
Sebelum membaca alangkah baiknya menyentuh tombol like terlebih dahulu jika suka dengan Chapter ini dan tinggalkan komentar jika ada kekurangan atau kelebihan.
Jangan lupa tekan tombol favorit, agar tak ketinggalan update.
Selamat membaca, semoga terhibur.
...
"A-pa semua ini salahku? Celia mati karena diriku yang bodoh membawa Putri Calsya ... jika setidaknya ... aku, Celia tak—"
[Apa yang Tuan katakan? Bukannya Anda memiliki semacam pemikiran bahwa kematian adalah takdir dan hal itu adalah mutlak. Meskipun Anda tak membawa Putri Calsya kembali, pasti Celia akan mati juga, tapi dengan cara lain. Bukannya seperti itu?]
"Y-yah ... hanya saja. Cih ... ada apa dengan diriku?" Kiya bingung dengan dirinya sendiri.
[Tuan pasti bingung, siapa yang patut disalahkan atas semua ini]
...
Regu pencari Putri Calsya telah tiba, jumlahnya hanya 2 orang. Mereka adalah sepasang ksatria wanita dan pria.
Si ksatria wanita, Fleura de Frais. Rambut pirang panjang yang diikat ekor kuda dengan mata hijau zamrud, dia mengenakan zirah tipis yang memiliki warna dominan putih dan biru. Tak lupa pedang indah dengan permata biru di gagangnya yang menggantung di pinggang kirinya.
Sedangkan, si ksatria pria, Rayha Arley. Rambut cokelat sedikit keabu-abuan, mata hitam, dan raut wajah yang selalu kelihatan kesal. Dia mengenakan zirah berwarna perak-kebiruan.
"Putri, apa Anda baik-baik saja?" Kata Fleura sedikit khawatir akan kondisi Putri Calsya.
Putri Calsya cuma mengangguk dengan sedikit takut melirik Kiya dan semua orang yang hadir di sana.
Rayha yang juga sebagai regu pencari langsung menodongkan pedangnya pada Kiya karena melihat reaksi Putri Calsya. Pihak kota Xely langsung bereaksi atas tindakan Rayha itu, namun Kiya menghentikan mereka dan menyuruhnya jangan khawatir.
"Beraninya kalian mempermainkan keluarga kerajaan! Kalian sungguh ingin kota ini rata?" Pedangnya semakin dekat dengan leher Kiya.
Sang pemilik leher hanya menatapnya datar. "Apa maksudmu mempermainkan?"
"Heh ... kalian ternyata cukup licik, ya?! Berpura-pura menjadi penyelamat Putri ... padahal kalian sendiri yang menyerang rombongannya Tuan Putri, ya kan?"
"Kalau iya, kenapa?"
Bag ...
Bukannya menggunakan pedang, Rayha meninju pipi Kiya hingga membuatnya tersungkur. Marah pun tidak, sebaliknya ... Kiya malah tersenyum sambil mengelap darah di bibirnya. Yah ... suasana hati Kiya sedang buruk-buruknya.
"Tsk ... apa ini? Kulitnya sangat keras, padahal aku sudah memukulnya dengan kekuatan penuh!?" Ksatria itu sedikit melirik ke tangannya yang sedikit lebam.
"Kau akan dieksekusi, bukan ... semuanya akan dieksekusi ...!"
__ADS_1
"Hahaha ... kau pikir kami akan patuh?! Kami bukan lagi rakyat kerajaanmu!" Kiya membuka Inventory dan mengambil katana-nya. "Kau tau ... satu-satunya jalan adalah perang jika kalian ingin mengeksekusi kami!"
"K-KAU ...!"
"Sudahlah, Rayha! Kau tak punya bukti atas tuduhanmu! Sebaiknya kita dengarkan penjelasan Putri Calsya dulu!" Seru Fleura menghentikan Rayha.
"Cih ... baiklah!" Dengan amarah yang belum reda, Rayha pergi meninggalkan Kiya dan bergabung dengan Fleura serta Putri Calsya.
Penduduk kota Xely bergegas menuju ke arah Kiya untuk menanyakan keadaannya.
"Apa Anda baik-baik saja?" Tanya Vlad.
Kiya tak langsung menjawabnya, dia beberapa kali melihat sekelompok orang yang mengerubunginya, matanya sibuk mengindentifikasi setiap orang. Dia mencari ...
"Pak Will, Riela, Balta-Syilta, Pak Ruda, Lunett, dan yang lainnya ... Tsk ... a-ku pasti—"
"Anda tak perlu menyalahkan diri sendiri, Tuan! Memang ini adalah takdirnya. Celia pasti tak ingin Anda sedih!?"
Kesemuanya memeluk Kiya memberikan kehangatan, dia tak bisa berkata apa-apa. Dan muncul lah perasaan aneh pada dirinya.
"Kehangatan sebuah keluarga? Aku sampai lupa, kapan terakhir kali aku mendapatkannya!?"
