System : Unknown

System : Unknown
Chapter 85 -Aku adalah kamu, dan kamu adalah aku


__ADS_3

Maaf ngilang beberapa hari, banyak urusan mendadak soalnya. Dan yah, kayaknya untuk update harian nggak bakal bisa lagi.


Jadi, update nya jadi random, kadang 2 hari sekali, 3, 4, pokoknya menyesuaikan.


Tapi, aku berusaha buat namatin cerita ini biar nggak nanggung.


Maaf🙏


.


.


.


Viola mulai berubah sejak pria itu dinyatakan lenyap dari dunia.


Gadis kecil periang yang baik hati yang aku kenal dulu juga ikut lenyap, yang tersisa cuma Viola yang pendiam— sangat pendiam, ia tak peduli lagi dengan sekitarnya.


Pertentangan Viola dengan Fene pun mencapai puncak sampai merembet ke semua pahlawan. Pada akhirnya, Viola berhenti berhubungan dengan para pahlawan lainnya, seolah ia telah tak peduli lagi menjadi seorang penyelamat dan penyeimbang Arias.


Gadis kecilku—Viola pun sering menangis, ia selalu menampilkan wajah datar tanpa ekspresi dan cenderung dingin. Tapi, di belakang ia selalu menitihkan air matanya untuk pria itu—Azkiya.


Viola sampai sekarang selalu percaya bahwa semua hal yang dituduhkan pada Kiya adalah palsu. Viola menolak kenyataan.


Betapa bodohnya, betapa naifnya! Menderita hanya untuk seseorang yang tak jelas. Viola memang orang bodoh yang telah dibutakan oleh cinta.


Andai saja, Viola tak pernah bertemu dengan Kiya ... pasti Viola masih tetap menjadi dirinya, bukan orang lain.


Aku ingin memutarbalikkan waktu untuk mencegah Viola bertemu dengan Azkiya.


.


.


.


Pedang rapier yang menggantung di pinggang kanannya telah digenggam dengan erat, sepasang mata biru pun tak berhenti tuk melihat sekeliling.


"Ada hawa yang aneh?!" Batin wanita pemilik mata biru saphir, Viola.


Begitu juga dengan burung biru raksasa yang tepat berada di sampingnya, ia juga merasakan hal yang sama dengan Viola.


Pertempuran antara ratusan prajurit dengan para monster belum menemukan tanda akan berakhir, telah lewat beberapa jam, tapi jumlah di kedua pihak belum ada yang berkurang satu pun.


"Hosh ... hosh ... hei, apa Nona Viola tak akan bergabung? Jika kita yang melawan para monster ini, mustahil untuk mengalahkan mereka!" Kata salah seorang prajurit dengan nafas yang tersengal-sengal karena kelelahan.


"Nona Viola telah keluar dari organisasi pahlawan. Kewajiban melakukan hal seperti ini bukan tanggungjawabnya lagi. Kau lupa Nona Viola adalah Putri kerajaan Arcadia?"


"Kita harus menemukan cara—"


Prajurit tersebut berhenti bicara, di tengah-tengah mereka tiba-tiba muncul kilatan-kilatan petir berwarna ungu yang keluar dari udara kosong.


Zrrtt ... jdarrrrr ...


Ledakan petir ungu muncul di tengah medan pertempuran, tak kenal siapapun ... ledakan tersebut meluluhlantakkan seluruh area, tak peduli manusia atau monster.


Viola semakin waspada, ia menatap lekat kepulan debu bekas ledakan yang terdapat sebuah siluet.


"Memang monster abnormal! Serangan fisik tak akan mempan tuk membunuh mereka!"


Swoshh ...


Angin kencang menerbangkan semua debu, pemandangannya pun kini terlihat jelas, terdapat sebuah kawah yang lumayan besar. Di tengahnya, seorang sosok melayang.


"Kita bertemu lagi, pahlawan. Oh, bukan, kau bukan lagi seorang pahlawan!"


Slash ... tang ...


Viola bereaksi atas perkataannya, ia langsung melesat dengan sangat cepat untuk menyerang, namun berhasil di tahan. Vian berjaga di belakang.


