
Di suatu dunia bernama Arias. Seorang pemuda tengah menjamah hutan. Membawa sebuah kapak ukuran sedang yang tersimpan rapi di dalam bakul besar untuk meletakkan kayu bakar. Pemuda itu adalah pencari kayu bakar, pekerjaan yang tak menghasilkan, tapi apa daya hidupnya di desa terpencil. Dia tak memiliki keahlian yang mumpuni untuk merantau ke kota. Jika nekat pun paling banter jadi budak. Malah lebih buruk dari pekerjaannya yang sekarang.
"Semoga tak terjadi apa-apa!?" ucapnya yang harap-harap cemas. Keringat dingin bercucuran, di tak henti menatap sekitar. Hawa kesenyapan membuatnya gelisah amat sangat. "Hutan ini hutan biasa, tak mungkin ada monster! Dari dulu juga begitu!" Kalimat jampi-jampi terus digaungkan.
Pemuda itu melandaskan kapak dan menggenggamnya dengan tangan gemetar, gagang kapak pun langsung basah oleh keringat.
"Ayolah. Ibu tengah sakit. Aku tak mau kehilangan dirinya!"
Kilas balik kenangan di benak bersama ibunya sudah lebih dari cukup agar nyalinya setara kesatria yang melawan naga. Yah, cuma nyali, tidak dengan kualitas individu.
"Harus mendapat uang! Aku harus kembali dengan membawa uang!" gumamnya dengan semangat menggebu. Sorot mata yang menunjukkan kesungguhan, siap mati.
Pemuda itu mulai mengumpulkan kayu bakar. Dia meraih dahan-dahan pohon yang cukup rendah. Dia juga menebang pohon-pohon yang sudah berumur. Setidaknya pemuda itu masih cinta lingkungan, tebang pilih.
Pohon tua tadi cukup mengisi bakul, isinya sudah terlalu tumpah ruah. Namun, si pemuda itu agak tamak dan memaksakan diri. Alhasil sisa kayu diikat menggunakan sulur-sulur yang dia temukan dan menyeretnya. Ya, dia kini nampak kepayahan, bergerak selangkah saja tak mampu.
"Ayo, harus sampai di desa. Jual semua kayu ini! Berjuanglah diriku."
Sayangnya dia tersandung akar pohon, terus terjerembab ke depan menghantam bebatuan keras di tanah. Pelipisnya sontak merembeskan cairan merah.
"Sial! Kayu-kayu ini terlalu berat!" Dia menyerah, memilih mengistirahatkan diri, bersandar pada sebuah pohon besar. "Akhhh ... s-sakit. Andai bisa sihir. Luka seperti ini pasti langsung sembuh. Kayu-kayu sialan ini pasti enteng dibawa." Dia mulai berandai-andai. "Eh? Tidak! Jika aku bisa sihir, lebih baik ke kota. Jadi pegawai Guild atau semacamnya dan punya banyak uang." Hanya lamunan di siang bolong. Pemuda itu menengadah, menatap sinar matahari yang lolos dari rimbunnya dedaunan.
Dirinya sepenuhnya kini lengah, tak menyadari dari tadi bahaya mendekat. Sepasang mata kuning-keemasan mengintai dari balik semak belukar.
Bising gemersik semak mencapai telinga. Pemuda yang hampir terlelap itu memandang belukar yang menyimpan bahaya.
"Apa itu? Jangan-jangan ...." Di buru-buru beranjak pergi. Tapi, sesosok makhluk telah keluar dari semak itu. "Mon—tupai?" Dia hendak berteriak, keburu batal melihat tupai kecil yang merangkak gontai.
"Tupai kecil yang malang. Apa kau berhasil lolos dari taring ular ..." Bulu roma pemuda itu menegak ngeri, dia menoleh ke arah sebaliknya. Dan disitulah ... bahaya sebenarnya. Serigala berbulu hitam legam layaknya malam tak berbintang telah menancapkan gigi-gigi tajamnya pada bahu si pemuda. Teriakan penuh kesakitan meramaikan hutan yang sunyi.
"Argghh ... argghh ...." Dia mengerang, air mata lolos. Rasa sakit yang amat sangat. Sang serigala semakin dalam menancapkan gigi. Pemuda merasa lengannya terlepas.
Terus berteriak, sampai gemanya mencapai desa. Temannya yang tengah menimba air dari sumur merasakannya. "Tidak. Jangan bilang ..." Gadis bersurai cokelat itu menggeleng keras, menyangkal pemikirannya. Namun, perasaannya menyuruhnya menanggalkan niat mencuci baju. Gadis itu segera berlari sekuat tenaga ke arah hutan. Air matanya tak berhenti menetes. "Vay ... kenapa kau berbuat nekat?"
Naas, pemuda bernama Vay telah menghembuskan nafas untuk terakhir kali. Sang serigala berhasil membunuhnya. Lolongan panjang menggaung, memberi sinyal pada kawanannya.
Vay, tubuhnya akan tercabik-cabik dan berakhir di perut serigala.
Sebuah keanehan terjadi ....
