
Biasakanlah menyentuh tombol like terlebih dahulu sebelum membaca. Itu cara termudah untuk mengapresiasi tulisan author.
Selamat membaca.
.
.
.
"Ranan ... aura ini?"
Terpaut sangat jauh, tapi aura yang dikeluarkan oleh iblis bernama Ashera bisa dirasakan oleh sesuatu yang ada pada diri pahlawan Ranan.
Ranan sedang bersantai di sebuah puncak pohon tuk mengistirahatkan diri jadi sedikit terusik dengan suara yang terdengar di kepalanya. Dia sekarang sedang dalam perjalanan ke tempat pertemuan para pahlawan. Agenda kali ini adalah mengurus soal Viola yang selalu mengacau.
"Apa maksudmu, Nia?"
"Yah, dia muncul!? Ada seseorang yang memanggilnya. Ashera, aku pernah bertarung dengannya aku saat masih menjadi partner pahlawan pertama."
"Berarti dia kuat, ya?"
Fokus utama pertemuan itu pasti akan sedikit bergeser saat Ranan mendapatkan temuan yang mengejutkan ini. Ancaman iblis bernama Ashera tak bisa dianggap remeh, ratusan tahun lalu para pahlawan harus bersusah payah mengalahkannya.
"Dasar! Kau santai sekali, dia bisa menjadi ancaman, lho?!"
"Ancaman seperti apa pun ... aku pasti akan memusnahkannya!"
"Kepercayaan dirimu yang membuatku takut, Ranan!"
"Asalnya dari kerajaan Rentweder, kan?"
"Ukh ... yah, betul. Ahh ... benar firasatku, pasti bocah itu!? Seharusnya waktu itu kau menghabisinya saja, dia cuma tukang buat onar!"
Pemanggilan iblis memerlukan tumbal dan pastinya tidak sedikit jika setingkat Ashera. Kemungkinan terjadi pembantaian pada waktu ini cuma ada di kerajaan Rentweder, saat festival darah—membunuh penjahat dilegalkan bagi warga sipil atau siapa pun. Tak heran jika semua orang akan menyimpulkan tempat pemanggilannya adalah kerajaan Rentweder.
"Tak apa-apa, aku pasti bisa mengalahkannya!"
"Kadang itu bisa berbalik, Ranan!? Kita tak boleh meremehkan hal ini! Iblis itu harus kita kirim lagi ke neraka!"
.
.
.
Seharusnya di sini sudah berdiri sebuah kota kecil, namun kenyataannya ... yang ada cuma sebuah kawah yang menganga super besar, cuma itu tak ada hal lainnya.
Kota kecil yang dimaksud—Ran'gild dihancurkan beberapa saat yang lalu. Bukan sebuah invasi besar-besaran yang menghancurkannya, melainkan sesosok.
Terlihat dua orang terbaring tak sadarkan diri berhadapan di pinggir, tepat di pinggir. Bergerak sedikit saja mereka pasti akan langsung jatuh.
__ADS_1
"Akh ... kepalaku sakit—" Orang yang bangun pertama adalah laki-laki—Kiya. "Woah ... apa-apaan ini?" Kiya melompat, terkejut bahwa dia di tepi jurang.
Dia kemudian mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. "Putri? Apa yang terjadi?" Kiya dengan bingung menggaruk kepalanya selagi dia mencoba mencerna informasi dan mengingat kejadian terakhir yang menimpanya.
"Luxury, jelaskan situasinya!"
«Intinya kotanya sudah musnah beserta isinya!»
Mata Kiya membulat sempurna menerima penjelasan dari Luxury, dengan panik Kiya melihatnya sekelilingnya lebih teliti. Dan dapat disimpan bahwa kawah raksasa itu adalah kota Ran'gild, Kiya ingat jalan setapak yang mengarah ke kota itu.
"A-a-pa? Hancur beserta isinya?"
«Begitulah»
Merasa terpukul, Kiya memegangi kepalanya karena rasa sakit yang tiba-tiba datang. "Kau yang melakukan ini?" Kata Kiya serius, penuh akan kemarahan.
«Aku tak akan bisa melawan perintahmu! Pelakunya adalah dia ...»
Sebuah lubang dimensi muncul di udara, dari dalam sana keluar sebuah katana berwarna hitam legam dengan corak berwarna ungu tua yang elegan.
Kiya pun memiringkan kepalanya bingung, dia merasa sudah dipermainkan oleh Luxury.
"Katana ini? Jangan bercanda, Luxury!"
«Ashera ... tunjukan wujudmu!»
Katana itu mulai mengeluarkan cahaya yang menyilaukan beberapa detik.
denganmu!" Sapa seorang gadis dengan umur yang hampir sama dengan Kiya berdiri tepat di atas katana itu.
Kiya termenung sesaat, "Huh ...!? Bercanda?" Hoi, Luxury jangan menggodaku!"
