
Kiya PoV
Lamort Desert ... yah, tempat yang sangat pas untuk menghindari para anjing kerajaan dan tikus rakus.
Tempat ini merupakan gurun yang berbahaya, banyak jenis monster dengan rank tinggi yang hidup di sini, terlebih lagi suhu di Lamort Desert sangatlah panas.
Huh ... untungnya aku memiliki skill pasif untuk beradaptasi di iklim yang ekstrim. Dan keberadaan Ashera bisa membuatku tak harus melawan para monster itu.
Para pemburu Bouinty dan JUDGMENT sekalipun pasti akan berpikir dua kali untuk menjelajahi gurun ini.
Aku akan berada di sini untuk beberapa waktu sampai aku menentukan langkah selanjutnya dan mencoba mencari tau bagaimana sikap para pahlawan, pemburu Bouinty, dan JUDGMENT. Mereka akan membiarkanku atau kehilangan kesabarannya? Harapanku sih ... mereka kehilangan kesabaran.
Dan juga ... kedatangan Viola yang tiba-tiba, membuatku harus memikirkan kemungkinan lain.
Keberadaan kami di Lamort Desert pada kenyataannya sudah tak bisa dilacak. Tapi, gara-gara Viola keberadaanku kembali terendus.
Aku sekarang ini harus sangat waspada. Kemungkinannya memang kecil, tapi ... bisa saja mereka menggunakan senjata pemusnah milik kerajaan Rentweder.
Musuhku adalah hampir seluruh kerajaan di benua ini. Dan aku tak mengetahui detail seluruh kerajaan itu. Bisa saja mereka mempunyai sesuatu yang bisa merepotkanku.
Aku buta dengan kekuatan tempur musuh.
"Tenang saja ... selama ada aku, tidak ada yang bisa menyakitimu, Kiya!" Kata Ashera membusungkan dadanya dengan sombong.
"Hmm ... aku sedikit meragukanmu!" Jawabku dengan mata yang menyipit saat menatap Ashera yang berjalan di sampingku.
Kepercayaan diri yang berlebih kadang adalah sumber kekalahan.
"Aku ini Ashera ... Demonlord yang sudah hampir menghancurkan dunia. Kau tak lihat tadi, pahlawan kubuat tak berdaya!?"
"Yah, pahlawan belum matang. Apa jadinya jika para pahlawan berada pada puncak kekuatannya? Kau pasti akan dipecundangi tuk kedua kalinya!"
"Itu tak mungkin terjadi! Aku tak akan jatuh ke lubang yang sama dua kali!"
«Kiya ... musuh telah mengambil tindakan!»
Luxury menghubungiku ... dia sekarang hanya akan berbicara denganku jika ada sesuatu yang penting dan menjalankan tugasnya sebagai System.
"Yah ... itu memang merepotkan?"
Aku sudah tau hal itu ... tapi, aku tak menyangka jika mereka akan melakukan tindakan yang sedikit beresiko secepat ini.
Jika pencarian jalur darat tidak bisa ... kenapa tidak lewat jalur udara?
__ADS_1
Kondisi geografi di tempat ini yang cuma ada hamparan pasir dengan beberapa Oasis dan bukit bebatuan dengan sedikit gua, sangat menguntungkan jika melakukan pencarian lewat udara karena tidak ada banyak tempat tuk bersembunyi ...
Meskipun begitu ... itu masih terlalu beresiko. Semua monster yang tinggal di sini sangat kuat dan mereka sangat teritorial. Jika ada objek tak dikenal memasuki wilayah kekuasaannya, maka akan langsung dimusnahkan.
Monster di sini banyak juga yang bisa terbang ...
"Ternyata mereka menggunakan angkatan udaranya!? Ini semakin seru!" Ashera sangat bersemangat melihat semua makhluk bersayap yang terbang di kejauhan.
"Wyvrn, gryphon, pegasus, dan beberapa makhluk terbang lainnya ... huh ...!"
"Aku akan memberikan shock therphy!"
Ashera langsung raib, bahkan dia belum mendapat persetujuan dariku.
"Huh ... dasar! Tapi, tindakannya tak ada yang pernah merugikanku. Eh? Tunggu ... situasi ini bukannya dia yang menciptakannya? Aku ralat perkataanku ... dia merepotkan!" Gerutuku tak jelas.
"K-kak Callista ...!?"
Calsya yang berada di gendonganku sedikit menggeliat dan menggumamkan nama saudarinya.
"Dia sangat menyayangi saudarinya, tapi sayang sekali ...!" Gumamku malas menghembuskan nafas.
Mungkin aku bisa memahami perasaannya karena aku juga punya——ah lupakan. Aku masih meragukan masa laluku atau kehidupanku di bumi. Tak ada bukti aku punya adik, tak ada bukti kehidupanku mulus-mulus saja.
