System : Unknown

System : Unknown
Chapter 31 -Memulai Raid-


__ADS_3

Sebelum membaca alangkah baiknya menyentuh tombol like terlebih dahulu jika suka dengan Chapter ini dan tinggalkan komentar jika ada kekurangan atau kelebihan.


Jangan lupa tekan tombol favorit, agar tak ketinggalan update.


Selamat membaca, semoga terhibur.


...


Di sebuah kamar, terjadi sebuah keributan kecil. Dijabarkan lebih rinci, hanya pertengkaran antara dua saudara. Perdebatan di antara mereka sudah hampir mencapai klimaks.


"Kak ... jangan pergi!" Rintih seorang gadis kecil berambut perak.


Gadis lainnya yang mempunyai rupa sama, semuanya sama yang membedakan hanya pakaiannya, menatapnya lembut, di sudut matanya air telah terkumpul, tinggal menunggu waktu untuk jatuh. Tapi, gadis kecil itu menahannya, dia tak ingin adiknya—kembarannya tahu bahwa dia menangis.


"Aku hanya pergi sebentar, Calsya! Tak perlu khawatir, aku pasti akan kembali!" Si kakak dengan lembut membelai pucuk kepala adiknya, Calsya.


"Kakak janji?"


"Hufh ... iya. Kakak janji, tak peduli seperti apa rintangannya pasti kakak akan menepatinya!" Kata sang kakak menunjukkan jari kelingkingnya untuk membuat janji ala-ala anak kecil.


Si adik, Calsya menerimanya. Tapi, dia masih ada uneg-uneg yang belum dikeluarkannya.


"Kita kan kembar? Kenapa harus kakak, aku harusnya juga bisa, kan?"


"Hanya kakak yang cocok!?"


"Omong kosong! Kita kembar ... semuanya sama. kenapa aku tidak bisa?"


Pernyataan dari adiknya itu sontak membuat sang kakak langsung memeluknya dengan erat. "Aku tak mau kamu yang menanggung beban ini, Calsya!" Tangisnya pun pecah.


"Kakak juga tak pantas menanggung beban ini! KENAPA HARUS KAKAK, APA TAK ADA ORANG LAIN?" Calsya melepaskan pelukannya lalu berteriak sambil menangis.


"Karena memang tak ada yang mampu, Calsya! Ini juga tuk masa—"


"Persetan dengan masa depan atau hari esok! Bagiku ... dunia sudah tak ada artinya jika kakak tidak ada di sampingku!"


"Nona Callista, sudah tak ada waktu!" Kata seorang Maid yang dari tadi cuma menyimak perdebatan saudara kembar itu.


Sang kakak, Callista mengangguk pada maid itu bertanda dia akan melaksanakan instruksinya.


"Maaf, Calsya ... tapi, aku memang harus pergi! Tapi, kakak janji pasti akan kembali!"


Callista menuju ke sisi Maid itu dan Calsya hendak mengejarnya. Tapi ...


Deg ...


Pukulan di tengkuk membuatnya tumbang.


"K-kak, j-ja-ngan pergi! A-ku tak mau sendirian!"


Begitulah ... dan janji itu tak pernah ditepati.


...


Kiya PoV


Aku memang berniat untuk menjelajahi suatu dungeon di dekat danau yang diberitahu oleh system. Namun, kedua ksatria itu pasti tak akan mengizinkan. Menaklukkan dungeon butuh waktu beberapa hari bahkan berminggu-minggu, dan mereka tak punya waktu selama itu tuk menunggu.


Tapi, aku sangat penasaran dengan monster-monster yang ada di sana, terlebih itu adalah Monster Rank B. Poinnya lumayan, aku juga harus segera melunasi hutang poin-ku.


Mungkin ini bisa jadi Mood Booster. Hah ... suasana hatiku akhir-akhir ini hancur.


Oleh karena itu aku harus memanfaatkan si Putri. Aku pun tersenyum penuh arti pada Putri Calsya yang berada tak jauh dariku yang berbicara dengan para ksatria-nya.


Dan, yap ... dia sudah melihatku. Kini ekspresinya tak karuan, tapi dominan takut. Mulailah dia berbicara pada para prajuritnya.


Sekarang kedua orang itu yang ekspresinya tidak karuan, Rayha beberapa kali melirikku dan Putri secara bergantian, dia juga menunjuk-nunjuk danau indah tak jauh dari kami.

__ADS_1


Aku lupa memberitahu, kami sudah di danau dengan air biru-kehijauan ini.


"Umm ... Kiya, apa di danau ini memang ada dungeon?" Fleura mendekatiku lalu melayangkan pertanyaan itu.


"Entahlah?!" Kataku dengan bahu terangkat.


"Huh, sebenarnya ... ada apa dengan Putri?" Fleura dengan frustasi menepuk jidatnya dan melihat Rayha berusaha meyakinkan Putri.


"Memang ada apa dengan itu? Kita akan melakukan Dungeon Raid?"


Aku di sini belum tau, ya. Jadi, berpura-pura polos.


"Bukan kita, tapi kalian berdua! Putri Calsya ingin melakukan Raid denganmu di dungeon yang katanya ada di sekitar sini."


"Ohh ... sebentar! Kenapa Putri menginginkan itu?"


"Aku juga bertanya-tanya!?"


Rayha sepertinya sudah menyerah, mereka berdua menghampiri kami, ekspresi Rayha sudah lesu, berbanding terbalik dengan Putri yang berseri-seri.


"Kiya, ayo kita lakukan Raid bersama!" Seru Putri Calsya mengangkat sebelah tangannya dan sebelahnya lagi dilingkarkan di tanganku.


...


