System : Unknown

System : Unknown
Chapter 72 -Eksploitasi


__ADS_3

"Dia terlalu lama!?" Gumam Kiya malas.


Tak jauh darinya, berdiri seorang wanita berambut perak yang kedua tangannya sibuk merapikan surainya yang tergerai, rambut keperakannya berkilauan emas memantulkan sinar Kalma dan Palma, lolos begitu saja melewati rerimbunan pohon.


"Calsya, cepatlah ... kau mengikat rambut terlalu lama—" Kata Kiya malas, sesekali dia menutup mulutnya karena menguap. "Tenang saja, aku tak akan mencukurmu sampai botak!"


"B-bukan begitu!" Sanggah Calsya dengan helaian perak itu. "Umm ... jadi, b-ba-gai-mana dengan gaya rambut seperti ini? Apa cocok?" Katanya malu-malu.


Kiya memandangnya malas, "Aku tak peduli!"


"Ugh ... se-tidaknya ...."


Respon yang diberikan lumayan menusuk, pengharapan akan pujian yang manis cuma sebatas angan. Calsya telah menyiapkan jawaban yang tak kalah manisnya, namun ... harus disimpan rapat-rapat.


Calsya setidaknya bisa memvisualisasikan adegannya sendiri, walaupun haluan semata.


"J-ja-hat ...!?" Batin Calsya seakan ingin menangis.


Calsya meminta pendapat pada orang yang salah, Kiya bukan tipe orang yang mengomentari penampilan orang lain, dia tak akan menunjukkannya di permukaan —tetap ditahan di dalam hati.


"Sudahlah Putri, jangan terlalu mendramatisir! Ambil pedang dan ayo berlatih!" Kata Kiya melirik pohon di dekat Calsya, di sana bersandar sebuah pedang kayu.


Calsya mengikuti intrupsi, dia berjalan pelan ke arah pohon dan mengambil pedang itu. Kedua tangannya menggenggam erat bilah kayu dan menatap lurus ke arah Kiya.


"Bagus." Ujar Kiya tersenyum tipis. Sebuah pedang kayu yang sama dengan milik Calsya telah dia genggam. "Ayo mulai."


"B-baik." Jawab Calsya sedikit gugup, beberapa kali menelan ludah.


Mereka berdua hening dalam sekejap, tak ada yang bersuara, fokus memperhatikan gerakan masing-masing.


Hembusan angin yang kuat menggoyangkan tiap helai rambut dari mereka berdua, batang pepohonan yang kiranya cukup besar juga bergoyang. Lalu entah muncul dari mana, sebuah benda misterius yang terombang-ambing oleh angin melayang mendekat.


Ekspresi wajah Kiya dan Calsya langsung tak karuan. Calsya sendiri pipinya berubah semerah tomat, sedangkan banyak kerutan muncul di kening Kiya.


"Apa-apaan ini?" Batin Kiya kesal melihat benda misterius berwarna putih itu.


"K-ena-pa ada CD di sini? Milik siapa?" Calsya sedikit merendahkan pandangan, sampai hanya kaki milik Kiya yang terlihat.


Hembusan angin yang kuat menghilang begitu saja, CD yang bobotnya lumayan langsung tak berkutik pada gravitasi. CD berwarna putih itu jatuh tepat di tengah-tengah Kiya dan Calsya.


Dan latih tanding pun dimulai ...


Masing-masing dari mereka menerjang satu sama lain.


4 hentakan kaki pada tanah telah cukup memangkas jarak 10 m. Ujung pedang kayu yang tumpul dihunuskan Calsya secara horizontal, Kiya dengan mudah menghindar ke samping dan melakukan serangan balasan.


Tak disangka, Calsya secepat kilat mengubah arah lintasan serangannya, tebasan dari Kiya mengalami jalan buntu. Dan sang Putri langsung memutar tubuhnya, melakukan tendangan lurus mengincar perut, namun itu digagalkan. Kiya menangkap pergelangan kakinya lalu dihempaskan menghantam pohon.


"Tunggu, apa keahlian berpedang Calsya cukup baik?" Batin Kiya keheranan.


Calsya berdiri perlahan, hantaman itu cukup kuat. Terlihat ekspresinya mengeras menahan nyeri dan sebelah tangan memegang perut.


"Lagi!" Seru Kiya lantang.

__ADS_1


Calsya melupakan nyeri yang melanda, semua tangannya telah digunakan untuk menggenggam pedang kayu lagi. Dia menerjang Kiya untuk kesekian kali.


"Hiiia ...!" Calsya melompat tinggi di udara, mengangkat pedangnya tinggi di atas kepala bersiap melakukan tebasan vertikal.


Kiya dengan santai memposisikan diri tuk bertahan.


"Calsya ...?" Mata Kiya melebar.


Masih di udara, Calsya membatalkan serangannya, dia memutar tubuh di udara sampai membelakangi Kiya. Dengan posisi kepala di bawah dan masih berada di udara, Calsya mengayun pedang secara asal ke arah Kiya.


