
Chapter pembuka untuk Arc 2 ... isinya nanti tentang peningkatan kekuatan, ya. Oh, nanti Kiya juga akan bentrok dengan pahlawan lain.
Selamat membaca.
.
.
.
"Kondisi ini memang menyebalkan!"
Mengeluh pun percuma, ini sudah terlanjur terjadi. Mau membereskannya pun akan merepotkan, sebaiknya aku nikmati saja untuk kali ini. Yah, meskipun ini akan sangat tidak menyenangkan.
Aku atau lebih tepatnya kami selalu menyembunyikan identitas, tak boleh ada siapa pun yang melihat wajah kami, terlebih diriku. Pasalnya aku adalah buronan kerajaan Rentweder dan para sekutunya.
Hal yang paling membuatku kerepotan adalah desas-desus tentang kerajaan Rentweder yang melaporkan kasus-ku ke pihak gereja suci. Ada kemungkinan bahwa Kelompok ksatria elit "JUDGMENT" akan ikut serta dalam memburuku.
Mendengar kabarnya sudah membuatku sakit kepala. Kekuatanku masih belum mencukupi untuk menangani para pengganggu itu.
Untungnya para pahlawan tak ikut campur urusan ini. Aku tak bisa membayangkannya jika mereka ikut campur.
Aku harus melawan 5 orang pahlawan sekaligus?
Yap ... aku pasti mati dalam hitungan menit.
"Kiya, kita serius akan ke kota ini?" Bisik gadis—Putri Calsya di sampingku menarik ujung jubahku.
"Tentu saja," balasku singkat.
"T-t-tapi ..." Calsya melirik ke arah papan besar yang berdiri di samping gerbang masuk.
Papan itu memuat berbagai poster, yah ... daftar buronan. Tentu saja aku termasuk ke dalamnya.
"Tenang saja!" Jawabku santai.
Jawaban yang membuat Calsya tak nyaman, dia kelihatan gelisah. Pandangannya selalu fokus pada antrian orang di depan kami yang jumlahnya semakin menipis, sebentar lagi kami akan di interogasi sebelum bisa masuk kota kecil ini. Otomatis kami pasti akan di suruh memperlihatkan wujud yang terhalang oleh jubah ini.
Ngomong-ngomong ... yah, aku terkejut soal ini. Bouinty-ku secara mengejutkan meningkat drastis, awalnya cuma 10 juta Arial kini menjadi 200 juta Arial hanya dalam kurun waktu satu mingguan. Luar biasa ... mungkin akan mencapai satu miliar bulan depan.
"Tolong buka tudungnya ...!"
Giliran kami akhirnya tiba. Tak ada satupun dari kami yang mengindahkan perintah itu, Calsya masih takut untuk memperlihatkan wajahnya.
Aku lalu mengambil tindakan, aku memangkas jarak dengan penjaga itu, "Loloskan dan izinkan kami masuk!" Bisikku pada penjaga.
"S-silahkan masuk!"
"Hei, apa dia sudah diperiksa?" Tanya penjaga lainnya merasa aneh bahwa rekannya meloloskan seseorang tanpa diperiksa lebih lanjut.
"Sesuai prosedur."
"Ah, baiklah."
Pada akhirnya kami berhasil lolos tanpa hambatan yang berarti. Itu berkat skill-ku, Absolut Command ... kemampuan yang sangat berguna.
Setelah seminggu penuh berada di hutan dan sepanjang mata cuma ada pepohonan. Tapi, kali ini berbeda ... aku dapat melihat bangunan bergaya abad pertengahan berdiri di mana-mana. Ahh ... aku rindu rasanya tidur di ranjang dan memakan makanan yang sungguhan dimasak.
"Err, K-kiya kita mau ... eh? Kiya, jangan tinggalkan aku!"
Aku asal pergi meninggalkannya di antara keramaian orang yang baru masuk ke kota. Baru segitu saja dia sudah panik.
