System : Unknown

System : Unknown
Chapter 75 -Kembali


__ADS_3

Cahaya dari Kalma dan Palma yang hangat menjadi garis akhir kekacauan. Diperoleh sebuah happy ending bagi para penyerangku.


Wanita bernama Dandelina menangis sesenggukan memangku pria bernama Feelid.


Drama yang sempat terjadi ... hmm, aku keterlaluan. Eh ... tapi, ini bukan salahku, kan? Ada oknum yang paling bersalah atas kejadian ini. Mataku mendelik pada Ashera yang berdiri di sampingku.


"Bagaimana Kiya ...? Apa mereka cocok?" Tanya Ashera penuh harap. Dia pura-pura tak sadar.


"Entahlah, tapi kehidupan yang mereka jalani cukup menarik! Kehidupan yang sulit!" Aku mengecilkan suara di ujung kalimat kemudian sejenak menengadahkan kepala tuk menatap langit yang mulai terang.


"Orang yang memiliki nasib sama akan bisa selalu mengerti satu sama lain." Ashera berkata dengan kesan yang cengengesan.


Tapi ... kata yang dilontarkan ada benarnya. Orang yang mempunyai penderitaan yang serupa cendrung mudah mengerti satu sama lain, karena pernah mengalami sendiri atau merasakan.


"Tindakan si iblis urakan ini tak sepenuhnya asal! Dia memperhitungkan bahwa aku memang tak akan langsung membunuh mereka."


Aku menghela nafas, Calsya yang juga di sampingku menoleh. "K-kiya?"


"Tak apa-apa." Aku menyambar tangan Calsya dan berbalik badan. "Ayo kembali, mood-ku sudah habis! Aku ingin bermalas-malasan hari ini." Aku baru berjalan beberapa langkah, namun kuhentikan ..."Hah, tak mungkin bisa. Para penduduk desa pasti sedang panik sekarang, keributan ini ...!?" Kataku menatap sekeliling hampir 360°.


Visi-ku berhenti tepat saat melihat Ashera yang dengan bingungnya menakutkan sebelah alis, dia seolah berkata "Ada apa?"


Aku dengan cepat mengalihkan pandangku dari Ashera, ekspresiku keburu masam nanti jika melihatnya kelamaan. Dia benar-benar sudah memburuku kesal hari ini.


Area ini mengalami kerusakan parah, mungkin saja bunyi menggelegar dan bunyi berisik lainnya pasti sampai di desa.


"Aku harus menentukan alasan yang logis! Huh, bikin repot."


Genggaman tanganku kuperkuat, langkah yang sempat terhenti pun aku lanjutkan. Kemudian ... mataku sedikit melebar, jantung berdetak cukup cepat, aku benar-benar kaget.


Giant Horn Rabbit ... nyelonong begitu saja berpasangan. Ukurannya tidak lagi seukuran kelinci normal, itulah yang membuat diriku seakan mengeluarkan senjata jika tak bisa mengontrol reaksi yang timbul.


"Dandelina, JUDGMENT ...? Menarik, ya?"


.


.

__ADS_1


.


Pada akhirnya aku susah payah memberikan alasan yang logis dan tidak mengada-ada. Contohnya ... beberapa suara ledakan yang timbul dari arah kejauhan desa, aku mengaku diriku yang melakukannya—para penduduk desa pun percaya. Sejak insiden invasi monster, mereka percaya aku lumayanlah unggul dalam hal sihir, memercayai bahwa aku bisa melakukan sihir ledakan yang cukup besar, bisa diterima dengan baik.


Untuk 5 orang baru yang aku bawa ... yah, aku menyebut mereka adalah kerabat jauh yang hendak menjemput diriku dan Calsya.


Alasan itu pun juga diterima ... dampaknya ... kini aku terpaksa harus meninggalkan desa. Hmm ... agak berat sih, tapi apa mau dikata ... mencari lingkungan tenang yang mendukung lumayan susah. Desa kecil nan damai itu (sebelum kedatanganku) terpaksa melambaikan tanda perpisahan.


"Kemana kita selanjutnya, Kiya?" Tanya Calsya yang berjalan di sampingku.


