Strong Single Mom

Strong Single Mom
End


__ADS_3

"Maaf nona tapi dari dulu sampai sekarang saya tak pernah merasa di miliki oleh anda, dan asal anda tau saya tidak akan pernah mau sama orang seperti anda yang hanya menikmati uang saja" ucap Zio dengan tajam


"Kenapa kau bilang begitu Zio, apa karena wanita ini" teriak Vani menunjuk Jessy


"Itu tidak ada hubungan nya sama sekali, jangan pernah mengganggu kami lagi kalau tidak anda tau akibatnya" ucap Zio mengajak Jessy pergi dari restoran


"Dasar wanita perebut kekasih orang" teriak Vani ketika mereka hendak melangkah


Zio berhenti melangkah ia berbalik menatap tajam Vani ia menghampiri Vani


"Kesabaran ku sudah habis tunggu ke hancuran mu" ucap Zio dengan amarah yang menyalang


Ia lalu meninggalkan restoran


"Sialan kalian awas saja kalian" teriak Vani


Semua orang muali melanjutkan aktivitas nya kembali setelah menyaksikan sebuah drama yang menarik


...****************...


Satu bulan kemudian


Satu bulan yang lalu Vani menikmati masa kehancuran nya, hidup sendiri di apartemen, tak ada yang mau berhubungan dengan nya


Jika ada yang membantu nya makan ia akan berurusan dengan zio, tak hanya zio yang menjatuhkan nya namun juga ada Mona yang ikut andil


Satu bulan ini kehidupan Jessy tentram tak ada orang mengganggu kehidupan keluarga nya


"Huek huek"


Suara seseorang memuntahkan semua isi perut nya di dalam toilet


"Ada apa sayang" tanya Jessy menghampiri Zio yang lemas menghadap closet


"Aku juga tidak tau sayang, rasanya ingin muntah" ucap zio dengan lemas karena tenaga nya sudah terkuras habis


"Kuta pergi ke dokter ya" ucap Jessy khawatir


"Hem" ucap zio mengangguk setuju


"Ayo berdiri" ucap Jessy membantu zio berdiri


Zio pun berdiri mereka lalu keluar dari kamar mandi dengan pelan-pelan


Sampai di ranjang Jessy menyuruh zio berbaring di sana


"Mau kemana?" ucap Zio menahan tangan Jessy yang hendak pergi


"Mau buatkan bubur untuk kamu" ucap Jessy menatap Zio


"Nanti aja, temani aku tidur" ucap Zio dengan manja

__ADS_1


"Tapi" ucap Jessy


"Kau tak mau temani aku di sini, kau sudah tidak sayang lagi dengan ku" ucap zio berkaca-kaca


"Bukan, bukan seperti itu maksud ku" ucap Jessy bingung


"Lalu seperti apa, hiks hiks" ucap zio meneteskan air mata nya


"Aduh kenapa kamu jadi cengeng sih" ucap Jessy duduk di samping Zio


"Kau mengatai ku cengeng" ucap zio semakin keras menangis nya


"Bukan, bukan kenapa jadi begini sih" ucap Jessy menggaruk kepalanya


"Kau jahat" ucap Zio menangis


(Aduh kenapa malah tambah keras nangis nya) batin Jessy


"Iya aku jahat, aku jahat sekarang berhenti nangis ya" ucap Jessy meredakan tangisan zio yang seperti bayi besar


"Tapi temani aku tidur" ucap zio berhenti menangis


"Iya aku temani tidur" ucap Jessy mengangguk


Zio memeluk Jessy dengan erat lalu mengajak Jessy merebahkan diri di samping Zio tak lama zio mulai terlelap Kembali


"Ini ngantuk atau gimana baru juga tiduran kenapa udah molor aja" geruru Jessy melihat zio sudah terpejam


Ia melepaskan tangan zio yang memeluk nya namun tangan zio terlalu erat untuk di lepaskan, mau tak mau Jessy ikut ke alam mimpi bersama zio


Siang hari mereka terbangun karena perut sudah terasa keroncongan, mereka membersihkan diri lalu makan siang di meja


