
Sebelum membaca alangkah baiknya menyentuh tombol like terlebih dahulu jika suka dengan Chapter ini dan tinggalkan komentar jika ada kekurangan atau kelebihan.
Jangan lupa tekan tombol favorit, agar tak ketinggalan update.
Selamat membaca, semoga terhibur.
...
Kiya PoV
Waktu dini hari, masih di tempat yang sama ... Di atas gerbang kota Xely.
"Cih ... aku sampai tidak tidur karena aku khawatir jika pihak kerajaan melakukan serangan malam!"
Kantong mata mulai terbentuk di bawah mata karena terjaga semalaman, cahaya merah menyala terpancar dari kedua mataku Itu adalah efek dari skill Clairvoyance, ahh ... aku terpaksa membeli skill ini. Dan ini adalah tahap tertinggi dari Clairvoyance, aku harus merogoh poin 100 ribu lebih agar aku bisa menjangkau jarak ratusan km.
"Semuanya beban!"
Aku yang paling berjuang di sini. Aku harus men-carry sekelompok orang yang tak memiliki pengalaman perang! Hahaha ... aku terdengar gila. Ambisi mereka terlalu besar tidak diikuti dengan keterampilan yang dibutuhkan
Aku bertanya-tanya ... bagaimana jika kami benar-benar menang dan Kota Xely sepenuhnya lepas dari kerajaan Rentweder. Apa mereka sanggup menjalankan kota ini?
Tidak, sebenarnya ada beberapa opsi lain yang bisa dipilih selain melepaskan diri dari kerajaan.
Ahh ... masa bodoh! Aku tak punya niat untuk menetap di sini. Setelah urusan ini selesai aku akan segera pergi.
"Anda yang waktu itu?" Kata seseorang penuh keterkejutan.
Aku menoleh ke sumber suara. Seorang pria melihatku dengan tatapan yang tak percaya.
Dia adalah seorang pria dengan umur kira-kira 50-an tahun, rambutnya tersisir rapi ke belakang, busana pelayannya sekarang tertutupi zirah kulit. Aku mengingatnya, dia adalah salah satu manusia pertama yang aku temui. Dia adalah pelayan keluarga kecil yang hendak aku bantai, kalau tak salah ... pak Will? William? Entahlah.
"K-kita bertemu lagi!" Kataku agak canggung. Ingatan kejadian itu masih membekas dan itu adalah kejadian yang memalukan.
Aku menonaktifkan Clairvoyance. Sedikit aneh jika pak Will melihatnya.
"Saya tak mengira bahwa pemuda yang hendak menipu majikan saya sekarang adalah harapan terbesar kota!" Kata pak Will menunjukkan senyum yang ramah.
"Apa yang membuat Anda berpikiran seperti itu? Apa saya sangat terkenal?"
"Tentu saja, saat melihat melihat Anda bersama dengan kelompok pemberontak membuat saya terkejut." Senyuman belum bisa menghilang dari pak Will.
"Oh ... apakah saya bisa disebut orang jahat?"
"Sejak pertama kali bertemu dengan Anda, saya sudah mengira bahwa Anda adalah orang jahat!? Tapi, entah kenapa kami percaya pada Anda. Menantang pihak kerajaan adalah sesuatu yang gila! Tapi ..." Pak Will menjeda perkataannya. Dia lantas melihat ke arah hutan besar di sebelah Timur.
Aku pun juga melihat ke arah yang sama.
"Penguasa kota ini dari dulu memang tidak beres. Kudeta cepat atau lambat pasti terjadi, tapi, kami masih tak menyangka bahwa Penduduk slum area sanggup melakukan kudeta itu. Kami dari dulu sudah berusaha melaporkan semua yang dilakukan oleh Duke, tapi dia selalu berhasil lolos. Sampai suatu hari, kami ketahuan ... dan sejak itu tak ada yang berusaha melaporkannya." Nada bicara pak Will berubah agak sedih. Senyumannya pun sudah luntur.
"Apa yang dilakukan Duke pada kalian?"
"Dia mengeksekusi semua orang yang memiliki hubungan darah dengan kami. Saya harus rela kehilangan anak dan istri."
Tunggu ... pelaku malah tidak mendapat hukuman apa-apa? Pihak keluarga yang menanggungnya.
Tidak, itu masuk akal. Pak Will pada waktu itu pasti sudah memantapkan hatinya untuk menanggung semua resiko yang dilakukannya. Jadi, jika pak Will yang dieksekusi ... pastinya usaha akan terus berlanjut oleh pelaku-pelaku baru.