"Aku mau berkeliling sendiri dan sebaiknya kau juga! Jangan mengikutiku!"
"T-ta-pi, aku tak mungkin berjalan sendirian, kan?" kata Calsya memelas.
"Oh, begitu, kah?" Balasku mendekat lalu memegang pundaknya.
"Kyaaa ....?!" Calsya ketakutan akan hal itu.
"Aku yang memutuskan, Putri. Kau tak memiliki wewenang untuk menolak setiap keputusanku!" Kataku sedikit dingin dan memberikan sedikit tenaga pada tanganku yang memegang pundaknya.
"Maaf, Kiya." Balas Calsya dengan kepala tertunduk.
Interaksi kami ternyata menarik perhatian banyak orang. Tapi ... tak masalah.
"Ini ... kau boleh membeli apa pun dengan itu." Aku menyerahkan lembaran uang Arial dan kantong kulit berisi koin emas.
__ADS_1
Calsya menerimanya dengan patuh meskipun dia kelihatan agak ... aku tak peduli.
Aku pun meninggalkannya untuk melakukan sesuatu ...
.
.
.
Kota Ran'gild, salah satu kota yang masih masuk wilayah kerajaan Rentweder, kota yang berada di batas wilayah perbatasan kerajaan Rentweder dengan negara tetangga.
Kota ini tak terlalu besar dan ramai. Jika dihitung mungkin penduduknya cuma sekitaran 25 ribu orang tak termasuk para pelancong atau pendatang. Tapi, saat kedatanganku ... banyak sekali orang yang datang.
"Aku tak sabar menyambut festival darah. Bagaimana denganmu?"
"Tentu saja. Pada hari ini saja kita akan bebas membunuh!?"
"Membunuh? Bukannya itu bagus, tapi membunuh apa?" Batin ku menunjukkan minat pada topik obrolan dua orang di dekatku. Aku sekarang ada di kedai makan.
"Umm ... a-no, aku pendatang ... kalau boleh tau, apa maksud kalian tentang festival darah?" Aku secara blak-blakan bertanya. Aku terlanjur penasaran.
"Oh, pendatang ... begini, setiap satu tahun sekali kota Ran'gild melegalkan eksekusi penjahat oleh para warga sipil atau pendatang. Intinya ... kau boleh membunuh siapa saja asal dia jahat!?" Terang salah seorang. Dia kemudian sedikit celingukan dan mulai berbisik.
"Festival Ini kadang dijadikan ajang untuk membunuh orang yang kau benci. Asal kau punya bukti bahwa dia melakukan tindak kejahatan, maka membunuhnya akan legal kau tak akan dihukum!" Sambungnya dengan suara yang pelan.
"Hei, jangan mengajarkan yang tidak-tidak!" Timpal yang lainnya memukul kepalanya.
"Hanya bercanda, hanya bercanda ... hihihi." Jawabnya cengengesan.
"Sesuai yang dikatakannya ... ini adalah hari dimana setiap orang berhak membunuh seseorang yang dianggap jahat, tapi harus dengan bukti. Jika tidak ... kau yang akan dianggap jahat. Festivalnya akan dimulai saat tengah hari sampai matahari terbit."
"Ah, terima kasih. Aku mengerti!?" Jawabku menganggukan kepala.
"Sebenarnya puncak festival adalah mengeksekusi para tahanan di penjara dan kita akan bertarung dengan mereka." Terangnya sekali lagi.
"Yah ... itu yang paling seru, kita akan bertarung habis-habisan dengan para tahanan!"
"Heh ... jika kau mati, aku tak mau menguburmu!?"
Festival itu sangat menguntungkan bagiku, krisis hutang poin-ku mungkin akan sedikit teratasi.
"Iya, tak apa-apa."
Kedai makan ini sudah sepi pengunjung, aku jadi punya keberanian untuk membuka tudung jubahku. Wujud remaja umur 15 tahun seharusnya bisa terlihat jelas. Huh ... seharusnya umurku 17 tahun.
