
Sebelum membaca alangkah baiknya menyentuh tombol like terlebih dahulu jika suka dengan Chapter ini dan tinggalkan komentar jika ada kekurangan atau kelebihan.
Jangan lupa tekan tombol favorit, agar tak ketinggalan update.
Selamat membaca, semoga terhibur.
...
Benua iblis, salah dari 3 benua yang ada di dunia Arias. Benua iblis merupakan benua paling paling tandus, sulit sekali tumbuhan untuk tumbuh karena kondisi geografi yang tidak memungkinkan. Meskipun begitu, penduduk benua ini mengakali masalah ini dengan mengekspor bahan makanan dari benua lain, khususnya benua Timur yang didominasi oleh kerajaan Elf.
Mengapa tidak benua Barat?
Yah, manusia agak anti dengan yang namanya Demon. Terlebih ada penghalang terbesar, gereja suci Carialin. Mereka menentang dengan keras hubungan seperti apa pun dengan penduduk benua iblis.
Meskipun dunia Arias sudah damai sejak lama dan para iblis sudah kembali ke dunianya sendiri, yaitu neraka.
Gereja suci Carialin, penganut ajaran Dewi Aria. Dewa yang paling banyak disembah di benua Timur. Salah satu ajarannya adalah menyatakan berhubungan dengan Demon adalah dosa besar dan dianggap kafir.
Tidak ada yang berani menentangnya, pengaruh Holy Knight ... Judgment. Kumpulan ksatria suci yang ditugaskan untuk menghakimi para pendosa.
Yah ... intinya, selagi Gereja suci Carialin masih ada, hubungan antara manusia dengan Demon mustahil.
Sedikit tambahan ...
Ritual pemanggilan iblis mudah dilakukan, cuma tinggal memberikan tumbal. Jumlahnya terserah, penentu kuat-lemahnya iblis yang dipanggil tergantung pada tumbal, tapi ada kasus khusus bahwa hanya dengan satu tumbal lemah, tapi yang muncul malah salah satu dari petinggi iblis.
Penyebab?
Akan diceritakan segera. Dan kasus ini pun sudah terjadi.
...
"Mereka terlalu menjiwai ...!"
[Itu malah lebih bagus, Tuan]
"Hmm ..."
Dua orang suruhan Kiya melakukan tugasnya dengan sangat baik. Sandiwara mereka sungguh bagus sampai-sampai Kiya berpikir mereka tidak sedang bersandiwara alias sungguhan. Kiya pun tak mempedulikannya meskipun mereka bersungguh-sungguh ingin melakukanya dengan Putri Calsya. Dia memang cukup cantik. Jadi, normal saja.
Kini Kiya dan Putri Calsya masih di tempat yang sama, di hutan bagian barat kota. Putri Calsya harus memakan sesuatu terlebih dahulu.
Sedikit murung dan tak bersemangat sama sekali, Putri Calsya melakukan gigitan demi gigitan pada ikan bakar yang ditinggalkan kedua pria tadi. Yah ... itu aslinya memang untuk Putri Calsya.
"T-terima kasih. Aku tak tau apa yang terjadi jika kau tak datang!" Kata Putri Calsya dengan pelan, tak berani menatap Kiya.
Kiya tak meresponnya, dia sibuk melihat ke arah lain dengan serius.
"Matanya berubah merah?" Pikir Putri Calsya melihat Kiya.
"Ahh ... Tuan Putri, ayo kita kembali! Sepertinya ada sedikit keributan!?"
Putri Calsya seketika mengalihkan pandangannya, dia malu jika tadi kedapatan memerhatikan Kiya. Namun, Kiya sudah menyadarinya dari tadi dan dia pun tak peduli.
Kiya mulai berdiri diikuti dengan Putri Calsya yang langsung menyudahi kegiatan makannya. Dan seperti sebelumnya ... mereka berjalan dengan jarak yang cukup jauh, malah lebih jauh lagi.
"Dia sangat takut padaku, ya?"
[Begitulah, Tuan]
Butuh waktu beberapa saat untuk ke tempat pengungsian. Keadaan semakin memanas, tapi Kiya tak langsung menyelesaikannya, sebaliknya dia masih melihat-lihat dari kejauhan tuk menunggu waktu yang tepat.
"Hei, kalian ...! Mengkulah! Apa yang kalian lakukan malam itu?" Bentak Balta pada sekelompok orang.
