System : Unknown

System : Unknown
Chapter 55 -Aku tak bisa menyelamatkan siapa pun!


__ADS_3

Lamort Desert sepenuhnya tertutupi oleh awan mendung yang berwarna ungu gelap, gurun yang sangat besar itu benar-benar akan segera turun hujan. Tapi, bukan hujan biasa ...


Apa dunia akan kiamat?


Pendapat beberapa orang yang melihat kengerian Lamort Desert.


"Lihat, Gouri ... seberapa besar kekuatan Ashera. Huh ... kita akan tamat!" Arron kalang kabut melihat kondisi Lamort Desert yang begitu mengerikan.


Wajah penuh kepercayaan diri dan tak kenal rasa takut ketika mendengar nama dari sosok iblis bernama Ashera, telah sirna. Gouri cuma diam membeku mengarahkan pandangannya ke arah Lamort Desert berada.


"Bagaimana caranya pahlawan di masa lalu menghadapi ancaman seperti itu?" Gouri mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dia merasa kesal pada ketidakberdayaannya.


Para pahlawan bahkan kalang kabut, lalu bagaimana orang yang kekuatannya di bawah pahlawan? Jika disuruh berperang melawan Ashera ... pasti tak akan ada yang mau.


Kekalahan adalah mutlak, pikir mereka.


Namun ... pahlawan yang satu ini nampak cuek seakan-akan tidak peduli.


"Nia, aku merasa ini adalah hal yang absurd!? Sihir sebesar itu dikeluarkan hanya untuk menghabisi para kroco, tak masuk akal!"


"Aku juga merasa begitu!"


"Pasti wanita itu penyebabnya!"


"Hahaha ... Ranan, kau selalu mencurigai Viola!"


Pria berambut abu-abu—Ranan melangkahkan kaki mendekat ke tempat kedua rekannya yang ada di balkon istana.


"Inilah kesempatan kita. Sihir sebesar itu, pasti Mana yang terkuras sangat banyak!" Kata Ranan datar menunjuk ke arah Lamort Desert.


""Huh ...?""


.


.


.


Lamort Desert.


Hujan sudah turun, tapi bukan air melainkan aneka senjata. Hujan senjata itu bukan seperti hujan air yang turun secara serempak sampai tak ada celah untuk menghindar.


Hujan senjata itu turun di area yang sudah dikehendaki pengguna supaya lebih efisien dan tak membuang-buang senjata untuk menyerang area kosong.


"P-p-pahlawan Viola? Ini kekuatan pahlawan Viola!?" Seru salah seorang prajurit yang menyadari cahaya biru yang menyelimuti tubuhnya adalah kekuatan dari Viola.


"Oi, lihat ke sana! Pahlawan Viola benar-benar ada, dia datang menyelamatkan kita!"

__ADS_1


Ratusan senjata yang beraneka ragam menggempur setiap orang, tapi selama cahaya biru masih menyelimuti mereka, mengalami luka bisa dikatakan mustahil.


"Kau datang hanya untuk menyelamatkan mereka? Untuk apa ...? Buang-buang tenaga saja!" Kata Ashera menyunggingkan senyuman mengejek.


Viola menganggap Ashera tidak ada tuk sejenak.


"Kalian semua ... jika masih sayang dengan nyawa, cepat pergi keluar dari gurun ini! Tak ada yang bisa menyakiti kalian selama cahaya biru itu masih tetap ada!" Seru Viola memberitahu pasukan yang dijadikan regu pencari itu.


Tahu bahwa dirinya tak akan berguna dan akan cuma menjadi penghalang Viola. Mereka menuruti instruksi yang Viola berikan. Semangat mereka kembali mencuat setelah Viola memberikan mereka harapan.


Mulailah mereka semua terbang secepat mungkin dengan tunggangan masing-masing. Hujan senjata tetap mengikuti arah terbang mereka, benar-benar tak bisa dihindari.


"Tak terluka, kah?" Ashera tersenyum jahat. "Speciality!"


Senjata yang turun mendadak menjadi sedikit lebih besar dan dilapisi petir ungu yang besar


Jleb ... jleb ... jleb ...


Buff pertahanan yang berikan Viola tak bisa menahannya, alhasil ... beberapa dari mereka tak mampu bertahan dan mati.


"Cih ... lebih kuat lagi!" Gumam Viola dengan tubuh yang gemetar."


Viola memperkuat Protection-nya sampai serangan Ashera tak bisa menggores mereka.


"Pahlawan ... kau serius? Mana yang kau butuhkan akan bertambah besar, lho?!" Cemooh Ashera memberitahu.