"Kalian, mundur! Ini bukan sesuatu yang bisa kalian tangani!" Teriak Vian pada seluruh prajurit yang masih bertahan dari efek ledakan sebelumnya akibat buff perlindungan yang diberikan Viola.

__ADS_1


"""B-baik!"""


Seluruh prajurit pun kemudian mundur ke dalam tembok yang melindungi kota.


"Vian, kamu urus semua monster! Aku akan mengurus iblis ini!" Kata Viola serius, ia masih tengah sibuk menghadapi lawannya.


"Oh, kau sepertinya bertambah kuat!?"


Loncatan-loncatan petir keluar dari tubuh sosok itu, dan boom ...


Viola terhempas sampai menghantam tembok di belakangnya, tubuhnya pun teraliri kilatan-kilatan ungu karena tersetrum.


Viola dengan susah payah bangkit, ia menatap sosok iblis menyerupai manusia itu.


"Hei, Ashera ...! Dia masih hidup, kan? Kiya masih hidup, kan?" Kata Viola lemah.


"Entahlah, aku lupa!?" Iblis yang ternyata adalah Ashera mengacungkan Katana-nya pada Viola. "Seperti dulu, paksa aku untuk mengingatnya, Viola!" Ashera menyeringai.


"Aku pasti akan membuatmu bicara!"


.


.


.


Vian tengah sibuk mengurus gerombolan monster yang berniat memasuki kota. Burung biru tersebut nampak kerepotan menghadapi para monster yang jumlahnya tak bisa berkurang sedikit pun.


"Para monster abnormal yang merepotkan!" Maki Vian. Ia sesekali menengok ke belakang—ke arah kota. Suara gemuruh yang hebat dari arah kota sedari tadi sudah mengganggunya.


"Viola ... kamu ... akh, sialan! Cylone!"


Vian tak bisa mengabaikan para monster itu.


.


.


.


"Ashera, sebaiknya kau bicara jika tak ingin mati!"


"Heh, memangnya kau bisa? Sudah kubilang, jika ingin mendapatkan informasi dariku, buat aku bertekuk lutut!"


"Baiklah, aku kali ini benar-benar serius!" Kata Viola melakukan kuda-kuda menyerang, pedang rapier di tangannya di posisi sejajar di samping tubuhnya.


"Mari kita lihat." Ashera juga melakukan hal yang sama.


Swoshh ...


Viola menusukkan rapier-nya ke depan, timbul hembusan angin yang cuma bisa mengayunkan rambut ungu panjang milik Ashera, tak ada efek lainnya.


"Hmm ... apa yang dia rencanakan?"


Ashera masih senantiasa waspada, ia tak terganggu dengan serangan yang kelihatannya cuma membuyarkan konsentrasi.


"Hei, lupa cara menyerang?" Ejek Ashera yang dibalas dengan tawa geli oleh Viola.


"Dalam pertempuran jangan banyak bicara, iblis!" Kata Viola langsung melesatkan diri menyerang Ashera.


"A-ku tak dapat—"


Ashera benar-benar membeku. Tapi, sebelum rapier berlapis aura biru itu menusuk tubuhnya, ia berhasil membuat semacam pertahanan.


Boom!


Timbul ledakan yang meratakan area sekitar tak bersisa.


"Seranganmu gagal, Nona!" Ashera tersenyum penuh kemenangan, sebuah perisai menjadi pembatas antara dada kirinya dengan rapier milik Viola. Meskipun begitu, ia cukup syok dengan serangan Viola.


"Ja-lang!" Viola terus memaksa rapier-nya menusuk, namun naas, perisai melayang tersebut tak tergores sedikit pun.

__ADS_1


"Rainy Sword!"


Belasan pedang berwarna ungu seiras bermunculan di udara. Sepersekian detik langsung menarget Viola, gadis itu pun backflip ke belakang belasan kali tuk menghindar.


Viola menggertakan gigi kesal. Ashera kini di kelilingi oleh puluhan pedang yang melayang-layang di sekitarnya. Ashera cukup waspada atas gerakan Viola yang tak bisa ia baca dan perkirakan.


