
Sebelum membaca alangkah baiknya menyentuh tombol like terlebih dahulu jika suka dengan Chapter ini dan tinggalkan komentar jika ada kekurangan atau kelebihan.
Jangan lupa tekan tombol favorit, agar tak ketinggalan update.
Selamat membaca, semoga terhibur.
...
Kiya PoV
...Nama : Kiya...
...Level : 167 (0/143.865)...
...Ras : Manusia...
...HP : 26.650/26.650...
...MP : 13.350/13.350...
...SP : 12.430/13.350...
...Kekuatan : 6240...
...Pertahanan : 5980...
...Kecepatan : 7080...
...Ketahanan : 6320...
...Sihir : 7100...
...Skill :...
...*Hide...
...*Lightning magic(Puncak)...
...*Clairvoyance...
...*Thread manipulation...
...*Breaker...
...*Sword mastery (Master)...
...Blessing : System...
...Poin : —3 M...
...Penyimpanan :...
...*jubah...
...*Benang...
...*Jarum...
...*Katana...
...*Senapan...
...*Ranjau...
...*Granat...
...*Granat cahaya...
...*Bom asap...
...*Uang...
Beberapa hari sudah terlalui setelah pertempuran singkat malam itu. Keadaan mulai kembali normal—hanya sedikit. Belum ada satu pun aktivitas yang terjadi di kota, kebanyakan penduduknya masih tinggal dan bertahan di tempat pengungsian.
Akan membutuhkan waktu yang sangat lama agar para pengungsi bisa kembali ke kota. Kota setengahnya sudah hancur, perbaikannya kira-kira membutuhkan waktu berbulan-bulan.
__ADS_1
Dan kini ...
Aku dan Celia sedang menunju ke tempat pengungsian di sisi barat kota dengan membawa berbagai jenis ikan. Yah, kami baru saja dari laut menangkap ikan dengan alat pancingan sederhana.
Dan ikan yang didapat juga tak seberapa ... cukup untuk beberapa orang saja.
"Sangat menyedihkan!" Helaan nafas penuh keputusasaan sangat terasa ketika aku memerhatikan panel status-ku.
Hutang 3 M poin, masalah yang besar bagiku. Selama aku belum melunasinya, fitur shop dan penukaran poin menjadi uang tak akan bisa diakses. Dan setiap poin yang diperoleh akan langsung digunakan untuk membayar. Sangat menyiksa ...
"Yah ... aku harus berhemat kali ini!"
[Tidak ada yang menyuruh Tuan untuk melakukan semua pembelian senjata itu]
"Diam! Aku hanya jaga-jaga ... tapi, hah ... semua yang aku beli percuma!"
[Tank, pesawat tempur, helikopter, bahkan nuklir sudah Anda beli ... tapi, tak dipakai]
"Sepertinya aku memang berlebihan!?"
"K-kiya, apa ada sesuatu?" Tanya Celia.
Celia yang berjalan berdampingan di samping kananku menaikkan sebelah alis sedikit merasa janggal dengan perilakuku yang kadangkala kedapatan ekspresiku berubah-ubah dengan sendirinya, awalnya lesu mendadak kesal seperti marah-marah.
"Eh ...?" Aku sedikit tersentak, namun dengan cepat mendapatkan ketenangan. "Tidak, aku hanya berpikir sesuatu yang menyebalkan!"
"Ohh ... kadang kau seperti berinteraksi dengan sesuatu." Celia mempercepat jalannya mendahului.
"Huh ... gara-gara kau, system ...! Aku dikira sudah miring!?"
[• ‿ •]
Setelah berjalan beberapa saat, akhirnya kami pun tiba. Beberapa orang yang kebetulan berada di luar langsung bisa mengenali kami, terutama diriku. Yah ... aku sangat terkenal sekarang.
Anak-anak kecil yang hendak keluar menghirup udara bebas atau bermain langsung oleng tujuannya ketika melihat kami.
"Woah ... kak Kiya membawa ikan yang banyak!?"
"Kak Kiya keren!"
"Aku mau bantu kak Kiya membakar ikannya?"
