
Sebelum membaca alangkah baiknya menyentuh tombol like terlebih dahulu jika suka dengan Chapter ini dan tinggalkan komentar jika ada kekurangan atau kelebihan.
Jangan lupa tekan tombol favorit, agar tak ketinggalan update.
Selamat membaca, semoga terhibur.
...
Pada pagi harinya, kabar bahwa Duke diserang menyebar. Para penjaga yang mendapat giliran berjaga di Mansion kediaman Duke saat ditanyai tak ada yang bisa menjawabnya. Mereka seperti orang linglung yang tidak mengingat kejadian semalam.
Sang anak dari Duke, Klue Egramn, selaku walikota kota Xely merasa geram sekaligus gelisah. Sang ayah sudah diserang, pasti selanjutnya adalah dirinya—begitulah pikirnya.
"Siapa yang sebenarnya ingin melakukan kudeta?" Kata Klue dengan penuh amarah menggebrak meja kerjanya.
Dua orang maid yang berdiri di sebalik pintu masuk ruangan Klue saling pandang dan tersenyum penuh arti.
"Kakak, apa Celia yang melakukannya?"
"Entahlah ... tapi, senang rasanya mendengar ini!?"
Mereka berdua berhubungan dengan telepati.
Sepasang saudari, itulah hubungan mereka berdua. Rambut abu-abu milik sang adik dan rambut putih milik sang kakak, mereka adalah sepasang maid yang cantik.
Lalu, sang korban—Volancy Egramn datang mendekat ke ruangan yang dijaga oleh mereka. Wajah Duke itu tampak sangat kesal tak sedikit pun menunjukkan kesan ramah.
Tanpa diperintah Maid bersaudari itu langsung membuka pintu dan mempersilahkannya masuk.
Dan beberapa saat kemudian terdengar suara marah-marah terdengar dari dalam. Saudari Maid itu tak kuasa menahan tawa, tapi mereka berhasil menahannya.
"Yah ... inilah satu-satunya hiburan di tempat ini!?"
...
"Kau hebat juga!" Puji Kiya pada Celia.
"Ini memang keahlianku!"
Masih berada di area Mansion, Kiya dan Celia mengobrol dengan santai meskipun banyak orang di sekitarnya. Sesuai yang dikatakannya, Celia membuat Kiya bisa menyamar menjadi salah satu penjaga Mansion menggantikan seseorang dengan nama panggilan Jo, Kiya akan menggunakan namanya. Sedangkan penjaga yang asli sudah dibereskan.
"Hmm ..."
"Tua—Kiya, b-begini ... a-ku s-sangat berterima kasih padamu karena mau membantu kami meskipun kami tak bisa memberikan apa-apa. Dan ..." Celia menjeda perkataannya, pipinya mulai merona dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Terima kasih kau tidak melakukan apa pun padaku!"
"Tak perlu berterima kasih, aku melakukan ini karena kuanggap menarik. Dan bukannya kau hanya akan melakukannya dengan orang yang kau cintai? Itu berarti sama, aku hanya akan melakukannya dengan orang yang kucintai!"
"B-begitu, ya?" Jawab Celia dengan suara yang pelan tanpa berani menatapnya.
"Kalau begitu, dah ... sepertinya kita mulai diperhatikan!?" Kiya melirik ke sekitar untuk memberikan kode. Di tempat mereka—di dapur, dari sisi lainnya seorang Maid memperhatikan mereka dengan pandangan tidak suka.
Kiya mengambil sebuah roti dan bergegas keluar lewat pintu belakang. Mengambil roti bisa menjadi alibinya, ini memang waktunya sarapan.
Setelah Kiya pergi, Maid itu mulai mendekati Celia.
__ADS_1
"Kamu lagi dekat dengan, Jo?"
"Eh? Huh ...? T-tidak, senior salah paham!" Kata Celia menggelengkan kepalanya.
Fakta bahwa Celia bekerja sebagai Maid belum genap sebulan dan orang di hadapannya adalah seniornya.
"Hmm ..." Maid itu melihat Celia dengan curiga.
"Maaf, saya harus membawa ini kepada Tuan Volancy dan Tuan Klue!"
Celia buru-buru pergi dengan membawa nampan sarapan agar dia tak diintrogasi lebih lanjut.
"Aku sangat gugup hanya dengan pertanyaan remeh, kenapa dengan diriku?"
Bergeser ke tempat Kiya ...
"Jo, sekarang giliranmu berjaga di gerbang!" Panggil seseorang dari kejauhan.
Kiya yang menggantikan posisinya hanya mengangkat tangan dan mengacungkan jempol.
[Tuan sepertinya akan membuat Harem]
"Bodo amat! Aku tak peduli!"
Kiya pun sampai di depan gerbang dan bertemu dengan penjaga yang sebelumnya bertugas. Tak ada yang curiga bahwa Jo yang ada di hadapan mereka bukanlah yang asli, itu juga berkat akting Kiya dan sedikit informasi tentang sifat dan perilaku Jo dari Celia.
[Apa tujuan Tuan melakukan ini?]
"Membantu mereka kudeta tentu saja!"
"Sangat merepotkan!"
Melakukan kudeta memang tak mudah. Membunuh para penguasa dan mengambil alih tahta pemerintahan tak sepenuhnya berhasil. Pasti para rakyatnya yang memiliki kepercayaan pada penguasanya akan melakukan perlawanan. Dan masalah yang dihadapi penduduk slum area adalah kekuatan tempur. Andai saja mereka mempunyai pasukan yang kuat, sejak lama kota ini dalam genggaman mereka.
Yah ... meskipun itu akan menjadi pemerintahan yang diktator.