Kiya memang anak yatim piatu, dan tinggal dengan nenek dan adik laki-lakinya ... begitulah ingatan yang tergambar jelas di kepalanya.
Setitik air mata menetes, Kiya dengan cepat mengelapnya dengan tangan kanan yang masih memegang katana. Dia kemudian sedikit merekahkan senyumnya.
"T-terima kasih."
Semuanya pun turut senang bisa sedikit menghilangkan perasaan bersalah yang Kiya derita.
"Umm ... maaf mengganggu!?" Kata si ksatria wanita, Fleura agak ragu-ragu, dia takut menjadi perusak suasana.
Kiya mengembalikan ketenangannya dan mencoba mendengarkan apa yang ingin Fleura katakan.
"Perkenalan nama saya Fleura de Frais, salah satu ksatria Tuan Putri Calsya. Saya sungguh minta maaf atas sikap yang ditunjukkan rekan saya. Kami sudah mendengar ceritanya dari Putri Calsya dan kami mengucapkan banyak terima kasih karena telah menyelamatkan Putri!" Kata Fleura sedikit menundukkan badan.
Rayha dan Putri Calsya pun mendekat lalu melakukan hal yang sama.
"Maaf, saya tadi sedikit emosi!?"
"Itu reaksi yang wajar." Kiya sedikit melirik Putri Calsya. "Jadi, langsung saja ... apa kepentingan kalian selain menjemput Putri? Mencariku, kah?"
Sebelumnya Kiya sudah mengintrogasi Putri Calsya soal ini. Sekarang, Kiya sudah tahu dan memanfaatkan kesempatan ini agar bisa ke ibukota dengan leluasa.
"Sepertinya kau orang yang dimaksud, tapi ..." Rayha agak ragu melanjutkan kalimatnya.
__ADS_1
"Tak sesuai umur, kan? Yah, ada banyak hal yang sudah kulalui." Kata Kiya yang mulai sedikit kesal mengingat pertempuran malam itu.
"Oh ... aku tak terlalu paham. Tapi ... kau juga harus ikut ke ibukota! Kau pantas untuk mendapat hadiah!" Kata Rayha dengan sorot mata serius.
"Aku tak akan menerima tawaran konyol itu!" Kiya pura-pura terkejut.
"Raja akan sangat berterimakasih, jadi ikutlah dengan kami!" Fleura mulai ikut-ikutan membujuk.
Kiya sejenak melihat ke arah Vlad dan yang lainnya, mereka secara serentak menganggukkan kepalanya. Rayha, Fleura ... kelihatan sangat cemas atas keputusan yang akan dibuat oleh Kiya. Seakan-akan mereka akan mendapatkan hukuman berat jika kembali tak membawa Kiya.
Putri Calsya seperti tak penting.
"Yah ... kedatangan Putri Calsya sebagai utusan terdengar sedikit aneh. Mengirimkan salah satu keluarga bangsawan dengan pengawalan rendah saat keadaan masih belum stabil, dua ksatria ini tak diajak! Raja kelihatan orang yang tak sayang anak. Hmm ... Sudah ada yang mengatur ini ... apa itu Asmodeus, ya?"
[Sepertinya takdir memang memaksa Tuan untuk datang. Tanpa Putri Calsya atau kematian Celia ... Anda akan tetap datang ke sana!]
"Tepat sekali! Jadi, ayo selesaikan semua ini segera!"
...
Kiya memutuskan untuk pergi ke ibukota untuk menyanggupi permintaan Rayha dan Fleura yang katanya ... Raja akan memberikannya hadiah. Namun, sebelum pergi ... Kiya sedikit berpesan pada Vlad dan yang lainnya. Keberangkatannya adalah untuk mereka juga.
"Aku akan membawanya ke sini, setelah itu kalian boleh melakukan apa pun padanya!"
"Eh? Membawa? Maksud Anda ... Duke Volancy?" Kata Vlad melebarkan matanya sangat terkejut.
"Dia harus tanggung jawab atas perbuatannya. Tapi, kalian harus mendengarkan ceritanya dulu."
Semua orang tak begitu paham. Mendengar cerita? Cerita apa? Tentang Duke Volancy? Begitulah pikir mereka.
"Kalau begitu, aku pergi dulu. Jaga kota ini baik-baik, gunakan senjata yang aku berikan seandainya ada ancaman. Aku akan kembali kira-kira seminggu dari sekarang!"
Kiya mengeluarkan jubah putih tersayangnya dari Inventory. Dia berbalik, bergegas menyusul tiga orang di depannya yang sudah menunggu dari tadi. Tak lupa Kiya melambaikan tangannya tanpa menoleh.
"Kami akan menunggu kepulangan Anda."
...
Pokoknya aku ucapin terimakasih pada pembaca yang bisa terus baca sampe chapter terupdate.
Maaf 🙏 nggak bisa ngasih cerita yang bagus.
aku bakal usahain cerita ini agar bisa tamat.
Dah ... see you.
__ADS_1