"Kalian jangan ganggu Tuan Kiya! Dia sedang sibuk!" Wanita yang diduga ibu dari anak-anak itu datang tuk menegur.
Kami memang sibuk ... mencari makanan.
""Ahhh ... ibu ini. Kami ingin membantu kak Kiya!?"" Rengek mereka bertiga sambil berpura-pura menangis.
"Tuan Kiya, maaf mereka masih—"
"Namanya juga anak-anak!?"
...
Hari ini akan ada tamu penting dari ibukota, yah ... itu adalah utusan dari kerajaan Rentweder yang akan mengurus pelepasan kota Xely untuk menjadi wilayah yang berdiri sendiri tanpa campur tangan Kerajaan lain. Ternyata Ranan sudah menepati janjinya.
Karena itulah kami sibuk mempersiapkan penyambutannya. Seperti tadi, aku dan Celia sibuk menangkap ikan, bukan aku saja ... para warga yang lain juga mencari makanan di hutan untuk mempersiapkan perjamuan ini. Kota Xely sedang terjadi krisis bahan makanan.
Semua orang sudah bekerja keras di sini demi untuk membuat citra penduduk kota Xely menjadi baik dan menghapus citra buruk yang disebabkan oleh Duke Volancy yang memutar balikkan fakta.
"Mereka sudah datang ...!" Seru seseorang menunjuk ke arah langit.
Terlihat di angkasa sebuah kereta kuda yang kelihatan mewah dan elegan di tarik oleh dua ekor pegasus. Di sekeliling kereta ada beberapa pengawal dengan perlengkapan lengkap menunggangi kuda bersayap itu.
Kereta kuda itu pun akhirnya mendarat, orang yang keluar pertama adalah seorang pria yang kira-kira berumur 60-an tahun berpakaian pelayan dengan membawa sebuah gulungan kain. Pelayan itu kemudian membentangkan gulungannya yang ternyata adalah karpet merah.
Aku bisa langsung tau, tipe orang seperti apa utusan kerajaan yang dikirim ke sini.
Selanjutnya, keluarlah seorang wanita dengan umur di angka 20-an pakaian dominan warna hitam dengan sedikit corak berwarna merah. Rambut perak lebih cenderung ke abu-abu tergerai pendek sampai di bawah bahu, wanita itu berjalan dengan sedikit angkuh dengan dua orang maid berjalan di belakangnya. Matanya yang berwarna merah seperti seorang vampir ... tunggu, apa dia memang seorang vampir? Ahh ... lupakan itu! Mata merahnya tak berhenti untuk mengindentifikasi kami semua.
Sampai, kedua mata kami akhirnya bertemu. Dari ekspresinya, dia sedikit kebingungan. Kenapa ada bocah berumur 15 tahun di sini? Begitu kemungkinan yang ada pada benaknya. Dengan segera dia mengalihkan pandangan dariku.
Gara-gara Retrorsum milik Viola aku jadi seperti ini. Hmm ... ngmong-ngmong soal Viola ... dia sudah pergi kemarin menyelesaikan urusannya yang lain.
"Ahh ... dia ...?! Matanya bagus!"
__ADS_1
"Selamat datang, Putri Calsya," Kata Vlad sesopan mungkin dengan badan sedikit tertunduk.
Calsya Arant Weder, Putri pertama. Kerajaan Rentweder punya dua orang Putri dan satu pangeran. Calsya anak nomor 2, dia juga bukan anak dari permaisuri ... dia terlahir dari salah satu selir Raja.
"Hmm ..." Putri menganggukkan kepalanya.
Pertemuan ini akhirnya dimulai, rombongan kerajaan masuk ke Tempat pengungsian bawah tanah yang sudah didekor untuk acara khusus ini.
"Kiya, kau tidak ikut masuk?" Celia yang berada di sampingku berbisik.
"Aku seorang bocah ingusan! Lihat, sekarang aku lebih pendek darimu!?"
Aneh jika aku mengikuti pertemuan itu. Pasti mereka bertanya-tanya, dan aku tak ingin terlibat masalah dengan keluarga kerajaan.
