System : Unknown

System : Unknown
Chapter 30 -Perjalanan yang membosankan-


__ADS_3

Sebelum membaca alangkah baiknya menyentuh tombol like terlebih dahulu jika suka dengan Chapter ini dan tinggalkan komentar jika ada kekurangan atau kelebihan.


Jangan lupa tekan tombol favorit, agar tak ketinggalan update.


Selamat membaca, semoga terhibur.


...


Butuh waktu sekitaran 3 hari untuk sampai di ibukota, itu pun jika menempuh jalur darat dan mengendarai kendaraan. Sayangnya Kiya dan lainnya hanya berjalan kaki, terlebih lagi ... ada Putri Calsya, mereka tak bisa memanfaatkan kecepatan berlari.


Beberapa kali mereka juga harus berhenti karena urusan remeh sang Putri. Seperti kelelahan ingin tidur, makan, buang air. Mungkin mereka akan sampai pada hari ke 5 jika begitu terus, yah ... meskipun rute yang dipilih sudah yang paling pendek.


[Tuan mendapatkan 5 poin ...]


"Tidak usah ada notifikasi jika cuma 5 poin, mengganggu saja!"


[Baiklah, Tuan]


Saat ini mereka dalam peristirahatan di sela-sela perjalanan. Tempat istirahatnya adalah tepi sungai, jadi, Kiya memutuskan untuk menangkap ikan untuk dirinya sendiri. Berbekal benang yang dikendalikan, dia leluasa menangkap ikan dengan sangat mudah.


Rayha, Fleura, serta Putri Calsya dibuat melongo olehnya. Bukan karena kemahiran menangkap ikan, tapi ...


"Umm ... sepertinya ikan yang kau tangkap terlalu banyak!?" Kata Fleura mengingatkan Kiya dengan menunjuk gunungan ikan di belakangnya.


Kiya menengok ke belakang "Eh? Aku tak menyangka akan sebanyak ini?!" Kata Kiya terkejut, namun dengan nada datar, seperti sengaja melakukannya.


"Kita tak akan bisa menghabiskannya ...!? Kau harus bertanggungjawab, Kiya!" Timpal Rayha sinis pada Kiya.


" Hei, hei ... tak ada yang bilang aku akan membaginya!" Maki Kiya dalam hati. Di luarnya dia cuma menampilkan senyum.


"Tenang saja ...! Lagi pula aku memang lapar." Kiya lantas mendekat ke arah api yang sudah disiapkan untuk pembakarannya.


"Tuan Putri, Anda ingin ikannya di apakan? Saya akan berusaha menuruti keinginan Anda!" Kata Rayha.


"Aku tak peduli! Terpenting, itu bisa dimakan!" Jawab Putri Calsya ketus pergi menyendiri di balik pohon.


Ujian mental tersendiri bagi Rayha, dia seperti ingin menangis.


"Sudahlah, bantu aku menyiapkan ikan ini! Putri bisa semakin marah jika makan siangnya telat!" Tegur Fleura yang melihat Rayha masih mematung.


"Sifat si Putri memang menyebalkan! Seenaknya sendiri, sombong, tak memikirkan orang lain ... dan masih banyak lagi sisi buruknya." Batin Kiya memandang malas pohon yang dijadikan tempat penyendirian Putri Calsya.


[Tuan tak perlu mengomentari orang lain! Lebih baik introspeksi diri saja]


"Hmm ... system yang menyebalkan!"


Singkat cerita, makan siangnya pun berjalan dengan lancar. Kini, mereka akan melanjutkan kembali perjalanannya.


"Uh, aku makan terlalu banyak!?"


"Ada apa Kiya?" Tanya Fleura menyipitkan mata ketika dia melihat Kiya berekspresi aneh.


"Semuanya normal!"

__ADS_1


Kiya tak mampu menghabiskan seluruh ikan yang sudah ditangkapnya, terpaksa dia menyimpannya di Inventory, kebetulan di sana waktu tidak berlaku ... jadi, kondisi ikannya akan tetap sama.


"Baiklah, ayo kita lanjutkan!? Kita terlalu melenceng dari jadwal!" Seru Rayha dengan semangat.


Fleura pun langsung mengekor padanya ... mereka lupa pada tugas yang diemban.


Kiya tak langsung bergegas, perhatiannya teralihkan pada gumpalan seperti jeli berwarna-warni yang melompat-lompat di tepian sungai.


"Ini slime, ya? Wah ... ini monster pertama yang aku lihat sejak aku berpindahnya ke dunia ini!?" Batin Kiya penuh kekaguman, beberapa kali dia mencoba mencolek gumpalan bergerak itu.


"Itu River slime, banyak di temui di sekitar sungai. Atributnya air ... rata-rata Rank F sampai E, ada juga yang orang yang pernah menemukan Rank B. Namun, itu sangat langka!" Si Putri tiba-tiba berada di samping Kiya lalu berbicara panjang lebar.


Kiya cuma tersenyum, tanpa diberitahu pun dia sudah tahu. Mengenal beberapa jenis monster adalah pengetahuan umum yang wajib dipelajari di Arias.


