System : Unknown

System : Unknown
Chapter 83 -Invasi monster?


__ADS_3

"Kiya, kamu sudah pulang? Dari mana—"


Tak ada tanda bahwa sosok yang dipanggil oleh Calsya memerhatikan, setelah membuka pintu, Kiya asal nyelonong pergi ke kamarnya tanpa mengucapkan satu patah kata pada orang yang menyambutnya.


"Jangan mengacuhkanku, jawab pertanyaanku—eh? Ashera, ada apa?"


Calsya berniat menggedor-gedor pintu menciptakan kebisingan agar Kiya keluar, ia tahu pasti bahwa Kiya tak tahan diperlakukan seperti itu. Namun, mendadak Ashera muncul entah dari mana, menenggelamkan niat Calsya.


"Biarkan dia sendiri!" Kata Ashera seraya mencengkeram pergelangan tangan Calsya supaya tak kemana-mana.


"Kenapa aku harus membiarkannya? Aku ingin tau apa yang terjadi? Sekilas, aku melihat pakaiannya compang-camping, aku harus—" Calsya berontak, berusaha melepas diri.


"Kubilang ... BIARKAN DIA SENDIRI!" Ashera meninggikan nada bicara.


Krek ...


"Akhh ..." Erang Calsya kesakitan, ia reflek menjauh dari Ashera.


Secara tak sadar Ashera menguatkan cengkeramannya hingga membuat tangan Calsya hampir patah. Raut wajahnya pun membuat mantan Putri dari kerajaan Rentweder tersebut ketakutan.


Calsya menyentuh bagian yang dicengkeram Ashera sangat kuat, terlihat itu meninggalkan bekas kemerahan.


"Kenapa Ashera semarah itu? Aku tak pernah melihatnya seperti ini!?"


Ashera pun sadar atas tindakannya, tatapan penuh rasa ngeri dari Calsya membuatnya teringat pada masa lalu. Saat para manusia juga melayangkan tatapan yang persis dengan tatapan Calsya saat ini padanya.


Ashera menggigit bibir bagian bawahnya, "Tsk ... maafkan aku, Putri. Aku lepas kendali!" Ashera berkata dengan menyesal, ia tak berani menatap balik Calsya. "Izinkan aku untuk menyembuhkan luka itu?!" Sambung Ashera menghantarkan cahaya ungu yang indah.


Cahaya itu membalut luka di tangan Calsya, dalam sekejap lebam di tangannya sirna.


"Apa terjadi sesuatu yang sangat buruk?" Tanya Calsya pelan.


Ashera mengangguk, "Ya, itu sesuatu yang sangat buruk!"


.


.


.


Calsya dan Ashera duduk bersebrangan di ruang makan ,ditemani dengan dua gelas cangkir teh yang menjadi teman mengobrol, anggap saja seperti itu.


"... begitulah ceritanya, Putri." Ujar Ashera santai seraya mengisap teh di depannya dengan anggun.

__ADS_1


Berbanding terbalik dengan sikap santai yang ditunjukkan oleh gadis iblis berambut ungu tersebut, Calsya tampak syok menutup mulutnya yang menganga lebar. Ia sedikit prihatin atas cerita yang baru didengarnya dari Ashera.


"Tapi, kenapa kiya tak pernah bercerita tentang ini padaku?"


Calsya menghembuskan nafas setelah ia menyeruput teh, cangkirnya pun ia letakkan kembali di meja. "Jangan kepedean, Putri! Kiya tak mungkin bercerita semua hal tentang dirinya, apalagi soal kenangan yang memilukan."


"Ugh ..." Bak petir di siang bolong, perkataan Ashera menusuk cukup dalam. "Aku ingin tau, bagaimana masa lalunya?" Gumam Calsya merebahkan kepala di meja dengan lemas.


"Masa lalunya pelik. Kehilangan keluarga, teman, dan orang yang disayangi ... Kiya telah melalui semua itu. Terlebih saat ia kehilangan adik tercintanya, ia merasa tak berdaya, tak berguna, merasa gagal untuk melindungi keluarga satu-satunya yang ia miliki.


Sejak saat itu Kiya berhenti percaya pada orang lain, mulai bersikap apatis, dan menjauh dari sekitar. Baginya, dunia adalah musuh—merasa dirinya adalah tokoh antagonis. Kemudian pemikirannya mulai berubah saat dirinya bertemu dengan penduduk Xeliqia, terlebih Celia ... gadis itu berhasil mencairkan Kiya yang membeku cukup lama."


