
Vian PoV
Aku adalah partner atau lebih tepatnya disebut Servant-nya pahlawan, emm ... hubungan kami terikat dengan kontrak yang mengatakan aku akan bersumpah setia kepada Master-ku yang tak lain adalah Pahlawan untuk membantunya dalam mewujudkan keinginannya, dan itu adalah menciptakan kedamaian.
Aku bisa dikatakan cuma sebatas sebuah alat saja, yah tentu saja untuk menciptakan kedamaian. Tapi, Master pertamaku sampai Master yang sekarang malah memperlakukanku selayaknya teman bahkan keluarga.
Usiaku sudah mencapai 600-an tahun. Namun, usia yang lama tidak diimbangi dengan perkembangan sikap yang signifikan, aku selalu sama ... tak ada bedanya dengan 600 tahun lalu. Aku seperti bocah labil.
"Pengecut ...!"
Kata itu pantas untukku.
"Tidak berguna ...!"
Yah, itu juga ...
Mata biru saphir dari gadis yang aku sayangi, gadis yang menganggapku sebagai salah satu keluarganya ... tak berhenti untuk terus mengeluarkan air mata.
Gadis bermata biru itu hampir mati karena pengecutnya diriku dan ketidakberdayaanku.
Tangisan Viola adalah cambuk bagiku, tangisannya menjadi bukti bahwa aku tak berguna.
"Setengah milenium lebih, tapi aku tak berubah sama sekali!"
Tak peduli masa lalu atau masa kini ... sama saja, aku selalu disuruh pergi. Dan aku menerima perintah itu.
"Vian, ajak yang lainnya pergi! Kami akan mengatasi Ashera ... kalian harus menyelamatkan—"
Aku, Nia, dan 4 Servant dari pahlawan lainnya tak berdaya waktu itu. Seharusnya kami tak lebih dari sebuah alat, mengorbankan sebuah alat bukanlah hal yang sulit. Tapi, mereka ... kenapa malah tak ingin mengorbankan kami dan memilih mengorbankan diri mereka?
Makhluk macam apa itu?
Yah, aku sampai lupa, itulah yang namanya Pahlawan. Sosok yang rela berkorban untuk kepentingan orang banyak, rela berkorban demi orang yang berharga. Sosok yang bisa tersenyum ketika bisa melihat orang lain tersenyum bahagia.
"Vian, kamu ada di mana? Kamu baik-baik saja, kan? Kembalilah!"
Viola tetap saja mengkhawatirkanku. Gadis kecil yang pernah aku lihat belasan tahun lalu telah tumbuh dengan baik, meskipun masih tetap cengeng. Dia akan tegar kembali, dia akan melupakan ini seakan tidak ada ... Viola sudah berkembang, tapi aku tetap sama saja.
"Payah ...! Aku harus menjadi alat yang lebih berguna bagi Viola. Aku tak ingin melihat Pahlawanku mati lagi!"
.
.
.
"Jangan menyalahkan kami, bocah sialan!"
Hantaman keras tepat mengenai perut seorang anak kecil yang baru saja kehilangan adiknya. Akibat dari hantaman itu, dia membentur puing-puing reruntuhan bangunan dengan sangat keras. Normalnya dia akan langsung pingsan, tapi dia berbeda.
__ADS_1
"Dengar bocah ... jangan menyalahkanku atas kematian adikmu, salahkan dirimu sendiri! Kenapa kau sangat lemah sampai tak bisa melindunginya, pikirkan itu baik-baik!"
Sosok yang dipanggil Pahlawan itu selanjutnya mengangkat anak kecil itu tinggi ke udara dan mencengkram lehernya sangat kuat.
"Arghh ... ghaaa ... le-pas!"
"Hei, kau bisa membunuhnya." Seru rekannya yang mulai sedikit cemas memerhatikan sekeliling.
Di lokasi tidak ada orang karena sebelumnya sudah diungsikan, yang tersisa cuma si anak kecil beserta adiknya tadi dan dua orang Pahlawan yang baru saja tiba.
"Cih ... padahal bocah seperti ini harus diberi pelajaran!?" Sedikit kesal, tapi dia melepaskan anak kecil itu.
"Uhuk ... uhuk ... dasar baji—"
Brukk ...
"Bocah tak tau diri!"
Anak kecil itu terlempar akibat dari sebuah tendangan, kali ini dia tak akan bertahan ... semua hal yang sudah masuk ke perutnya langsung keluar. Dan rasa sakit di seluruh tubuh memaksanya untuk segera tertidur.
Dan secara kebetulan, anak kecil itu mendarat di samping tubuh adiknya ... meskipun yang tersisa cuma lengannya saja.