__ADS_1
Yah ... cara yang out of the box dilakukan oleh Duke sialan itu. Dan sepertinya itu berhasil.
"Sejak saat itu kami tunduk sepenuhnya. Kami pun diperintahkan untuk melakukan diskriminasi pada penduduk slum area." Sambung pak Will kelihatan menyesal.
Si Duke, Volancy Egramn ternyata lebih busuk dari yang aku kira.
Dan juga ... ternyata mereka semua, Celia dan lainnya salah paham. Tak ada yang berniat mendiskriminasi, semuanya diatur oleh si Duke.
"Melihat Anda dan lainnya berjuang sangat keras membuat kami sadar dan menghilangkan semua rasa takut kami. Jadi, saya dan yang lainnya akan berjuang sekuat tenaga. TUAN KIYA, ANDA TIDAK SENDIRIAN!" Pak Will tiba-tiba bersemangat.
Aku tak begitu mengerti maksud dari kalimat terakhirnya.
"Kantung mata yang terbentuk dan dari sorot mata Anda sudah memberitahu semuanya. Anda tidak mempercayai kami semua, maka dari itu Anda melakukan semua ini. Demi sebuah kemenangan, tapi, Anda tidak sendirian. Seharusnya Anda lebih mempercayai kami! Sekuat-kuatnya Anda, sepintar-pintarnya Anda ... melakukan semuanya sendiri, itu mustahil!" Semangat pak Will menggebu-gebu.
Masuk ke kuping kanan, keluar ke kuping kiri. Semua yang dikatakannya hanyalah angin lalu. Aku tak peduli ... aku melakukan ini hanya sebatas mendapatkan keuntungan. Tapi,
"Saya ralat perkataan yang sebelumnya. Tuan Kiya adalah orang paling baik yang pernah saya temui."
"..."
Aku tak memberikan jawaban apa pun. Hembusan angin yang muncul tiba-tiba memberikan rasa dingin yang menusuk. Aku menyadari satu hal ...
Aku membuka inventory dan mengeluarkan jubah putih yang selalu aku kenakan. Sesaat kemudian aku melompat keluar. Tapi, sebelum itu ...
"Pak Will beritahu pada semuanya untuk bersiap-siap!" Kataku tanpa menoleh ke belakang dan mengambil ancang-ancang untuk melompat.
"Jika aku membiarkan kalian berbuat seenaknya, kalian hanya mengantar nyawa!"
...
Pastinya musuh tidaklah bodoh, aku sudah tau jika mereka mereka mengirimkan regu pengintai yang mengendarai kuda terbang—Pegasus untuk mengawasi keadaan kota.
Semua perangkap yang dipasang tidak akan berguna jika jalur serangan lewat udara.
"Mereka sudah mengantisipasi jika kami menyiapkan perangkap. Heh ... ternyata cukup pintar!"
Aku berpikir dengan skenario terburuk bahwa ribuan pasukan kerajaan menggunakan Pegasus sebagai tunggangannya.
Karena itu ... aku harus melakukan ini.
Aku berlari dengan kecepatan penuh menyusuri padang rumput menuju ke arah hutan. Dengan kecepatanku saat ini seharusnya aku akan sampai setelah 20 menit berlalu. Aku terpaksa melakukan ini karena membutuhkan poin lagi untuk mengatur ulang strategi.
"Pegasus itu membuyarkan semuanya!"
Pengintai itu seharusnya melaporkan bahwa kami akan bertahan penuh di dalam kota.
Itulah mengapa kami sengaja memperlihatkan senjata-senjata berat agar terlihat seperti itu.
Kami memasang perangkap dalam radius 5 km hutan. Dan jarak mereka hanya tinggal 10 km dari perangkap pertama.
...
Pasukan dalam jumlah lumayan besar bergerak secara bersamaan melewati tiap celah pepohonan dalam kegelapan. Obor dan batuan bercahaya yang menjadi alat penerangan utama.
Jumlah mereka sekitar 9 ribu prajurit dengan perlengkapan lengkap, pedang dan perisai. Setengah lebih di antara mereka adalah prajurit pejalan kaki yang jumlahnya 7 ribu prajurit. Prajurit yang menggunakan tunggangan berupa kuda hanya sekitaran 800-an, memang sedikit, tapi yang sangat diwaspadai adalah para penunggang kuda karena mereka lah para prajurit elit yang dikirim oleh pihak kerajaan.