«Dia Ashera, iblis yang telah meratakan kota ini»
Kiya berulang kali menelisik setiap inci tubuh Ashera, kesimpulan yang didapat adalah dia memang seorang iblis. Rambut panjang ungu-kebiruan berpadu dengan mata merah darah yang menyala, tak lupa sebuah tanduk yang tumbuh di dahinya.
"Apa Tuan perlu bukti?" Kata Ashera menunjukkan senyum jahat.
Setelah melihat tatapan mata Ashera, Kiya sudah tahu pelakunya memang gadis itu.
"Tak perlu!"
"Maaf, tapi saya ingin Anda tidak meragukan saya! Jadi, saya akan melakukan sedikit testimoni." Kata Ashera mengumpulkan sejumlah energi yang terkumpul di telapak tangannya.
"Hei, kau dengarkan kataku?! Tak perlu, aku percaya padamu!"
Sudah terlambat, Ashera sudah menembakan energi itu ke tempat yang sangat jauh di selatan.
Boammm!
Timbul sebuah ledakan di kejauhan. Dan tak berselang lama sebuah hembusan angin yang lumayan kencang mencapai tempat Kiya.
__ADS_1
«Kau mendapatkan 70 juta poin»
Kiya mematung sesaat menanggapi notifikasi, dia masih sulit memercayai hal ini ... dengan sangat mudah Ashera memusnahkan satu desa bahkan sebuah kota. Yah, dia sangat berbahaya.
"Apa maksudmu, kenapa kau memusnahkan desa itu?" Kata Kiya dipenuhi amarah.
"Tentu saja sebagai bukti agar Anda percaya bahwa saya kuat!"
"Cih ... tapi, tak harus membantai semua penduduk desa—"
"Memang kenapa?" Ashera melompat dari katana-nya dan mulai berjalan menghampiri Kiya. "Bukankah kematian adalah takdir? Hal yang tak dapat dicegah, saya tak membunuh mereka pun ... pada akhirnya mereka akan tetap mati dengan cara lain. Apakah saya salah?"
Ashera terus mengoceh.
"Ngomong-ngomong soal membunuh ... Tuan juga membunuh, kan? Lalu, apa bedanya? Apa terbang pilih dulu, anak-anak dan orang tua dikecualikan? Jangan menjadi sok suci!"
"A-ku ... tak seperti—"
Ashera lebih mendekat sampai hanya menyisakan beberapa inci. Dengan wujud gadisnya, dia berperilaku selayaknya gadis imut—membelai pipinya Kiya.
"Membunuh tetap membunuh! Tak ada kebaikan yang dari namanya membunuh, yang ada hanya kejahatan!?" Kata Ashera lembut mengusap-usap pipi milik Kiya.
"Jangan mencoba menjadi protagonis yang bersikap pahlawan! Tuan tak mungkin bisa, terlebih lagi Tuan tak butuh teman atau ikatan lainya dengan orang lain, karena hal itu hanya membuat Anda lemah!"
Ashera terus berbicara dan tak membiarkan Kiya meresponnya sama sekali.
"Juga, kenapa Tuan berteman dengan para pahlawan. Seharusnya Anda sangat membencinya, karena sosok pahlawan lah yang menjadi penyebab kematiannya—orang yang paling Anda sayangi!"
"Lebih baik kita musnahkan saja seluruh manusia di dunia ini. Manusia selalu merasa bahwa mereka adalah ras tertinggi, merasa sangat superior dan memandang rendah ras lainnya ... aku jijik melihat kelakuan mereka. Katanya dunia sudah damai, tapi mereka tetap mendiskriminasi ras demon, bahkan melakukan genosida! Apa maksudnya itu?"
Sepertinya sudah puas dengan semua ocehannya, Ashera pun segera menjauh dari Kiya kembali duduk dengan anggun di katana. Dia selalu menampilkan senyum saat Kiya menatapnya dengan tatapan bingung dengan sedikit takut.
"Kau—"
"Tenang saja, Tuan! Saya tak membelot, saya adalah bawahan Anda ... tadi, hanya sedikit pelurusan! Pikirkan lah baik-baik ... terlebih soal pahlawan!? Pahlawan sejati itu tidak ada, yang ada hanya sejumlah orang serakah yang berbuat seenaknya."
Bualan Ashera nampaknya berhasil sedikit mempengaruhi Kiya. Sebuah mimpi yang selalu menghantui Kiya—Kiya mengingatnya, dia selama ini hanya menganggapnya sebagai bunga tidur. Namun, setelah Ashera menyinggung sesuatu yang mirip dengan seluruh kejadian di mimpi itu. Dia ... tak bisa menghiraukan mimpi itu lagi, bisa saja itu adalah masa lalunya Kiya.
.
.
.
Pokoknya aku ucapin terimakasih pada pembaca yang bisa terus baca sampe chapter terupdate.
Maaf 🙏 nggak bisa ngasih cerita yang bagus.
aku bakal usahain cerita ini agar bisa tamat.
Dah ... see you
__ADS_1