
"Lawan lah, Putri! Aku tau kau bisa!"
Suara itu ... suara siapa? Aku familiar dengan suara itu, terdengar tak asing ... yah, tak perlu dipikirkan! Mungkin cuma halusinasi karena aku sudah sekarat.
"Hei, kau serius ingin menyerah? Kau menyerah pada hidupmu, pada kembaranmu?"
Sudahlah, diam! Siapa pun kau ... suaramu itu sangat berisik! Jika ditanya apa aku menyerah ...
Aku ... aku ...
...
"Kenapa kak Callista tak menyerah saja? Kakak pertama itu kuat, kak Callista sekalipun tak—"
"Hahaha ... tak peduli sejuta kali kegagalan! Aku tak akan menyerah. Jika aku menyerah, semuanya akan berakhir ... aku tak akan tau bagaimana hasilnya. Ingat Calsya ... di dunia ini ada yang namanya kebetulan!? Semut kecil pun bisa membunuh manusia jika ada kebetulan?"
...
Ingatan kecil tentang keseharianku bersama kak Calista tiba-tiba melakukan reka ulang. Itu spontan, aku bahkan tak ingat ada kenangan seperti itu dengan kak Callista.
Kebetulan? Jika menyerah, semuanya akan berakhir di situ ...?
"Ahh ... kau membuatku repot, Putri! Akan kuberi spoiler ... Calista bukanlah callista!"
Suara misterius itu menggema kembali, mengatakan sesuatu yang tak kumengerti.
Apa maksudnya?
Suara siapa yang seperti ingin memberitahuku sesuatu itu?
...
"Kak Callista kan sangat terkenal di akademi, kenapa kakak tidak menerima salah satu dari perasaan mereka? Apa kakak tak pernah punya rasa tertarik sedikitpun?"
Lagi ... secuil kenangan random tiba-tiba melakukan reka ulang di kepalaku. Sedikit nggak nyambung, kenapa bisa merembet ke masalah orang yang disukai?
"Yah ... mereka hanya penjilat yang selalu membenarkan setiap tindakanku meskipun salah. Orang yang aku cari adalah orang yang membenciku dan selalu memarahiku, bahkan sangat ingin membunuhku. Terdengar aneh ...tapi, percayalah Calsya ... orang seperti itu sebetulnya peduli padamu!"
...
Ciri-ciri orang yang diidamkan oleh kak Callista ... aku mengerti ... itu adalah Kiya. Jadi, Kiya ...!
Dia selalu memperingatiku ...! Apa dia sebetulnya peduli padaku?
Tidak, tapi apa gunanya jika Kiya peduli padaku?
Lalu ... kenapa aku berpikir seperti itu? Aku memiliki perasaan padanya? Apa aku jatuh cinta padanya?
Semua pertanyaan itu ... jawabannya hanya satu ...
Aku ... aku tak ingin mati! Aku ingin Kiya menyelamatkanku ... aku ingin dia di sini dan berkata ...
"Dasar merepotkan! Cepat sadarlah!"
.
__ADS_1
.
.
"Kau memang harus mati, adikku!"
Eh? Hah?
Yah ... ternyata aku belum mati. Aku masih bertahan.
Logam pipih nan keras kepunyaanku dan kak Calista bergesekan saling menekan. Bunga-bunga api berloncatan seiring kuatnya pedang kami berhimpit.
"A-ku tak seperti itu! Aku tak pernah memiliki perasaan seperti itu!" Kataku dengan gigi bergetar. Mataku sampai tertutup sebelah karena saking kerasnya aku menahan pedang kak Callista.
"Teruslah menyangkalnya, Calsya!"
Kak Calista mendadak mengangkat pedangnya dan dengan cepat melakukan tebasan ke samping mengincar pinggang kiriku. Reflek-ku masih bisa mengikuti, alhasil ... aku bisa menangkisnya. Tapi, alangkah terkejutnya ...
Tinju mentah menghantam wajahku dengan sangat keras hingga membuatku terpental beberapa meter.
Aku yang dalam keadaan punya celah yang terbuka lebar dimanfaatkan oleh kak Callista. Dia sudah ada di hadapanku bersiap untuk melakukan tebasan pengakhiran. Aku ingin pasrah saja ... tapi, lagi-lagi ... perasaan tak ingin mati ...
Ada sedikit celah ... kak Calista terlalu fokus untuk membunuhku sampai menghiraukan pertahanannya.
Sebelum pedang kak Callista mencapai diriku, dengan cepat aku melakukan sapuan pada kakinya yang membuatnya kehilangan keseimbangan sehingga tebasan kak Callista meleset sedikit beberapa inci di samping kepalaku.
Aku pun langsung menggulingkan tubuhku menjauh sejauh mungkin.
"Kau memang munafik, Calsya! Kenapa waktu itu kau membiarkanku di bawa pergi? Jika kau memang menyayangiku? Kenapa ...? Jika saja kau waktu itu lebih berusaha, aku tak akan mati! Itu sudah jelas bahwa kau ... ingin aku mati!" Kata Kak Calista geram dengan mata yang mulai berkelip.
"Itulah penyesalan terbesar dalam hidupku! kakak tak akan tau semenderita apa diriku setelah kakak pergi! Aku selalu menyendiri, tak punya teman, beberapa orang mulai membenciku karena diriku terlalu angkuh ... hidupku berubah karena kepergianmu!" Rintihku dengan air mata bercucuran deras.
