
Dahulu kala, ribuan tahun yang lalu. Arias yang dulu bukanlah Arias yang sekarang, dulunya sangat berbeda. Dikatakan bahwa dulu, ras yang menghuni tak sebatas Manusia, Elf, Demi-human atau ras yang sangat umum dijumpai di Dunia fantasi. Kabarnya para malaikat dan iblis pernah hidup berdampingan dengan para makhluk Fana.
Perbedaan status antara kedua Makhluk Immortal tersebut dengan makhluk Mortal di Arias jelas terlihat ... tak jarang ada sebagian kelompok yang menyembah Malaikat dan Iblis.
Golongan putih, penyembah para Malaikat. ada 7 malaikat utama yang disembah, mereka dikenal dengan Seven Virtues atau Tujuh Kebajikan.
Sisi lainnya ... Golongan Hitam, penyembah para iblis. Sama ... ada 7 iblis utama yang disembah, mereka dikenal dengan Seven Deadly Sin atau 7 dosa besar mematikan.
Satu sama lain tak pernah akur, saling menjatuhkan dan merasa dirinya paling benar. Perseteruan terus terjadi, sampai akhirnya, tak bisa menemukan penyelesaian dan berujung pada peperangan. Peperangan terbesar yang mengubah Arias sepenuhnya.
"Oh, beginikah sejarahnya?"
Jalannya perang tak berpihak pada kubu malaikat, mereka kalah dalam hal kekuatan tempur. Selain para iblis 7 dosa besar, ada beberapa iblis yang kekuatannya 2 tingkat di bawahnya. Sesuatu yang tak dimiliki oleh golongan putih—kubu malaikat yang terlalu mengandalkan para malaikat 7 kebajikan besar.
Penduduk Arias menyebut para iblis itu sebagai Demonlord.
"Hah ...? Ada Demonlord selain Ashera?"
« Salah satunya adalah diriku »
"Kau bahkan tak pernah bilang jika dirimu adalah Demonlord!?"
« Apakah kau pernah bertanya? »
"Tcih, tentu saja tidak!"
« Baca lanjutannya, ini bagian menariknya »
Untuk menyiasati kekuatan yang jomplang, kubu malaikat melakukan pemanggilan pahlawan dari dunia lain. Pemanggilan pahlawan dibayar dengan mahal, perlu menumbalkan 20 ribu jiwa agar terealisasi.
"Jumlah yang tak sedikit!?"
« Wajar saja ... mendatangkan jiwa—mengeluarkan jiwa. Jiwa-jiwa itu digunakan untuk bahan bakar kekuatan para pahlawan. Itulah mengapa pahlawan lebih kuat dari pada penduduk Arias sendiri »
"Hoh ... ternyata sepadan, keuntungan dan kerugian."
Hasil yang diperoleh pun juga sepadan, kubu malaikat berhasil memenangkan perang.
Akan tetapi, hasil akhir sama meruginya.
Para Dewa murka atas peperangan yang menewaskan separuh lebih dari penduduk Arias tersebut. Setelahnya, para malaikat dan iblis tak diizinkan untuk kembali ke dunia fana.
"Tapi, hei Luxury ... jadi, Demonlord ada lebih dari satu. Lalu, kemana mereka? Dalam sejarah cuma disebutkan bahwa Ashera adalah satu-satunya Demonlord, kan?"
« Haha ... i-tu, yah ... »
"Bicara yang lengkap!"
« Iya, iya ... huh, begini ... kami, termasuk diriku membangkang perintah. Alih-alih berperang, kami memilih bersembunyi dan menjadi penonton »
"Mereka masih hidup?"
« Masih, sampai sekarang »
"Yah, mungkin mereka membaur dengan penduduk dunia ini. Tapi, aku sedikit bingung ... kenapa kau keluar dari persembunyianmu?"
« Nasibku sangat sial. Aku benar-benar mengutuk dalang dari kembalinya Tuan Asmodeus ke dunia Fana, dunia bawah »
__ADS_1
"Hei, ini tak seperti apa yang aku pikirkan, kan?"
« Pikiranmu benar. Aku ditemukan oleh Tuan Asmodeus. Para Demonlord adalah murid dari 7 dosa besar, sangat mudah bagi mereka menemukan kami jika turun kembali ke dunia »
"Hahaha ... apa-apaan itu? Nasibmu apes sekali, Luxury!"
« Tertawa lah sepuasnya! »
"Ah, ok, ok. Aku minta maaf. Umm, biar aku tebak ... sekarang kau sedang menjalani hukuman dari Asmodeus, kan? Menjadi system-ku?"
Aku tak bisa menahan tawa, sangat lucu mengetahui fakta baru tentang Luxury.
« Ah ... Kiya, ayo habisi orang biadab yang telah membuatku susah seperti ini! »
Ada kesan kesal sekaligus marah dari nada bicara Luxury.
