System : Unknown

System : Unknown
Chapter 8 -Maid, Celia Frida-


__ADS_3

Sebelum membaca alangkah baiknya menyentuh tombol like terlebih dahulu jika suka dengan Chapter ini dan tinggalkan komentar jika ada kekurangan atau kelebihan.


Jangan lupa tekan tombol favorit, agar tak ketinggalan update.


Selamat membaca, semoga terhibur.


...


Tertawa, tapi tak mengeluarkan suara ... Itulah yang dilakukan Kiya. Hatinya begitu tergelitik menyaksikan Viola salah memanggil orang dan berakhir dengan dia yang tak bisa bergerak karena dikerumuni banyak orang. Kadang menjadi populer memang merepotkan.


"Hahaha ... System, ini sangat lucu! Hahaha ... kenapa dia bisa dikelabui dengan trik kecil itu? Dia memang orang yang polos!"


[Ini sebenarnya kesempatan Tuan untuk menjauh dari Viola. Kita bisa ketahuan, Tuan!]


"Hmm ... padahal aku ingin melihatnya lebih lama!?"


[Kalau Tuan ingin memandangi wajah Viola lebih lama ... Silahkan, kita perginya nanti saja]


"Sepertinya kau sangat ingin aku dekat dengan cewek itu, system!?"


[...]


"Baiklah, ayo pergi!"


Pada jari-jemarinya terikat suatu benang tipis, saking tipisnya benang itu tak akan terlihat selain oleh pemiliknya. Kiya kemudian mengalirkan listrik bertegangan kecil, benang itu terbuat dari logam—konduktor yang baik. Listrik-nya merambat sampai pada orang yang mengenakan jubah milik Viola—milik Kiya.


Zrrrtttttttttttt ...


Mungkin listrik itu rasanya seperti menggelitik saja. Setelah sadar, orang itu pun melihat ke arah Kiya yang memberikan kode untuk menemuinya.


Orang itu pun menepi dari kerumunan dan pergi menuju suatu gang. Dan untungnya gang itu menjadi sepi karena kehadiran Viola.


"A-a-da a-pa l-l-la-gi, T-t-tuan?" Katanya ketakutan setengah mati berbicara berhadapan dengan Kiya.


Kiya lalu menjulurkan tangannya untuk meminta sesuatu. Orang itu memiringkan kepalanya karena bingung, dia berpikir sejenak apa yang diinginkan oleh Kiya?


Dan akhirnya dia pun tersadar, dia merogoh sesuatu lalu menyerahkannya pada Kiya. Itu adalah sebuah kantong.


"Hah ...?" Kiya menaikkan sebelah alisnya. "Apa maksudnya ini?" Kiya menunjukkan tatapan membunuh.


Dia pun langsung bersujud di depan Kiya, takut nyawanya lepas dari tubuh. Baginya Kiya sekarang adalah malaikat kematian yang bisa mencabut nyawanya kapan saja.


"M-m-maaf, Tuan! S-s-saya tak m-m-emi-li-ki apa pun lagi!"


Urat-urat syaraf di dahi kita mulai bermunculan dan berkedut-kedut. "Aku tak menginginkan uangmu, bodoh!"


Tubuhnya langsung bergetar hebat setelah dibentak oleh pemuda yang sedang ditelan amarah.


"Berdiri!"


Dia pun dengan patuh berdiri dengan kepala yang selalu tertunduk, tak berani menatap mata Kiya yang penuh dengan niat membunuh.


Kiya sekali lagi menjulurkan tangannya. "Kembalikan! Kembalikan jubahnya!"


"Eh? Ah ... m-m-maaf, ini sa-ya kembalikan!?" Dia pun melepaskan jubahnya dan memberikannya pada Kiya.


[Tuan ...—_—]


"Apa? Kau tak lihat aku bertelanjang dada?"

__ADS_1


[@°▽°@]


...


Kiya melihat pemandangan ini dengan tatapan datar sekaligus jijik. Pasalnya ... 2 orang wanita mengenakan seragam Maid yang kurang bahan bersama dengan ... yah, pria berambut pirang yang menatap kedua wanita itu dengan hasrat yang menggebu-gebu ketika juluran lidah keduanya begitu mengenakan pada bagian selangkangannya.


"Babi itu ... dia melakukan threesome?"


[Tuan kesal? Iri?]


"Heh ... jika mau aku bisa merebut para maid itu! Pasti mereka tak bisa menolak pesonaku!"


Kiya melihat mereka dari atap mansion yang telah dilubangi sedikit olehnya tepat pada bagian kamar si Duke—Volancy Egramn.


Semakin lama mengintip, Kiya semakin bertambah kesal saat ketika orang itu berganti-ganti gaya s*x.


"A-ku ingin membunuh babi itu!" Kilatan-kilatan listrik mulai muncul di sekitar tubuhnya.


[Harap tahan amarah Tuan! Ingat tujuan Anda kemari?]


"Tenang saja, system! Ini pasti akan lucu!"


Kiya kemudian mengeluarkan sebuah jarum kecil seukuran kuku yang dikaitkan dengan benang tipisnya. Sebelumnya Kiya sudah membeli satu set jarum dengan benang baja. Kiya pun sedikit melebarkan lubangnya agar bisa membidik dengan mudah.


Dia lalu membidik tubuh si Duke.


"Akh ...!?" Teriak Duke ketika jarum kecil itu menancap tepat di lehernya.


"Ada apa tuan Volancy? Kenapa dikeluarkan? Saya belum puas, Tuan!" Kata salah seorang Maid dengan nada yang manja.


"Ahh ... maaf, tadi saya seperti tertusuk sesuatu!" Kata Duke dengan bingung.


