System : Unknown

System : Unknown
Chapter 43 -Respon-


__ADS_3

Biasakanlah menyentuh tombol like terlebih dahulu sebelum membaca. Itu cara termudah untuk mengapresiasi tulisan author.


Selamat membaca.


.


.


.


Ibukota kerajaan Rentweder.


Pada siang hari yang lumayan damai tanpa keributan apa pun meskipun di kerajaan Rentweder sedang dalam suasana Festival Darah. Normalnya pasti terjadi banyak keributan, tapi khusus di ibukota tidak terjadi, semuanya masih adem ayem seperti hari biasa. Sampai ...


Sebuah suara gemuruh dari kejauhan kemudian di susul dengan sedikit getaran. Tak lama berselang puluhan ribu burung terlihat terbang dari arah selatan menuju ke hutan di sekitar ibukota.


"Ada apa di selatan?" Kata seorang prajurit yang berjaga di gerbang.


"Di selatan bukannya letak kota Ran'gild ... Festival Darah ... apa jangan-jangan ada sebuah keributan besar yang menghancurkan kota?!" Timpal prajurit lainya.


"Kalau itu benar-benar terjadi ... kerajaan ini sudah kehilangan 2 kota. Yah, meskipun kota kecil, tapi apa Raja tak menyayangkan hal ini? Itu berarti wilayah kerajaan akan menyempit!"


"Untuk apa punya wilayah besar jika susah diatur, mungkin seperti itu pikiran Raja?!"


Bergeser ke istana.


Putri Masilla dari balkon kamarnya melihat ke arah luar kota, dimana banyak sekali burung yang terbang ke sekitar kota.


Setelah mendengar suara gemuruh dan sedikit getaran, dia merasa sudah terjadi sesuatu di selatan, letak kota Ran'gild.


"Ini perkembangan yang buruk! Ayah pasti akan memanfaatkan hal ini untuk semakin memojokkan Azki. Setelah ini ... ayah akan mengirimkan surat permohonan ke federasi dunia. Dan Azki akan menjadi buronan seluruh kerajaan. Kamu sudah harus berhadapan dengan JUDGMENT, para pahlawan, dan seluruh kerajaan di benua ini. Huh ..." Masilla tersenyum kecut.


"Aku cuma bisa mendoakan kalian."


Kerajaan Xeliqia.


Sebuah kerajaan yang masih seumur jagung malah lebih muda lagi, kerajaan yang berdiri dari hasil kudeta. Menyebutnya Kerajaan sepertinya tak etis, pasalnya Xeliqia tak menganut sistem kerajaan, melainkan sistem demokrasi. Sistem pemerintahan yang amat sangat baru untuk Arias.


Ini semua adalah usulan dari salah satu pendiri, yaitu Azkiya. Berbekal ilmu dari Dunia asalnya, dia menerapkannya pada kerajaan muda itu.


Bukan hanya sistem pemerintahan, tapi Azkiya juga memberikan semua pengetahuan yang dia miliki agar Xeliqia bisa maju. Di Arias tingkat kemajuan suatu kerajaan diukur berdasarkan besarnya wilayah, yah terdengar kuno, tapi begitulah kondisinya.


Azkiya berambisi untuk menjadikan Xeliqia menjadi sebuah kerajaan yang memiliki teknologi maju, rakyat yang hidup sejahtera, pokoknya ambisinya adalah untuk menjadikan Xeliqia sebagai kerajaan Superpower. Pengetahuan dari dunia asalnya akan digunakan untuk itu.


Wakil presidennya adalah William Tan'ya, atau Azkiya memanggilnya pak Will. Lalu dimana presidennya?


Dia masih berpetualang, entah kapan kembali. Mungkin juga tak akan kembali, Azkiya masih abu-abu dalam menentukan sifatnya. Dia bisa menjadi pahlawan, bisa juga menjadi penjahat ...


Itu sedikit pengantar tentang kota Xeliqia yang telah berubah menjadi negara Xeliqia.


"Di arah tenggara sepertinya terjadi sesuatu? Bukannya di sana adalah letak kota Ran'gild?" Kata pak Will dan Vlad, juga beberapa orang lainnya yang sedang berkumpul di tempat yang akan dijadikan istana.


