuka mulutnya, seseorang muncul dari luar. Dia melambaikan tangan sambil berjalan ke arah meja kerja Shanna bak seorang model catwalk.
“Hai, Shanna.”
Shanna memutar bola matanya malas. Hanya orang itu yang memanggilnya dengan suara lembut mendayu layaknya wanita penggoda, Terry. Pasalnya, tidak ada teman-teman perempuan Shien yang terdengar secentil itu.
“Gue cabut duluan. Lo hadepin aja tuh mak lampir sendiri.” Bisik Aigo yang langsung ngacir tanpa menoleh ke arah Terry sedikit pun. Sementara Shanna melayangkan protes tak terima, seolah tidak ingin Aigo pergi dari ruangannya.
Mau apa sih gadis itu datang ke kantornya? Membuat selera makan hilang saja.
“Bisa kita ngobrol di sini?” Tawar Terry seakan-akan dia adalah pemilik kantor.
“That’s my line!” Seru Shanna penuh penekanan.
“Ups, sorry. Habis, gak ada tanda-tanda lo bakal ngundang gue masuk, sih. So, gue ambil inisiatif aja.” Balas Terry seraya mendudukkan dirinya di hadapan Shanna. Padahal, Shanna tidak mempersilahkannya.
Shanna mendelik sebal. Rasanya, ingin sekali Shanna mengusir Terry dan memanggil petugas keamanan kalau tidak ingat dirinya harus menjaga image.
“Batagornya gak ditawarin?” Terry mengedikkan dagunya ke arah batagor yang tergeletak di meja Shanna.
Shanna mendengus. Dasar tidak tahu malu, sudah tidak diundang, minta disuguhi makanan segala?
Walau begitu, Shanna menyodorkan satu bungkusan batagor untuk Terry. Hitung-hitung bersedekah pada orang tidak mampu.
“Thanks. Kebetulan gue laper banget dan tadi gak makan siang.” Terry menarik batagor tersebut dan membuka bumbu kacangnya.
“Restoran di Bandung tuh bejibun. Di sekitar sini juga banyak.” Sahut Shanna jengkel.
“Nah, itu dia. Karena gue mau ketemu lo dulu, makannya gak jadi ke restoran.” Dalih Terry.
“Ada apaan, sih?” Tanya Shanna ketus. Selain itu, ia sudah tidak betah berada dalam satu ruangan dengan Terry lama-lama.
Terry menjilati bibirnya yang terkena saus kacang. Lidahnya menjulur malu-malu, menjaga agar pewarna bibirnya tetap segar.
“Gue mau tanya-tanya sama lo. Tadinya sih gue mau ke kantor Shien, tapi sayang dia gak ada.”
“Jangan ganggu dia.” Sambar Shanna geram.
Terry langsung tersenyum mencibir. “Protect banget, sih.”
“Gue gak punya banyak waktu.” Ujar Shanna sambil melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, dirasa Terry terlalu bertele-tele.
“Cowok yang kemarin. Kak Langit itu kakak kelas gue di SMA. Kami cukup dekat. Dulu, gue sama dia sering belajar bareng buat ikut beberapa lomba gitu. Dia juga pernah jadi tutor belajar gue, dan masih banyak lah kebersamaan gue sama dia. So, bilang sama gue, apa hubungan lo dan Shien sama dia? Lo pacaran sama dia? Atau adik lo yang pacaran sama dia? Atau jangan-jangan dia salah satu gandengan lo? Lo kan sering banget tuh jalan sama cowok-cowok ganteng.”
Shanna memutar bola matanya jengah. Mau tanya soal status Shanna dan Shien dengan Langit saja harus pakai pengantar, cih.
“Kalau pertanyaannya gak penting-penting banget, gue malas jawab.”
Terry menatap Shanna dengan pandangan terluka. Again, drama queen mode on.
__ADS_1
Dan beruntungnya Shanna diselamatkan oleh seseorang yang mengetuk pintu. Gadis itu menoleh. Ketika pintu terbuka lebar, Shanna menemukan sosok Langit berdiri di sana. Senyumnya terlihat sungkan.
“Sorry, ada tamu ya, Sha?” Tanya Langit merasa tak enak hati.
“Yep. Tamu tak diundang.” Shanna melirik sinis ke arah Terry yang rupanya dengan gesit beranjak dari tempat duduk untuk menyambut Langit yang kini bergerak ke arah mereka.
