
"Aku tau manusia adalah ras yang buruk, tak perlu bertanya, kau pasti punya pengalaman yang buruk dengan manusia."
Serena gelabakan, ia tak bisa mengendalikan tubuhnya hingga hampir membuat pijakannya merosot akibat intimidasi yang kuberikan.
"..."
Peluh yang sedari tadi menetes dari tubuhnya mendadak berhenti. Jika manusia biasanya akan meneteskan keringat saat dirinya tertekan, tapi Serena malah sebaliknya. Yah, tak perlu disamakan, Serena memang bukan manusia.
"Serena ... kau—"
Salah satu kaki Serena terperosok, genting yang ia pijak hancur akibat terkena banyak tekanan di pinggirannya. Serena alhasil kehilangan salah satu tumpuan, dan berakhir dengan terjun bebas dari ketinggian yang hampir 200 meter.
"Huh, dasar!"
Kilatan-kilatan perak mengekor pada tubuh Serena yang terhempas.
"Uh? T-tuan Ayikza?" Kata Serena menengadahkan kepala tuk melihat ke atas—diriku.
Cahaya-cahaya tadi berubah menjadi semacam benang yang menahan Serena agar gravitasi tak mempengaruhi dirinya lagi.
« Kau mau membentuk harem? Jangan membuat para wanita baper! »
"Diam, Luxury!"
« Ukh, ya~h, baiklah »
Perkataan Luxury ada benarnya ... kenapa aku harus repot-repot menolongnya?
Serena adalah salah satu petinggi dari Benua Iblis, tentu saja kuat. Jatuh dari ketinggian ini tak akan menggores tubuhnya.
Yah, sedikit efek dramatis.
Benang yang melingkar di tubuh Serena terangkat sampai ke atap menara jam, seperti sedia kala.
"T-terima kasih, maaf telah merepotkan Anda," Serena menenggelamkan wajahnya dalam-dalam, tak membiarkan diriku melihat. Ia pun berbalik dan bergegas melesat meninggalkanku sendirian di ketinggian.
"Huh, pantas manusia dimusuhi oleh banyak ras, mereka yang menggali kuburannya sendiri."
Aku merentangkan kedua tangan terus terjun bebas ke bawah. Ini sensasi yang sangat menantang, tau!
Terapaut beberapa jengkal sebelum menghantam tanah, secepat kilat aku memutar tubuh, memosisikan kepala yang awalnya di bawah kembali ke posisi yang seharusnya. Dan ... wush, aku mendarat dengan mulus.
.
.
.
Hari semakin gelap, seluruh aktivitas pembangunan di Xeliqia telah diberhentikan sejak tadi. Kini, para pekerjanya tumpah ruah di jalanan kota tuk kembali ke kediaman masing-masing.
Aku berbaur dengan para pejabat kaki.
"Kerajaan ini sungguh luar biasa, bagaimana menurutmu?"
"Setuju, kerajaan ini adalah calon penguasa Dunia."
__ADS_1
Beberapa orang yang merupak pekerja pembangunan bercengkrama satu sama lain. Mereka merupakan SDM yang diimpor dari kerajaan lain.
"Tak terelakan, wouhh ... jika begitu, aku ingin pindah ke sini saja. Keluargaku pasti bahagia jika tinggal di Xeliqia," Respon lainnya dengan semangat yang menggebu.
"Jangan secepat itu ...!" Kata salah satu temannya menepuk bahu, ia kemudian sedikit memerhatikan sekitar dan memberi isyarat pada yang lainnya agar lebih dekat.
"Ini memiliki kerajaan yang luar biasa, kita mengakuinya. Semua yang ada di sini beberapa kali lebih maju dari tempat lain—"
Temannya yang lain ikut bergabung, langsung memotong perkataan.
"Ah, aku tau maksudmu! Kau khawatir jika Xeliqia menjadi incaran banyak pihak, sesuatu seperti itu tidak aman untuk ditinggali."
Ia mengedikan bahu, "Begitulah ... lagipula ada rumor yang mengatakan bahwa kerajaan Kaelseth berencana tuk melakukan agresi pada Xeliqia. Aku juga mendengar kabar burung bahwa kerajaan Rentweder juga berniat melakukan hal yang sama."
"Baru rumor ... kedua kerajaan itu tampak menjalin hubungi yang erat dengan Xeliqia!" Balas lainnya terkikik geli, merasa lucu atas tema konspirasi yang mereka angkat.
Aku juga ikut tersenyum. Hei, aku dari tadi menguping pembicaraan setiap orang.
"Manusia, ras yang mudah iri dan juga serakah!"