"Cih ... apa-apaan kalian?! Mencegat kami seenaknya ... sekarang menjejali pertanyaan yang aneh!" Gerutu salah seorang dari mereka. Semuanya menjadi kesal ketika Syilta dan Balta menghadang jalan mereka kembali ke tempat pengungsian.
"Kau kan hanya menjawab 'ya' atau 'tidak'. Apa itu sulit?" Sekarang giliran Syilta yang bertanya.
"Baiklah ... kalau begitu, kami menjawab tidak—"
__ADS_1
Syutt ... jleb ...
"Akhhh ... dia ...?! Berani sekali!" Erangnya kesakitan berusaha mencabut pisau yang dilemparkan Balta dan mengenai bahu kanannya.
"Kalian berdua ingin bertarung, jalang!" Marah yang lainnya, tak terima teman mereka dilukai.
Kelompok itu langsung terpancing ketika Balta tak ragu-ragu untuk melempar pisau untuk melukai. Akal sehat saudari perlahan menghilang setelah kematian Celia.
Dua saudari tak terima akan kematiannya dan berusaha mencari kambing hitam. Seperti yang dilakukannya saat ini, mereka mengintrogasi setiap penduduk kota Xely yang bukan berasal dari slum area.
Pada awalnya mereka bersabar dengan sikap dua saudari itu dan mengerti akan perasaan mereka. Tapi, dipikir-pikir mereka sudah kelewatan karena sudah berani melukai bahkan berniat membunuh.
Kiya masih anteng dengan Putri Calsya memerhatikan dari jauh.
"Kak, kau memerhatikan saja! Biar aku yang mengurusnya!" Kata Balta penuh percaya diri mengeluarkan dua pisau yang membuat kedua tangannya penuh.
Kelompok orang itu tak gentar meski memegang senjata.
"Kita ringkus dia dan bawa kepada Tuan Kiya. Pasti saudari ini akan mendapatkan akibatnya!"
"Coba saja kalau bisa?!"
Syilta dan Balta, serta sekelompok orang itu tubuhnya mulai dibalut oleh aura dengan warna yang berbeda-beda. Ini adalah salah satu pemanfaatan Mana tanpa perlu belajar sihir.
Caranya cukup mudah, tinggal mengaliri Mana ke seluruh tubuh dan Yap ... otomatis kekuatan fisik akan meningkat. Hal ini cukup mudah, anak-anak saja bisa melakukannya.
"""Enchant!"""
Balta melesat cukup cepat, kelompoknya orang itu sedikit terbelalak. Tak menyangka akan secepat ini.
Kelompokkan itu terlambat bereaksi, alhasil tubuh mereka harus rela bersentuhan dengan logam pipih yang Balta pegang.
Sriettt ... sriettt ...
"Akhhh ... dia benar-benar serius ingin membunuh kita?!"
Beberapa orang terkena sayatan yang cukup dalam, meski sama-sama menggunakannya Enchant. Seharusnya lukanya tak sedalam itu.
[Benar sekali, Tuan. Saudari itu sedang mengalami resonance, akibat dari pengguna sihir yang bersama yaitu telepati]
"Level telepati mereka sudah sangat tinggi, bukan hanya sebatas audio saja. Tingkatkannya sudah seperti kedua tubuh mereka terhubung dan sanggup membagikan apa pun. Sebenarnya mereka punya potensi jika belajar sihir dengan benar!" Kata Kiya berusaha menjadi komentator.
[Enchant sudah meningkatkan fisik dan sihir telepatinya. Dan ditambah dengan efek resonance, seharusnya mereka berdua bisa menghabisi sekelompok orang itu, Tuan]
Putri Calsya cuma mengunci rapat-rapat mulutnya. Dia tak ingin mengucapkan sepatah kata pun.
Kembali ke Syilta dan Balta ...
Setelah melancarkan serangan pertama, Balta mundur terlebih dahulu.
"Kalian serius ingin bertarung?"
"Apa kami dari tadi bercanda?" Kata Balta dengan senyum yang memprovokasi.
Itu semakin memancing kemarahan kelompok itu. Jumlah pasti mereka ada 7 orang, 3 diantaranya sudah cedera di bagian lengan. Balta memang sengaja mengincar bagian itu.
4 orang yang belum terluka itu maju terlebih dulu, sama-sama menggunakan Enchant. Mereka menyerang Balta berbarengan. 3 orang lainnya akan melakukan serangan jarak jauh.