"Maaf, sebagai kakak, aku tak bisa melindungimu ... maafkan aku ..."
Dia kesulitan bergerak, tapi tetap bersikeras menggapai tubuh adiknya. Semua rasa sakit yang dirasakan tak sebanding dengan rasa sakit yang diterima saat kematian. Jika bisa ... dia ingin menggantikan posisi adiknya. Kalau tidak ... dia akan rela melakukan apapun untuk bisa mengembalikan adiknya, meskipun harus menawarkan jiwanya pada iblis. Jika perlu ... dia akan mengorbankan seluruh dunia hanya untuk adiknya.
"P-p-pahlawan ...? A-ku membenci mereka!"
.
.
.
3 hari telah berlalu setelah hari yang panjang di Lamort Dessert. Hari yang melelahkan itu akhirnya mencapai *******.
Para pemburuku pada akhirnya tak bisa menemukanku yang berujung menyerahnya mereka. Kemenangan mutlak bagiku ... hahaha.
Namun ... yah, ini belum berakhir. Aku masih tetap berstatus buronan, selagi status itu masih melekat ... hidup bebas tanpa bersembunyi adalah mustahil.
"Hoamph ... Kiya? Apa sudah pagi?"
"Ya ... dan kau bangun kesiangan, Putri tidur! Kau harusnya tau apa peranmu, kan?"
Mata merah delima Calsya menggercap beberapa kali sembari kedua tangannya mengucek-nguceknya.
Aku menggunakan sihir angin untuk membuka jendela. Sinar Kalma dan Palma langsung menghangatkan ruangan yang lumayan sempit ini.
"Ah, maaf." Calsya berteriak terkejut. "Aku akan segera menyiapkannya!" Dia bergegas turun dari tempat tidur dan keluar dari ruangan ini.
__ADS_1
Yah, kami sedang bermain rumah-rumahan, dan peran kami adalah sepasang suami-istri. Ah ... bercanda, tapi untuk status suami-istri ... mungkin itu adalah anggapan para penduduk Desa ini.
Aku memutuskan untuk mulai membaur saja dengan orang-orang daripada mengisolasi diri karena status-ku sebagai buronan. Dikejar-kejar terus itu tidak menyenangkan sama sekali.
Berbekal sebuah skill yang aku beli dari shop, sekarang identitas kami sepenuhnya berubah. Azkiya dan Calsya Arant Weder telah berganti menjadi Ayikza dan Calli, sepasang pengantin baru yang baru pindah ke sini.
Tempat tinggalku masih sementara, kami ada di rumah kepala desa. Ke depannya aku akan membeli atau membangun rumah sendiri.
"Hei, Kiya ... tunggu sebentar! Kau ingin menetap di sini?"
Katana yang bersender di salah satu sudut ruangan mengeluarkan suara. Beberapa saat kemudian muncullah seorang wanita berambut ungu dan mata merah.
"Tidak, cuma impian konyolku. Aku tau itu sangat mustahil!"
«Tak akan mustahil, Kiya. Kami akan membantumu mewujudkannya»
"Yah, tumben sekali Luxury!"
«Tak usah menggodaku!»
Yah, aku tau itu ... aku hidup normal sungguh mustahil. Ke depannya aku pasti dihadapkan oleh berbagai masalah. Terlebih, orang misterius yang telah mengacaukan hidup orang-orang di Xeliqia ... dia kemungkinan juga menjadi dalang atas percobaan Kerajaan Rentweder, Calsya harus kehilangan saudarinya karena itu.
Pokoknya kedamaian hidup adalah sesuatu sulit diwujudkan bagiku.
"Kau ingin hidup normal? Musnahkan seluruh manusia!" Ashera tak henti-hentinya mempengaruhiku untuk memusnahkan seluruh manusia.
"Aku belum punya alasan untuk melakukannya! Lagipula aku masih mempertimbangkannya, kan?"
"Humfh ..." Dengus Ashera. "Kau tau sendiri, adikmu mati karena—"
"Kebenaran mimpi itu yang adalah masa laluku ... itu masuk akal! Kau juga punya kemampuan untuk melihat masa lalu orang lain!"
Ashera memiringkan kepalanya bingung, "Kau percaya? Tapi, kenapa baru percaya sekarang?"
"Sudah, diamlah ...! Aku punya tugas untukmu!"
.
.
.
Pokoknya aku ucapin terimakasih pada pembaca yang bisa terus baca sampe chapter terupdate.
Maaf 🙏 nggak bisa ngasih cerita yang bagus.
aku bakal usahain cerita ini agar bisa tamat.
Dah ... see you
__ADS_1