
"Kamu jangan takut, Azkiya! Apa wujudku terlalu menakutkan?
Kiya tak bisa merespon perkataannya, dia benar-benar sudah dikuasai oleh ketakutan. Tak pernah sekali pun dia ketakutan sampai seperti ini.
"Baiklah, akan kuganti wujudku!"
Gumpalan asap hitam itu perlahan membentuk suatu wujud. Dari lekuk tubuhnya, siluet rambut tergerai dan suara yang mulai berubah ...bisa dipastikan gumpalan asap itu menjadi wujud wanita.
Munculah seorang wanita dengan umur kira-kira 19 tahun yang memiliki rambut panjang lurus belah tengah dengan mata cokelat rami. Dia mengenakan pakaian hitam seperti sweater.
"Bagaimana wujudku sekarang? Cantik, kan?" Suaranya pun berubah menjadi lembut selayaknya seorang wanita.
Wujudnya memang berubah, tapi Kiya sudah terlanjur mengetahui kebenarannya. Wujud secantik apa pun tetap saja membuatnya takut.
"Ahh ... iblis, kenapa aku harus berurusan dengan hal seperti ini? Kenapa nasibku sial sekali?" Umpat Kiya pada dirinya yang selalu sial.
"Selain seorang pahlawan dan beberapa orang yang terpilih, semua makhluk di dunia fana akan secara otomatis merasa takut."
Secara perlahan Asmodeus mendekati Kiya. Tak ada yang bisa dilakukan Kiya selain pasrah. "Dan kamu adalah salah satu orang yang kupilih, Azkiya!"
Asmodeus meraih tubuh Kiya dan langsung saja, bibir merah muda dan mungil miliknya menyentuh bibir Kiya yang menganga. Sentuhan satu detik itu dihentikan Kiya dengan mendorong Asmodeus menjauh.
"A-pa-apaan ini? Kau mencium seseorang yang baru kau temui?" Maki Kiya dengan wajah yang sedikit memerah.
"Kamu menikmatinya, kan?" Kata Asmodeus tersenyum jahil.
"Diamlah ...!"
Rasa takut Kiya menghilang entah kemana setelah ciuman itu, sifat Kiya pun kembali seperti semula.
"Ahaha ... lucu sekali manusia yang dikasihani Raphael ini!"
"Raphael?" Kiya memiringkan kepalanya bingung. "Bisa kau jelaskan lebar rinci!" Sambung Kiya melipat tangan di dada meminta penjelasan.
"Aku menceritakannya, sama saja aku mengumbar privasinya, lho?" Balas Asmodeus tak berhenti tersenyum, dia sangat menikmati interaksinya dengan Kiya.
"Aku tak peduli!"
"Kamu sangat lucu, Azkiya! Seperti anak kecil yang gampang terpancing, bukannya kamu tadi sangat marah karena sudah mempengaruhi para manusia itu. Jadi ... hmm?" Entah kenapa senyum jahil Asmodeus membuat Kiya sangat malu.
"Benar juga, ya ...? Ahhh, bodoh! Bodoh!"
Kiya berusaha menenangkan diri dari rasa kesal dan malu.
"Ekhmm ... ekhmm ..." Kiya berdehem sebentar. "Katakan apa tujuanmu melakukan ini semua. Karena kau ... dia harus mati!" Kata Kiya serius.
__ADS_1
"Hmm ... apa, ya? Dari awal sudah kubilang aku hanya bos—"
"Jangan bercanda!"
"Baiklah, baiklah ... sepertinya kamu harus sedikit mendengarkan sejarah!" Asmodeus mengambil jeda hanya untuk melihat bagaimana reaksi Kiya.
"Begini, keberadaan iblis sepertiku di dunia fana, seperti Arias, sudah dilarang setelah Perang ratusan tahun silam. Akan tetapi, kami juga bisa muncul jika ada yang bersedia memberikan tumbal berupa jiwa. Yah ... itu pun tak selamanya, setelah menjalankan perintah pemberi tumbal, kami pun harus kembali ke neraka."
"Hanya itu ...?"
"Kamu sudah tau kelanjutannya, kan? Yah ... si Duke itu!"
Kiya memang sudah mengira hal ini, tapi tak menyangka bahwa salah satu iblis tingkat tinggi, simbol dari Lust ... Seven Deadly Sins, Asmodeus. Sungguh di luar bayangannya.
Apa bisa lebih buruk lagi?
"Berapa tumbalnya?"
"Hanya satu."
"Hanya satu ...?" Kiya menyipitkan mata merasa heran dengan Asmodeus.
Terlalu murah, pikir Kiya.
"Kamu berpikir seperti itu, ya? Hmm ... yah, kedengarannya sangat murah dilihat dari kuantitasnya, tapi ... aku bicara soal kualitas!" Kata Asmodeus mendekat sekali lagi dan mencolek dagu Kiya.