"DIAMLAH!" Bentak Viola gemetaran dengan mata yang menyipit sebelah.


Ashera tersenyum, "Kalau begitu, ayo sedikit lakukan eksperimen! Siapa yang akan bertahan dengan sihirnya?"


Hujan senjata berhenti sesaat, namun tak sampai belasan detik ... kilatan-kilatan guntur memenuhi awan itu ... dan hujan senjata turun secara serempak di seluruh area Lamort Desert.


Ashera bahkan harus membuat semacam pelindung agar tak terkena serangannya sendiri. Viola pun juga membuat semacam pelindung.


Jdarr ... jdarr ... jdarr ...


Bunyi ledakan tiada berhenti terdengar, bunyinya sangat keras dan memekakkan telinga akibat dari ratusan ribu bahkan jutaan senjata jatuh dari langit layaknya hujan.


Hujan senjata dengan dilapisi sihir petir yang kuat akan membunuh segala makhluk hidup di Lamort Desert dan mengubah kondisi geografi di gurun itu.


Di masa depan Lamort Desert bukan lagi gurun kematian, melainkan gurun tambang senjata ... jutaan senjata terkubur di dasar pasir menunggu ditemukan untuk ditukarkan dengan uang.


"Andai saja ada Vian! Kami bisa melakukan link, Mana sudah tidak akan menjadi kendala!"


Buff pertahanan Viola masih bisa bertahan di 5 menit pertama, lalu di penghujung menit ke 10. Buff pertahanan itu sedikit demi sedikit tertembus, setiap orang yang menerima buff mulai merasakan luka.


"Aku tak akan bisa bertahan! Ini percuma ... aku tak bisa melindungi mereka!" Mata Viola berkelip dan beberapa saat kemudian air mulai jatuh menyusuri pipinya.

__ADS_1


Viola merasakan buff pertahanan yang dia berikan hilang satu per satu karena si penerima telah meregang nyawa.


"A-ku gagal ... me-reka semua tiada!" Air mata Viola mengucur deras. "Kekuatanku tak cukup untuk membuar mereka selamat!"


Hujan senjata yang sangat mengerikan itu kian mereda sampai akhirnya berhenti total dan awan ungu secara perlahan menghilang. Cahaya Kalma dan Palma mulai bersinar kembali. Ashera dan Viola pun menghilangkan pelindung masing-masing.


"Kau gagal, pahlawan! Kau tak bisa menyelamatkan siapa pun!"


Viola tak bergeming, pandangannya tertuju ke bawah melihat sebuah neraka dunia. Lamort Desert benar-benar hancur total, permukaannya berwarna merah menyala akibat babi api yang membakar tanah atau apapun di bawah sana belum sepenuhnya menghilang.


"Tapi, kupuji atas keberanian dan tekadmu. Kau berniat mengorbankan nyawa hanya untuk manusia seperti itu ... kau bisa dibilang pahlawan sejati!"


"A-ku bu-kan pahlawan! A-ku tak bisa menyelamatkan siapa pun!" Jawab Viola dengan suara yang lirih seperti kehilangan semangat hidup.


"Bukan kau yang lemah! Tapi, aku saja yang terlalu kuat! Kau masih muda dan belum mencapai potensi tertinggi, kau masih bisa berkembang!" Kata Ashera menodongkan tangannya ke arah Viola.


Viola yang menyadarinya tak bisa berbuat apa-apa, dia memilih pasrah jika seandainya Ashera akan langsung menghabisinya. Namun ...


"Ini hadiah!" Kata Ashera dengan ekspresi yang sangat bermasalah.


.


.


.


Tiga orang pahlawan, Ranan, Gouri, dan Ranan tengah bersiap-siap untuk menuju ke Lamort Desert menggunakan teleportasi dari Penyihir kerajaan Gharagi.


"Valesi, kami sudah siap!" Seru Gouri kepada seorang wanita dengan atribut penyihir seperti jubah dan tongkat


"Baik, pahlawan!" Balas wanita berambut violet itu mengangguk.


Kristal ungu pada tongkatnya bersinar, lingkaran sihir berwarna ungu muncul di bawah kaki para pahlawan dan cahaya mulai menyelimuti mereka.


"Move!"


Cahaya yang menyelimuti semakin menguat dan menutupi pandangan mereka bertiga. Tempat yang menunggu para pahlawan adalah neraka dunia.


.


.


.


Pokoknya aku ucapin terimakasih pada pembaca yang bisa terus baca sampe chapter terupdate.


Maaf 🙏 nggak bisa ngasih cerita yang bagus.

__ADS_1


aku bakal usahain cerita ini agar bisa tamat.


Dah ... see you


__ADS_2