Aku mengangkat bahu, jawaban dari pertanyaannya belum kupersiapkan.


"Umm ... baiklah, aku akan ikut kemana Kiya pergi." Calsya dalam suasana hati yang melonjak, setiap kata yang terucap mengandung kebahagiaan.


Apa dia sebahagia itu ketika bersamaku? Tak perlu dipikirkan ... yang jelas happy ending masih lama, masih banyak musuh dan masalah yang berseliweran.


"Ashera, tampakkan dirimu!" Seruku setengah berteriak ke sekitar.


"Hmm ...?" Hanya suara, dia tak menampilkan diri.


"Soal tujuan kita ... umm, apa baiknya ke Xeliqia saja?" Tanyaku yang kedengaran ragu.


Ashera sedikit marah padaku, kemarin ... aku memang keterlaluan dalam menertibkannya.


"Huh ... tujuan ditetapkan, Xeliqia ... aku ingin berkunjung!"


"Hmm, aku mengikuti." Nadanya berubah, lebih terasa gembira dan antusias.


Mengingat dia menetap di sana berhari-hari, minimal Ashera membuat satu-dua hubungan, umm ... aku sih agak ragu Ashera menjalin hubungan baik, namun mengetahui sedikit reaksinya ... pasti benar.


Dalam tebakanku, Ashera sebelum meninggalkan Xeliqia pasti berucap kata-kata manis bahwa dia akan berkunjung lagi.


"Kiya ... aku sarankan menggunakan teleportasi, jalur menunju ke Xeliqia tak selalu mulus!?" Usul Ashera yang kini menunjukkan wujudnya dia persis berjalan di samping kiriku.


5 manusia yang berjalan sedikit menjaga jarak reflek terkesiap, raut wajah mereka langsung berubah-ubah. Ashera adalah sosok mimpi buruk, melihat rupanya membuat tak nyaman tak peduli secantik apa wajah Iblis bersurai violet gelap itu.


Mereka memiliki pengalaman buruk dengan Ashera, terlebih Dandelina—korban paling dirugikan. Ashera mempengaruhi dan menggodanya.

__ADS_1


"Aku akan membantumu membalas dendam pada pihak gereja suci, jika kau bisa membunuh seseorang untukku."


Itulah awal masalah kenapa Dandelina and the Gang tanpa sebab yang jelas melakukan serangan padaku.


Soal Gereja Suci ... aku kesampingkan, masih ada banyak hal yang diurus. Huh ... aku memang tak pernah sreg pada orang yang sok suci, menjunjung tinggi dirinya sendiri, menganggap orang lain lebih rendah dan salah.


"Kiya, bagaimana? Teleport saja?" Ashera kelewat antusias, dia mendekatkan wajahnya padaku, membuat tidak nyaman—makdudnya Calsya ... aku sih tidak peduli.


"Dengar, ya ... iblis urakan, sesuatu yang instan itu tidak terlalu baik! Aku lebih suka menikmati proses!?"


"Lalu ... keberadaan System? Bagaimana kau menjelaskan itu?"


Jawaban yang membuat bungkam, langkahki seketika terhenti, aku mati kutu.


"Ya, makanya sekarang aku berusaha berlatih mandiri ... " Aku tersenyum masam, Calsya yang berada di samping kananku menutup mulutnya menahan geli hati. Tapi, samar aku mendengar cekikikan.


Tak tahu menahu soal topik tak menghalangi Calsya untuk tersenyum.


Apa aku membuat wajah lucu, ya?


.


.


.


Aku tak ingat jatuh—ke dalam mimpi yang merupakan sepenggal ingatan. Mimpi~maksudku ingatan selalu merundung, pada bagian yang sama, tak pernah berganti. Sampai bosan aku dibuatnya. Dari awal aku di tiba di Arias mimpi itu tak pernah absen. Selalu terselip di antara puluhan mimpi absurd yang tak saling berkesinambungan.


Reruntuhan material bangunan, seekor monster, anak perempuan bernama Vio, sistem Pahlawan ... jelas tergambar bahwa duniaku juga tak terlepas dari unsur fantasi.


"Raphael, aku ingin membuat perhitungan denganmu!"


.


.


.

__ADS_1


See you


__ADS_2