"Tuan ... ini giliran saya." Kata Maid yang belum mendapatkan gilirannya. Dia pun melebarkan meong-nya.


Namun, niatnya terhenti sesaat. Kiya melihat sesuatu yang menarik—di bawah sana, tepatnya di luar jendela kamar Duke itu ... ada seseorang yang mengintip, dia juga menggunakan seragam Maid.


"Hoh ... menarik!" Kiya memperhatikan maid itu secara seksama.


"Hide!" Kiya lalu menggunakan skill Hide-nya.


Bergeser ke tempat si Maid itu ...


"Dasar! Saat kami hidup dengan susah, dia—salah seorang pemimpin kota ini setiap malam hanya bersenang-senang! Dia memang keterlaluan!" Tangannya tergenggam kuat menahan amarah. Sebuah keinginan kecil di hatinya dia ingin sekali membunuhnya.


Terlalu fokus mengintip hal tak senonoh itu, dia sampai tak menyadari ada seseorang yang wujudnya tak nampak hendak menerkamnya dari belakang.


"A-a ...!" Teriakan itu berhenti ketika telapak tangan seseorang menghalanginya.


"Diam atau mati!" Bisik orang dengan jubah putih menodongkan sebuah jarum kecil di lehernya.


Mendapatkan ancaman seperti itu, tentu saja Maid yang memiliki ciri rambut berwarna cokelat yang senada dengan matanya tak berani melawan. Alhasil, dia pasrah dibawa oleh orang berjubah putih—Kiya.


Kiya membawanya ke atap mansion itu persis tempatnya tadi.


"S-siapa kau?" Katanya setelah Kiya berhenti membekapnya.


"Orang asing yang kemungkinan memiliki tujuan yang sama denganmu!?" Kata Kiya sedikit angkuh melirik lubang yang sudah dia buat untuk mengintip.


Si Maid belum bisa mencerna perkataannya, beberapa kali dia melihat lubang dan Kiya secara bergantian.

__ADS_1


"Huh ... baiklah, simpelnya aku juga tak suka dengan bedebah di bawah sana!"


Si Maid mengerucutkan bibirnya, "Ouh, kau orang suruhan Vlad?"


"Kurang tepat! Aku bekerja sendiri."


"S-sendiri?" Kata si maid memiringkan kepala. "Lalu, siapa kau?" Sambungnya dengan suara yang agak tinggi.


Kiya melihat ke sekeliling dengan serius. Meskipun suara tadi keras, tak ada satu pun orang yang terpengaruh. Baik itu tiga binatang di bawah sana, para penjaga ... seakan suara itu tak ada.


"Hmm ...? Sejenis silent barrier ... dia cukup ahli, seharusnya dia sudah melaksanakan kegiatan seperti ini dalam waktu yang lama!?"


Memang begitulah faktanya. Maid itu secara tak langsung membantu Kiya memuluskan penyusupannya.


Kenapa dia Kiya dan dirinya bisa mengintip secara leluasa?


Dia memanipulasi penjaga di sekitar mansion agar melonggarkan penjagaannya, lebih tepatnya dia membuat mereka tertidur. Dan si Duke tak akan mengurusi hal seperti itu, Duke lebih memilih memuaskan nafsu daripada nyawanya.


"Hei, jawab pertanyaanku!" Maid itu berteriak setelah melihat Kiya termenung.


"Cih ... lihat ini!" Kiya meraih kembali benang yang sempat dia sisihkan.


Zrrrtttttttttttt ...


Mata maid itu pun melebar melihat bahwa listrik yang dikeluarkan Kiya merambat hingga ke bedebah itu dan menyetrumnya.


"Yah ... ini salam pembuka!" Kiya tersenyum puas.


Tiga orang di bawah sana hanya pingsan, Kiya tak terlalu dalam mengeluarkan listriknya.


"Kuharap kau mengerti, mata-mata!"


...


"A-pa kau mau bergabung dengan kelompok pemberontak kami?"


Akhirnya Maid itu mengerti tujuan Kiya. Pertama kali mengetahuinya, dia sangat senang ada seseorang dari slum area yang memiliki pemikiran sama.


"A-pa yang kudapat jika aku bergabung?"


"Y-yah, itu ..." Kata-kata mengganjal di tenggorokannya. Maid itu tak yakin bisa memberikan sesuatu yang bisa membujuk Kiya.


Dan maid itu tiba-tiba merasa malu dengan pipi yang berubah merah merona. "A-a-aku akan menjadi milikmu!" Maid itu mengangkat rok-nya dan menampilkan CD berwarna putih.


"LonT!"


[Tak boleh berkata seperti itu, Tuan! Kecintaannya terhadap keluarga dan teman membuatnya terpaksa melakukan itu. Anda tahu sendiri bahkan slum area tak akan mampu jika membayar dengan uang, maka—]


"Kau cerewet, system!"


Kiya lantas memperhatikan serius setiap inci bagian tubuh dari si maid. Dan dia pun bisa menarik kesimpulan bahwa tubuhnya ideal bahkan di atas rata-rata, buah dadanya E-Cup dan dia pun juga bisa dibilang cantik. Jika Kiya memang pria normal seharusnya beberapa detik lalu, Kiya sudah menyerangnya.


"Siapa namamu?"


Sang Maid yang masih mengangkat roknya dengan sedikit malu menjawab.


"C-celia Frida!"


"Baiklah, aku akan bergabung dengan kelompokmu."

__ADS_1


Wajah Celia semakin memerah mengetahui Kiya menerima tawarannya. Dia menjadi sangat malu bahwa setelah ini dia harus menjadi milik Kiya, Celia harus patuh terhadapnya.


"Dia sebenarnya cewek polos, tapi sok nakal!"


__ADS_2