Puluhan burung terbang secara serempak terlihat di kejauhan dari arah kota Ran'gild menuju ke arah ibukota. Semua orang di Xeliqia langsung memutuskan hal tersebut.


"Semoga saja tidak ada kerajaan mana pun yang berniat melakukan Invasi kepada kita!?"


Di tempat berbeda yang saling berjauhan—sangat berjauhan.


5 orang berbeda melihat ke arah kota Ran'gild berada dari tempatnya masing-masing. Mereka semua memiliki tatapan mata yang sama ... namun dengan perasaan yang berbeda ... kemarahan, kekhawatiran, ketakutan, kemalasan, ketidakpedulian. 5 respon berbeda dari para pahlawan, meskipun begitu mereka kompak dalam hal ini ...


"""Aku harus memusnahkan iblis itu!"""


.


.


.


Calsya PoV


Kepalaku rasanya sakit dan aku merasa terbaring di sesuatu yang keras, ya ampun ... di mana aku sekarang?


Hal pertama yang aku lihat ketika membuka mata adalah Kiya yang duduk di sampingku. Dia diam dengan tatapan kosong melihat ke arah depan. Aku mengikuti arah pandangannya, secara otomatis aku langsung membelalakkan mata, tak jauh di depan kami sebuah cekungan yang amat luas membentang.


"A-pa yang terjadi?" Kataku sedikit panik.

__ADS_1


"Putri, kau sudah sadar? Baguslah, kita harus segera pergi?" Kata Kiya mulai berdiri.


Ada yang salah di sini, kota tiba-tiba hancur dan sikap Kiya yang aneh—tak seperti dirinya yang biasa.


Aku mulai memposisikan diri untuk duduk agar bidang pandangku bertambah luas. Semoga kota Ran'gild belum sepenuhnya hancur, meskipun cuma meninggalkan sedikit bagian.


"S-s-semu-anya rata tak bersisa?"


"Begitulah." Jawab Kiya cuek.


"Bagaimana dengan dengan semua orang?"


"Huh ..." Kiya menghela nafas lalu menatapku dengan pandangan kosong. "Apa yang kau harapkan? Mana mungkin ada orang yang bisa selamat dengan kerusakan separah ini! Lagipula ... pelakunya adalah diriku sendiri!"


Kalimat terakhir yang tak kusangka. Secara reflek tubuhku mulai sedikit menjauhi Kiya, ini respon yang wajar. Aku ketakutan ... tapi ...


"Aku tak percaya! Sebenernya siapa kau?" Kataku berusaha membuat diriku tegar.


"Tentu saja aku Kiya—Azkiya. Apa yang membuatmu berpikir bahwa aku palsu!"


Ahh ... payah, rasa takut ini ... jika aku tak melawannya dengan sekuat tenaga, pasti aku akan langsung pingsan. Tapi, aku tak boleh pingsan di sini.


Ini bukan rasa takut pada Kiya, ini berbeda. Dia bukan Kiya, aku yakin itu.


"Kiya tak mungkin melakukan hal ini!"


"Hoh ... kau tau apa tentangku sampai menyimpulkan hal seperti itu, kita juga tak dekat atau apa!"


"Aku tak bisa mengatakannya. Pokoknya kau bukan Kiya! Kau monster, kau iblis!"


"Berisik!" Kiya mengayunkan sebuah pedang ke arahku.


Slash ...


Aku berpikir nasibku akan tamat, namun aura berwarna hitam yang keluar dari tubuhku membentuk siluet tangan dan menghentikan ayunan pedangnya. Aku juga menyadari sesuatu ...


Pedang tipis dan kecil itu ... warna hitam dengan sedikit corak berwarna ungu. Kiya tak memiliki pedang sejenis itu. Jadi, aku berpikir bahwa perubahan sifat yang Kiya tunjukkan penyebabnya adalah pedang itu.


Kiya mencoba lebih keras untuk menebasku, dia mengerahkan seluruh tenaganya ke ayunan pedangnya. Tanah pijakan kami sampai retak lalu hancur. Kebetulan kami berada tepat di samping di cekungan besar itu, alhasil pinggirnya pun sampai longsor karena tidak kuat menahan tekanan yang diberikan Kiya. Ada sesuatu yang aneh ...