"Luxury?"
«Ada apa»
"Cih ... kau menyebalkan sekali! Kenapa kau tadi diam saja? Seharusnya kau bisa menjelaskan apa itu Festival darah!? Bukannya membisu!"
«Aku sudah tau dua orang tadi akan menjelaskannya. Kenapa harus dijelaskan ulang?»
"Seperti biasa, kau malah lebih menyebalkan, Luxury dari system yang dulu!"
«Saya terima pujiannya»
"Huh ... sudahlah! Tampilkan status-ku!"
...Nama : Azkiya...
...Ras : Manusia...
...Umur :15...
...Vessel : 100% (Bar berwarna biru)...
...Stamina : 99% (Bar berwarna kuning)...
...Skill :...
...*Absolute command...
...*Suggest...
...*Mind control...
__ADS_1
...*Stimulant...
...*Manifestation...
...Cursed/Blessing: System⟨Luxury⟩...
...Inventory :...
...*Uang...
...*Pedang biasa...
...*Busur biasa...
...*Senapan...
...*Pakaian ganti...
...*Jubah...
...*Bahan makanan...
...Poin : — 2900.000.000...
Terlewat seminggu sejak aku memutuskan untuk memulai leveling. Hasilnya aku hanya mendapatkan 80 juta poin untuk membayar hutangku. Itu pun aku sudah bekerja sangat keras, aku berperang melawan rasa bosan.
Monster Rank C yang kebanyakan aku bantai, yah ... memang cuma itu saja yang bisa kutemui.
Rasa bosan adalah musuh terbesarku untuk saat ini.
"Kemarilah 200 juta—"
Jleb ...
«Kau mendapatkan 10 ribu poin ...»
Seseorang berusaha menikamku dari belakang, tapi bukannya berhasil malah senjata makan Tuan. Manifestasi ...
Sebuah skill yang memungkinkan pengguna untuk menjadikan dalam wujud sesuatu yang tak terlihat, seperti perasaan atau pikiran. Pengguna juga dapat memanipulasi perwujudannya. Dalam kasus ini ... aku membalikkan niat membunuhnya kepada dirinya sendiri.
"Dia bodoh! Seharusnya dia tidak berteriak, itu hanya akan membuat lawan sadar! Huh ... kasihan sekali kau, pemilik kedai! Mati konyol!"
Aku mulai berjalan pergi meninggalkan kedai, tak lupa tudung jubah aku kenakan kembali.
«Aku mempunyai ide yang bagus, Kiya»
"Apa?"
«Jangan sembunyikan identitasmu lagi!»
Aku seketika berhenti melangkah, terkena dengan pernyataan Luxury.
«Kau bisa memanfaatkan status buronanmu saat festival darah»
"Ide yang lumayan bagus. Setelah melihat ada buronan tingkat S muncul di tengah-tengah festival ... semua orang pasti akan menaruh perhatiannya padaku. I Vs everybody?"
Siasat yang tak buruk ... aku jadi tak merasa bersalah karena membunuh mereka. Aku hanya membela diri dan mereka sendiri yang mengantar nyawa. Aku adalah salah satu buronan dengan bouinty tertinggi, peringkat S, orang yang berbahaya. Tapi, tetap menyerangku.
Aku tidak salah, kan?
Seperti pemilik kedai ini. Nasibnya malang sekali.
"Tapi, resikonya adalah keberadaanku akan terendus. JUDGMENT pasti dengan cepat akan menemukanku jika aku merusuh di kota ini!?"
«Kita pikirkan itu nanti»
"Kau menyesatkan!"
.
.
.
Pokoknya aku ucapin terimakasih pada pembaca yang bisa terus baca sampe chapter terupdate.
Maaf 🙏 nggak bisa ngasih cerita yang bagus.
__ADS_1
aku bakal usahain cerita ini agar bisa tamat.
Dah ... see you