Sebelah mata terbuka lagi. Tak ada lagi manik cokelat, yang ada adalah merah gelap. Sungguh mengerikan. Sebelah mata yang lain ikut membuka, kini berlainan warna, biru terang yang indah layaknya langit di atas sana. Kedua mata berlainan warna itu bergerak ke dua arah berbeda, seperti dua mata itu yang mengendalikan adalah dua sosok.
__ADS_1
^^^"Apa-apaan ini?"^^^
BOAMMM!
Hawa panas berkumpul, tegangan listrik bermuculan. Ledakan besar menggunduli hutan dengan radius ratusan meter. Seekor serigala tadi hangus menjadi abu.
Vay, pemuda yang tadinya dikatakan tak bisa sihir perlahan bangkit. Seluruh tubuhnya teraliri aliran listrik yang bercampur lidah-lidah api yang berwarna keunguan, menyebabkan busananya hilang. Vay kini bertelanjang bulat. Luka menganga pada bahunya menghilang, kulitnya mulus tanpa luka sekecil goresan ranting.
Di sisi lainnya, teman gadisnya yang baru menjamah hutan terkaget-kaget oleh ledakan itu. Dia tak henti-hentinya berpikiran liar.
"Apa yang terjadi?"
^^^Pertanyaan yang sama terlontar dari mulut Vay. ^^^
^^^"Apa yang terjadi?" ^^^
Dia menelisik tubuhnya sendiri, meraba-raba. Tapi, kegiatannya itu terganggu oleh munculnya puluhan kawanan serigala yang berdiri di pinggir kawah bekas ledakan tadi.
^^^"Serigala?"^^^
"Bukan serigala biasa!"
"Monster."
^^^"Aneh sekali. Pertanyaanku dijawab sendiri."^^^
"Kenapa aku menjawab pertanyaanku sendiri?"
Brak ...
Baru selangkah Vay menjejak, tapi langsung terjatuh. Dia melirik kaki kirinya, dia juga sadar, penglihatannya cuma berfungsi sebelah, tepatnya mata kanan.
^^^"Mata kiri tak berfungsi, 'kah?"^^^
"Jangan menutupi mataku, bodoh!"
^^^"Hah? Siapa yang menutupi siapa. Tunggu, sebentar ... kenapa aku berbicara sendiri. Tepatnya mulutku bergerak sendiri." ^^^
Vay meraba mulut bagian kiri.
"Jangan menyentuh bibirku, tak sopan! Kau ingin dibunuh?"
__ADS_1
Berbicara sendiri ... kawanan serigala yang mengepung diabaikan. Beberapa seekor serigala berlari hendak menerkam.
Vay entah kenapa tak bisa menghindar, dia mematung. Meratapi kesakitan, wajahnya membentuk dua ekspresi. Bukan bercampur, tapi benar-benar ada dua ekspresi. Di kanan dan di kiri. Mata merah punya niat membunuh yang kental, mata biru masih kebingungan.
"Anjing-anjing kotor ... beraninya ... matilah!" Para serigala api itu seketika menjadi abu sebab terkena belain api ungu yang menyapu seluruh daratan. Hawa panas sampai ke tempat gadis itu.
Hutan terbakar hebat, gadis itu lantas menuju ke aliran sungai. "Ada apa ini?" Dia bingung, tapi tak tahu harus bertanya pada siapa. Dia langsung menceburkan diri, terus berjalan menyusuri sungai. Hutan kini terbakar hebat.
Sedangkan kondisi Vay ... dia belum beranjak dari sana. Jatuh tengkurap. Kaki kirinya mendendang-nendang ke belakang, sampai dia bergerak ngesot.
"Ada apa ini? Kenapa kaki kanan, bagian tubuh sebelah kanan tak bisa digerakkan? Aku dihukum, 'kah? Sin of Lust, kenapa Anda menghukum saya?"
^^^"Hei?"^^^
"Tubuhku bergerak sendiri!"
^^^"Lihat lebih seksama! Apa ini benar tubuhmu?"^^^
"Benda apa ini? Apa-apaan batang yang menggantung di selangkanganku?"
^^^"Huh ... kau berarti cewek. Selamat datang, Nona. Kau kini bersamaku terjebak di dalam sebuah tubuh mati. Kita berdua mengendalikan setengah tubuh, kanan dan kiri."^^^
.
.
.
Itu adalah bagian prolog dari reboot-nya.
Judul baru untuk cerita ini adalah 2 in 1.
Bercerita tentang dua jiwa yang terdampar pada satu tubuh. Jiwa perempuan dan laki-laki, Luxury dan Azkiya. Bisa dibilang cerita transmigrasi jiwa, tapi dua sekaligus.
Oh, ya ... cara membedakan siapa yang berbicara udah kuatur. Dialog bagian kanan bercetak tebal adalah Kiya, dialog bagian kiri adalah Luxury.
Minta ke pendapatnya.
Ah, lupa lagi. Slow update, mungkin seminggu sekali atau dua kali update. Di buku baru, nggak dilanjutin di buku ini.
Baru ngerangkai alur untuk arc 1.
__ADS_1