“Hai, kak. Masih ingat aku, kan? Terry.” Gadis itu tersenyum mengembang dengan kedua bola mata berbinar bak boneka Barbie. Barbie dalam versi horor maksudnya.
Langit mengangguk-angguk pelan dengan senyuman canggung. “Iya, masih. Kan, baru ketemu beberapa waktu lalu dan diingetin.”
Rasanya Shanna ingin melempar barang apapun yang ada di atas mejanya ke arah Terry sekarang. Dasar. Terry sepertinya benar-benar sudah tidak memiliki urat malu.
“Gak nyangka bisa ketemu di sini. Kalau namanya jodoh, kayaknya emang kemana pun pasti ketemu, ya?” Ujar Terry seraya melempar senyum anggun pada Langit.
Dan Shanna semakin dibuat keki karena Langit masih menanggapinya seolah Terry itu teman yang patut diperlakukan seperti dirinya dan Shien.
“Kita jodoh, ya?” Langit tertawa renyah.
“Tentu aja, doong.” Terry semakin senang kala mendapat tanggapan seperti itu.
“Ohh, iya. Kakak ada urusan apa sama Shanna? Kalian. . . .” Terry mengetuk-ngetukan kedua jari telunjuknya.
“No. We are just friends. Aku ke sini karena emang ada urusan aja sama Shanna.” Sambar Langit seolah mengerti dengan tatapan penasaran Terry.
Shanna kesal sendiri mendengarnya. Tapi, memang hanya teman, sih.
Ahh, bukan. Yang paling membuatnya dongkol bukan ucapan Langit, melainkan ekspresi berbinar Terry yang teramat senang kala kalimat itu terucap dari bibir manis milik Langit.
“Udah aku duga, sih. Selera kakak pasti sekelas kak Jingga.” Terry mengibaskan rambut menggunakan jari tangannya yang lentik, seolah ingin menunjukkan jika dirinya itu tidak beda jauh dengan Jingga. Nyatanya, amit-amit.
Shanna menggigit bibir bawahnya geram. Tidak peduli siapa itu Jingga, Shanna hanya ingin jelangkung genit ini pergi dari hadapannya sekarang juga. Shanna tidak rela Langit digoda terang-terangan di depan matanya. Hanya dirinya yang boleh menggoda Langit, yang lain tidak boleh.
“Ngomong-ngomong, nih, Lang. Ini udah sore, lho.” Shanna buru-buru memotong pembicaraan mereka sebelum berlanjut lebih jauh. “Kita jadi jalan, kan?” Sambung Shanna penuh penekanan, membuat Terry memandangnya tak suka.
“Ohh, iya. Jadi, lah.” Sahut Langit cepat, mengingat jacket branded keluaran terbaru yang menjadi incarannya sudah menunggu di toko untuk dia beli.
“Yuk, sekarang aja.” Ajak Shanna.
“Eung, Terry?” Tanya Langit sambil melirik bingung ke arah Terry yang memasang raut penasaran mengenai ke mana mereka akan pergi.
“Ohh, Terry kan tamu tak diundang. So, datang tak dijemput, pulang siapa yang mau nganterin?” Shanna berujar santai sambil beranjak dan meraih tasnya.
Kalimat Shanna sontak membuat Terry tersinggung. “Lo kira gue jelangkung?” Protes gadis itu tak terima.
“Tapi. . . .” Imbuh Langit di luar dugaan. “Kalau jelangkungnya cantik kayak kamu sih, pasti banyak yang mau nganterin.”
Ya Tuhan. Serius, Langit? Shanna hanya bisa melongo tak percaya. Seandainya Shien ada di sini, Shanna yakin papan nama bertuliskan Direktur miliknya yang terbuat dari kaca itu akan mendarat tepat di kepala Langit. Benar-benar menjengkelkan.
Namun, detik berikutnya Langit benar-benar menyesal sudah mengatakan itu. Teringat betapa tidak enaknya saat Shien memuji Biru tampan. Ahh, mulutnya itu memang tidak bisa dikontrol. Langit terbiasa ramah dan becanda dengan semua orang. Dia sudah keceplosan.
“Aku sih nggak sembarang orang yang nganterin.” Terry mengerling sok manis. “Kalau kakak gimana?”
“Eung, sorry. Sayangnya sekarang aku mau pergi sama Shanna.”
Shanna menghembuskan napas lega. Setidaknya Langit masih bisa berpikiran waras.
Terry otomasis cemberut. “Ya udah, deh. Aku pulang kalau gitu.”
