System : Unknown

System : Unknown
Chapter 80 -Ketidaksabaran


__ADS_3

Xeliqia sedang dalam masa pembangunan yang gencar. Wilayah hutan dan desa-desa kecil di sekitarnya diinvasi untuk memperluas wilayah, bukan secara ilegal seperti Invasi. Melainkan setelah proses panjang yang melelahkan.


Sejak sosok bernama Azkiya dikabarkan lenyap dari dunia, diskriminasi atas Xeliqia pun ikut lenyap juga. Gereja Suci dan kerajaan-kerajaan lain pun tak keberatan tuk melakukan hubungan diplomatik dengan negara mungil yang aku bentuk tersebut.


Hasil dari proses diplomatik itu adalah wilayah Xeliqia yang semakin besar.


Xeliqia sekarang dibagi menjadi 6 wilayah.


*Distrik pangan : Di sini semua hasil pangan diproduksi, rata-rata wilayahnya adalah ladang dan persawahan, terletak di pinggiran Xeliqia.


*Distrik pendidikan : Daerah khusus bagi pelajar. Terdapat ratusan akademi yang berdiri di Distrik ini, baik akademi ksatria, penyihir—segala jenis bidang ilmu pengetahuan ada di distrik ini. Pelajar tinggal memilih.


*Distrik industri : Seperti namanya, suatu wilayah yang dikhususkan untuk proses industri. Ratusan jenis pabrik berdiri, tapi rata-rata adalah garmen dan senjata perang. Distrik paling sibuk di Xeliqia.


*Distrik hiburan : Distrik paling menyenangkan, di sini yang ada cuma kesenangan belaka, karena memang itu tujuan dibuatkannya suatu wilayah yang dikhususkan tuk memfasilitasi warga Xeliqia dan pendatang, tempat merilekskan diri, entah setelah belajar atau bekerja.


*Distrik pusat : Pusat pemerintahan dari Xeliqia.


Satu wilayah yang masing kosong, tak ada apa pun di sana. Selain ... pemakaman.


Aku sebetulnya masih ragu, akan diapakan area itu? Jika terjadi pembangunan di sana, berarti sama saja menginjak-injak kuburan warga Xeliqia.


Penduduk Xeliqia merasa keberatan akan hal itu. Tanah di area itu sejatinya pasti telah bercampur dengan darah-daging para warga Xeliqia yang meninggal saat pertempuran habis-habisan dalam menentukan nasib tempat ini.


Peristiwa itu adalah salah satu peristiwa penting, mereka ingin terus mengingatnya, begitu pun diriku. Keluarga, teman, dan orang yang dikasihi ... mati ... dan mereka dan diriku tak bisa berbuat apa-apa.


"Cuma menangis dan ingin menyerah!"


Sama saja dengan ketidakberdayaanku saat menyaksikan adik perempuan ... cih, aku sangat marah jika mengingatnya.


"Pahlawan?"


Jika aku bisa bertemu dengannya ... akan kubunuh, begitu juga dengan pahlawan yang memiliki sikap serupa.


.


.


.


Angin berhembus sangat kencang di sini, menyibak dan mengayunkan tiap helai rambut berwarna cokelat sedikit pirang, dulunya sih hitam.

__ADS_1


Ini merupakan salah satu kebiasaanku, menikmati sang bintang, Palma dan Kalma turun secara perlahan di sebalik pegunungan di kejauhan. Menimbulkan pemandangan menakjubkan tiada tara.


Terlebih posisiku berada, sangat pas. Dan ini merupakan salah satu keinginan egois.


« Kau sengaja memerintahkan rakyatmu untuk membangun sebuah menara jam setinggi 180 meter. Tujuannya hanya untuk hal konyol ini »


Perkataan Luxury benar, tapi ceritanya tak benar. Aku tak pernah memerintahkan untuk membangun menara jam, yang sekarang menjadi icon Xeliqia di mata dunia.


"Fakta berkata lain ... aku padahal cuma asal ceplos 'Aku ingin sebuah bangunan tinggi, agar aku bisa menikmati bintang kembar itu tenggelam'. Mereka saja yang menganggapnya serius."


« Susah punya bawahan yang terlalu fanatik »


"Mereka semua sudah kuanggap sebagai teman."


« Teman? Eh, Kiya ... ada tamu »


Benar saja, di sisi lain atap menara jam yang berbentuk prisma ini, sesosok perempatan muncul. Rambut biru tua tergerai panjang sampai kaki, peluh terus menetes dari sekujur tubuh dan gaun biru laut yang dikenakannya, membuat basah genting yang ia pijak.


"Dia habis berenang, kah?"


"Umm ... maaf, Tuan Ayikza ... saya tak bermaksud apa-apa." Katanya sopan, ia juga menunduk sedikit.