"Dikasihani, ya?"
Yah, sebaiknya aku tak banyak berspekulasi. Itu masalah di lain waktu. Fokusku seharusnya aku alihkan pada para makhluk terbang itu.
"Lebih aman jika aku bersembunyi di Dimension Room!"
Benua Iblis ...
Di sebuah ruangan yang cukup besar dengan penerangan yang sangat buruk, terdapat beberapa orang yang berdiri di sudut-sudut ruangan. Padahal sudah disediakan sebuah meja bundar dan kursi untuk mereka duduk.
"Hei, kalian ... sudah mendengar berita terbaru?" Seseorang dengan perwakan tubuh cukup besar memulai pembicaraan.
"Nona Ashera berhasil kembali, ada orang yang memanggilnya ... benarkan?" Timpal seorang pria dengan gelas kaca berisikan cairan merah.
"Larus ... kamu terlalu cuek menanggapinya! Apa kamu tak senang jika nona Ashera berhasil kembali?" Suara seorang wanita yang melengking menggema di ruangan.
"Huh ... aku harus bagaimana? Meskipun Nona Ashera kembali, status-nya kini adalah seorang Servant! Tak akan banyak membantu!" Jawab pria bernama Larus menggoyang-goyangkan gelas di tangannya malas.
"Aku tertarik dengan orang yang berhasil memanggil Nona Ashera. Ternyata ada orang gila yang memanggilnya!? Kita saja tak berani melakukannya karena jiwa yang dibutuhkan tidak diketahui." Kata seorang pria lainnya yang mempunyai mata hijau menyala.
__ADS_1
"Kuharap dia tampan." Wanita yang sebelumnya berandai-andai.
""Cih ... dasar wanita murahan!"" Respon mereka semua.
"Yah, jika kita tak bisa mengharapakan Nona Ashera ... kenapa kita tak berharap pada si pemanggil. Jika si pemanggil berada di pihak kita, tentu saja Nona Ashera akan berada di pihak kita!" Kata seseorang dengan perawakan tubuh yang lumayan pendek.
"Kupikir tak semudah itu! Para manusia di benua Barat sedang mati-matian untuk menghabisinya ... lalu, lihat hasilnya ... apa ada kemajuan?"
Kemudian bola cahaya berwarna ungu tiba-tiba muncul di ruangan itu.
"Entah itu Nona Ashera, si pemanggil, atau entitas lain dengan kekuatan yang besar ... kita harus membuatnya memihak bangsa Demon!" Keluar suara dari bola cahaya itu.
"Benar kata Miris! Kita harus membuat si pemanggil ada di pihak kita! Aku sudah tak tahan dengan para manusia itu!" Kata seorang wanita dengan semangat meninju telapak tangannya sendiri.
Semuanya mengangguk setuju dengan pendapatnya.
Cahaya yang dihasilkan oleh si bola cahaya, Miris. Membuat penghuni di dalam ruangan terlihat jelas.
Seorang pria dengan dengan tubuh 4 meter yang menjulang hampa mengenai atap, seorang Titan.
Pria yang senantiasa meneguk cairan merah di gelas antiknya dan sepasang gigi taring yang nampak ketika tersenyum, seorang vampire.
Wanita cantik yang bersikap blak-blakan, seorang Shiren.
Pria dengan mata hijau dan tubuhnya juga memiliki warna yang sama, seorang goblin.
Terakhir, seorang wanita yang memiliki telinga ekor dan telinga kayak hewan jenis serigala, seorang Werebeast jenis serigala.
Masih ada sisa orang dalam ruangan itu yang tak teridentifikasi karena mereka lebih memilih tetap bersembunyi di sudut ruangan yang gelap.
"Untuk menjalani rencana ini ... kita perlu perwakilannya untuk datang ke benua Barat. Apa ada yang berniat menjadi relawan?" Kata Miris si bola cahaya.
Semua orang dalam ruangan langsung terbungkam, tak ada yang berbicara lagi. Mereka semua menatap satu sama lain, dan ke semuanya menggelengkan kepala.
Sampai akhirnya ... mereka menemukan sasaran yang pas. Satu-satunya orang normal yang menggunakan kursi untuk duduk, dia tertidur pulas merebahkan kepalanya di meja.
"Baiklah, sudah diputuskan ...!"
Kalau berkenan ... aku minta saran nama-nama untuk Karakter-karakter baru.
Pokoknya aku ucapin terimakasih pada pembaca yang bisa terus baca sampe chapter terupdate.
Maaf 🙏 nggak bisa ngasih cerita yang bagus.
__ADS_1
aku bakal usahain cerita ini agar bisa tamat.
Dah ... see you