[Celia dan beberapa orang lainnya sedang berupaya untuk mencuri seluruh harta Duke untuk menambah kekuatan]
"Kekuatan memang sangat penting, tapi uang juga tak kalah penting. Dengan uang mereka bisa mengakali kekurangan itu dengan menyuap atau menyewa tentara bayaran!"
[Akan tetapi, setelah Tuan melakukan penyerangan. Pasti mereka akan waspada, saya berpikir bisa saja mereka yang akan menyewa tentara bayaran]
"Kurasa tidak, si Duke berambut pirang itu terlalu angkuh. Dia menyewa tentara bayaran berarti dia takut, kan? Mau di mana dia menaruh mukanya jika seperti itu!?"
[Sepertinya perang sipil akan terjadi]
"Itu tidak akan terjadi karena kita punya kartu As! Menurutmu ... apa para penduduk lebih mempercayai penguasa kota ini atau seorang pahlawan?"
[Sepertinya bantuan Viola sangat vital, Tuan]
"Tepat sekali."
...
__ADS_1
Malam hari ...
Penjagaan pada malam hari diperketat mengingat serangan kemarin. Bukan hanya menambah personel penjaga, tapi Mansion itu sekarang terlindungi oleh barrier yang dibuat oleh beberapa penyihir. Kesalahan yang sangat besar karena serangannya dari dalam bukan dari luar.
Para warga kota yang melihat kediaman Duke dan walikota dijaga seketat itu merasa aneh. Memangnya siapa yang berani menyerang?
Sebuah fakta bahwa penduduk kota Xely tahu bahwa slum area ingin melakukan kudeta. Namun, mereka hanya menutup mata. Mereka yakin bahwa kudeta itu tak akan berhasil karena kecilnya kekuatan tempur.
"A-pa memang b-b-begini keadaan kalian?" Kata Viola pada sekelompok orang di depannya. Viola kini ada di slum area.
Viola sudah berada di slum area setelah kehilangan jejak Kiya.
Mereka semua hanya mengangguk, namun salah seorang dari mereka nampak sudah tak tahan ingin mengatakan semuanya.
"Nona pahlawan tolonglah bantu kami! Kami sudah tak tahan, kami terlalu didiskriminasi mentang-mentang kami bukan asli lokal! Pajak yang sangat tinggi khusus bagi kami, tak diterima, dikucilkan ... sejak dulu kami ingin pindah dari kota ini, tapi mereka malah tak mengizinkan kami. Mereka hanya memeras kami ..." Mata wanita itu mulai berlinangan air mata. Dia sungguh mengeluarkan semua unek-uneknya yang tak pernah digubris.
"K-kami sudah tak tahan, Nona pahlawan! Kami ingin bebas dari penderitaan ini ... kami menginginkan hidup yang layak!" Timpal seorang pria.
"Hei, kalian ...! Kita tak perlu takut lagi! Sekarang ada Nona pahlawan di pihak kita!" Orang lainnya meneriaki kelompok orang oposisi yang hanya diam. "Nona pahlawan ada di pihak kami, kan?" Pria itu menatap Viola dengan penuh harap.
"Ini akan memicu perang sipil. Tapi, aku akan tetap mengikuti setiap keputusan yang kamu ambil, Viola!" Vian memberikan kode persetujuan.
Viola tak kunjung menjawab. Wajah bersemangat pria itu kian memudar. "Nona pahlawan? Nona pahlawan?"
Viola masih sangat bimbang dengan keputusannya, dia tak mampu menjawab pertanyaan itu.
"N-n-no p-p-pahlawan?"
"SEBENARNYA APA ARTI DARI GELAR PAHLAWAN? APA ARTINYA?
BAGIKU ... PAHLAWAN ITI TIDAK ADA!" Tak tahan lagi dengan Viola. Orang itu meneriakinya dengan air mata yang semakin deras, tak peduli Viola akan marah dan akan membunuhnya. Terpenting dia sudah tak tahan lagi.
Deg ...
Kata-kata pria itu tepat menusuk hati Viola.
"Vlad, sudah! Tak apa-apa ... kita tak perlu bantuan siapa pun, kita pasti bisa melakukannya sendiri!" Wanita tadi menenangkan pria yang bernama Vlad itu. Dia sejenak melihat Viola yang terus menundukkan kepalanya. Wanita itu kelihatan sangat kesal pada Viola.
"Andai saja aku yang memiliki kekuatan besar itu!"
"Kita harusnya bersatu ... bukan bertengkar!"
Suara gemuruh petir tiba-tiba terdengar padahal langit tak mendung sama sekali. Sebuah ambaran petir turun dari langit yang menimbulkan sedikit ledakan dengan asap yang mengepul.
Mata Vlad dan wanita itu melebar ketika asap itu kian memudar dan menunjukkan wujud seorang manusia yang memakai zirah full plate dengan 3 orang yang berpegangan dengan sangat erat padanya. Semua penduduk slum area mengenali identitas 3 orang itu.
""Celia, Balta, Syilta!"" Kejut Vlad dan wanita itu.
"Baiklah, gadis-gadis silahkan turun! Kita sudah sampai!" Kata prajurit pada ketiga gadis berpakaian Maid itu.
"Ahh ... m-m-maaf, Ki-ya. Kami masih sangat syok!" Celia mulai turun diikuti dengan dua gadis lainnya.
Viola kemudian bereaksi dengan nama yang disebutkan oleh Celia. Dia kemudian menatap prajurit itu.
__ADS_1
"Ahh ... pahlawan, kenapa kau di sini? Kau mau membantu mereka? Umm ... kurasa tidak!?" Prajurit itu mengalirkan listrik yang menghancurkan zirah itu. "Lalu ... bagaimana dengan janjimu untuk menciptakan kedamaian, Viola? Kau lupa?"