"Jadi, apa Celia memang penting bagi Kiya?" Kata Calsya semakin lesu.


"Huh, kau ini!" Ashera mendelik malas. "Dasar cemburuan!" Sambungnya menodongkan Calsya sendok teh.


Setelah itu terjadi keheningan sesaat, tak ada lagi pihak yang berniat memunculkan topik baru.


"Ashera, memang apa yang menyebabkan Celia meninggal?" Gumam Calsya yang masih merebahkan kepalanya.


Ashera yang ingin melakukan seruputan terakhir pada teh yang tinggal seteguk, tapi ia mengubur niatnya setelah mendengar pernyataan dari Calsya.


Tentu saja cangkirnya tertahan di udara samping Ashera menurunkannya kembali. Ia pun menatap Calsya dengan serius


"Eh? Apa itu pertanyaan yang sensitif?" Kepala ditegakkan kembali, lalu balas menatap Ashera dengan bingung.


"Jika itu sesuatu yang tak bisa diceritakan, maka tak apa-apa. Toh, aku juga tidak terlalu penasaran." Calsya tersenyum masam. "Aku lebih penasaran soal kau yang bisa tau semua ini." Sambung Calsya memalingkan muka.


"Calsya Arant Weder, yang membunuh Celia Frida adalah ... dirimu!" Kata Ashera tiba-tiba.


Pyarr ...


Cangkir yang volumenya belum berkurang terlepas dari genggaman Calsya, pecahan keramik pun berceceran di atas meja, begitu juga dengan teh yang membasahi bajunya.


Lengan kanan Calsya tergores dan mulai mengeluarkan darah, tadi ... salah satu serpihannya terlempar lalu menggores tangannya.


"A-aku ... yang ... m-membunuh ... C-celia?"


.


.


.

__ADS_1


Paginya ...


Tak ada perubahan yang berarti, kondisi Kiya masih sama dengan yang semalam. Ia puasa bicara, tak pernah menanggapi setiap perkataan dari orang yang mencoba mengajaknya mengobrol. Paling banter cuma memberikannya jawaban singkat yang datar.


"Kiya, kamu sudah selesai?" Calsya setengah berteriak di depan sebuah pintu.


"Hampir."


Mengawali hari dengan mandi ria, tapi hari ini berbeda. Tak ada suara keributan dari Kiya berteriak-teriak mencari-cari handuk yang disembunyikan Calsya dan si Putri yang pura-pura tak mendengar. Teleportasi sampai digunakan agar sampai di kamar tanpa memamerkan lekuk tubuhnya pada Calsya.


Faktanya ... meskipun tinggal seatap, mereka berdua tak pernah melakukan sesuatu yang melebihi ciuman.


Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan sosok Kiya yang tubuh bagian bawahnya dibalut handuk putih.


Sepersekian detik dada telanjang Kiya dihantam oleh Calsya yang merobohkan diri.


"Kiya, maafkan aku ... maafkan aku." Isak Calsya berlinangan air mata.


Fakta yang menyakitkan bagi Calsya, ia merasa sangat bersalah karena telah menghilangkan seseorang yang berharga bagi orang yang dicintainya. Meskipun tak sepenuhnya bersalah.


"Huh, pasti Ashera yang membocorkannya." Kata Kiya kedengaran malas.


Ia menjauhkan Calsya dari tubuhnya. "Dengar Calsya!" Kiya memegang pipi Calsya tuk membuat pandanganku Goku pada dirinya.


"Tak perlu menangis, jika aku memang menyalahkanmu, aku pasti sudah membunuhmu sejak lama." Kata Kiya yang jarinya sesekali bergerak menghapus air mata yang membasahi pipi Calsya.


"Kuperjelas, Itu bukan salahmu!"


.


.


.


Di tempat lain.


"Cih, apa-apaan ini?" Seseorang mendengus kesal menatap sejumlah besar monster di kejauhan.


"Fene ...!"


"Serahkan padaku!"


Selanjutnya ribuan lingkaran sihir bermunculan di udara, sepersekian detik kemudian rentetan sihir menghujani para monster itu dengan telak.

__ADS_1


"Gouri, sebenarnya dari mana datangnya mereka? Ini adalah kota ke empat yang mengalami Invasi monster secara tiba-tiba." Kata seorang pria yang tangannya sibuk menarik tali busur.


"Yang jelas ini bukan fenomena yang terjadi secara alami, ini adalah sabotase seseorang!"


__ADS_2