
"Apa maksudmu? Jangan setengah-setengah!" Seru Viola sedikit marah.
"Aku tak akan mengatakannya ... jika kau ingin aku buka mulut, paksalah!" Netra merah darah Ashera terpejam.
"Jangan lupakan aku, iblis!"
Vian membuka mulutnya lebar-lebar, sejumlah energi Mana terkumpul lalu memadat menjadi bola kecil, Vian pun menelannya.
Viola langsung menyingkir, dia mengetahui persis apa yang sedang Vian lakukan.
"Aku tak akan membunuh kalian ... aku hanya ingin bermain-main!?" Ashera menyunggingkan senyumannya, santai menanggapi serangan yang akan mengarah padanya.
Jdarr ... jdarr ... jdarr ...
Rentetan peluru sihir yang terbuat dari Mana dilesatkan secara membabi buta ke arah Ashera yang menimbulkan ledakan yang tiada henti. Serangan Vian itu berlangsung selama beberapa menit sampai dia yakin telah membuat Ashera sedikit merasakan dampaknya.
"Tak berhasil!?" Gumam Viola.
"Yap, benar sekali pahlawan!" Ashera mengayunkan Katana-nya. Hembusan angin kencang langsung tercipta menerbangkan seluruh kepulan asap yang menutupi dirinya.
Viola dan Vian membelalakan mata tak berdaya melihat kondisi Ashera, dia tak mengalami luka sedikit pun. Tubuh dan pakaiannya masih bersih seperti sedia kala.
Di sekitar area Ashera berdiri terdapat puluhan cekungan yang terbentuk, itu artinya bukan Ashera yang kebal, tapi Vian yang serangannya meleset.
"B-ba-gai-mana bisa? Kau sangat berbeda dengan yang dulu!" Gumam Vian ketakutan menyaksikan kenyataan bahwa musuh bebuyutannya dulu sudah berubah.
Viola yang mengetahui mental Vian terguncang langsung berinisiatif menjadi tameng untuknya. Dengan keadaan seperti itu, Vian akan sangat mudah dihabisi.
"V-viola ...?"
"Biarkan aku melindungimu!" Kata Viola berusaha tegar. Namun, sayang ... Vian tahu bahwa tubuh Viola gemetaran. Dia memaksakan dirinya untuk tetap bertahan walaupun dirinya juga ketakutan.
"Seumur hidupku, aku belum pernah menerima tekanan seperti ini! Iblis ini benar-benar sangat berbahaya ... tak ada yang bisa aku lakukan, pilihan terbaik adalah melarikan diri."
"Kau salah sangka, Vian! Tak ada yang berubah dariku, kekuatanku pun sama saja, malah sekarang aku lebih lemah. Tapi ... aku sedikit belajar." Ashera perlahan mendekati Viola dan Vian yang tak bisa bergerak karena tubuhnya mati rasa.
"Ayolah bergerak! Bergerak! Jika begini terus ... kami akan mati!" Batin Viola berusaha melepaskan diri dari belenggu ketakutannya.
"Selama di neraka ... aku mengamati, yah mengamati ... dunia lain selain Arias. Ternyata banyak sekali Dunia, keadaannya pun bermacam-macam. Aku sedikit prihatin dengan Arias ... keberadaan sihir ternyata membuat Arias sulit untuk maju karena setiap orang merasa sudah cukup dan tak ingin mempelajari hal baru. Tak seperti dunia yang sangat membuatku tertarik ..." Ashera mengambil jeda untuk membasahi bibirnya yang kering karena bicara panjang lebar.
Manik merah darah yang sebelumnya terpejam pun terbuka lagi mengeluarkan aura yang lebih menekan lagi.
"Bumi ... dunia itu sungguh luar biasa!" Kata Ashera lantang membentangkan kedua tangannya.
__ADS_1
"B-b-bumi?" Viola bereaksi dengan menggumamkan nama dunia yang disebut Ashera.
"Hoh ... merasa tak asing, pahlawan?" Ashera menyeringai menunjukkan dua gigi taringnya yang berwarna putih.
Ashera semakin dekat, katana yang berada di pergelangan tangan kirinya sungguh menakutkan, seakan-akan memberikan kematian instan bagi siapa saja yang melihatnya.
"To-long bergerak lah! Tolong bergerak, jika seperti ini ... kami akan mati sia-sia!" Viola berusaha keras menguatkan diri untuk melawan rasa takutnya.
"Baiklah, pahlawan ... aku akan mendemonstrasikannya secara jelas!" Ashera mengangkat katana-nya tinggi di udara. "Diam, Ini tidak akan sakit!"