“Bye.” Shanna melambaikan tangannya dengan senyum mengembang yang dibuat-buat. “Dan jangan pernah balik lagi.” Tambah Shanna dalam hati.
“Tapi. . . .” Terry sepertinya belum benar-benar ingin beranjak. “Aku boleh minta nomor kakak, gak? Siapa tahu perlu gitu. Kak Langit kan Dokter.”
Shanna menggeram tertahan. Mulut Terry benar-benar licin seperti belut.
“Langit itu Dokter Spesialis Bedah Anak, kalau lo sakit, jelas salah bangsal kalau lo datangin dia.” Sambar Shanna sewot yang sebenarnya telah menyelamatkan Langit yang bingung harus menjawab apa.
Raut wajah Terry berubah antara malu dan kesal sekaligus. Dia sadar baru saja dipojokan oleh ucapannya sendiri.
“Ya udah yuk, Lang.” Shanna dengan cepat menarik lengan Langit sebelum Terry menahannya lagi.
Terry yang melihat kepergian Langit dan Shanna hanya menggeram dengan wajah memerah menahan kesal. Awas saja, Terry tidak akan menyerah untuk mendapatkan Langit. Dia yang mengenalnya lebih dulu, Shanna hanya orang baru.
Menyingkirkan Shanna pasti mudah baginya, Terry yakin itu.
********
Sudah lebih dari empat jam Langit dan Shanna mengitari mall. Beberapa Goodie bag dengan tulisan brand ternama seperti H&M, Hermes, Uniqlo, Zara, Chanel, dan Adidas memenuhi kedua tangan masing-masing.
Memiliki ketertarikan yang sama dalam berburu barang branded membuat Langit dan Shanna sangat nyambung untuk bertukar pendapat mengenai barang yang akan mereka beli.
__ADS_1
Namun, Langit menyayangkan karena yang pergi bersamanya saat ini bukan sang kekasih, Shien. Melainkan calon kakak iparnya.
Kemarin malam Shanna tiba-tiba menghubungi Langit dan mengajaknya untuk berbelanja bersama. Awalnya Langit dibuat bingung, mengingat Shien mengatakan bahwa dia akan liburan keluarga di Bali. Lantas kenapa Shanna bisa mengajaknya pergi bersama?
“Shien ikut gak?” Langit berpura-pura tidak tahu agar tidak menimbulkan kecurigaan.
“Enggak, Shien lagi liburan di Bali sama Mama dan Papa. Aku gak ikut, makannya ngajak kamu jalan.” Jawab Shanna di seberang telepon.
Begitulah Langit mendapat jawaban dari pertanyaannya, sebelum kemudian ia menyetujui ajakan Shanna karena memiliki waktu yang cukup senggang.
“Lang, dulu kamu deket banget ya sama Terry?” Tanya Shanna penasaran. Saat ini mereka tengah berjalan menuju toko jam.
Langit mengernyit bingung tanpa menoleh ke arah Shanna. “Deket sih enggak. Tapi, mungkin kami pernah terlibat beberapa kegiatan bareng. Itu udah lama banget, aku aja sampai gak inget sama dia.”
Shanna mendengus dengan mulut mencibir, mengingat betapa percaya dirinya Terry tadi mengatakan bahwa dirinya pernah dekat dengan laki-laki tampan yang sedang berjalan di sampingnya ini.
“Emang kenapa?” Tanya Langit, membuat Shanna salah tingkah.
“Enggak, cuma nanya doang.” Jawab Shanna sambil tersenyum kaku. Langit hanya mengangguk, tidak terlalu tertarik dengan pembahasan ini.
Tidak ada percakapan lagi diantara Langit dan Shanna setelah itu. Mereka terus berjalan dengan langkah pelan menuju toko jam.
Senyum Shanna tiba-tiba merekah tipis. Kalau dipikir-pikir, berjalan berdua di dalam mall bersama Langit seperti ini, mereka seperti sepasang kekasih yang sedang berkencan. Ahh, seandainya Langit bisa menjadi miliknya. Kenapa sulit sekali menembus hati laki-laki itu?
Apa sih kurangnya Shanna? Kurang usaha? Itu tidak mungkin. Shanna bahkan mengirimnya pesan chat setiap hari, tapi Langit selalu menjawab seadanya. Begitu pula dengan segala bentuk perhatian yang Shanna berikan, tapi Langit hanya menangapinya sebagai bentuk perhatian dari teman. Dan jalan berdua seperti ini pun, Shanna merasa jika pikiran Langit tidak bersamanya.