« Tapi, kau juga manusia, Kiya »
"Jangan memukul rata ... tak semua manusia seperti itu. Di dunia ini ada konsep baik-jahat, hal yang lumrah. Tapi, sisi jahat manusia terlalu dominasi daripadanya yang baik."
« Contohnya dirimu »
"Hei, hei ... aku netral ... diserang? Tinggal serang balik. Sesimpel itu, jika mereka tak mengusik lebih dulu, aku akan bersikap cuek."
« Kau membentuk aliansi dengan pihak Iblis secara diam-diam, apa itu yang kau sebut netral »
« Beginilah jika orang kalah berdebat »
Kakiku terus melangkahkan seirama dengan perjalanan kaki lain, tak jarang alas kaki yang binal terinjak atau menginjak. Hal yang wajar jika mengingat jalanan yang aku lalui sangat padat merayap, rongga beberapa meter lumayan langka.
Tujuanku saat ini adalah pergi ke rumah makan kenalanku. Saat ini perutku kosong, cacing yang bermukim di sana memulai demonstrasi menuntut haknya.
Kalian pasti sedikit bertanya-tanya, Kenap salah satu orang penting di Xeliqia tak membuat kehebohan jika berjalan di keramaian?
Tentu saja karena aku menyembunyikan identitas, dan akan menunjukkannya kepada orang yang kuhendaki.
"Akhirnya ..."
Setelah perjuangan yang cukup melelahkan menembus lautan manusia, kini aku telah sampai di pemberhentian terakhir.
..."Rumah Makan Ra"...
Tulisan dalam bahasa Arias terpampang jelas di atas pintu masuk.
Aku mendorong pelan pintu, suara lonceng yang khas pun terdengar, sebagai penanda bahwa ada pelanggan yang datang.
Aku lebih disambut oleh seorang wanita berambut pirang yang mengenakan celemek yang menutupi pakaiannya.
"Ah, Tuan Ayikza? Anda datang lagi? Apa Nona Calli tidak memasak?"
Perkataan dari seorang wanita langsung memancing perhatian setiap orang yang ada di sini, aku bergegas membuat diriku tak dikenali lagi.
__ADS_1
"Ah, maaf, aku berbicara sendiri." Wanita berambut pirang tersenyum canggung pada semua pelanggannya.
Semua orang lantas melanjutkan kembali kegiatan makan yang sempat terduga, jelas mereka kesal ... di PHP oleh wanita di depanku ini.
"Huh, maaf, saya keceplosan." Ujarnya pelan dengan mengatupkan telapak tangan.
"Tak masalah, asalkan jangan melakukannya lagi?!"
"Yap, saya berjanji." Jawab wanita itu dengan riang seraya melakukan hormat.
"Bagus, nah ... sekarang, tolong buatkan makanan terenakmu, Fharaya."
"Dengan senang hati." Balas Fharaya tersenyum tipis.
Surai pirang-emas miliknya sedikit tersibak pada bagian samping. Telinga runcing menonjol di sela-sela rambut.
Fharaya memang seorang Elf, aku menemukannya tak sadarkan diri di hutan dekat Xeliqia. Kini ia telah menjadi bagian dari Xeliqia
.
.
.
"Hei, Putri ... apa aku boleh makan sekarang?" Kata seorang gadis yang duduk manis di meja makan, ia bertanya pada seseorang yang dari tadi mondar-mandir dan sesekali melihat ke arah pintu.
"Tidak, Kiya belum pulang." Balasnya cemas, terus-terusan mengikis kuku jari tangan dengan giginya.
"Ah, dia tak akan pulang, aku akan langsung ma— Hoi, apa yang kau lakukan, Putri?"
Tiba-tiba semua makanan yang tersaji di meja makan lenyap menjadi abu.
"Jika Kiya tak makan, maka tak ada yang boleh pulang! Mengerti ... Pelayanku?" Katanya menunjuk senyum licik.
Hal tersebut membuat gadis dengan surai ungu gelap naik pitam.
"Master-ku cuma Kiya, dasar wanita bucin!"
"Milik suami, milik istri juga!"
"Jangan membual, kau berhayal ... Kiya tak pernah menganggapmu, Kiya tak pernah serius denganmu!"
"Oh, kau tau apa ... iblis maniak bertarung yang selalu membuat Kiya merepotkan!"
"****** beban yang selalu menempel pada Kiya!"
"Iblis beban keuangan!"
"Kau yang lebih beban!"
"Kau ...!"
"Kau ...!"
Begitulah, Calli atau Calsya selalu bertengger dengan Ashera jika Kiya tak ada.
__ADS_1