System : Unknown

System : Unknown
Chapter 11 -Usaha penyatuan dua kubu- (3)


__ADS_3

Sebelum membaca alangkah baiknya menyentuh tombol like terlebih dahulu jika suka dengan Chapter ini dan tinggalkan komentar jika ada kekurangan atau kelebihan.


Jangan lupa tekan tombol favorit, agar tak ketinggalan update.


Selamat membaca, semoga terhibur.


...


"AKHHH ... !"


Teriakan itu menggema ke seluruh area Mansion, semua orang mendengar dan mengetahui dengan jelas teriakan siapa itu. Yah ... itu adalah teriakan dari Klue Egramn.


Pelaku yang membuatnya berteriak sampai seperti itu adalah Kiya yang melakukan kebiri secara brutal. Sekarang Klue tak punya alat kelamin lagi.


"Ahh ... Walikota, Anda membuat ekspresi yang sangat lucu! Hahaha ... a-ku kesulitan tuk berhenti tertawa!" Kiya tertawa terbahak-bahak sambil memutar-mutar jari telunjuknya.


"Benang?" Batin si adik, Balta. Dia mengetahui bahwa di seluruh area tersebar benang yang tak beraturan.


Ke 4 penyihir yang melakukan sihir segel padanya berkeringat dingin, mereka tak tahu apa yang terjadi.


"Sebaiknya kalian mati saja! Aku muak sekali!" Ekspresi Kiya berubah drastis. Awalnya yang cengengesan berubah sangat serius.


Sriettt ... sriettt ... sriettt ...


Kilauan perak dari benang terlihat akibat pantulan cahaya bulan bergerak tak tantu arah ke arah mereka semua. Dan ke semuanya langsung terjerat dan tubuhnya terpotong-potong akibat dari benang tipis, kuat, dan tajam itu. Yang tersisa hanyalah 2 Maid bersaudari, dan Klue.


[Tuan mendapatkan 470 ribu poin ...]


"Huh ... akhirnya?!" Kiya dengan lega terduduk. "Hey, rambut putih ...! Dia belum sempat memasukkannya, kan?"


Syilta terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba Kiya, dia yang masih berusaha mencerna kejadian ini hanya menganggukkan kepala.


Sedangkan Klue ... dia dengan susah payah merangkak menjauh saat tak ada yang memperhatikannya. Namun, itu hanya anggapannya.


Sriettt ...


Tangan kanan dan kaki kanannya terpotong. Klue pun berteriak sejadi-jadinya melihat dirinya mengalami pendarahan hebat.


"Kesembuhan adalah kuasa-Mu, Heal!"


Tak disangka, Kiya menggunakan healing untuk menghentikan pendarahan Klue. Dia bisa menggunakan healing karena melihat Viola menggunakannya, meskipun tidak sekuat Viola.


"Pak walikota ... Anda mau kemana? Kami masih ingin berbicara dengan Anda!" Kata Kiya sembari mengisyaratkan agar Maid bersaudari mendekat ke arahnya.


"System, beli jubah biasa!"


[Baik, Tuan]


"Ini ... pakailah!" Kiya lalu memberikan jubah itu pada Sylta.


"T-terima kasih."


Kembali ke keadaan Klue yang sekarang sangat menyedihkan. Dia terbaring tak bergerak di tanah dengan mata yang berlinangan air mata.


"Apa ada sesuatu yang ingin Anda katakan!" Kiya dengan santai duduk bersila.


"..."


"Hmm ... yakin tak ingin bicara sesuatu?"


"..."

__ADS_1


"Ya sudahlah ... padahal saya bisa mempertimbangkan kata-kata Anda ..."


"T-t-to-long ... b-b-biarkan saya hidup—"


Sriettt ...


Kiya sekali lagi menghentikan pendarahan dari sisa tangan dan kakinya. Balta dan Sylta tak berani melihat pemandangan mengerikan itu.


"Kata-kata yang Pak walikota gunakan salah! Jika Anda sadar, seharusnya Anda meminta maaf pada mereka ...! Jika begitu ... mungkin saya tidak akan membunuh Anda. Yah ... meskipun hanya 2% saja. Pak walikota memang sudah tak punya harapan hidup lagi!"


"Maaf!"


...


"Ohh ... kalian Maid bersaudari itu, ya? Syilta, Balta?" Kata Kiya melihat Maid bersaudari itu dengan senyum merekah.


Kesan kejam dan dingin hilang dalam sekejap. Mereka sempat bingung dengan Kiya, apa dia punya kepribadian ganda? Pikirnya.


"I-i-ya, terima kasih telah menyelamatkan kami. Aku Syilta dan ini adikku, Balta! Umm ... Tu—" Syilta mendadak ragu mengucapkan kata selanjutnya.


"Panggil aku Kiya saja! Lagipula umur kita tak terpaut jauh! Tapi, jika kalian merasa tak nyaman, kalian boleh memanggilku dengan panggilan yang kalian suka!"


Balta sendiri diam melihat obrolan kakaknya dengan Kiya, dia sangat tak nyaman dengan kondisi di sekitarnya. Dirinya beberapa kali ingin muntah menyaksikan tumpukan mayat yang mati mengenaskan.


"Maaf, sudah memperlihatkan sesuatu yang .... yah, tidak enak dilihat!" Kiya dengan canggung menggaruk pipinya.


Balta menggeleng dengan cepat.


"A-nu ... Tuan Kiya, apa yang akan Anda lakukan selanjutnya? Masih ada Duke itu, kan? Dan juga ... bagaimana kondisi Celia?"


"..."