"Ahahaha, iya, ya ... Kiya sekarang jadi imut! Mau jadi adik kecilku?" Kata Celia menatapku seperti seorang pedofil mengincar mangsa.
"Ini memang sedikit tidak adil! Pemunduran umurku yang paling besar di antara kalian, aneh!" Aku kembali kesal mengingat pertempuran malam itu.
"Tak apa-apa. Aku lebih suka Kiya yang seperti ini!" Tiba-tiba Celia memelukku dengan erat dan kepalaku tertekan ke dadanya yang besar.
"Oi, Celia ...! Aku tak bisa bernafas!"
Aku kesulitan melepaskan diri dari pelukan Celia. Tunggu, kenapa aku tak bisa melepaskan diri? Seharusnya kekuatanku lebih besar, kan?
A-pa aku menikmati sensasi lembut ini?
"Umm ... T-t-tuan Kiya, bolehkah kami bergabung?"
Semua wanita yang masih berada di sini melihat ke arahku dengan tatapan yang iri.
Bergabung? Apa maksudnya bergabung? Tunggu, kenapa mereka seperti sangat bernafsu? Ahh ... tidak, tidak ... jangan ...!
"JANGAN AMBIL KESUCIANKU, BODOH!"
...
"Aku memiliki trauma baru!"
[Tuan menikmatinya, kan?]
"Diamlah ...!"
Setelah kejadian mengerikan itu, aku memutuskan untuk menghindar dari para wanita agresif itu. Ahhh ... ini semua gara-gara Celia yang memancing nafsu mereka.
Sekarang aku berada di atas dinding kota yang masih berdiri, menggunakan clairvoyance aku mengawasi keadaan tempat pengungsian.
Sudah lewat beberapa jam, seharusnya pertemuan itu telah selesai dengan menghasilkan sebuah keputusan. Yah ... sudah bisa ditebak, Kota Xely tetap berhasil lepas. Tapi, mungkin saja ... mereka meminta kompensasi atas kerugian yang terjadi.
Dari awal kerajaan ini tak memiliki niat untuk mempertahankan kota Xely yang kecil ini. Bisa diketahui dengan Ranan yang diminta untuk menghancurkan kota. Terdengar merepotkan, tapi itu dilakukan karena gengsi.
Ya ... gengsi, jika Kerajaan cuek dengan kudeta ini, membiarkan kota Xely benar-benar lepas. Pasti Kerajaan-kerajaan lain akan meremehkan kerajaan Rentweder yang tak bisa memadamkan kudeta. Maka dari itu kerajaan memutuskan untuk menghancurkannya saja agar tidak menanggung malu.
"Meminta kompensasi? Yah ... namanya juga nggak mau rugi! Meskipun tidak ada korban jiwa ... semua perlengkapan perang yang digunakan pasti salah satu aset yang berharga!"
Ranan begitu saja meninggalkan para prajurit yang terluka. Jadi, kami ... penduduk kota Xely yang merawat para prajurit yang ditelantarkan itu.
"Hmm ...?"
Putri Calsya beserta rombongan sudah terlihat keluar dari tempat pengungsian.
Beberapa anak kecil yang bermain di luar langsung menghampiri Putri Calsya. Dan dia nampak tak nyaman, kedua Maid yang ada di belakangnya menjauhkan mereka. Tapi, salah satu anak berontak dan berlari memeluk si Putri. Putri Calsya reflek menendang anak itu
Selanjutnya, Putri Calsya menunjuk-nunjuk anak itu dan kelihatan memaki-makinya. Putri Calsya pun membersihkan pakaiannya dan menatap anak-anak itu dengan jijik.
"Aku tak bisa mendengarnya dengan jarak sejauh ini!"
Aku tak suka pemandangan ini, jadi ... akan aku ajarkan Putri itu untuk sedikit menghargai orang lain dan menghilangkan sifat angkuhnya.
"Dia akan kembali dua bulan lagi!"
...
Pokoknya aku ucapin terimakasih pada pembaca yang bisa terus baca sampe chapter terupdate.
Maaf 🙏 nggak bisa ngasih cerita yang bagus.
__ADS_1
aku bakal usahain cerita ini agar bisa tamat.
Dah ... see you.