"Silahkan serang dari mana saja!" Ashera menyeringai.


"Cih ... kualitas pedang-pedang itu sepertinya sama dengan perisai tadi, sialan!"


Syutt ...


Salah satu pedang Ashera melesat mengejar Viola. Ia telat bereaksi, alhasil bahu kanannya tergores.


"Ukh ... sa--kit." Buru-buru Viola melakukan Heal pada lukanya. "Tak bisa sembuh?" Kata Viola tak percaya, dengan segera ia menatap Ashera tajam.


"Ah, pedang itu dilapisi semacam ramuan yang bisa menetralkan sihir, yah meskipun nggak semua jenis sihir!"


"Senjata kualitas tinggi seperti itu harusnya menguras habis Mana miliknya, tapi kenapa Ashera terlihat baik-baik saja? Apa dia melakukan Link dengan seseorang?"


Syutt ... syutt ... syutt ...


Hujan pedang, Viola dengan susah payah berusaha menangkis dan menghindar. Namun, Viola kalah jumlah, pedang-pedang itu layaknya misil kendali—akan selalu mengejar, mengelak menjadi sia-sia.


Syutt ... tang ... syutt ... jdarr ...


"Confused fog!" Teriak Viola.


Kabut pekat tiba-tiba muncul menutupi seluruh kota meniadakan penglihatan setiap orang.


"Aku tak bisa merasakan keberadaannya. Hmm ... biarlah, dengan begini aku bisa memulihkan Mana yang terbuang. Sejujurnya Mamaku terkuras!"


Pedang ciptakan Ashera serentak keluar dari dalam kabut kembali ke sisi Ashera. Kabut putih tersebut mematikan seluruh Indra bahkan membuat seseorang berhalusinasi.


"Hah ... hah ... hah ... kalau begini terus sampai kapan pun aku tak akan bisa mengalahkannya!" Batin Viola kesal dari dalam kabut, kini ia memerhatikan Ashera yang terbang agak tinggi di atas kota agar tak terkena kabut miliknya.


"Aku harus memaksanya untuk bicara, aku masih sangat yakin bahwa Kiya masih hidup entah bagaimana caranya?!" Viola makin kesal, tangannya dikepal sekuat tenaga.


"Aku butuh kekuatan, kekuatan lebih ... siapa saja tolong pinjaman aku kekua—eh?"


Tempat Viola mendadak berubah, ia kini berada di suatu tempat yang aneh. Sepanjang matanya melihat cuma ada sebuah kota yang telah menjadi reruntuhan. Kemudian ia menangkap kehadiran sosok misterius yang berada di atas puing-puing. Rambut hitam panjangnya berkibar.


"Siapa kamu?"


Sosok tersebut menoleh, sepasang mata cokelat terang menatap Viola datar.


"Aku adalah kamu, dan kamu adalah aku!"


"Apa maksudmu—"


...


Boam!


"Sekarang apa?" Kata Ashera bingung.


Kota di bawahnya tiba-tiba timbul ledakan besar, seluruh kabut putih yang diciptakan Viola lenyap dalam sekejap.


Ashera langsung waspada, seluruh pedangnya ia posisikan sebagai tameng jika sewaktu-waktu datang serangan mendadak.


Benda putih jatuh dari langit, Ashera reflek membelalakkan matanya sangat terkejut. Ia pun menyentuh benda putih tersebut. Langit juga seketika berubah mendung.


"S-salju? Viola tak memiliki elemen es, hei, jangan-jangan ..."


Swoshh ...


Angin dingin menerpa Ashera, seluruh pedang dengan siaga menghalangi angin tersebut.


"Hei, Mbak Ashera ... kita bertemu lagi! Aku akan mulai mengambil alih tubuh Mbak ini. Pertanyaanku sama, di mana kakakku?"


Ashera tersenyum getir menyaksikan Viola yang mata biru saphir-nya berubah menjadi cokelat terang. "V-VIO ...? Ah, waktu itu, aku tak sengaja menemukan tempatmu di dalam diri perempuan itu!"

__ADS_1


__ADS_2