Kak Callista menghujaniku dengan tembakan api yang tiada henti. Ledakan-ledakan kecil pun tercipta di sekeliling yang menyebabkan aku menderita luka bakar ringan.
Serangannya tak berefek terlalu buruk, tapi aku kehilangan beberapa panca indera karena rentetan ledakan yang tak tau kapan berhentinya. Menunggu Mana kak Callista habis? Yah, itu akan sangat lama.
Mencoba untuk mengambil jarak yang melebihi jangkauan serangannya? Tidak, Itu buruk!
Itulah rencana kak Callista.
"Sampai saat ini aku tak ingin mempunyai ikatan yang kuat dengan orang lain ... aku takut ... aku tak berani melakukannya! Andai saja ... andai saja waktu itu aku tak pasrah, kakak masih bisa di sampingku dan ..." Teriakku parau dengan sedikit mengambil jeda.
"SOSOK SEPERTIMU TAK AKAN ADA DALAM DIRIKU!"
Rentetan serangan kak Callista berhenti ... selanjutnya ...
"Aku tak peduli apa kau sebenarnya! Yang jelas ... aku tak akan memaafkanmu karena sudah meniru saudariku!" Kataku tegas dengan semangat yang berapi-api sembari menggenggam erat pedang yang ada di tangan kanan dan mengalirkan sejumlah Mana.
Sosok yang menyamar sebagai kak Calista tubuhnya terkaku setelah mendengar pernyataan mengejutkan yang terlontar dari mulutku. Wajah penuh intimidasi dan kebengisan telah lenyap di wajahnya, yang ada cuma wajah pucat pasi.
"Kenapa? Kenapa bisa? Kenapa kau bisa sadar?" Sosok itu bergetar hebat. Selangkah demi selangkah, dia memundurkan diri.
Kemudian pedang yang kupegang terselimuti oleh api berwarna merah muda, begitu juga dengan tubuhku ... lidah-lidah api bermunculan.
Kehangatan ini ... inilah bentuk rasa kasih sayang kak Callista padaku. Semua potongan ingatan ketika aku susah payah mempelajari kekuatan ini bersama kak Callista ...
__ADS_1
...
"Kenapa apiku tidak bisa membakar apa pun, kak?"
"Karena kau berhati lembut, api ini mencerminkan hal itu! Api putih yang bisa menyembuhkan ... cocok, bukan?"
Kak Callista menyalurkan Mana miliki ke dalam bola api putih pada telapak tanganku. Dan ... terciptalah jenis api baru ... api yang pemiliknya cuma aku seorang.
"Berjuang, ya ... Calsya?"
...
Pedang kuangkat tinggi-tinggi ke udara, membiarkan api yang menyelimutinya tumpah kemana-mana dan menyebar dengan ganas. Dilihat sekilas, api merah mudaku membentuk siluet sebuah pohon.
Namanya api seharusnya panas, tapi api miliku tak memiliki sifat normal dari itu.
"Jadilah yang pertama merasakan api ini! Cherry Blossom ...!"
.
.
.
"D-dia berhasil!?" Sebuah senyuman tipis terlukis di wajahnya menatap gadis di pangkuannya yang tak sadarkan diri.
"Kau sangat senang, Kiya!"
Tak jauh dari Kiya, Ashera berdiri dengan kepalanya dimiringkan melihat tingkah pemuda itu. Tanpa sadar bibir mungil Ashera ikut sedikit melengkung ke atas, seperti ikut senang dengan perasaan majikannya, Kiya.
"Yah ... entahlah!" Balas Kiya bahunya sedikit terangkat. "Nah, Ashera ... apa alasanmu melakukan itu?" Kiya mengirimkan tatapan mata yang tajam.
"Kau tau ... aku penasaran, yah itu ... hehe!" Jawab Ashera mengalihkan pandangannya ke samping dan menggaruk-garuk pipi.
"Kau hampir membunuhnya dan membuat sesuatu dalam tubuhnya mengamuk, tapi untunglah dia berhasil selamat dan menekan ... iblis itu!" Ekspresi wajah Kiya seketika memegang.
"Aku tak habis pikir ... bagaimana caranya manusia bisa melakukan hal ini? Mereka mengumpul sisa-sisa kekurangan Tuan Lucifer dan menanamkan pada gadis ini! Apa-apaan itu ...?!" Tak mau kalah dengan Kiya, ekspresi Ashera juga ikut memegang.
"Aku punya hipotesis, Ashera ...! Yah, yang pasti pelakunya adalah keluarganya sendiri, tapi yang memanipulasi pasti pernah terlibat dengan perang besar ratusan tahun silam!" Kiya menggertakan gigi dan genggaman tangannya diperkuat, dia tiba-tiba menjadi kesal.
"Jadi, musuhmu adalah sosok yang merepotkan, ya ... Kiya!?"
.
.
.
Setelah Hiatus beberapa hari, akhir bisa update lagi. Yah, walaupun cuma 2 chapter.
Aslinya aku mau nulis 5 chapter sekalipun sebagai ganti Hiatus. Tapi, apa daya ... cuma sanggup 2.
Pokoknya aku ucapin terimakasih pada pembaca yang bisa terus baca sampe chapter terupdate.
Maaf 🙏 nggak bisa ngasih cerita yang bagus.
__ADS_1
aku bakal usahain cerita ini agar bisa tamat.
Dah ... see you