Satu orang melakukan pukulan lurus ke arah Balta, dia dengan mudah menunduk dan langsung mengarahkan pisau ke arah lehernya. Ternyata reflek orang itu juga bagus, dia melompat ke belakang untuk menghindar lalu bergerak ke samping membiarkan seseorang di belakangnya melakukan serangan lanjutan.
Balta terkecoh, tapi ...
"Tunggu waktu yang tepat lalu melompat ke samping, ada seseorang yang sudah mencegatmu di belakang!"
Sesuai instruksi Syilta, Balta pun menghindar ke samping. Dan ...
Brukkk ...
Mereka bertabrakan.
__ADS_1
"Bodoh! Kenapa tidak kena?"
"Kenapa menyalahkanku! Seranganmu terlalu cepat, dia bisa menghindar!?"
Jdarr ... jdarr ... jdarr ...
Sisa kelompoknya itu melakukan serangan secara acak dengan Mana bullet, dan itu pun sia-sia. Tak ada yang berhasil
"Seberapa banyak mata yang dia punya?" Katanya kesal mengetahui semua serangannya tak berguna.
"Hei, di mana dia?" Seru yang lainnya terkejut. Keberadaan Balta lenyap menyisakan Syilta yang tersenyum jahat ke arah mereka.
Sriettt ... sriettt ... jleb ...
Semuanya langsung tumbang tanpa tahu apa yang terjadi pada mereka.
"Aku tak mengenai bagian vital, jadi ... kalian tak perlu khawatir mati!? Kalian hanya tinggal menjawab pertanyaanku ..."
Jleb ...
Balta menusukkan pisaunya ke telapak tangan. Dan tentu saja orang itu sangat kesakitan.
"K-kami me-mang tak tahu apa-apa. Untuk apa kami membunuh orang yang sudah kami anggap teman!"
"Jangan bercanda ...! Teman? Hahaha ..."
Kematian Celia membuat bersaudari itu gelap mata. Padahal sebelumnya mereka bekerja sama untuk mempertahankan kota ini dan sudah bisa menjadi teman, namun ... kebersamaan itu terhapus oleh sesuatu yang belum jelas kebenarannya.
Balta bersiap menusukkan pisaunya untuk penghabisan.
"Yah ... ini sudah berlebihan! Mereka benar-benar tak bisa dikendalikan ...!" Kiya akan segera bertindak.
"Jangan ikut campur!"
Tak ada angin, tak ada hujan ... Kiya secara mendadak dipindahkan ke suatu tempat yang aneh. Tempat itu seperti di atas awan karena sepanjang mata memandang yang bisa ditemukan adalah gumpalan asap putih sebagai tempat berpijak.
"Di mana ini?" Tanya Kiya menyempitkan mata memandang sekitar. Tempat itu benar-benar kosong, sampai suatu objek aneh tertangkap oleh matanya.
"Ini semua perbuatanmu, kan?" Kata Kiya tersenyum sinis.
Sosok itu sangat kontras dengan keadaan sekitar, dia hanyalah gumpalan asap hitam yang membentuk wujud humanoid.
"Kamu hanya mengganggu kesenanganku, Azkiya!" Kata sosok itu yang memiliki suara berat dan menggema.
"Mempengaruhi semua orang kau sebut menyenangkan, ya?" Balas Kiya mulai sedikit marah.
"Apa boleh buat, kan? Aku itu sangat bosan, kamu harusnya mengerti itu?"
"Cih ... cukup basa-basinya! Aku akan ..."
Kiya terkejut dia tak bisa mengakses Inventory untuk mengambil senjata. Beberapa kali percobaan dan tak ada respon sama sekali.
"System ...! System ...!"
Kiya berusaha memanggil system, tapi tak ada respon seolah-olah system sudah menghilang.
"Apa kamu tak bisa menghubungi mainanmu? Ahh ... itu wajar saja, hehehe. Raphael sungguh hebat telah membuatkanmu mainan!"
"A-a-pa yang dia maksud? Raphael? Jangan-jangan dia ...?!"
Kiya ketakutan setengah mati, dia secara perlahan memundurkan diri menjauhi sosok Itu.
"Yah ... Asmodeus. Ruler of Lust."
...
Pokoknya aku ucapin terimakasih pada pembaca yang bisa terus baca sampe chapter terupdate.
Maaf 🙏 nggak bisa ngasih cerita yang bagus.
__ADS_1
aku bakal usahain cerita ini agar bisa tamat.
Dah ... see you.