Setelah makan siang Mereka pergi ke dokter untuk memeriksa keadaan Zio, kini mereka sudah selesai pemeriksaan, zio pun mengatakan apa yang di rasakan oleh nya saat ini


"Jadi apa penyakit saya dok?" tanya Zio menatap dokter dengan khawatir


"Anda tenang saja, anda tidak terkena penyakit apapun" ucap dokter tersenyum


"Bagaimana bisa dokter berkata seperti itu" kesal Zio


"Sayang tenang dulu" ucap Jessy mengelus tangan Zio


"Begini tuan, tuan mengalami yang namanya sindrom Couvade" ucap dokter tersenyum


"Apa itu syndrome Couvade dokter?" tanya Jessy


"Itu bisa di sebut juga kehamilan simpatik tuan nyonya, yang sebagai mana suami anda ikut merasakan tanda-tanda kehamilan oleh anda nyonya" jelas dokter


"Hamil dok?" ucap Jessy menatap sang dokter


"Benar nyonya, kalau anda ingin memastikan nya anda bisa cek di dokter kandungan, nanti bisa saya rekomendasikan" ucap dokter tersenyum lebar

__ADS_1


"Jadi maksudnya istri saya hamil dokter?" ucap zio memastikan


"Kemungkinan besar iya tuan, tapi lebih jelas nya lebih baik anda periksa ke dokter kandungan untuk memastikan semua nya" ucap dokter


"Kamu hamil sayang" ucap Zio berkaca-kaca menatap Jessy tangan nya terulur menyentuk perut rata Jessy


"Sebentar lagi aku akan jadi Mommy, kau akan jadi Daddy" ucap Jessy ikut terharu


"Anak Daddy akhirnya tumbuh" ucap Zio tersenyum senang


"Ehem maaf tuan nyonya mengganggu, tapi pasien yang lain sudah mengantri lama" ucap dokter tersenyum


"Ah iya, kalau gutu kita permisi dokter" ucap zio tersadar


"Iya tuan dan ini surat untuk rekomen dokter kandungan tuan, tuan tinggal kesana nanti di periksa lagi oleh dokter nya" jelas dokter


"Oke dok terimakasih" ucap Zio mengambil surat rekomen lalu pergi mengajak Jessy untuk memeriksa di dokter kandungan


Sampai di dokter kandungan Jessy di periksa oleh dokter beberapa menit kemudian Jessy selesai di periksa


"Jadi gimana. dok apa istri saya hamil beneran?" ucap Zio tak sabar


"Selamat tuan anda akan segera menjadi seorang ayah" ucap dokter tersenyum lebar


"Ini hasil USG nya, anak tuan dan nyonya baru berusia dua Minggu" ucap dokter memberikan sebuat foto USG


"Lalu dimana anak saya dok?" Tanya zio memandangi foto itu dengan muka polosnya


"Hehe, ini anak anda tuan masih berukuran biji kacang hijau" jelas dokter menunjuk sebuah titik sebesar kacang hijau


"Kenapa kecil sekali dok?" ucap zio masih menatap foto di depan nya


"Memang kecil tuan seiring pertambahan usia janin akan tumbuh dengan sendirinya" jelas dokter


"Kenapa-" ucap zio terpotong kala Jessy membekap mulutnya


"Sudah jangan tanya lagi" ucap Jessy


"Tidak apa-apa nyonya Wajar saja, pasti ini kehamilan yang pertama bukan?" ucap dokter tersenyum lebar


"Iya dokter" ucap Jessy mengangguk


"Baiklah kalau begitu saya akan menuliskan resep obatnya, anda bisa tebus di apotik rumah sakit" jelas dokter


"Terimakasih dokter oh ya, apa ada sebuah pantangan atau yang di anjurkan semasa kehamilan ini dok?" tanya Jessy


Dokter itu tersenyum mengangguk lalu menjelaskan apa yang perlu dan tidak perlu di lakukan oleh Jessy


Jessy mengangguk paham lalu mereka pamit pulang kembali ke rumah mereka dengan perasaan yang bahagia, bersyukur dan terharu


Zio dan Jessy berencana memberitahu kepada keluarga mereka kabar bahagia ini

__ADS_1


__ADS_2