"Sekarang, tujuan kita sama. Jadi, ke depannya kau harus bantu aku lebih keras lagi!"
« Cih, kau lupa? Aku menyatu dengan dirimu. System sama dengan diriku, Tuan Asmodeus mengaturnya seperti itu. Jika kau ingin agar kontribusiku lebih banyak ... cobalah cari cara agar aku bisa mendapatkan wujud fisik »
"Memangnya bisa ...?"
« Aku tak tahan dengan semua ini ... hiks, hiks, Kiya ... jika kau bisa mencarikan tubuh untukmu ... aku akan bersumpah setia sebagai bawahanmu. Tuan Asmodeus? Masa bodoh! »
Sepertinya Luxury menangis. Hmm, dia perempuan, yah ... dari sikap yang dia tunjukkan selama ini. Sepertinya memang benar.
"Baiklah, tawaran yang bagus. Aku akan mencari cara untuk mendapatkan tubuh untukmu!"
« Bagus, aku berharap banyak padamu »
Layar antar muka yang mengambang tepat di hadapanku sirna bersama ribuan huruf yang berjejer, membawaku kembali ke kenyataan.
"Huh ...? Ternyata belum selesai."
Hembusan angin dan terpaan debu sudah membuatku kenyang di sini, tak lupa gempa kecil yang terjadi.
Penyebabnya ...?
Sekumpulan orang kurang kerjaan yang tengah adu sihir.
Sekilas aku melihat wajah-wajah pucat dan senyuman masam pada semua orang yang menyaksikan pertempuran tak bermanfaat ini dari tribun penonton.
"Yah, ini memang berlebihan!"
BOAMMM!
Aku secara reflek menutup lekat telingaku, bukan karena ledakan itu, tetapi suara setelahnya.
"Hei, cukup, k-kalian membuat stadion ini hancur!"
"Kalian tak waras, berhentilah bermain-main!"
"Tak dewasa sama sekali. Lakukan hal yang lebih berguna!"
"Kalian telah merusak salah satu fasilitas di Xeliqia!"
Suara cempreng dari para perempuan membuat gendang telingaku ingin pecah.
__ADS_1
"Recovery, bagaimana? Puas?"
Cahaya ungu yang menerangi seluruh stadion langsung menambal kebocoran suara para cewek. Semua kerusakan yang ada pulih seperti sedia kala.
Jdarr ... jdarr ... jdarr ...
Pertarungannya berlanjut, Ashera adalah bintang utamanya. Dia melawan puluhan orang sekaligus.
"Sudah dua tahun, ya?"
Seorang perempuan mengambil tempat duduk di sampingku, dia tersenyum tuk menyapa.
"Ya, tak terasa ..." Aku mengangguk.
Waktu berlalu dengan cepat, hampir 3 tahun waktu yang telah terlewati sejak aku berada di dunia ini. Kurun waktu itu, sudah cukup bagiku membentuk ikatan dengan orang lain, membangun sebuah negara.
Semuanya berkembang dengan baik.
"Apa kita akan terus begini?" Katanya yang tiba-tiba merebahkan kepalanya di bahuku. Rambut halusnya lalu menggelitik leher.
"Aku tak mengerti konteks dari perkataanmu." Jawabku seraya berusaha mendorong kepala gadis itu untuk tegak kembali.
"Aku bukan jemuran baju yang bisa kamu gantung, Kiya!" Berbalik menatapku terus memasang wajah cemberut, pipinya digemukkan. Kedua tanganku mencoba kekenyalan dari pipinya.
"A~aaa, Kiya ... apa yang kamu lakukan? Sa ... kit!?"
Tak jera, dia malah melebih-lebihkan wajah cemberutnya. Tapi, untuk kali ini aku bisa menahan diri.
"Salahmu sendiri, itu resiko dari apa yang kau lakukan." Aku membelakangi dirinya.
"Memangnya apa yang sudah kulakukan?"
Tangannya melingkar di perutku layaknya sebuah sabuk, kepalanya disandarkan pada punggungku.
"Aku mencintaimu, Kiya."
Aku cuma menghela nafas, mengosongkan paru-paru.
"Calsya ...! Kau membuat pandangan semua tertuju pada kita. Huh, jika kau ingin melakukannya, jangan di tempat seperti ini juga!"
"Huh ...? Eh?" Pekik Calsya terkejut.
Dia secepat kilat melepaskan pelukan dan menjaga jarak dariku. Kepalanya tertunduk dan ingin meledak. Seluruh wajahnya berubah merah.
""Tuan Ayikza, Nona Calli?"""
Semua perempuan di stadion ini pun berteriak histeris.
.
.
.
Halo ... masih ada yang baca, kah?
Jika ada ... kalian terbaik. Makasih udah nunggu selama seminggu lebih untuk cerita yy jauh dari kata sempurna ini.
__ADS_1
Semoga kalian masih tetap suka dengan ceritanya.