Dan untuk sisanya adalah regu pemanah dan penyihir. Terlebih lagi para prajurit itu juga membawa banyak persenjataan berat untuk menghancurkan gerbang kota.
__ADS_1
Setelah mendengar laporan dari ragu pengintai bahwa kota Xely akan bertahan penuh. Mereka lalu memutuskan untuk melakukan serangan pada waktu dini hari. Waktu itu dinilai paling pas untuk melakukan serangan kejutan.
Orang dengan zirah yang sangat mencolok—berwaran ungu gelap tak bisa berhenti tersenyum dia atas kudanya. Dia adalah komandan pasukan itu.
"Mereka bertahan penuh? Strategi yang konyol! Sekuat apa persenjataan mereka?! Heh ... mereka hanya mengantar nyawa!"
Prajurit di sebelahnya nampak tak nyaman dengan perkataannya.
"Kita tak boleh terlalu meremehkan mereka, Tuan! Menurut laporan Tuan Volancy, ada orang yang sanggup menghabisi ratusan prajurit sendirian!? Dia menjadi ancaman terbesar!"
"Kalau masalah itu ... kerajaan sudah mengirimkan bantuan pada pahlawan Ranan untuk datang. Jadi, apa yang harus ditakutkan?" Jawab komandan itu santai.
"Y-yah ... itu ..." Prajurit itu kalah debat dengan komandannya. "Eh? Bagaimana dengan pahlawan Viola? Dia disuruh untuk meninggalkan kota jika dia memilih untuk netral, tapi sampai sekarang pahlawan Viola belum—"
"Pahlawan Ranan dikirim karena hal itu juga, bodoh!" Si komandan memaki bawahannya. Dia tak menyangka bahwa akan sebodoh ini.
"M-m-maaf, Tuan!" Prajurit itu menundukkan kepalanya menyesal.
Komandan itu dengan kesal memacu kudanya sedikit cepat untuk menyusul salah satu orang di depannya.
"Venald, laporkan situasinya?" Kata komandan pada salah seorang penunggang kuda dengan zirah berwarna biru.
Venald, wakil komandan. Dialah yang bertanggung jawab atas strategi pertempuran karena kepintarannya.
"Kemungkinan pihak kota Xely sudah memasang beberapa perangkap, Tuan!" Katanya dengan sopan.
"Perangkap? Bukannya itu gawat?" Si komandan menaikkan sebelah alisnya, dia sedikit bingung dengan salah satu bawahannya ini. Padahal sudah tahu ada perangkap, tapi dia keliatan sangat tenang.
"Masalah itu sudah terselesaikan, Tuan Alga! Alasan saya mengatur formasi dengan menempatkan para prajurit pejalan kaki berada paling depan adalah untuk menyisir area, kata kasarnya mereka akan menjadi tumbal!"
Begitulah, para prajurit ditempatkan di barisan paling depan dan mereka adalah prajurit pemula yang masih minim pengalaman. Venald tak ragu untuk mengorbankan puluhan prajurit. Mereka dibawa karena alasan ini.
"Ohh ... Kau memang tak pernah mengecewakanku, Venald!"
"Permainan dimulai!"
"Arghhhhh ...!"
"Ser— akhhh ...!"
Teriakan kesakitan terdengar dari barisan paling depan. Tanpa sebab yang jelas, tubuh para prajurit yang malang itu tubuhnya terpotong secara tiba-tiba.
Alga dan Venald secara tak sengaja melihat kilauan-kilauan perak mengelilingi mereka.
"Tuan Alga, ini sangat gawat! Perintahkan semua pasukan untuk mundur dalam radius 50 meter ... kalau tidak—"
Cling ... Jdarrrrr ...
Sambaran petir turun dari langit meluluhlantakkan semua prajurit itu.
"Apa-apaan itu?" Kata Alga memegangi kepalanya.
"Tuan tidak apa-apa?" Tanya Venald.
Serangan petir itu tak memiliki efek yang terlalu besar selain membuat tubuh sedikit mati rasa. Penerima efek paling besar yang secara langsung terkena sambaran petir itu.
Selanjutnya dari balik pepohonan muncul suatu sosok. Dalam kegelapan hutan, seseorang berdiri dengan jubah putih yang menutupi seluruh tubuhnya. Matanya berwarna merah menyala, menambah kengerian sosok itu.
__ADS_1
"Siapa dia? Apa orang itu yang dimaksud Tuan Volancy?"