Bagi orang biasa, mungkin serangan itu tak akan bisa dihindari. Tapi, dengan reflek yang luar biasa Kiya berhasil merunduk lalu memanfaatkan kondisi Calsya yang tak mungkin bisa menghindari serangan balasan darinya.


Kiya menangkap pergelaran tangan Calsya lalu dihempaskan dengan kekuatan yang lebih besar ke arah pohon, tekanan yang diberikan tubuh Calsya bahkan sampai menumbangkan pohon itu.


"Uhuk ... uhuk ..." Calsya sedikit memuntahkan darah.


"Lagi ...!"


Berbeda dari yang sebelumnya, Calsya langsung bangkit ketika Kiya berteriak. Dia mengabaikan rasa sakit di tubuhnya. Tempo pertempuran pun semakin cepat.


Bak ... bak ... bak ...


Tak terhitung berapa kali hantaman yang bersarang, Calsya selalu bangkit setelah dijatuhkan. Dia bahkan seperti punya kemampuan resistensi terhadap rasa sakit.


"Lagi ...!" Teriak Kiya untuk kesekian kali. Entah telah berapa kali dia sudah berteriak seperti itu.


"Hah ... hah ... hah ... b-b-baik!"


Alasannya hanya satu ...


"Kau harus bisa mendaratkan satu serangan padaku, dengan begitu ... yah, aku akan senang!"


Senyum yang Kiya perlihatkan padanya telah memacu Calsya habis-habisan. Perasaannya bukan kebohongan, dia ingin melihatnya lagi ... senyum hangat yang hanya ditujukan untuk dirinya sendiri, bukan kepada orang lain.


Namun, tubuhnya tak sanggup menuruti kehendaknya. Hanya tersisa sejengkal dari Kiya, Calsya langsung roboh ... Kiya menangkapnya dengan lembut.


"Huh ... segini, ya? Tapi, kerja bagus!"


.


.


.


Hari hampir berakhir, Kalma dan Palma telah menyembunyikan dirinya. Namun, Kiya masih belum berjanjak dari tempatnya berlatih pedang dengan Calsya.


Bersandar di salah satu pohon, Kiya duduk bersimpuh dan meletakkan Calsya yang pingsan di pangkuan paha. Beberapa kali tangannya sibuk membelai rambut perak kepunyaan Calsya.


"Dia pingsan cukup lama? Apa aku terlalu berlebihan, ya?" Gumam Kiya menatap Calsya agak cemas.


« Ya tepat sekali, kau sangat berlebihan »


"Jangan menyalahkanku! Aku tak menyuruhnya sampai seperti itu, jika dia menyerah ... ya berhenti, simpel, kan?"

__ADS_1


« Itu berarti, Putri benar-benar mencintaimu. Dia sampai segitunya karena ingin membuatmu senang »


"Hmm ... cinta, ya? Aku tak mengerti perasaanku padanya, tapi ... aku ingin dia selalu di sisiku!"


« Itu sudah menjelaskan semuanya »


Kiya tersenyum tipis mendengarkan perkataan Luxury ... namun, dengan segera luntur


dan berganti dengan senyuman licik.


"Russil, aku telah menunggumu. Jadi, kita lanjutkan perbincangan tempo hari."


.


.


.


Kiya PoV


Dari sebalik salah satu pohon di dekatku, muncul seseorang dengan jubah hitam yang menyembunyikan rupanya. Pakaian yang dia kenakan tak berbeda sama sekali.


"Baiklah, silahkan berbicara!" Pintaku.


Russil tak kunjung bicara, kepalanya ditundukkan sangat dalam. Untuk melihat sedikit wajah bagian bawah saja sulitnya minta ampun.


"Hmm, terserah padamu. Aku tak dirugikan dalam hal ini!" Kataku santai membuang muka dan membelai rambut perak dari wanita di pangkuanku.


Aku sudah memancingnya seperti itu, tapi Russil tak tergerak.


"Apakah pertemuan kami sebelumnya seburuk itu?"


« Tentu saja karena kau sudah membunuhnya »


"Heh ... hukum kematian tak berlaku padanya!"


Dia benar-benar menghabiskan kesabaranku, jika dia tak kunjung bicara ... aku akan memaksanya sendiri. Tentu saja menggunakan kekerasan.


"Hei, kau~eh?" Aku hendak membentaknya, tapi dengan segera berubah menjadi keterkejutan.


Russil bersujud tepat di depanku dengan tubuh yang gemetaran.


"Apa-apaan ini?"


"M-m-maaf, Tuan. S-sa-ya terlalu takut untuk bicara. To-long jangan bunuh saya lagi!"


Aku pun menyadari sesuatu, setelah melihat ini aku bisa menyimpulkan sesuatu. Yah, meskipun hipotesis ini belum tentu benar.


Russil memiliki kepribadian ganda atau bisa saja adalah alter ego. Terpenting, aku bisa memanfaatkan kondisi ini.


"Hei, aku tak akan menyakiti atau membunuhmu, tapi laksanakan perintah ini!"


Aku tak perlu repot-repot menerima tawarannya untuk bergabung dalam faksi Benua iblis. Sekarang aku bisa mengeksploitasi habis-habisan Semi-immortal miliknya.

__ADS_1


__ADS_2