« Kiya, kau lupa? Dia salah satu petinggi benua iblis, seorang Shiren ... namanya Serena »


Utusan dari Xeliqia juga aku tempatkan di benua iblis, Vlad yang terpilih. Semacam duta besar, jika melihat fungsinya. Juga merupakan hubungan rahasia antara Xeliqia dan benua iblis. Imbas dari jasa Russil yang telah rela mati agar aku bisa hidup tenang.


« Kau kelelawatan sudah melupakannya. Benua iblis adalah salah satu aset penting »


"Mau bagaimana lagi ... ada banyak hal yang perlu diingat."


"Maaf Tuan Ayikza karena sudah mengganggu waktu Anda, saya undur diri dulu—"


"Ah, tidak ... kau tak mengganggu, namamu Serena, kan? Aku ingin bicara sebentar denganmu."


Layaknya seorang bangsawan wanita yang melakukan penghormatan, Serena membungkukkan badan seraya sedikit mengangkat kedua ujung gaunnya.


"Suatu kehormatan bisa berbincang dengan Tuan Ayikza."


"Dia terlalu sopan! Aku tak nyaman."


« Aku merasa itu cuma dibuat-buat »

__ADS_1


"Sepertinya benar, di pasti punya tujuan tersendiri ... skill Mind Control, Absolute Command, bahkan Stimulant dimentahkan olehnya!"


« Hei, untuk apa kau menggunakan Stimulant padanya? Akan aku adukkan hal ini pada Putri »


"Cih, Iblis mesum! Pikiranmu terlalu jauh!"


Senyum dari Serena masih terukir indah, setia menunggu respon yang tak kunjung datang dariku yang kini tengah berdebat hebat dengan Luxury.


Cahaya jingga-kemrahan dari bintang kembar pun semakin redup, langit oranye secara perlahan tergusur oleh kegelapan yang diisi oleh ribuan bintik cahaya yang kini tengah memenuhi langit.


"Ah, sial ... aku melewatkan momen tadi."


« Sekarang urus si Serena »


Enggan, tapi harus kulakukan. Aku juga mulai penasaran dengan si Serena ini.


"Langsung saja Serena. Apa tujuanmu untuk menemuiku. Jangan membodohi dengan alasan 'tak sengaja'. Area ini sebelumnya terselubung oleh barrier yang mencegah orang lain untuk menemukanku." Kataku tajam menatap Serena.


Senyuman di wajah Serena belum hilang. Tapi, dengan segera mulai luntur.


"Huh, maaf Tuan, sepertinya ini lancang." Nada bicaranya berubah, tak seperti tadi yang terlalu formal. Sekarang lebih santai.


"Saya hanya ingin jika rencana memusnahkan seluruh umat manusia segera dilaksanakan. Kami—bukan ... saya pribadi telah cukup bersabar selama dua tahun ini, tapi tak ada kata 'sabar lagi." Serena ikut menatapku tajam.


Serena tak seperti Russil yang terlalu pengecut untuk sekedar beratap denganku. Dia berbeda, ada semacam tekad yang terpancar dari sorot matanya.


Pastinya dendam? Cuma itu yang membuat siapa pun rela melakukan apa saja. Sama denganku.


Aku tersenyum atas pernyataan Serena yang kuanggap lucu, aku berdiri dari posisi duduk dan berdiri membelakangi dirinya.


"Kenapa terburu-buru? Memusnahkan mereka bukan satu-satunya opsi yang menguntungkan bagi kalian. Kita sudah membahasnya saat aku berkunjung ke benua iblis. Selain sumber daya alam, kalian juga butuh budak ... seluruh petinggi pun setuju bahwa opsi untuk menguasai dan memperbudak adalah pilihan terbaik.


Untuk mewujudkan rencana itu, negara kecil tempat kita berdiri sekarang adalah jawabannya, tinggal masalah waktu" Aku berbalik dan tersenyum seringai padanya. "Kenapa kau memiliki pemikiran berbeda, Serena? Kau memiliki maksud untuk menghianati Benua iblis, menghianati kerja sama ini?"


Di pijakan sempit ini, kakiku terus melangkah mendekati Serena hingga membuatnya tersudut. Wanita dengan gerai biru itu pun mundur seirama dengan langkahku.


Serena tinggal selangkah lagi kehilangan pijakan dan akan terjun bebas.


"Untuk apa menggunakan cara repot seperti itu? Bukannya hasil akhir akan sama. Jika kita memusnahkan mereka, sumber daya benua ini akan menjadi milik kita?" Kata Serena setengah berteriak.


"Kau bodoh atau apa? Jika terjadi peperangan ... menurutmu apa yang akan terjadi? Kau tak memperhitungkan Benu Timur, Elf? Mereka tak mungkin menjadi penonton yang baik!?"

__ADS_1


Selain Benua Timur, masih ada ancaman lain yang kemungkinan akan menganggu.


__ADS_2