Kiya tak memberikan balasan. Dengan senyuman yang tak bisa menghilang dari wajahnya, dia melihat Mansion dengan tatapan yang sulit dimengerti.


"Ahh ... Celia, ya? Kita tinggalkan saja dia!"


""Ehh?""


...


"Hmm ... di mana bedebah itu bersembunyi?"


Kembali ke mode psikopat bercampur kepribadian biasa. Kiya dengan santainya mencabut pedangnya yang menembus seorang prajurit yang mencoba menghalanginya.


Syilta dan Balta tak bisa berkata apa-apa, mereka tak terlalu suka dengan cara yang dilakukan Kiya. Tapi, yah ... mereka tak memiliki kuasa apa pun agar Kiya menghentikannya.


"Kalian berdua! Apa di Mansion ini mempunyai sesuatu ruangan tersembunyi atau sebuah jalan rahasia untuk kabur?"


Maid bersaudari itu dengan kompak menggelengkan kepalanya agak sedikit takut.


"Hmm ...?" Kiya berpegang dagu melihat secara seksama bagian dalam Mansion.


Mereka bertiga sekarang ada di ruangan Duke. Mereka sibuk mencari sebuah pintu rahasia atau apa pun. Ruangan ini sudah berantakan, kertas-kertas dokumen yang berserakan di mana-mana, begitu juga dengan prabot yang hancur.


Dalam sela-sela penggeledahan, Balta tiba-tiba bersuara. "A-nu, Tuan Kiya ... apa Anda tak mengkhawatirkan Celia?" Kata Balta dengan suara yang pelan.


"Untuk apa aku mengkhawatirkannya?"


"Eh ...?" T-t-tapi ..."


"Sudahlah ...! Fokus saja memeriksakan tempat ini!"

__ADS_1


"B-baik."


"System, di mana keberadaan Duke itu?"


[Dia sudah tidak ada di bangunan ini, Tuan]


"Sudah kabur, lalu ... bagaimana caranya kabur?"


Barrier yang mengelilingi mansion masih aktif. Meskipun Kiya sudah membunuh penggunanya, tapi sihir pelindung yang satu itu akan tetap aktif meskipun penggunanya sudah mati. Namun, barrier itu juga tak akan bertahan lama. Seharusnya semua orang masih terkurung di dalamnya.


Barrier-nya berbentuk bola, tembus ke bawah tanah.


[Ini memang aneh, Tuan]


"Kondisi terkurung seperti ini ... rasanya sangat pas ... tunggu, tunggu sebentar! Ini sangat gawat!"


Boom! Boom! Boom!


Ledakan demi ledakan terdengar. Maid bersaudari itu terkaget-kaget lalu tubuhnya sedikit terkaku.


"A-da apa ini?" Kata Balta dengan tubuh yang gemetaran.


BOOMM! BOOMM! BOOMM!


"System ...!"


Ledakannya secara bertahap bertambah besar. Seisi Mansion porak poranda. Bangunan kokoh itu sudah runtuh dengan diakhiri oleh sebuah ledakan yang sangat besar.


BOOOOOMMMMM!


Maid bersaudari yang mengira ajalnya sudah dijemput oleh ledakan itu hanya bisa menunjukkan keterkejutannya melihat diri mereka terlindungi oleh sebuah aura berwarna biru yang menyelimuti mereka.


"Cih ... sial! Bedebah itu!" Kiya kemudian jatuh terkulai lemas.


"I-i-ni Mana?!" Syilta terkagum-kagum melihat aura biru yang baru saa mencegah kematian mereka. Dan Syilta juga dikejutkan oleh Kiya yang tiba-tiba tak bisa bergerak.


""Tuan Ki-ya, Anda tak apa?""


"A-a-aku mengalami Mana Overdose karena membuat barrier itu secara manual dari Mana!" Kata Kiya tak bisa menggerakkan tubuhnya sedikit pun.


"Ka-mi akan memulihkan Mana Anda. Balta bantu aku!" Syilta sangat gugup sekaligus cemas dengan kondisi Kiya.


Seseorang hanya bisa mengeluarkan Mana hanya 80-97%. Jika mana yang digunakan sampai melebihi itu mereka akan mengalami Mana Overdose yang membuatnya lumpuh seketika. Cara mengatasi Mana Overdose sangat mudah dengan membiarkan tubuh beristirahat untuk memulihkan Mana-nya. Dan juga 100% penggunaan sama saja dengan mati, Vessel-nya tak boleh sampai kosong.


"Mp-ku tersisa 1 angka. Huh ... keberuntungan masih berpihak padaku. Sungguh konyol jika aku mati karena kehabisan Mana!"


[Maaf, tidak sempat melakukan apa pun ketika ledakan itu muncul, Tuan]


""Heal!"" Mereka berdua menggunakan Heal secara bersamaan.


"Tidak terlalu membantu, kak!" Balta frustasi Healing-nya tak bekerja.


"Sihir penyembuhan kita masih dasar! Kita tak b-bisa—"


"Sudahlah berhenti! A-ku baik-baik saja, sebaiknya kalian lakukan tujuan kalian menyusup ke Mansion ini! Duke itu sudah melarikan diri, seharusnya aman untuk mencuri semua harta!"


Tak bisa membantah perkataan Kiya, Syilta dan Balta lalu mengangkat tubuh Kiya dan melingkarkan kedua tangannya pada leher mereka untuk membantu Kiya berjalan


"Kalian tau tempatnya, kan?" Tanya Kiya memastikan.


"Ruang penyimpanan harta ada di ruang bawah tanah!" Respon Syilta.

__ADS_1


"Baguslah."


__ADS_2