"Hey, system! Di mana jalan masuk dungeon itu?"


[Seharusnya di sekitar sini ada gua. Itulah jalan masuknya]


"Hmm ... sepertinya itu adalah gua tersembunyi!?"


Aku masih sibuk mencari jalan masuk ke dungeon itu. Sekitaran danau sudah aku jelajahi, tapi tak ada hasil.


"Tuan Putri, menyerah saja! Di sini memang tak ada dungeon. Ayo kita lanjutkan perjalanannya saja!?" Teriak Rayha.


Putri Calsya melihatku sekilas, aku tak bergeming.


"Tidak, aku ingin tetap melakukan Raid!" Putri bersikukuh.


"Hey, kau tak membohongiku, kan system?"


[Tentu saja tidak, Tuan! Untuk apa saya membohongi Anda?]


Tiba-tiba Putri Calsya mendekatiku, "Umm ... j-jadi, b-bagaimana?" Dia bertanya dengan sedikit gagap.


"Tunda sajalah, kita lanjutkan besok!"


"T-terserah padamu!?"


Setelah mengatakan itu, si Putri beranjak pergi tuk menyusul Fleura yang sibuk mempersiapkan keperluannya. Tapi, si Rayha tiba-tiba keluar dari air dan berteriak ke arah kami.


"Tuan Putri, saya tak sengaja menemukan sebuah gua bawah air saat saya menyelam untuk mencari ikan. Sepertinya itu jalan masuk ke dungeon!" Teriak Rayha kelihatan sangat senang.


"Bodoh!"


Aku bahkan mendengar sedikit makian Fleura. Si Putri melirikku, dan aku tak memberikan respon apa pun.


"Benarkah? Yah, karena sudah gelap. Aku memutuskan untuk melanjutkannya besok!"


Tengah malam ...


Semuanya sudah tertidur, tinggal aku sendiri saja yang masih terjaga di depan api unggun.


"Mereka tak kompeten!" Gerutuku melihat kedua orang itu tertidur dengan keadaan duduk memeluk senjatanya masing-masing.


"J-jangan pergi! A-ku tak ingin sendiri!"


Fokusku teralihkan pada Putri Calsya yang menggeliat dan mengigau kan kata-kata itu.

__ADS_1


"Entah bagaimana masa lalumu. Aku tak akan peduli. Aku tak ingin membuat ikatan dengan orang lain lagi, mereka hanya menambah masalah padaku." Aku sedikit mengucek kedua mataku.


...


Pagi harinya, aku langsung memutuskan untuk melakukan Raid. Aku tak mau berbasa-basi.


Rayha sebagai pemandu jalan, kami bertiga ... Aku, Rayha, dan tentu saja Putri menyelam ke danau.


Tak butuh waktu terlalu lama, Rayha langsung menunjuk sebuah lubang di dasar danau. Lubangnya terlalu kecil, aku sedikit ragu bahwa memang itu jalan masuknya. Tapi, system meyakinkanku.


[Memang itu jalan masuknya, Tuan]


"Baiklah ..."


Selanjutnya, aku melingkarkan benang pada Putri Calsya agar tak terpisah dariku. Aku juga mengisyaratkan agar Rayha segera kembali. Dia pun mengangguk dan kemudian berenang ke permukaan.


[Jangan terlalu berlama-lama! Putri sudah hampir mencapai batas]


"Mana bullet!"


Aku membuat Mana bullet yang cukup besar agar bisa melebarkan jalan masuk gua kecil itu. Dengan segera, aku berenang ... sudah terlalu lama kami di dalam air. Putri sudah tak bisa menahannya.


"Hah ... hah ... hah ... akhirnya!?" Nafas Putri tersengal-sengal, dia hampir menelan semua air itu.


Aku melihat ke sekeliling gua bawah air ini. Tempatnya cukup sempit kira-kira lebarnya cuma 7 meter dan tinggi 5 meter. Tidak terlalu menguntungkan menurutku.


Di dinding-dinding gua terdapat bebatuan kristal yang bercahaya. Tempat ini cukup terang, kami tak perlu penerangan tambahan. Dan ditambah dengan kelembaban gua ini. Aku tak bisa sembarangan menggunakan elemen petir.


Setelah sedikit menjelajah beberapa menit dan tak menemukan satu monster pun, jalannya lalu berubah curam secara tiba-tiba, itu turunan yang sangat tajam.


"Nah, Putri ... jangan jauh-jauh dariku jika tak ingin terluka!" Aku mengeluarkan katana. Benang yang mengikat Putri masih melingkar.


Kami pun menuruni jalan yang curam itu seperti perosotan.


"Uh ... gesekan itu!?"


Kabut berwarna hijau mendadak muncul menyelimuti seisi gua membatasi penglihatan kami.


"Sudah dimulai!"


Slash ...


Aku menebas udara kosong dan timbul hembusan angin yang menyapu kabut hijau itu tak bersisa. Dan ... ratusan slime kemudian muncul.


"System, analisis!"


«Cave slime | C-rank


Atribut tanah»


«Metal slime | C-rank


Atribut logam»


«Origin slime | C-rank


Atribut air»


"Rank C, kah? Yah, jumlahnya ada ratusan!?" Kataku tersenyum kaku, sebetulnya aku agak ragu. Tapi, karena aku sudah sampai di sini ... aku tak boleh mundur lagi.


Raid pertamaku di dunia Arias.


...


Pokoknya aku ucapin terimakasih pada pembaca yang bisa terus baca sampe chapter terupdate.


Maaf 🙏 nggak bisa ngasih cerita yang bagus.

__ADS_1


aku bakal usahain cerita ini agar bisa tamat.


Dah ... see you


__ADS_2