Kami benar-benar melayang di udara—terbang. Tak masuk akal, bagaimana caranya? Yah, pikirkan itu nanti.


"Kau bukan Kiya! Pergilah, jangan mempengaruhi Kiya lagi!"


Setelah aku mengatakan itu lebih banyak tangan yang terbentuk dan secara serempak menyerang Kiya.


Kiya pun berhasil menghindari dengan mudah, dia melompat menjaga jarak dariku dan pedangnya pun tertinggal. Mungkin tangan hitam ini mencengkramnya sangat kuat sampai Kiya kesulitan untuk melepaskannya.


Ini kesempatan, akan kuhancurkan pedang terkutuk yang telah membuat Kiya berubah.


"Apa yang kau lakukan, Putri?"


"A-pa?!"


Kiya dengan cepat berada di belakangku, aku tak bisa bereaksi begitu juga dengan tangan hitam ini.


Bak ... jdarrrrr ...


Punggungku di tendang dengan sangat kuat sampai aku terhempas ke cekungan besar dan menghantam dasarnya.


"Uhuk ... uhuk ... a-ku h-harus menghancurkan pe-dang ini—"


Aku langsung muntah darah dan beberapa tulang rusukku hancur.


"Jangan yang berbuat yang tidak-tidak, Putri!"


Jleb ...


Rasa sakit di dada ini? Pandanganku yang mulai kabur? Rasa panas ini? Perlahan aku tak bisa merasakan tubuhku lagi. Aku akan mati? Kiya memang berniat untuk membunuhku.


"K-k-ki-ya ...!" Aku berusaha agar tetap terjaga, dan rasanya sulit sekali. Akan tak kuat lagi, aku ingin memejamkan mata.


Brrr ... zrrrtttttttttttt ...


Aku mati di tangan Kiya ...

__ADS_1


"Kiyaaaa!" Teriakku dengan keras menjulurkan tangan ke udara dari posisi berbaring. "Eh? Semua itu ...?"


Aku mulai mendudukkan diri dan melihat ke sekeliling. Kondisinya sama, cekungan besar itu tetap ada.


"Eh? Putri, ada apa? Kau bermimpi buruk?" Kata Kiya yang duduk di sampingku dengan bingung.


Reflek aku langsung memeluknya dengan erat—sangat erat seperti tak ingin kulepaskan, aku ingin selamanya seperti ini.


"Kiya ...?! Kau membunuhku!" Tangisku pun pecah.


"Membunuhmu, untuk apa? Aku tak akan membunuhmu jika tak punya alasan. Dan yah ... sepertinya ini alasan yang tepat untuk membunuhmu!?"


Pelukannya langsung kulepaskan.


"M-m-maaf ...!" Kataku dengan kepala tertunduk.


Dia benar-benar Kiya, begitulah sikapnya. Dia tak dipengaruhi atau dikendalikan apa pun, Ini adalah sikap normalnya. Tidak seperti yang ada di mimpiku.


Aku tak ingin mimpi itu jadi kenyataan, yah tapi setengah dari mimpi itu sudah menjadi nyata. Kota Ran'gild hancur dan Kiya memang mendapatkan pedang itu. Bedanya, Kiya tetap menjadi dirinya sendiri.


Itu sudah cukup bagus, aku tak peduli dengan yang lainnya.


.


.


.


Pokoknya aku ucapin terimakasih pada pembaca yang bisa terus baca sampe chapter terupdate.


Maaf 🙏 nggak bisa ngasih cerita yang bagus.


aku bakal usahain cerita ini agar bisa tamat.


Dah ... see you


Oh ... sedikit illustrasi


...


Nama : Calsya Arant Weder


Ras : Manusia


Gender : Perempuan


Umur : 22 tahun


Tahun lahir : 597 kalender dunia



Nama : Asmodeus


Ras : Iblis


Gender : —


Umur : —


Tahun lahir : Awal dunia terbentuk



Nama : Ashera


Ras : Iblis


Gender : Perempuan


Umur : —


Tahun lahir : Awal dunia terbentuk


__ADS_1


Segini saja illustrasi nya, nggak bisa gambar. Ini aja ngambil dari Google. Semoga bisa membantu dalam berimajinasi.


__ADS_2