"Heh ... tanpa diberitahu pun saya sudah tau, Tuan Putri!? Saya juga pernah mendapat pendidikan!" Respon Kiya tersenyum sinis.


"Heh ...? Uh, tidak ... a-ku tak bermaksud merendahkanmu—"


"Jadi ... a-pa maksud Anda tadi?" Kiya secara perlahan mendekati Putri. Secara spontan Putri Calsya memundurkan diri.


"T-t-tidak, a-ku—" Putri Calsya ketakutan setengah mati ketika tangan Kiya hendak menyentuhnya.


Deg ...


Kiya memegang pundak si Putri lalu membisikan sesuatu tepat di telinganya. "Anda tau ... saya sangat membenci Anda sampai ingin membunuh—"


Detak jantung Putri meningkat tajam, nafasnya begitu memburu, tubuhnya pun mati rasa, air matanya pun mengalir deras. Putri Calsya memang sudah sangat takut pada Kiya.


Kiya melepaskan tangan pada pundaknya, setelah itu dia menampilkan senyum sebagai pengganti wajah serius nan menakutkan tadi.


"Yah ... kerajaanmu terlalu terobsesi pada kekuatan!" Gumam Kiya. "Nah ... coba ..."


Fleura dan Rayha merasa aneh dengan Putri Calsya dan Kiya yang tak kunjung menyusul. Mereka pun berbalik sebentar dan menemukan Putri Calsya dan Kiya sedang bermain-main dengan sekumpulan slime.


"Apa yang mereka lakukan?"


"A-nu, maaf ... tapi, kita harus bergegas! Yang Mulia akan marah jika kita telat datang?!" Teriak Fleura.


"Ahh, iya ... " Putri Calsya tiba-tiba tersenyum jahat. "Tapi, seharusnya kalian tidak berjalan lebih dulu dan meninggalkanku! Kalian ingin kepala kalian lepas?"


Sepasang ksatria itu dengan kompak memegang lehernya dan menelan ludah merasa ngeri. Rayha pun bergegas menghampiri Putri untuk menjelaskan bahwa mereka tak bermaksud seperti itu.


"M-m-maaf Putri, ta-pi kami tak bermaksud—"


"Aku tak peduli! Sekarang, jadilah selayaknya pengawal!" Kata Putri acuh berjalan melewati Rayha dengan dia menarik tangan Kiya.


Rayha tak percaya pemandangan yang baru saja dilihatnya, matanya pun berkedip beberapa kali melihat punggung kedua orang yang telah melewatinya.


"Aku tak salah lihat, kan?"


"Yah ... kau tak salah lihat. Sepertinya Tuan Putri tertarik padanya!" Timpal Fleura.


Dua ksatria itu melihat Putri yang tertawa lebar saat berinteraksi dengan Kiya. Setahu mereka, Putri tak akan bersikap seperti itu ... terlebih sampai mau bersentuhan dengan orang biasa seperti Kiya. Jadi, mereka pun beranggapan ...

__ADS_1


"Ahh ... apa ini kekuatan cinta?" Kata Fleura dengan mata yang berkaca-kaca.


"Tidak, tidak ... tidak boleh! Putri Calsya tak boleh jadi milik siapa pun!"


"Ketakutanmu sudah terwujud, hehe." Fleura tersenyum jahat.


Anggapan yang tidak salah dari mereka berdua. Tapi, kenyataannya ...


"Siapa pun tolong aku! Selamatkan aku dari iblis ini!"


"Ayah, tolong penggal kepala orang ini!"


Begitulah isi hati Putri Calsya. Tangannya sungguh gemetaran saat menggandeng Kiya, matanya berair, dia ingin menangis sekeras-kerasnya.


[Apa Tuan bisa sedikit melupakan kesedihan Anda?]


"Hanya sedikit ...!"


[Apa yang akan Tuan lakukan selanjutnya?]


"Menyelesaikan masalah ini secepatnya, setelah itu aku bisa tenang!"


[Apa Tuan tak tertarik pada masalah Putri Calsya?]


"Tidak, aku tak ingin mencampuri urusannya. Yah ... meskipun mode pertahanannya sedikit membuatku penasaran, pertahanannya itulah yang telah membunuh Celia!"


[Jadi, Tuan ...?]


"Aku tak tau bagaimana ke depannya?! Sepertinya aku fokus dulu melunasi hutang poinku!"


[Kalau soal itu ... ada sebuah dungeon jika Anda terus menyusuri sungai ini. Sebuah danau besar]


"Hmm ... berapa tingkatkan dungeon itu? Aku tak mau hanya buang-buang waktu untuk memburu sekelompok monster Rank F, E, D."


[Rata-rata Rank B, Tuan. Bahkan ada beberapa rank A]


"Bagus! Tapi, masalahnya ..."


Kiya melirik ke belakang, melihat dua ksatria itu.


"Yah, aku manfaatkan saja Putri ini!


Kiya pun berbisik lagi pada Putri Calsya.


...


Pokoknya aku ucapin terimakasih pada pembaca yang bisa terus baca sampe chapter terupdate.


Maaf 🙏 nggak bisa ngasih cerita yang bagus.


aku bakal usahain cerita ini agar bisa tamat.


Dah ... see you

__ADS_1


__ADS_2