“Bagus gak, Shi?” Tanya Langit seraya menunjukkan jam tangan couple Rolex keluaran terbaru.
“Shi?” Dahi Shanna terlipat dalam karena sepertinya Langit salah memanggil nama. Tidak hanya sekali, bahkan sepanjang mereka berbelanja, Langit sudah berulang kali menggumamkan nama saudari kembarnya itu.
“Ehh. . . .” Langit gugup seketika.
“Dari tadi salah terus.” Shanna mendengus dengan wajah cemberut.
“Sorry, nama kalian itu terlalu mirip. Aku keliru terus, deh.” Dalih Langit, berusaha sesantai mungkin menanggapinya.
Shanna tidak mempermasalahkannya. Hanya saja, ia sedikit kesal karena itu terjadi berulang-ulang. Sebersit rasa curiga jika Langit sedang memikirkan Shien muncul di benak Shanna. Namun, dengan segera Shanna menepisnya. Shien dan Langit tidak sedekat itu, bukan?
“Saya ambil yang ini, Mbak.” Langit menggeser kotak jam tangan pasangan yang dipilihnya pada pelayan toko.
“Lho, kamu beli itu?” Tanya Shanna yang cukup terkejut karena jam tangan yang dibeli Langit itu benda pasangan.
Kepala Langit mengangguk pelan. “Itu bagus. Kenapa?”
Bukan masalah bagusnya. Tapi, Shanna penasaran jam tangan pasangannya untuk siapa. Tidak mungkin, kan, Langit akan mengenakan keduanya sementara model yang satunya itu untuk perempuan?
“Tapi, itu jam tangan couple, lho.” Shanna gelagapan. Hatinya mendadak khawatir, takut-takut proses pendekatan Langit dengan gadis yang disukainya berjalan dengan lancar. Tidak. Shanna tidak bisa menerima itu.
Siapa sih gadis itu? Shanna penasaran ingin melihatnya.
“Iya aku tahu. Ada masalah?” Tanya Langit. Sungguh tidak peka. Tidakkah Langit bisa melihat wajah cemburu Shanna saat ini?
"Enggak, sih." Jawab Shanna tidak ikhlas.
Lantas dengan wajah merengut, Shanna mengikuti Langit berjalan menuju kasir untuk memambayar jam tangan yang dibelinya.
“Satunya buat siapa?” Dan mulut Shanna terlalu gatal untuk tidak menayakan itu.
“Mau aku simpan.” Jawab Langit ambigu.
“Haah?” Shanna malah tidak mengerti.
Langit hanya menggeleng sambil tersenyum, bersamaan dengan tangan yang merogoh dompet untuk mengeluarkan kartu hitamnya dan menyerahkan pada kasir.
Dan di saat bersamaan pula, mendadak jantung Shanna seperti berhenti berdetak begitu ia melihat cincin yang tersemat di jari manis Langit.
Telapak tangannya menjadi dingin, hatinya berdenyut nyeri. Namun, otaknya berusaha memberontak, menepis kenyataan yang sangat tidak ingin ia benarkan.
Nyaris tak terdengar, Shanna menggumamkan sesuatu. “Sialan.”
Tangan gadis itu mengepal, menggenggam goodie bagnya erat-erat untuk menahan geram. Bukankah Langit mengatakan jika gadis yang disukainya itu masih ragu? Tapi kenapa sekarang ada cincin di jari manisnya? Dan Shanna tahu itu cincin pasangan. Berani-beraninya gadis itu mendahuluinya.
Shanna harus mencari tahu. Tidak akan ia biarkan Langit menjadi milik gadis itu. Shanna tidak boleh kalah, karena dia sudah berusaha mati-matian untuk mendapatkan hati Langit.
“Ayo pulang, Sha. Udah malam. Kamu gak ada yang mau dibeli lagi, kan?” Suara Langit menyusup di balik ketidaksadaran Shanna hingga membuat gadis itu sedikit terkejut.
Shanna mengangguk pelan, masih dengan perasaan campur aduk antara sedih, marah, dan juga dongkol.
Dan malam itu menjadi malam panjang bagi Shanna. Bukannya senang karena sudah keluar bersama Langit, tapi hatinya malah dibuat dilema hingga membuat Shanna tidak bisa tidur sepanjang malam.
__ADS_1
********
To be continued. . . .