Sesaat sebelum Ashera mengenakan katana-nya pada Viola ...
"Hilang?" Ujar Ashera bingung. "Ah, tidak ... bagaimana caramu berpindah—yah, tak perlu diberitahu ...! Aku sudah mengetahui trik-mu." Ashera berbalik dan langsung menemukan Viola dan Vian yang berjarak tak jauh darinya.
"Retrorsum ... sihir yang sangat kuat hingga bisa memutar balikkan waktu. Itu bukan sihir pengendali waktu biasa, Retrorsum bisa diatur tuk tak memberikan efek apapun ... si pahlawan memundurkan waktu beberapa menit yang lalu, tuk bisa berpindah ke titik awal dia mendarat."
"Hah ... hah ... hah ... s-syukurlah!" Beban mental Viola terlalu besar, dia belum menggunakan banyak Mana, tapi nafasnya sudah ngos-ngosan.
"Kamu menggunakan Retrorsum lagi?" Tanya Vian cemas memerhatikan setiap inci tubuh Viola.
"A-ku terpaksa ... jika tidak, kita akan mati!"
Pok ... pok ... pok ...
"Hebat sekali pahlawan ...! Tapi, kenapa kau tak mundur lebih jauh lagi?"
"Mundur? Dia mengetahuinya?' Batin Viola panik.
Slash ...
Viola dan Vian lengah, Ashera secara mengejutkan melemparkan katana-nya. Mereka berdua telat bereaksi.
Mata Viola terpejam, lidahnya pun dia gigit sendiri tuk menahan rasa sakit yang akan datang. Tapi, anehnya ... rasa sakit yang dimaksudkan tak kunjung tiba.
Viola pun memberanikan diri tuk membuka mata. Beberapa pikiran liar memenuhi benaknya, dia takut bahwa Vian melakukan hal nekat, seperti menjadikan dirinya sebagai perisai daging.
"V-viola, kamu baik-baik saja?"
"Eh? Vian?"
Pikiran liar Viola tak terwujud, Vian masih tetap berada dibelakangnya.
"Serangannya meleset!?" Seru Vian menunjuk ke samping kanan Viola. Di sana ada katana Ashera yang tertancap persis di sampingnya.
__ADS_1
"Ke-napa bi-sa?" Viola melemparkan tatapan bingung ke Ashera.
"Te ... tottt ... semuanya salah!" Ashera menyilang kedua tangannya di depan dada membentuk huruf X.
""Huh ...?""
.
.
.
"Apa-apaan si Ashera itu? Omong kosong yang dikatakannya ... di neraka dia bisa melihat seluruh dunia yang ada. Bahkan dia tau bumi?"
«Alam fana terdiri dari banyak dunia, alam akhirat hanya ada surga dan neraka»
Rasa penasaran mengalahkannya, mau tak mau Kiya harus memuaskan hasratnya. Dia kini sedang memerhatikan pertempuran singkat antara Viola dan Ashera dari kejauhan.
pertarungan yang sangat berat sebelah.
"Hmm ... aku mengerti!? Tapi, ada sedikit yang mengganjal!"
«Viola bereaksi pada kata "Bumi". Menurut pendapatku ... Viola adalah seorang yang berinkarnasi dari Bumi ke Arias. Meskipun tubuh dan jiwanya telah terlahir kembali, pasti ada sebagian ingatan yang membekas. Seperti reaksinya, dia merasa tak asing dengan kata "Bumi"»
"Aku juga berpikiran seperti itu ..." Kiya menatap dalam-dalam Viola. "Aku tak menyangka bahwa dia dulunya adalah penduduk bumi!?"
«Kau tak ingin mengomentari Ashera yang sok pintar?»
"Huh ... yah, dia lumayan pintar karena berhasil mengaplikasikan teori sains pada pertarungan. Aku tak menyangkanya!" Kiya memberikan komentar ala kadarnya. "Ngomong-ngomong, iblis ... tapi memiliki atribut cahaya?"
«Semua malaikat dan iblis tingkah tinggi sanggup menggunakan semua elemen»
.
.
.
BTW ... ada yang penasaran teori sains yang digunakan Ashera? Berhubungan dengan cahaya.
Silahkan tebak sendiri ... hehe.
Aku ngambil referensi dari Toaru Kagaku no Railgun ... saat arc level upper. Salah satu Esper menggunakan suatu kemampuan yang membuat seseorang mengira serangannya berhasil mengenai atau berhasil menghindar padahal kenyataannya tidak.
__ADS_1