"Dia mengorbankan salah satu anak yang disayanginya. Tujuannya adalah ... sebentar, aku sebenarnya juga agak bingung. Aku tak tau dari mana dia mengetahui informasi ini, tapi dia beranggapan bahwa iblis sanggup menghidupkan orang yang sudah mati. Terdengar sangat konyol, kan?" Asmodeus berhenti sejenak memilih kata selanjutnya. "Dan kebetulan waktu itu agak bosan, jadi aku menerima tumbal yang dia diberikan."
"Menumbalkan anaknya sendiri? Menghidupkan istrinya? Apa yang terjadi di masa lalu?" Kiya sakit kepala dengan semua informasi itu.
"Baiklah ... lalu, kau mengabulkan permintaannya?"
"Tentu saja tidak, menghidupkan orang mati itu mustahil! Pemanggilan itu jadi salah satu jalan pelarian agar bisa ke dunia fana."
"Sangat menyedihkan ...!"
"Apa boleh buat, aku bosan di neraka karena tidak memiliki hiburan, hehehe. Aku pun berbuat seenaknya dan mengubah Duke itu menjadi bonekaku." Asmodeus tersenyum tanpa merasa bersalah. "Hidup di dunia fana ini sangat menyenangkan. Apalagi mengendalikan seluruh nafsu orang di dunia!"
Kiya mengangguk paham, dia sepenuhnya mengerti dengan situasi ini. Dia pun sudah mengetahui semua motif Duke Volancy dengan jelas. Dan jujur ... dia menjadi sedikit kasihan padanya setelah mengetahui fakta ini.
Tapi, kebenciannya pada Duke Volancy itu tetap ada.
"Jadi, Asmodeus yang sudah mengontrol setiap tindakan yang dilakukanya sampai saat ini! Cih ... musuh seperti dia, mana mungkin aku bisa menang dengan kekuatanku saat ini!"
"Ahh ... Azkiya, sepertinya kamu harus mendengar cerita ini."
__ADS_1
...
Keributan yang terjadi di sekitar tempat pengungsian berhasil diredakan. Menggunakan benangnya Kiya menahan Syilta dan Balta. Mereka tampak menyesali perbuatannya, sepertinya pengaruh Asmodeus pada mereka sudah lenyap.
""M-ma-afkan kami, maafkan kami."" Dua saudari itu tak berhenti meminta maaf sambil berlinangan air mata.
Kiya mengabaikan itu sejenak, dia sedang sibuk menyembuhkan orang yang telah dilukai oleh dua saudari itu.
"Healing-ku memang tak sekuat milik Viola!"
Beberapa luka tusuk yang dilancarkan oleh Balta cukup dalam meskipun tak mengenai bagian vital. Dengan healing, Kiya tak mampu menyembuhkan luka itu sepenuhnya.
"Terima kasih, Tuan Kiya!" Kata mereka merasa lega rasa sakitnya berkurang.
Kiya lantas menaruh perhatiannya pada Syilta dan Balta. Putri Calsya hanya jadi pengamat yang tak bisa memberi komentar apa-apa.
"Tuan Kiya, bunuh saja kami! Kami merasa sangat hina!" Kata Balta tertunduk, air matanya pun masih menetes.
"Bunuh saya saja, Tuan! Biarkan Balta hidup, ini semua adalah tanggungjawab saya!" Syilta mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Kiya sudah mengetahui semua sejarah kota Xely dari cerita yang diberikan Asmodeus. semuanya ... Kiya juga tahu bagaimana kerasnya hidup yang harus dilalui Celia, Syilta, Balta dan para penduduk slum area selama beberapa dekade. Termasuk masa lalu Duke Volancy dan keluarganya.
"Sesuatu memang ada sebab-akibatnya. Sekarang aku malah ragu ... sebenarnya siapa yang salah di sini!?"
[Maaf, tadi saya tak bisa membantu Tuan]
"Tak usah dipikirkan, itu memang di luar kuasamu!"
[Sepertinya Tuan sudah tahu, siapa pencipta saya]
"Kita bahas itu lain kali, ada sesuatu yang lebih penting!"
Kiya menengadahkan kepalanya untuk menatap birunya langit. Dia berpikir dengan keras ... "Cinta memang menakutkan!"
...
Note : Setiap makhluk yang berniat memanggil iblis harus menyiapkan sejumlah tumbal. Penentu kuat-lemahnya adalah seberapa banyaknya tumbal, semakin banyak lebih baik. Iblis tingkat tinggi suka akan hal itu. Dan ... para iblis sebetulnya berebutan untuk datang ke Dunia Fana.
Oh, satu hal lagi ... para iblis dan demon itu beda, ya ... di dunia Arias. Contoh Demon, Vampire, Werebeast, Goblin, Ogre, Orc, Troll, Titan, Ghoul, Skeleton, Undead, dan sebagainya.
###
Pokoknya aku ucapin terimakasih pada pembaca yang bisa terus baca sampe chapter terupdate.
Maaf 🙏 nggak bisa ngasih cerita yang bagus.
__ADS_1
aku bakal usahain cerita ini agar bisa tamat.
Dah ... see you